
Jingga berbalik ke arah orangtuanya, memberikan waktu kepada ketiga adiknya untuk merenungkan kembali keputusannya.
Hanya Bai Niu yang terlihat santai, ia tidak mempedulikan siapa pun diri Jingga yang sebenarnya, hidupnya hanya menjadi milik kakaknya seorang.
"Kakak Jelek" panggil Bai Niu.
"Ya" sahut Jingga meliriknya.
Bai Niu tersenyum lembut menatapnya lalu berkata,
"Kematian lebih baik untukku dari pada harus kehilanganmu, hidupku milik Kakak seorang"
Jingga menatapnya serius mempertanyakan kembali maksud ucapannya.
Bai Niu langsung mendekatinya lalu berbisik pelan di telinga Jingga.
"Jangan mempertanyakan apa yang tidak akan aku jawab dengan bibirku, kakak bisa merasakannya langsung pada hatiku" bisik Bai Niu lalu mengecup pipi Jingga.
Jingga langsung melirik ke arah dua adiknya yang lain.
"Tidak ada keraguan di hatiku untuk mengikutimu, kau jangan mengkhawatirkan hidupku, aku tidak akan menyesalinya walaupun kau membunuhku, aku ikut denganmu" ujar Qianfan dengan tegas.
"Aku pun sama dengan kakak Fan'er, tapi aku ingin tahu apakah kakak Jingga mencintaiku?" Ucap Qianmei menanyakannya.
"Tidak, tapi aku sangat menyayangimu sama seperti aku menyayangi adikku yang nakal ini" jawab Jingga sambil mengacak-acak rambut Bai Niu.
"Ha ha ha" semuanya tertawa begitu lepas.
"Baiklah, karena kalian sudah memutuskan untuk mengikutiku, ada sesuatu yang ingin aku berikan kepada kalian, ini sangat berguna untuk meningkatkan kultivasi kalian" imbuh Jingga lalu mengeluarkan banyak inti jiwa beast monster yang dikumpulkannya.
Kelimanya melebarkan mata melihat banyaknya inti jiwa yang dikeluarkan oleh Jingga.
"Ha ha ha, biasa saja melihatnya, nanti mata kalian sama besarnya sepertiku" ucap Jingga merasa lucu melihat ekspersi kelimanya.
"Ambillah, tidak akan habis kalau hanya dilihat" pintanya melanjutkan.
Luo Xiang langsung membagi tiga bagian lalu masing-masing dari ketiganya memasukkan inti jiwa beast monster ke dalam cincin spasialnya.
Setelah semuanya mengambil bagian, Jingga langsung mengeluarkan Jianshandian.
"Ini adalah pedang energi petir, aku harap ada salah satu dari kalian yang berjodoh dengannya. Caranya Sama seperti memiliki beast monster, kalian tinggal meneteskan darah di bilahnya untuk melakukan kontrak darah dilanjutkan dengan mengalirkan energi spiritual ke dalam genggamannya Lalu kita akan tahu siapa yang akan dipilih Jianshandian menjadi tuannya" ujar Jingga menjelaskan.
"Lalu kalau tidak ada yang dipilih oleh Jianshandian, apa yang akan Kakak lakukan?" Tanya Bai Niu ingin tahu.
"Ya dimasukkan kembali ke cincin spasialku, nanya kok tidak bermutu ha ha ha" jawab Jingga terkekeh.
"Menyebalkan!" Ketus Bai Niu mengerutkan bibirnya.
__ADS_1
"Biar aku yang pertama mencobanya" ucap Qianfan langsung melukai jarinya dan meneteskannya ke bilah pedang, namun tidak ada reaksi apa pun dari Jianshandian.
"Dia tidak memilihku" lirihnya kecewa.
Qianmei langsung melanjutkan untuk mencobanya, hasilnya sama juga. Qianmei tidak dipilih oleh Jianshandian.
Jingga langsung menggenggamnya, ia tidak percaya adik manjanya bisa dipilih oleh Jianshandian.
"Jingga, biarkan Niu'er mencobanya" potong Luo Xiang menahannya.
"Huh! Kakak jelek, kau meremehkanku" dengus Bai Niu semakin kesal.
"Ya sudah, kau coba saja, kalau Jianshandian memilihmu, aku akan menciummu" tantang Jingga.
"Lebih baik aku tidak mencobanya kalau begitu, siapa juga yang mau dicium Kakak jelek" kelit Bai Niu menolaknya.
"Mau dicoba apa tidak Naninu?" Tanya Jingga mulai kesal.
Melihat tatapan Kakaknya yang begitu menyeramkan membuat Bai Niu langsung mengambil pedang lalu menggores sedikit kulit jarinya dan meneteskannya ke bilah pedang.
Jianshandian langsung bergetar seketika, arus petir menyengat tubuh Bai Niu dengan sangat kuat.
"Ah!" Jerit Bai Niu merasakan kesakitan.
Jingga dan yang lainnya melompat menjauhinya.
Dhuar!
Dhuar!
"Ah!" kembali Bai Niu menjerit yang begitu memilukan didengarnya.
"Jingga, apa Niu'er bisa melewatinya?" Tanya Zhen Li mengkhawatirkannya.
"Kita amati saja, Ayah. tubuhnya sedang ditempa, aku yakin Naninu bisa melewatinya" jawab Jingga meyakini.
"Ayo Niu'er, kau pasti bisa" ucap Qianfan menyemangatinya.
Tubuh Bai Niu diselimuti spiral energi petir yang terlihat sangat mengerikan.
Langit berubah menjadi gelap dan terlihat begitu mencekam dengan badai petir terus bersahutan.
Kelima orang masih terus mengamati penempaan tubuh Bai Niu dari kejauhan.
Beberapa lama kemudian, langit kembali normal, suasana mencekam pun kembali seperti semula.
Nampak seorang gadis yang berlutut dengan satu kaki ditekuk dan kedua tangannya menopang pada pegangan pedang yang tertancap di tanah.
__ADS_1
Auranya begitu menekan dengan sorot mata yang tajam, Bai Niu terlihat seperti seorang Dewi Petir dengan tubuhnya yang terus mengeluarkan kilau arus listrik yang begitu mengagumkan.
Kelimanya begitu bahagia lalu menghampirinya.
"Niu'er, sungguh Ayah tidak percaya kau akan langsung menerobos ke ranah Warrior Perak, itu peningkatan yang luar biasa yang sulit dilakukan oleh kultivator di alam fana" puji Zhen Li begitu kagum.
Bai Niu tidak menanggapinya, ia masih belum bisa mengendalikan energi petir dalam tubuhnya.
"Naninu, jangan menekannya, biarkan energi petir terus melapisi tubuhmu yang baru" ujar Jingga menyarankan.
Bai Niu tidak lagi menekan energi petir dengan energi spiritualnya, ia membiarkan energi petir merambahi seluruh bagian tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, putaran kilatan petir yang keluar dari tubuhnya perlahan menghilang dengan sendirinya.
Jingga langsung memasukan pil kehidupan untuk menetralkan kembali tubuh Bai Niu yang begitu tegang.
"Selamat, kau sekarang menjadi salah satu legenda kultivasi alam fana" ucap Luo Xiang langsung membawanya ke dalam bilik rumah.
Sehari pun kembali berlalu, Jingga dan ketiga adiknya langsung berpamitan kepada Zhen Li dan Luo Xiang.
"Anak-anakku, kami berharap kalian membawa kedamaian di alam semesta ini, maka berjuanglah" ujar Zhen Li terlihat begitu berat melepas keempat anak angkatnya.
Luo Xiang yang berada di sampingnya hanya bisa tersenyum simpul melepas kepergian keempat anaknya.
"Terima kasih, Ayah dan Ibu, suatu saat kami pasti akan kembali" balas Jingga sambil menjura.
Keempatnya lalu berkelebat menghilang meninggalkan hutan Bambu Merah.
Berada di kota Lintang, keempatnya berjalan di tengah kota mengumpulkan perbekalan, Jingga dan Qianfan yang tidak membeli apa pun hanya mengikuti kedua adik perempuannya itu.
"Kalian jangan terlalu banyak membawa bekal, kita tidak sedang liburan, ayolah, sudah terlalu banyak waktu yang terbuang" keluh Jingga yang sudah tidak sabar.
"Berisik!" Ketus Bai Niu yang tidak mau diganggu kesenangannya membeli semua yang ia suka.
"Ha ha ha, kena lagi kau Kak, biarkan saja keduanya memuaskan diri setelah hampir tiga tahun terus saja berlatih" ucap Qianfan terkekeh.
"Ya sudah, aku menunggu kalian di kedai" timpal Jingga lalu berbelok ke arah kedai.
Seperti biasanya Jingga memesan arak kepada pelayan, sambil menikmati arak, Jingga memperhatikan seorang gadis yang begitu berantakan rambut dan pakaiannya sedang menenggak arak sambil meracau tidak jelas.
"Kasihan, mana masih muda, sudah gila" celoteh Jingga mengomentarinya.
Sekilas Jingga merasa mengenalinya, tapi ia tidak mengingatnya sama sekali.
Tak lama ketiga adiknya memasuki kedai dengan wajah begitu ceria.
"Ayo Kak, kita lanjutkan perjalanan kita" ajak Qianmei menarik tangan Jingga yang lagi duduk menikmati araknya.
__ADS_1
Ketika Jingga sudah berdiri untuk keluar kedai, Bai Niu menghampiri seorang gadis yang sedang mabuk.