
Pemuda bernama Fu langsung melemparkan ranting yang dipikulnya lalu secepatnya menarik tangan Chen menjauhi Kai.
“Sialan kau, Kai’er!” gerutu Chen begitu kesal.
“Lain kali, tambal lubang mataharimu dengan taring harimau. Menyebalkan!” imbuhnya dengan nada tinggi.
Setelahnya, Fu dan Chen membuat api unggun dari ranting-ranting yang telah dikumpulkan keduanya. Sementara itu, Kai pergi membersihkan diri di semak-semak tak jauh dari keberadaan api unggun.
Api unggun yang menyala di tengah hutan berhasil membuat beberapa orang yang mencari kelima pemuda tersebut langsung berkelebat ke sumber api.
Tap, tap.
Lebih dari 10 orang tiba di dekat api unggun. Pandangan mereka langsung tertuju pada dua pemuda yang tergeletak di rerumputan.
“Apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa An’er dan Guo’er sampai tidak sadarkan diri?” tanya seorang pria paruh baya yang terkejut melihat kondisi kelimanya begitu mengkhawatirkan.
“Kami diserang para perampok,” jawab Fu lalu menjelaskan pertarungannya namun tidak jadi meneruskan ucapannya setelah melihat pria paruh baya menggelengkan kepala.
“Cukup! Lanjutkan saja ceritamu di klan,” tegas pria paruh baya menghentikan cerita Fu.
“Baik, Paman,” timpal Fu lirih.
Mereka pun kembali dengan memanggul An dan Guo menuju kediaman tempat mereka tinggal. Sesampainya di pintu gerbang, seorang pria bercadar datang menghampiri para rombongan yang baru saja tiba.
“Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya pria bercadar.
“Bukan apa-apa, mereka pergi berburu di hutan lalu bertemu dengan perampok, … katakan, informasi apa yang kaubawa?” jawab pria paruh baya diakhiri tanya.
“Sepertinya kalian belum mengetahui rumor terbaru,” kata pria yang merupakan seorang informan.
“Katakan saja, kami tidak bisa lama berada di sini.”
“Ha-ha-ha, kau melupakan sesuatu, Tetua Min.”
Pria paruh baya yang dipanggil Tetua Min tampak begitu kesal dengan maksud pria informan tersebut. Setiap informasi yang dibawanya haruslah ditebus dengan satu keping emas. Tak mau berlama-lama, ia pun mengambil satu tael emas dan melemparkannya kepada sang informan tersebut.
“Aku tidak perlu membisikimu, Tetua. Tapi tetap saja, kau tidak perlu terkejut mendengarnya,” kata informan mengulur waktu.
“Cepatlah!” bentak pria paruh baya mulai emosi.
__ADS_1
“Ha-ha-ha. Baiklah, kau tidak perlu kebakaran janggut seperti itu. Hem … ini tentang perburuan penguasa iblis dan para wanitanya. Kaisar Langit menawarkan jabatan kaisar bagi siapa pun yang berhasil membunuh sang penguasa iblis,” ujar si informan begitu serius mengatakannya.
Pria paruh baya dan beberapa orang yang bersamanya tercengang mendengar berita besar yang disampaikan sang informan.
“Tunggu! Itu artinya si penguasa iblis berada di alam Dewa,” ucap pria paruh baya menerkanya.
“Ha-ha. Tepat sekali dugaanmu, Tetua. Permisi!” balas sang informan lalu berkelebat pergi meninggalkan orang-orang klan.
Jingga menyeringai sinis mendapati dirinya menjadi buruan besar di alam Dewa.
“Sepertinya aku lebih terkenal daripada penghuni alam ini,” ucap Jingga dalam batinnya.
Tepat di tengah malam, keluarga klan berkumpul di sebuah meja bundar berukuran cukup besar yang berada di tengah sebuah ruangan yang lumayan luas untuk ditempati oleh 30 orang. Mereka bersiap untuk merundingkan kabar besar yang dibawa oleh sang informan. Di tengah mereka, sepasang paruh baya berpakaian mewah selayaknya para bangsawan begitu serius menatap orang-orang di sekelilingnya.
“Kita sebagai klan bangsawan, tidak harus berada di garda terdepan dalam perburuan penguasa iblis. Biarkan saja pihak istana, sekte, klan, dan para cultivator yang menjadi perisai di depan kita,” ujar pria paruh baya yang merupakan patriark klan.
Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan sang patriark. Meskipun di benak mereka memiliki pemikiran yang beragam. Tidak ada satu pun dari mereka yang membantahnya.
“Informasi tentang penguasa iblis sangat minim. Rumor terakhir yang kudengar seperti bualan para pembesar,” sambung tetua Min berkomentar.
“Apa maksudmu, Tetua Min?” tanya Patriark meminta kejelasan.
Tetua Min tersenyum kecut menatap Patriark dengan sorot mata yang dingin.
Seorang pemuda bernama Fu mengerutkan dahi mendengar perkataan dari tetua Min. Ia lalu menjulurkan tangan meminta izin untuk berbicara.
“Maafkan aku menyela,” ucapnya.
“Silakan, Fu’er!” Patriark Klan mengizinkannya.
“Terima kasih, Paman.” Fu langsung mengalihkan pandangan ke arah tetua Min.
“Apa yang Ayah katakan terlalu merendahkan sosok si penguasa iblis. Menurutku tidak mungkin Kaisar Langit sampai berani menyerahkan jabatannya jika rumor itu salah,” ujar Fu menyanggah perkataan tetua Min yang merupakan ayahnya.
“Betul yang dikatakan putramu, Tetua Min,” sambung sang patriark.
“Baiklah, lalu langkah apa yang akan kita ambil untuk memburu penguasa iblis?” kata Tetua Min yang menerima ucapan dari putranya.
“Ha-ha. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kita akan membiarkan semua orang memulai perburuan. Tugas kita mengamati dan mencari informasi tambahan dari sosok penguasa iblis. Sekarang, yang penting adalah menyembuhkan kedua anakku. Sementara kalian, bisa memulai mencari informasi sebanyak-banyaknya,” ujar Patriark Klan.
“Baik,” timpal semua orang serentak.
__ADS_1
Sementara itu di dalam sebuah kamar, Jingga dan Qianmei yang terbaring di atas dipan tampak serius mendengarkan diskusi keluarga klan.
“Kak Jingga, apakah kak Niu’er merupakan bagian dari klan Bai ini?” tanya Qianmei mengingatnya.
“Setahuku, semua keluarganya tewas dibantai. Mungkin hanya kebetulan saja nama keluarganya sama, dan juga berbeda alam,” jawab Jingga yang teringat kembali akan kisah pertemuannya dengan Bai Niu.
“Betul juga,” ucap Qianmei memahaminya.
Krak!
Pintu kamar terbuka, Patriark Klan bersama istrinya memasuki kamar. Namun, Jingga dan Qianmei telah lebih dulu menutup mata dalam pose tidak sadarkan diri.
“Suamiku, keduanya tidak bisa lagi berkultivasi. Aku khawatir putra dan putri kita akan dirundung oleh teman-teman sebayanya,” kata wanita paruh baya sambil mengelus lembut wajah putrinya.
“Zhu’er, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Setelah keduanya siuman, aku akan membawanya ke Sekte Puncak Timur. Di sana, putra dan putri kita akan belajar sastra dan tata negara,” balas Patriark.
“Tapi tetap saja, tanpa kultivasi akan sangat sulit menjaga diri,” timpal wanita paruh baya.
“Kau jangan lupa, tidak akan ada yang berani berurusan dengan klan Bai. Klan kita dilindungi oleh Istana Langit.”
“Andai saja saudaraku Bai Tan tidak menghilang, tentunya dia yang akan melindungi kedua anak kita.” Patriark Klan berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
Ia mengingat saudaranya yang memiliki kemampuan tinggi dalam kultivasi. Sang istri yang memperhatikannya langsung berdiri menghampiri lalu menggenggam jemari tangan Patriark.
“Sudahlah, setinggi apa pun tingkat kultivasinya, ia tetap kalah oleh kecantikan gadis yang menjeratnya ke dalam kesesatan,” ujar sang istri berusaha menenangkan hati suaminya.
“Yang aku sesalkan, mengapa tidak pernah ada petunjuk dari keberadaannya?” Patriark mencengkram rambutnya karena merasa gagal dalam pencariannya.
“Suamiku, pergilah untuk beristirahat. Aku masih ingin menemani kedua anak kita.” Zhu lalu menarik tangan suaminya ke depan pintu.
Setelah menutup pintu. Sang wanita paruh baya kembali duduk di samping putrinya.
“Maafkan Ibu, mungkin ini adalah karma dari perbuatan Ibu di masa lalu, Ibu terpaksa harus membunuh paman kalian karena kegagalan Ibu mendapatkannya,” lirihnya sambil membelai rambut anak gadisnya.
“Uhuk, uhuk!” Qianmei terbatuk lalu membuka kedua matanya.
“An’er. Kau sudah siuman, Sayang,” kata Zhu lalu mengangkat tubuh si anak gadis dan menyandarkan di bahunya.
“Ibu, benarkah yang tadi Ibu katakan?” tanya Bai An.
“Jadi, kamu mendengarnya?” tanya balik Zhu.
__ADS_1
“Iya, Ibu. Bahkan aku mendengar semua percakapan Ibu dan Ayah. Tapi kondisiku sangat lemah,” jawab Bai An.