Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Gadis Penyihir


__ADS_3

Jingga tak habis pikir kenapa ada gadis yang tabiatnya melebihi dirinya, ia semakin yakin kalau gadis penyihir adalah seorang iblis yang sama seperti dirinya. Dalam pemikirannya yang berputar-putar seperti roda, ia tiba-tiba teringat akan gadis yang mirip dengan adiknya Qianmei.


"Di mana Qianyuna?" Tanya pikirnya.


Jingga mengaktifkan mata iblisnya memindai seluruh area lembah Persik. Terlihat olehnya Qianyuna berada di sebuah gua dalam kondisi tubuh yang lemah bersandar pada dinding gua.


"Syukurlah si cantik masih hidup" gumam Jingga merasa lega.


Ia lalu mengedipkan kedua matanya untuk merubahnya ke mode normal dan kembali menyaksikan drama para pendekar yang sedang dikerjai oleh gadis penyihir.


***


"Suruh semua muridmu kemari" jawab Mei Moshu memintanya dengan menyentak.


Tetua sekte langsung melirik ke arah murid-muridnya lalu melambaikan tangan meminta semua muridnya untuk menghampiri.


Ketiga puluh murid sekte Rohani Senja saling lirik lalu memutuskan untuk menghampiri kedua gurunya. Beberapa pendekar membuka jalan kepada para murid sekte.


"Bagus, sekarang kalian semua lepaskan pakaian kalian. Yang besar boleh pergi" ucap Mei Moshu dengan mata berbinar.


Ketiga puluh murid sekte terbelalak mendengarnya, bahkan kedua gurunya dan ratusan pendekar lainnya tidak percaya mendengar permintaan si gadis penyihir.


"Cepatlah! Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak ingin pergi dari sini? Lihat saja para pendekar wanita begitu ingin melihatnya, ha ha ha" kekeh Mei Moshu membuat semua orang begitu geram mendengarnya.


"Brengsek! Jangan samakan kami dengan gadis rendahan sepertimu, dasar iblis mesum!" Gerundel para pendekar wanita tidak menerimanya.


"Tuh kan, kalian dengar sendiri. Mereka tidak sabar ingin melihatnya" ujar Mei Moshu dengan santainya.


Lebih dari lima puluh pendekar wanita dari berbagai sekte begitu murka mendengarnya, beberapa orang bahkan sudah tidak lagi bisa menahan emosi yang mencapai ubun-ubunnya.


"Hiaa" pekik beberapa pendekar wanita melayang terbang dengan kemampuan meringankan tubuh menebaskan berbagai senjata tajam ke arah Mei Moshu.


Wuzz!


Trang! Trang!


Benturan berbagai senjata dengan kipas berbahan tulang phoenix dan sisik beast naga yang menjadi senjata Mei Moshu terus beradu menciptakan percikan api.


Pertarungan sengit pun berlangsung dengan seru, para pendekar wanita dengan emosi yang memuncak terus melancarkan serangannya secara brutal. Mei Moshu menjadi terpacu meladeni para wanita yang terus menyerangnya.


"Kalian begitu kuat ketika marah, teruslah marah dan serang aku" ucapnya di sela pertarungan.


Tidak ada tanggapan dari para wanita yang terus menyerangnya, terlintas dalam pikirannya sebuah ide gila untuk membuat pertarungan semakin seru.


"Ha ha, bagaimana kalau kalian bertarung dengan tubuh polos? Pastinya itu akan membuat para pria semakin bersemangat menyaksikan pertarungan kita" imbuhnya menawarkan ide gila.


"Penyihir laknat! Mati saja kau bajingan!" Umpatan seorang pendekar wanita begitu murka.


"Jawaban yang lembut, kau penuh sopan santun" balas Mei Moshu lalu menyerang wanita yang mengumpatnya.


Tahu dirinya menjadi incaran gadis penyihir, pendekar wanita itu pun bermanuver ke belakang. Beberapa pendekar lainnya mengambil kesempatan untuk menebaskan pedang dan tombak ke arah tubuh gadis penyihir.

__ADS_1


Trang! Trang! Siu!


Trak! Sret! Sret!


Mei Moshu dengan tangkas menghadang tebasan lalu menyelinap cepat ke arah wanita incarannnya dan langsung mempreteli gaun ungu dengan tebasan kipas yang terlihat begitu lihai dimainkan.


Hanya sepersekian detik saja Mei Moshu berhasil membuat pendekar wanita kehilangan kain yang melekat di tubuhnya. Sontak saja para pendekar pria yang melihatnya kembali terbelalak.


Jatuh harga diri pendekar wanita itu, ia lalu memutuskan untuk bunuh diri.


Sleb!


Bugh!


"Ah, kenapa kau bunuh diri, Nyonya? Payah!" Cibir Mei Moshu begitu kecewa.


Ia lalu mengulanginya lagi kepada pendekar wanita lainnya yang sedikit tersentak melihat pendekar wanita mati begitu saja.


Jingga yang memperhatikannya begitu kesal, ia lalu mengeluarkan panah milik istrinya. Baru saja ia memasang anak panah pada tali busurnya. Sebuah bayangan biru berkelebat cepat melewati dirinya dan langsung menyerang gadis penyihir.


Dhuar!


Terjadi ledakan keras di tengah pertarungan.


Bugh!


Mei Moshu terpelanting menabrak pohon dan menghancurkannya.


"Hem, kau yang begitu lambat menghindari seranganku" balas Kaisar Xiao Manyue dengan santai.


Sring!


Kaisar Xiao Manyue menarik pedangnya, ia lalu berkelebat menyerang Mei Moshu yang masih belum berdiri tegak dengan tebasan cepat.


Siu!


Trang! Dhuar!


Kembali Mei Moshu harus terpental jauh ke belakang setelah menahan tebasan yang dilayangkan oleh Kaisar Xiao Manyue.


Tap, tap!


Akan tetapi serangan kedua yang dilayangkan Kaisar Xiao Manyue bisa diantisipasi dengan baik oleh Mei Moshu. Sambil melayang di udara, Mei Moshu menekan kakinya pada batang pohon dan melakukan serangan balik.


"Hiaa!"


Wuzz!


Sring! Trang! Trang!


"Tebasan Surgawi"

__ADS_1


Wuzz!


Kaisar Xiao Manyue menghilang dari tempatnya, sedetik kemudian, bilah tajam pedang sudah berada di leher Mei Moshu dan


Sret!


Boom!


Ledakan energi spiritual terdengar memekakkan telinga.


Kaisar Xiao Manyue terpelanting jauh menabrak puluhan pohon di belakangnya, sedangkan Mei Moshu hanya terpental beberapa tombak saja.


Sebelum bilah tajam pedang Kaisar Xiao Manyue mengenai kulit leher, Mei Moshu memaksakan diri melepaskan aura iblisnya yang menyebabkan dua energi saling berbenturan.


"Hoek"


Kaisar Xiao Manyue memuntahkan darahnya, ia berdiri kembali dengan menopang pedang.


"Aura macam apa ini?" Kenapa begitu aneh?" Gumam Kaisar yang merasakan sakit di seluruh tubuhnya, bahkan tangan kanannya pun masih bergetar menahan pedang yang berdering di tanah.


Di atas sebuah pohon, Jingga akhirnya mengetahui siapa gadis penyihir yang memanggilnya suami.


"Benar dugaanku, dia memang seorang iblis, tapi bagaimana dia bisa mengeluarkan aura iblis yang terbelenggu di alam ini?" Gumam Jingga setelah melihat sendiri aura iblis terpancar keluar dari tubuh gadis penyihir.


"Apa terlemparnya diriku ke alam fana ini berkaitan dengan dirinya? Berarti dia yang telah membawaku ke alam fana ini" imbuhnya meyakini pemikirannya.


Wuzz!


Sekelebat bayangan putih tiba-tiba saja melewatinya, Jingga langsung menoleh ke belakang.


Dari arah belakang, puluhan orang yang terdiri dari beberapa jenderal dan komandan kekaisaran Xiao berlarian ke arah kaisar. Tak jauh dari para pasukan berzirah, sembilan tetua sekte Bayangan Jingga ikut berlarian ke area pertarungan.


Jingga kembali melirik ke arah Kaisar yang terlihat sedang dibantu oleh permaisuri.


"Istriku, kau tidak apa-apa?" Tanya permaisuri Kim Rei membopongnya.


"Tidak apa-apa suamiku, aku masih sanggup berdiri" jawab kaisar Xiao Manyue tersenyum lembut.


"Gadis itu bukanlah manusia dan juga bukan seorang dewa sepertimu, energinya tidak aku kenali. Kau berhati-hatilah menghadapinya" imbuh Kaisar Xiao Manyue mengingatkannya.


"Kau beristirahatlah, biar aku uji kekuatannya" balas Kim Rei menyandarkan kaisar pada batang pohon.


Jingga yang mendengar perbincangan keduanya langsung terbelalak tidak percaya.


"Apa kata suami istri sekarang sudah terbalik?" Gumam pikirnya.


Ia lalu melompat dan berjalan menghampiri kaisar Xiao Manyue yang terduduk di bawah pohon.


Dengan rasa penasaran, Jingga memperhatikan kaisar dari atas kepala sampai ke kakinya.


"Mau apa kau? Jangan kurang ajar!" bentak kaisar tidak menyukainya.

__ADS_1


"Aku hanya heran kau dipanggil istri oleh Permaisuri" balas Jingga yang matanya terus saja memperhatikan tubuh kaisar.


__ADS_2