
Jingga masih terdiam tanpa kata-kata. Hanya jemarinya saja yang bergerak mengusapi dagu memikirkan sesuatu. Pandangannya menerawang jauh ke awang-awang. Akan tetapi, bukanlah suatu keputusan yang dipikirkannya, bukan pula soal strategi untuk membantu bangsa iblis membalaskan dendam kepada musuh yang telah menghancurkan kelima sekte di alam fana. Ia malah berkhayal hidup bahagia bersama istrinya di suatu tempat yang damai tanpa keberadaan ras mana pun di dalamnya.
Para iblis terus menatapnya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Jingga. Mereka hanya bisa menerkanya saja. Hingga beberapa waktu kemudian, Jingga kembali pada kesadarannya.
"Jenderal Jieru," panggil Jingga dengan sorot matanya yang tajam.
"Iya, Yang Mulia," sahut sang Jenderal begitu penasaran pada titah yang akan diembankan padanya.
Dalam hatinya, ia berharap bisa mendapatkan titah untuk mengeksekusi para komandan yang telah gagal menjalankan misi.
"Simpan kembali pedangmu. Tidak usah kaubunuh semua anak buahmu." Titah Jingga lalu menoleh ke arah sang Ratu.
"Baik, Yang Mulia." Balas Jenderal Jieru menurunkan pedangnya dan kembali pada posisi tegap tanpa menunjukkan rasa kecewanya.
"Nyonya, buatlah pesta di istana. Urusan kerajaan biar nanti saja kita pikirkan bersama."
"Ba-baik, Yang Mulia." Gugup sang Ratu merasa heran dengan permintaan Jingga yang di luar perkiraannya.
Para iblis lainnya pun merasa heran dengan ucapan yang terlontar dari mulut sang Penguasa iblis tersebut. Pikiran mereka sama dengan yang dipikirkan oleh sang Ratu.
Melihat para iblis begitu kebingungan, Jingga mulai memikirkan soal kondisi yang terjadi di alam fana. Ia pun meminta sang Ratu untuk tidak langsung beranjak pergi dari tempatnya. Hampir semua iblis kembali dibuat heran olehnya. Suasana di aula iblis menjadi terasa kaku karenanya.
"Kenapa kalian terlihat begitu tidak nyaman? Santai saja," ucapnya mencoba mencairkan suasana yang kaku.
"Nyonya Xin Li Wei, pastikan pestanya sangat meriah. Ha-ha," kata Jingga sambil terkekeh.
"Aku akan menemui kedua monsterku. Selamat menikmati pesta." Imbuhnya lalu menjentikkan jari membuat portal dimensi yang terhubung langsung ke sekte Mofa Gu.
Ia lalu memasukinya. Kini terlihat olehnya, suasana sedikit menggelitik naluri bertarungnya. Di mana beberapa iblis sedang digembleng dengan begitu keras oleh kedua monsternya. Zilla dan Jirex yang tanpa perasaan terus saja menyiksa para murid sekte Mofa Gu. Akan tetapi, setelah memperhatikan dengan seksama. Jingga merasa ada yang janggal dengan jumlah murid sekte yang hanya beberapa iblis saja.
"Kenapa hanya sedikit murid sekte yang berlatih? Di mana yang lainnya?" Gumam pikir Jingga sedikit heran.
Di tempat pelatihan, Jirex merasakan kehadiran Jingga tidak jauh dari posisinya. Ia lalu menoleh ke arah sampingnya.
__ADS_1
"Kakak!" Pekik Jirex memanggil.
Zilla yang masih fokus menyiksa para murid sekte langsung menghentikan pelatihan. Keduanya lalu menghampiri Jingga. Tak lama kemudian, keempat tetua sekte saling bersusulan ikut menghampiri. Lain halnya dengan para murid sekte yang merasa lega setelah kehadiran Jingga yang membuat pelatihan menjadi terhenti. Para murid sekte pun melangkahkan kaki mendekatinya.
"Hormat, Yang Mulia." Ujar semua tetua serentak.
"Hem!" deham Jingga lalu mendelik tajam pada kedua monsternya dengan tatapan penuh tanya.
Zilla memahami tatapan kakaknya, lalu berkata,
"Total semua murid sekte berjumlah 200 iblis. Yang Mulia lihat sekarang merupakan murid sekte yang mampu bertahan. 10 di antaranya merupakan murid dari divisi penyihir suci Sheng Nuwu, 5 dari divisi elementalis Yuansu, 4 dari divisi alkemis Wushi Xuetu, dan hanya 2 yang berasal dari divisi pemikat hati Moshu Shi." Bebernya menjelaskan sisa murid sekte yang bertahan dari total 200 murid sejak keduanya menjadi mentor bertarung.
"Lalu, sisanya?" tanya Jingga ingin mengetahuinya juga.
"Mati." jawab Zilla begitu lantang dan penuh rasa bangga.
Perkataan itu membuat keempat tetua sekte Mofa Gu begitu geram pada kedua monsternya Jingga. Namun, mereka terpaksa harus memendamnya. Karena mereka sendiri pun mengalami penyiksaan yang lebih mengerikan dibanding dengan murid-muridnya.
Jingga lalu memperhatikan setiap murid yang terlihat sangat menyedihkan. Beberapa di antaranya bahkan terlihat kehilangan anggota tubuh.
"Bukannya Kakak sendiri yang meminta kami melatih mereka cara bertarung? Kalau soal kultivasi, tentunya bukan ranah kami yang meningkatkannya." Jawab Zilla mengingatkan kembali misi yang diberikan oleh kakaknya.
Jingga tertegun mendengarnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Zilla, ia hanya meminta kedua adik monsternya hanya untuk berlatih cara bertarung yang brutal, liar, dan tanpa ampun kepada semua anggota sekte Mofa Gu.
"Bagus, aku akan menguji hasilnya," tanggap Jingga penuh keyakinan.
Apa yang dikatakan oleh Jingga membuat keempat tetua memiliki pandangan berbeda, salah satunya adalah Du Zui yang merupakan tetua dari divisi pemikat hati Moshu Shi. Ia tampak sedikit cemas pada murid asuhnya yang tinggal menyisakan 2 iblis saja.
"Maaf, Yang Mulia. Ujian apa yang akan diembankan kepada kami?" Du Zui ingin memastikan kedua muridnya tetap memiliki peluang hidup setelah beberapa anak asuhnya harus tewas karena pelatihan.
"Ha-ha-ha, sebaiknya kalian memulihkan dan merapikan diri. Aku akan membawa kalian semua mengikuti acara pesta di istana kerajaan iblis," ujar Jingga tanpa mau langsung menjawab maksud pertanyaan dari Du Zui.
Walau sedikit kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan intinya. Tetua Du Zui menganggukkan kepala menyetujuinya. Ia bersama dengan ketiga tetua lainnya langsung pergi membawa para murid sekte ke divisinya masing-masing.
Kini hanya tinggal Jingga bersama kedua adik monsternya Zilla dan Jirex yang masih berdiri di tengah-tengah keempat kastil sekte Mofa Gu.
__ADS_1
"Apa kalian tahu di mana Xin'er?" tanya Jingga baru mengingatnya.
"Dia berada di luar kota Zhandao Shibing bersama Nona Chyou." Kali ini Jirex yang menjawabnya.
"Ya sudah, biarkan saja dia bekerja dengan baik bersama Nona Chyou." Timpal Jingga.
Wuzz! Tap, tap!
Dua iblis cantik yang baru saja dibicarakan tiba-tiba sudah berada di hadapan ketiganya.
"Apa Yang Mulia tidak ingin menanyakan diriku juga?" sindir Nona Chyou lalu membungkukkan badan bersama Xinxin di sebelahnya.
"Ha-ha-ha. Kau terlalu cepat tiba sebelum aku sempat menanyakan dirimu." Kilah Jingga sekenanya.
"Betulkah? Tapi aku adalah gadis yang tidak bisa dibohongi." Balas Nona Chyou menyindirnya.
Jingga langsung menatap tajam ke arahnya. Hal itu langsung membuat Nona Chyou tertunduk takut tidak berani terus menatapnya.
"Ma-maafkan aku, Yang Mulia." Lirihnya dengan perasaan takut.
"Ha-ha. Sudahlah! Kebetulan kalian berdua datang. Ceritakan semua capaian kalian berdua dalam menjalankan misi. Apakah ada kendala yang kalian hadapi?"
Nona Chyou melirik Xinxin di sebelahnya yang langsung menganggukinya untuk segera menceritakan hasil misi dalam perekrutan para iblis di kota Zhandao Shibing. Ia lalu berbalik menatap Jingga dan menjabarkannya.
"Awalnya upaya kami berdua terendus oleh mata-mata istana. Tetapi, beberapa waktu belakangan, kami tidak menemui kesulitan apa pun. Aku sendiri takut hal itu merupakan jebakan yang dipersiapkan oleh mata-mata istana, lalu kami mencoba untuk memancingnya, dan tidak ada kejadian apa pun,"
"Lalu, sudah ada berapa iblis yang menjadi pasukanku?"
"Lumayan banyak, kami sudah mendapatkan 3 iblis yang siap sedia menjadi perisai di barisan Yang Mulia."
"Wow, sangat banyak!" sarkas Jingga menyindirnya.
Jirex dan Zilla yang daritadi diam langsung melebarkan matanya. Keduanya tampak heran dengan jawaban Nona Chyou yang begitu bangga dengan hanya mendapatkan 3 iblis yang akan menjadi pasukan di bawah kepemimpinan kakaknya.
"Maaf, Yang Mulia. Maksudku, 30 iblis yang telah menyatakan diri tunduk pada Yang Mulia." Sambung Nona Chyou meluruskannya.
__ADS_1