
"Sudah selesai, ayo kita lanjutkan penerbangan" ajak Jingga kepada ketiga adiknya.
Jingga lalu menghampiri adiknya Bai Niu,
"Acaranya sudah selesai, kenapa masih mengangkat pedang?" Tanya Jingga.
Bai Niu langsung memasukkan pedangnya ke dalam cincin spasialnya lalu menghampiri Jingga yang menunggunya.
"Bagaimana Kak?" Tanya Bai Niu tidak memperhatikan pertarungan di bawahnya.
"Apanya yang bagaimana?" Tanya balik Jingga kebingungan.
Bai Niu terlihat begitu kesal ditanya balik, ia lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Jingga dan mencium Jingga dengan lembut.
Tak berselang lama Jingga langsung melepaskannya.
"Kau kenapa menciumku, Naninu?" Tanya Jingga.
Bai Niu hanya tersenyum simpul menjawabnya lalu menarik tangan Jingga menyusul ketiga saudaranya yang sudah melaju terbang.
Jingga yang wajahnya merona terus memperhatikan gadis di sebelahnya yang terlihat begitu bahagia.
"Naninu" gumamnya lalu tersenyum lembut melihatnya, Jingga kemudian menatap lurus memfokuskan terbangnya.
Setelah menempuh waktu lama, kelimanya berada pada sebuah pedesaan yang terlihat di bawahnya, Qianfan langsung mendekati Jingga.
"Kita sudah sampai di wilayah kerajaan Kandao, apakah kita akan langsung ke kotanya atau beristirahat dulu di desa itu?" ucapnya memberitahu Jingga sambil menunjuk desa di bawahnya.
Jingga melirik semua gadis yang terlihat begitu kelelahan.
"Kita istirahat dulu di desa, tapi sebaiknya kita mendarat di area luar agar tidak menimbulkan keributan yang tidak perlu" balas Jingga lalu melesat turun di area perkebunan diikuti oleh keempatnya.
Kelimanya lalu berjalan santai memasuki area desa yang cukup luas. Suasananya begitu tenang, hanya suara dari hewan ternak yang begitu jelas terdengar.
Saat melewati sebuah area peternakan kambing di dalam area pagar yang mengelilinginya, Jingga teringat akan masa kecilnya di benua Majang. Ia adalah penggembala kambing milik keluarganya, namun semuanya harus musnah ketika perang merambat ke desanya.
"Kak Jingga, kenapa Kakak melamun?" Tanya Qianmei memperhatikannya.
Jingga tersadar akan lamunannya di masa kecil, ia melirik ke arah suara gadis cantik yang terus menatapnya.
"Aku teringat akan masa kecilku di benua Majang" jawab Jingga lalu merangkul Qianmei meneruskan jalannya di wilayah desa.
__ADS_1
Puluhan orang desa langsung mengelilingi kelima pemuda dengan berbagai senjata. Terlihat para warga begitu waspada dengan keberadaan orang asing di wilayahnya.
"Katakan siapa kalian, berasal dari mana dan apa tujuan kalian di desa kami?" Tanya seorang pria tua dengan tombak di tangannya.
Jingga berjalan dua langkah ke arah pria yang bertanya.
"Maaf, Tuan. Kami adalah pengembara dari benua seberang, namaku Jingga dan yang di belakangku adalah teman-temanku" jawab Jingga dengan sopan.
Pria tua langsung memperhatikan Jingga dari atas sampai bawah, ia mengangguk mempercayainya, kemudian ia beralih memperhatikan keempat pemuda lainnya, keningnya berkerut merasa curiga.
Jingga yang merasa pria tua itu mulai mencurigai keempatnya, ia lalu merubah warna ketiga gadis dan Qianfan sedikit gelap sepertinya.
Puluhan orang desa langsung mendekati kelima pemuda berbeda ras itu.
"Kenapa hanya kau saja yang bermata besar dan rambut yang seperti ombak di pantai, sedangkan keempatnya lebih mirip dengan kami, tapi warna kulitnya seperti tidak pernah mandi?" Tanya pria tua yang baru diketahui adalah Sepuh Desa.
Keempat pemuda saling melirik dan terkejut dengan perubahan warna kulitnya, namun mereka menahan keterkejutannya karena tahu Jingga yang melakukannya.
Jingga sendiri merasa senang mendengar ucapan Sepuh Desa. langit yang beranjak gelap pun sedikit membantunya memiliki kesempatan merubah warna kulit keempatnya.
Seandainya ketika di langit ia menyadari harus merubah keempat adiknya, ia pasti akan merubah wajah keempatnya, namun terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Karena di benuaku, aku adalah yang tertampan, kau harus percaya kepadaku" jawab Jingga seenaknya saja.
"Apakah kalian membawa sesuatu yang berharga untuk kami semua?" Tanya Sepuh Desa menodongnya.
Jingga langsung berbisik ke telinga Sepuh Desa.
"Aku punya banyak arak dari berbagai benua, kau akan menjadi satu-satunya orang yang memilikinya kalau kau mau" bisiknya membuat Sepuh Desa manggut-manggut.
"Dan aku juga punya banyak sumberdaya langka, apa kau ingin memilikinya sendiri atau kau akan membagikannya kepada wargamu?" Imbuh Jingga membisikinya.
Sepuh Desa langsung membalas membisiki Jingga.
"Itu untukku sendiri, kau jangan mengatakannya kepada orang lain, diam-diam saja" pintanya berbisik.
Jingga langsung mengangguk menyetujuinya lalu membisikinya lagi.
"Atur sajalah, Bapak Sepuh Desa" bisiknya sambil menggerakkan kedua alisnya membuat Sepuh Desa tersenyum kecut melihatnya.
Sepuh Desa langsung menoleh ke arah warganya lalu membubarkannya. Setelahnya ia melirik kembali kelima pemuda yang masih berdiri dengan tenang.
__ADS_1
"Kalian pasti lelah setelah berkelana jauh, aku sebagai Sepuh Desa akan menjamu kalian semua, mari silakan ikut!" Ucap Sepuh Desa mengajak kelimanya.
Dalam perjalanan menuju rumah Sepuh Desa. Bai Niu, Qianmei dan Du Zhia saling sikut dan saling berbisik karena warna kulitnya berubah gelap, sedangkan Qianfan hanya diam saja mengikuti Jingga yang sedang berbincang dengan Sepuh Desa di depannya.
Sesampainya di rumah Sepuh Desa, kelimanya diarahkan ke sebuah ruangan yang cukup luas untuk bercengkrama.
Baru saja kelimanya duduk, dari arah luar rumah Sepuh Desa banyak pasukan kerajaan yang menyatroninya.
"Pun Tung, keluar kau!" Panggil seseorang dengan suaranya yang nyaring.
Sepuh Desa terlihat begitu bingung, ia kembali berdiri dari tempat duduknya.
"Kalian tunggu sebentar" pinta Sepuh Desa kepada kelimanya. Ia lalu keluar menghampirinya.
"Hormat untuk anda, Komandan Po Ching. Ada apa Komandan mendatangi kediamanku?" Tanya Sepuh Desa begitu formal.
"Tak usah berbasa-basi, warga melaporkan kepadaku kalau kau menuembunyikan lima pemuda asing, bawa kemari!" Jawab Komandan Po Ching begitu tegas memintanya.
"Baik, Komandan. Mereka ada di dalam, aku akan memanggilnya" timpal Sepuh Desa lalu berbalik.
"Tidak usah repot-repot Sepuh Desa" Ucap Jingga yang berjalan di depan pintu diikuti keempatnya.
"Tangkap kelimanya!" Ucap Komandan Po Ching memerintah pasukannya.
Tanpa menjawab, semua pasukan yang dibawa Komandan Po Ching langsung meringkus kelima pemuda lalu menggiringnya meninggalkan rumah Sepuh Desa.
"Gagal deh aku mendapatkan arak dan sumberdaya" keluh Sepuh Desa lalu kembali masuk ke rumahnya dengan raut wajah kecewa.
Dalam perjalanan, Komandan Po Ching memperhatikan ketiga gadis yang digiring pasukannya.
"Andai kalian bertiga bersih, tentu kalian akan terlihat cantik seperti seorang Putri kerajaan, sayangnya kalian terlihat seperti langit malam tanpa bintang" ujar Komandan Po Ching mengomentari ketiga gadis.
"Aku akan meminta seorang mucikari mendandani kalian, semoga saja kalian terlihat lebih baik" imbuhnya dengan niat busuk.
"Kebetulan kulitku gatal-gatal, Komandan mungkin mau menggarukinya" balas Du Zhia menanggapinya. Ia berpura-pura menggaruki tangannya.
"Bukan kau saja, aku pun sudah lama tidak disentuh pria karena kulitku yang berkapur" sambung Bai Niu dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Komandan Po Ching.
"Kalian berdua masih mending, kulitku malah bersisik seperti ular, aku bahkan tidak berani mendekati laki-laki, siapa tahu Komandan mau mengobatiku" sambung Qianmei menambahkan.
Komandan Po Ching yang mendengar ketiganya langsung merinding ngeri.
__ADS_1
"Sialan! Ketiga gadis ini lebih buruk dari beast monster" rutuknya lalu berjalan cepat ke barisan depan.