
Kakek dan cucu membelalakan mata melihatnya, bahkan si kakek yang tadi memastikan pemuda yang ditariknya tidak memiliki denyut nadi tampak tidak mempercayainya.
"Kalian siapa?" Tanya Jingga yang begitu heran melihat kakek dan cucunya termenung menatapnya.
Si kakek langsung tersadar kembali, ia menghempaskan napas untuk meredakan keterkejutannya.
"Aku Mamat dan ini Cucuku Rizal" jawab si kakek mengenalkan diri.
Jingga langsung terkejut mendengar jawaban si kakek yang menyebutkan nama yang begitu familiar didengarnya.
"Apakah aku berada di benua Majang?" Tanya Jingga memastikan.
Si kakek tampak begitu heran mendengarnya, namun ia merasa tidak asing dengan nama yang pernah didengarnya.
"Benua Majang? Ya! Dulunya tanah ini bernama benua Majang. Aku pernah mendengarnya dari cerita mendiang Kakekku, kalau tidak salah memang benar bernama benua Majang. Tapi sekarang berganti nama menjadi Tanah Para Dewa" timpal si kakek yang mengingatnya.
Jingga mengerutkan kening mendengarnya, bagaimana mungkin nama benua tempat asalnya bisa berganti dengan begitu cepat. Bahkan seorang kakek di depannya mengatakan kalau ia mendengar dari mendiang kakeknya yang berarti memiliki selisih waktu yang panjang dengan kehidupannya.
Jingga langsung berasumsi kalau dirinya mengalami perjalanan waktu.
"Kau berasal dari mana? Kau tiba-tiba saja terjatuh dari langit" imbuh si kakek menanyakannya.
Jingga kembali sadar, ia tampak bingung harus menjawab pertanyaan si kakek, setelah memikirkannya sejenak. Ia lalu menyebutkan asal kelahirannya.
"Aku berasal dari kampung Selendangkasih"
Si kakek langsung mengerutkan kening mendengarnya, ia lalu menatap Jingga dengan lekat.
"Kau jangan berbohong anak muda, aku yang seumur hidup tinggal di sini tidak pernah melihatmu" ujar si kakek.
"Maaf, Kek. Apakah Kakek tahu kampung Selendangkasih?" Tanya Jingga.
"Kau sekarang berada di kampung Selendangkasih" jawab si kakek.
Jingga langsung memutar kepalanya memperhatikan suasana kampung halamannya. Ia tidak pernah melihat keberadaan danau di kampungnya.
"Kek, sejak kapan ada danau di sini?" Tanya Jingga.
"Dari aku lahir sudah ada, tapi sebaiknya kau menutupi perkakasmu itu" jawab kakek Mamat menunjuknya.
Jingga cengengesan baru menyadarinya, ia lalu menutupnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Rizal, ambilkan baju mendiang Ayahmu!" Ucap kakek Mamat meminta cucunya.
Rizal menganggukkan kepala lalu berlari pergi ke arah rumahnya.
Beberapa waktu kemudian, Rizal datang membawakan pakaian, namun ia tidak sendiri. Ia datang bersama ibunya yang terlihat berusia dua puluhan. Jingga yang melihatnya langsung membalikkan badan.
"Neng Asih, kenapa kau datang kemari?" Tegur kakek Mamat.
"Habisnya Asih tidak percaya ada orang jatuh dari langit, jadi Asih penasaran ingin melihatnya. Tapi kenapa dia tidak berpakaian begitu?" Jawab Neng Asih diiringi pertanyaan sambil terus memperhatikan pemuda yang duduk membelakanginya.
"Sudah, sebaiknya kau kembali ke rumah dan masak yang enak untuk menyambutnya" sambung kakek Mamat mengusirnya.
Setelah anak perempuannya pergi, kakek Mamat langsung meminta Rizal menyerahkan pakaian yang masih didekapnya. Ia sendiri langsung membereskan alat pancingnya yang terbengkalai.
Jingga langsung menerimanya dan kemudian dengan cepat memakainya, tampak sekarang Jingga terlihat begitu gagah. Tubuhnya yang tinggi dan berotot membuat dirinya begitu sempurna sebagai seorang pria.
Jingga lalu mengikuti kakek Mamat dan Rizal yang berjalan di depannya.
Suasana pedesaan membuat Jingga teringat akan masa kecilnya dulu, ia terus saja menoleh sekitarnya untuk melihat perubahan pada kampung halamannya yang dulu hancur karena peperangan.
Sesampainya di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bambu. Neng Asih begitu terperangah melihat sosok Jingga yang begitu tampan menurutnya.
Jingga tersenyum melihatnya, ia lalu duduk di sebuah kursi bambu teras rumah sambil memperhatikan rumah-rumah warga kampung.
"Kakang, makanan sudah siap. Ayo kita makan bareng!" Ajak neng Asih memanggilnya kakang.
Jingga tersadar dari lamunannya, ia kembali tersenyum lembut ke arah neng Asih yang masih terus saja menatapnya.
"Oh, terima kasih Bi. Tapi maaf aku tidak makan seperti yang kalian makan" sahutnya menolak dengan halus.
Neng Asih mengerutkan kening mendengarnya, ia memperhatikan Jingga dari atas sampai bawah.
"Kakang makhluk jenis apa? Asih lihat, Kakang tampak sama seperti manusia, kenapa Kakang tidak bisa makan seperti makanan kami?" Tanya neng Asih menyelidikinya.
Kakek Mamat yang melihatnya dari dalam rumah langsung menghampiri keduanya.
"Neng Asih tidak boleh begitu, tidak sopan!" Tegurnya.
"Lah, si Abah. Asih kan hanya penasaran saja melihat si Kakang yang mengatakan kalau dia tidak makan makanan kita" sanggahnya menjelaskan.
Kakek Mamat hanya menggeleng saja lalu mendorong Jingga masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Jingga ikut duduk di tikar anyaman yang di atasnya sudah tersedia banyak makanan.
"Sebelumnya, aku belum tahu namamu anak muda. Katakan siapa dirimu?" Tanya kakek Mamat sambil mengambil makanannya.
"Namaku Jingga, Kek" jawab Jingga.
"Nama yang bagus, apa Kang Jingga sudah memiliki istri?" Tanya Asih.
"Hus! Kamu tuh jangan langsung bertanya seperti itu" potong kakek Mamat tidak menyukainya.
"Aku sudah punya istri" jawab Jingga.
Neng Asih langsung terdiam, raut wajahnya begitu kecewa mendengar jawaban dari pemuda di depannya. Ia yang mengambilkan makanan untuk Jingga langsung memberikannya kepada anaknya Rizal.
"Ibu, ini kebanyakan" protes Rizal menolaknya.
"Sudah makan saja! Biar kamu cepat besar" kilah neng Asih.
Jingga langsung mengambilnya, ia lalu mencoba memasukkannya ke dalam mulut. Matanya berbinar merasakan kembali kelezatan masakan yang sudah lama tidak pernah dirasakannya. Ia kembali memasukkannya dengan porsi besar.
"Enak, enak!" Serunya.
Jingga langsung saja memakan banyak lauk yang terpampang di hadapannya.
Kakek Mamat dan anak cucunya terperangah melihat pemuda yang begitu lahap menikmati makan hingga tak terasa semua makanan habis dilahapnya.
"Ah, nikmatnya!" Ucap Jingga lalu mengusapi mulutnya yang belepotan.
Jingga lalu cengengesan menatap ketiganya yang terperangah melihatnya.
"Bi Asih, masak lagi ya yang banyak" pinta Jingga menyadarkan ketiganya.
Neng Asih mengangguk lalu beranjak pergi ke dapur. Kakek Mamat menggelengkan kepala melihat tingkah Jingga yang seperti tidak pernah menemukan makanan, ia juga langsung berdiri pergi keluar rumah. Sedangkan Rizal meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil memelototi Jingga yang masih duduk sambil cengengesan.
Malam harinya neng Asih mengajak Jingga ke sebuah pondok tempat warga berkumpul. Hampir semua warga langsung menghentikan aktivitas melihat janda kembang membawa seorang pemuda tampan nan gagah ke tengah keramaian warga kampung.
Suasana langsung hening, bahkan para gadis yang sedang menari langsung berhenti seketika melihat neng Asih yang menjadi pusat perhatian.
Jingga sendiri begitu heran dengan warga kampung yang terus memperhatikannya, tak lama ia merasakan sebuah tangan merangkul lengannya.
"Bi Asih, maaf" ucap Jingga memintanya untuk melepaskan tangannya.
__ADS_1
Neng Asih langsung menatap Jingga dengan tajam, pada akhirnya Jingga pasrah lalu terus berjalan ke arah para warga yang sedang duduk di depan sebuah panggung rendah di mana sedang ada pertunjukan tari di atasnya.