Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Cerdik


__ADS_3

"Aku tidak suka dengan ucapan yang menggantung, katakan atau jangan melanjutkannya" ucap Jingga dengan tatapan tidak senang.


"Hei, kau laki-laki atau bukan sih? Kenapa seperti wanita yang sedang datang bulan?" ledek Xinxin.


"Sudahlah, aku balik ke penginapan" ketus Jingga yang lagi suntuk suasana hatinya.


"Ada ya pria yang seperti dia, memalukan bangsa iblis saja" gumam Xinxin.


"Kau bilang apa?" Tanya Jingga yang mendengarnya.


"Tidak, aku hanya bergurau saja. Nanti setelah di kediamanku, kau pasti akan mengetahuinya sendiri pertanian yang kami kerjakan" jawab Xinxin lalu membuang muka.


Ia mulai kurang menyukai Jingga yang bersikap seperti layaknya perempuan. Jingga sendiri bisa merasakan ketidaksukaan Xinxin kepadanya, itu yang ia harapkan agar gadis itu tidak berusaha mendekatinya.


Jingga lalu mengikutinya tanpa sedikitpun melirik gadis yang berjalan di sampingnya.


Selama perjalanan, keduanya tidak lagi berbicara sepatah kata pun.


Lama mereka berjalan, akhirnya sampai juga di sebuah rumah yang begitu besar yang terletak di ujung kota.


"Masuklah!" Pinta Xinxin setelah membuka pintu rumahnya.


"Aku ingin lihat pertanian yang kau maksud, setelah itu aku akan pergi" ucap Jingga tidak punya kepentingan apa pun selain penasaran akan pertanian klan Xuenong.


"Terserah kau saja" balas Xinxin.


Baru saja keduanya memasuki ruang dalam, beberapa orang berkelebat menghadangnya.


"Xin'er, siapa yang kau bawa?" Tanya seorang pria terus memperhatikan pemuda di samping Xinxin.


"Ayah, dia adalah kekasihku" jawab Xinxin.


"Halo, Tuan. Saya Jingga" sambung Jingga menyapanya.


"Pergilah dan jangan pernah kembali. Kau tidak layak bersama putriku"


"Baik, saya permisi kalau begitu" timpal Jingga lalu berbalik pergi.


"Tunggu!" Panggil Xinxin menahannya.


"Xin'er, masuk!" Bentak sang ayah memintanya.


"Tidak mau, aku akan ikut bersamanya" tolak Xinxin lalu menarik tangan Jingga meninggalkan kediamannya.


Wuzz!


Rantai energi menarik paksa Xinxin memasuki kembali rumahnya.


Jingga tidak mempedulikannya, ia terus saja berjalan di luar kediaman klan Xuenong.


"Lepaskan aku, Ayah" pinta Xinxin sambil meronta untuk melepaskan diri dari rantai energi yang mengikatnya.


Ayahnya langsung membuat Xinxin tertidur dan membawanya ke kamar.


"Zhan'er, habisi pemuda itu" pinta seorang wanita kepada anak lelakinya.


"Baik, Ibu" sahutnya.


Jingga yang baru memasuki area kota merasakan kehadiran seorang iblis berkelebat mendekatinya.

__ADS_1


Siu!


Dhuar!


Lesatan energi mengarah kepadanya, Jingga melesat ke udara.


"Kau cukup cepat juga" ucap Xinzhan memujinya.


"Sayangnya, kau akan mati" imbuhnya lalu mengeluarkan pedangnya.


Jingga memindai tingkatan kultivasi pemuda yang melayang ke udara menghampirinya.


"Emperor Platinum, lumayan" gumam Jingga.


"Kau jangan merendahkanku, bajingan!" Geram Xinzhan lalu melesat menebaskan pedangnya.


Jingga menyeringai melihatnya, ia tidak berkelit menghindari tebasan Xinzhan. Jingga menempelkan kedua jari telunjuknya lalu menembakkan api kematian.


Wuzz!


Srett!


"Aah!" Jerit Xinzhan merasakan kesakitan di dadanya yang berlubang.


Namun ia masih terus melesat mengayunkan pedangnya, Jingga langsung mempiting ujung pedang yang mengarah padanya lalu mengalirkan api semesta untuk meleburkannya.


Xinzhan yang melihat pedangnya hancur menjadi abu dengan cepat melepaskannya dan mundur menjauhinya.


"Kau, siapa kau sebenarnya?" Tanya Xinzhan begitu ketakutan melihatnya.


Ia lalu merapalkan mantra dan memanipulasi udara di sekitarnya, berbeda dengan Xinxin yang membuat udara menjadi beku, Xinzhan merubahnya menjadi bergemuruh dan membentuk partikel panas.


"Sungguh sihir yang menarik" gumamnya melihat udara berubah menjadi begitu panas.


"Kenapa dia tidak meleleh? Iblis macam apa dia?" Tanya pikir Xinzhan sulit untuk mempercayainya.


Jingga tidak tinggal diam, ia langsung membuat pola di jemari tangannya memanipulasi api kematian dan memadukannya dengan teknik Jerat Penghisap Jiwa miliknya.


Sinar hitam keperakan membentuk sebuah jemari tangan iblis melesat mencengkeram kepala Xinzhan.


"Aah! Apa yang kau lakukan?" Teriak Xinzhan merasa kesakitan yang luar biasa.


Tubuhnya menggigil seketika, energinya habis terkuras oleh api kematian dan akhirnya jiwa iblisnya terhisap oleh Jingga.


"Sayang sekali, tidak menambah kekuatanku" keluh Jingga sedikit kecewa.


Jingga kembali turun ke tanah dan meneruskan perjalanannya menelusuri kota menuju penginapannya.


Kediaman klan Xuenong.


Patriark klan begitu tersentak setelah mengetahui jiwa putranya lenyap.


"Jingga" ucapnya begitu geram.


"Suamiku, kita harus membalaskan kematian putra kita" ucap Xanghua yang mengetahuinya juga.


Keduanya lalu melesat ke udara dan pergi mencari pemuda yang telah membunuh anak lelakinya.


Setelah melihat pemuda yang masih santai berjalan sambil sesekali menenggak araknya, patriark Xintio dan istrinya Xanghua lalu menembakkan energi api.

__ADS_1


Wuzz!


Dhuar! Dhuar!


"Kalian mau menghancurkan kota?" Tanya Jingga di belakang keduanya.


Sepasang iblis langsung membalikkan badan, keduanya terkejut dengan kecepatan Jingga yang tidak bisa dirasakannya.


"Pemuda ini dua kali lebih tinggi dari ranah kita, gunakanlah sihir untuk membelenggunya" ucap Xintio di alam pikir istrinya.


"Baik, kau cobalah mengalihkan perhatiannya" balas Xanghua mulai merapalkan mantra.


Xintio mengeluarkan dua beli yang bersinar merah dan biru di bilahnya lalu melesat menyerang Jingga.


Siu!


Wuzz!


Gerakan tangan Xintio yang begitu cepat membuat Jingga harus menggerakkan badannya seperti karet untuk menghindarinya. Sambil menghindari tebasan Xintio, Jingga berputar menciptakan angin beliung, ia kemudian mereplika tubuh Xintio menjadi dirinya dan ia pun berubah menyerupai Xintio.


Dengan ketangkasan dan kecepatannya, Jingga mengambil alih dua belati yang dipengang Xintio lalu berbalik menyerangnya.


Tidak jauh dari keduanya, Xanghua menciptakan sebuah ilusi lalu menarik tubuh pemuda yang bertarung dengan suaminya ke dalam dimensi ilusi.


Jingga tersenyum melihatnya, ia lalu memancarkan api kematian ke dalam dimensi ilusi yang dibuat oleh Xanghua. Setelahnya ia lalu menhampiri Xanghua dan menganggukkan kepala meminta Xanghua menyerang Jingga di dalam dimensi ilusi.


Setelah melihat Xanghua memasukinya, Jingga langsung menyegelnya dengan perisai iblis.


Jingga mengeluarkan arak sambil menunggu sepasang iblis saling bertarung sampai kehabisan energi dihisap oleh api kematian.


Di dalam dimensi ilusi, Xanghua langsung menyerang suaminya yang masih menyerupai Jingga.


"Hua'er, kenapa kau menyerangku?" Tegur Xintio terus menghadang serangan istrinya.


"Kau harus mati, kau telah membunuh putraku" jawabnya lalu terus mengayunkan pedangnya menyerang Xintio yang belum menyadarinya.


"Hentikan Hua'er, aku suamimu" timpal Xintio mulai merasakan kejanggalan.


Tidak ada sahutan dari Xanghua yang begitu buas menyerang suaminya. Kesal karena terus mendapatkan serangan bertubi dari istrinya, Xintio langsung mengerahkan energinya untuk melumpuhkan istrinya.


"Hah! Kenapa energiku menghilang?" Gumamnya tidak bisa mengerahkan energi.


Xanghua tidak menyianyiakan kesempatan melihat pemuda di depannya lengah, ia langsung menyilangkan tebasan ke tubuh pemuda di depannya.


Siu!


Sret! Sret!


Beberapa bagian tubuh pemuda di depannya terpotong.


"Matilah kau pemuda sialan!" Teriak Xanghua lalu mengarahkan ayunan pedangnya mengenai leher pemuda di depannya.


"Tunggu!" Pinta Xintio menahannya.


Bilah pedang Xanghua berhenti tepat di lehernya, Xintio menatap pilu wajah istrinya.


"Kita telah terpedaya oleh pemuda itu" imbuh Xintio lalu menunjukkan liontin pemberian istrinya.


Xanghua melebarkan matanya terkejut melihat liontin buatan dirinya tergantung di dada pemuda yang akan dipenggalnya.

__ADS_1


__ADS_2