
Xian Hou masih tidak peduli pada rengekan suaminya yang terlihat seperti anak kecil yang sedang dihukum oleh ibunya.
“Suruh siapa kau meninggalkan istrimu, tahu rasa kamu sekarang!”
“Maaf, Sayang. Aku benar-benar lupa. Sumpah!”
“Huh! Aku tidak peduli. Kau telah tega meninggalkanku.”
“Terus aku harus apa, agar kau mau memaafkanku?”
“Aku kan malu, Sayang. Bagaimana kalau ada orang-orang yang melihat aku seperti ini? Di mana aku simpan wajahku?”
“Di ketiak. Puas!”
“Ya ampun, Sayang. Kok jahat sama suami sendiri.”
“Bodo!”
PLETAK! PLETAK! PLETAK!
Hantaman keras dari tongkat terus terdengar nyaring bertalu-talu. Bai Niu dan Qianmei berkali-kali menggelengkan wajahnya karena kasihan melihat Jingga harus mendapatkan hukuman dari kakak iparnya, Xian Hou.
“Kak, Niu’er. Kasihan, Kak Jingga.” Ucap Qianmei yang tidak tega melihatnya.
“Biarkan saja, itu hukuman karena membuat kita jadi jelek begini.” Balas Bai Niu cukup puas akan hukuman yang didapatkan Jingga sebagai pembalasan padanya.
Cukup lama Jingga dipukuli oleh istrinya, pada akhirnya Xian Hou berhenti memukuli suaminya.
“Hukuman selanjutnya, kamu tidak boleh menyentuhku sampai tiga purnama.” Ujar Xian Hou lalu menarik tangan Jingga.
“Malangnya nasibku,” ucap Jingga mengutuk diri.
Meskipun galak, Xian Hou tidak sampai hati menghukum Jingga. Ia tahu sebenarnya Jingga tidak merasakan sakit apa pun dipukulinya. Biarpun begitu, Xian Hou terus saja memeriksa kepala Jingga dengan mengusap kepala suaminya, ia ingin memastikan sendiri suaminya tidak terluka karenanya.
“Maafkan aku, suamiku. Aku terbawa emosi.”
Jingga yang mendengar permintaan maaf istrinya tampak gembira, ia pun tersenyum kembali sambil melirik istrinya yang tua renta.
“Jadi, aku boleh menyentuhmu, Sayang.”
“Boleh, akan tetapi dalam tubuhku yang seperti ini. Bagaimana?”
“Asem! Mending tidak jadi kalau begitu, siapa juga yang mau menyentuh nenek peot seperti itu?”
Xian Hou tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya lalu berkata,
“Ya sudah, hanya tiga purnama, kamu pasti kuat.”
__ADS_1
Jingga mendengus kecewa karena harus kembali berpuasa menahan keinginannya. Tatapannya tertuju ke arah kedua adiknya yang tersenyum manis kepadanya, hal itu membuatnya berpikir jauh untuk bisa mendekati keduanya. Sayangnya, hati Jingga tertaut dengan hati Xian Hou. Ia tidak menyadari bahwasanya sang istri mengetahui niat busuknya itu.
“Sekali saja kau menyentuh salah satu adikmu, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu.” Tegas Xian Hou tanpa meliriknya.
Degh!
Kembali Jingga harus menelan pil pahit mendengar ancaman istrinya. Ia pun terpaksa harus mengubur keinginannya itu.
PLETAK!
“Aduh! Kakak, sakit!” jerit Bai Niu setelah kepalanya dijitak oleh Jingga.
“Suamiku, begitukah caramu memperlakukan adikmu?” tegur Xian Hou tidak menyukainya.
“Huh! Salah lagi, lagi-lagi salah,” dengus Jingga kesal sendiri.
“Makanya, jadi orang itu harus baik,” ujar Xian Hou menasehatinya.
“Aku kan, iblis. Kenapa harus baik?” kilah Jingga.
PLETAK!
“Asem! Tak bisakah itu tongkat dibuang saja?”
“Hem!” hanya itu yang keluar dari mulut Xian Hou menanggapi keluhan Jingga.
Seketika suasana menjadi hening, tidak ada perbincangan di antara mereka berempat. Hanya lenguh napas dan desis binatang melata yang sesekali terdengar selain suara langkah kaki yang terdengar monoton.
“Kota Lanhua sangat jauh, kenapa kita tidak terbang saja?” celetuk Qianmei merindukan kakaknya.
“Aku tahu kamu merindukan Fan’er, kami pun sama merindukannya. Akan tetapi, kita berjalan karena berharap masih ada orang yang bisa kita selamatkan dan kita juga harus melihat langsung kondisi lingkungan di sekitar kita,” ujar Jingga menjelaskannya.
Qianmei pun mengangguk pelan dengan raut wajah yang ceria. Jingga tersenyum lembut melihatnya.
Beberapa langkah kemudian, tiba-tiba saja Jingga merentangkan kedua tangannya meminta ketiganya untuk berhenti.
“Apa kalian mendengarnya?” tanya Jingga yang bola matanya terus bergeser ke kiri dan ke kanan.
Xian Hou dan kedua adiknya langsung mempertajam pendengaran, namun ketiganya tidak mendengar suara apa pun dari keberadaan orang-orang di sekitarnya. Ketiganya lalu menggelengkan kepala tidak bisa mendengarnya. Jingga mengerucutkan bibir menanggapi reaksi ketiganya.
“Ada lebih dari 20 orang yang sedang tertawa di dalam hutan sana, kita harus melihatnya. Ayo!” Kata Jingga sambil menunjuk hutan yang masih terlihat rimbun tanpa adanya kerusakan yang nampak.
WUZZ!
Keempatnya berkelebat cepat ke arah hutan di belakang kota Lintang. Sesampainya di kedalaman hutan, Jingga dan rombongannya langsung menampakkan diri di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang sedang menikmati pesta arak. Mereka tidak lain adalah orang-orang dari aliansi Es Utara.
“Halo, Tuan-Tuan bajingan! Boleh kami menikmati pesta kalian?” kata Jingga dengan mimik wajah datar menatap dingin orang-orang yang terkejut akan kedatangannya.
“Ha-ha-ha, Hei! Kenapa kau membawa nenek renta dan kedua adikmu yang jelek itu?” tanya seorang pria berjanggut panjang sambil terkekeh.
__ADS_1
Sontak saja, lebih dari dua puluh orang langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Mereka merasa lucu melihat kehadiran seorang pemuda berwajah asing bersama seorang nenek dan dua orang gadis berwajah tidak menarik.
“Kau tahu, aku tidak suka ditertawakan seperti itu, aku pastikan kalian akan memohon untuk mati daripada hidup.” Ucap Jingga dengan nada dingin.
“Ha-ha-ha. Dia mengancam kita. Ha-ha-ha.” Imbuh pria berjanggut panjang terkekeh.
Lagi-lagi hal itu membuat lebih dari 20 orang tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Jingga menoleh ke arah Bai Niu lalu berkata,
“Naninu, bersenang-senanglah.”
Bai Niu menyeringai dingin mendengarnya, ia begitu bersemangat untuk menghabisi para bajingan yang masih tertawa keras di tengah hutan.
“Dengan senang hati, Kak.” Sahutnya lalu mengeluarkan Jianshandian.
Bai Niu langsung bertransformasi ke tubuh dewi petir. Suasana di tengah hutan pun menjadi mencekam.
SRING!
Orang-orang dari aliansi Es Utara langsung mengeluarkan berbagai senjata dari cincin spasialnya. Mereka kini mewaspadai lawan yang dihadapinya.
"Sialan! Gadis jelek ini seorang de…."
SRET! DUGH!
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, kepalanya sudah terlebih dahulu jatuh menggelinding di tanah.
"Ayo, sayang. Kita bersenang-senang!" kata Bai Niu sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ha-ha-ha, bodoh! Kau harus cantik dahulu sebelum menggoda ka….”
SRET! DUGH!
Lagi dan lagi, seorang pria harus kehilangan kepala sebelum menyelesaikan ucapannya.
“Dua ekor lalat mati sebelum selesai bicara …, ada lagi yang mau bicara?” ucap Bai Niu lalu tersenyum renyah memandangi para kultivator yang membelalakan mata tidak percaya melihatnya.
Entah kapan Bai Niu memenggalnya, tidak ada satu pun dari mereka yang melihatnya.
“Berhati-hatilah! Gadis ini memiliki kecepatan tak kasat mata,” pesan seorang pria berahang tegas.
Orang-orang dari aliansi Es Utara langsung berputar cepat mengelilingi Bai Niu yang berdiri sambil menggenggam sebatang pedang di tangan kanannya.
“Naninu, sejak kapan kau memiliki kecepatan luar biasa seperti itu?” tanya Jingga di alam pikir Bai Niu.
Ia sangat mengagumi kecepatan yang dimiliki oleh Bai Niu, walaupun kecepatan yang ditunjukkan oleh adiknya masih jauh dengan kemampuannya. Akan tetapi, hal itu tetaplah membuatnya kagum.
“Jangan lupa, aku adalah murid pendekar bayangan. Aku pun memiliki jurus bayangan sama seperti Kakak.” Jawab Bai Niu menjelaskannya.
“Ha-ha-ha. Betul juga katamu, ya sudah. Selamat bersenang-senang. Jangan terlalu cepat membunuhnya. Biarkan mereka merasakan bagaimana kematian lebih baik daripada kehidupannya. Ha-ha-ha.” Imbuh Jingga menanggapinya.
__ADS_1
“Baik, Kak. Tadi itu hanya menguji mental mereka saja. Kali ini aku akan bersenang-senang.” Timpal Bai Niu lalu kembali fokus pada pertarungannya.