Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertempuran Komplikasi Tiga Alam


__ADS_3


Jingga cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap istrinya dengan ekspresi lucu.


“Sejak kapan istriku menjadi wanita yang tidak sabar?”


Xian Hou memicingkan mata meliriknya dengan mimik wajah tidak suka dan bibir yang mengerucut lalu membalasnya,


“Harusnya kamu tanya dirimu sendiri, sejak kapan kamu menjadi pria yang banyak berceloteh tidak jelas?” 


Jingga tidak berkutik dibuatnya, ia tahu, berdebat dengan istrinya bukanlah sesuatu yang bisa dimenangkannya. Bahkan dengan peluang kemenangan 99% pun istrinya bisa langsung membalikkan keadaan untuk membungkamnya.


Suasana menjadi serba salah untuk Jingga, sedangkan kedua adiknya hanya bisa menelan saliva memperhatikan kedua kakaknya.


“Jawab kalau aku tanya!” imbuh Xian Hou dengan nada tinggi.


“Ma-maaf, Sayang,” 


“Itu bukan jawaban, katakan dengan benar!” 


“Ya ampun! Apa dosaku sehingga memiliki istri yang begini?” keluh batin Jingga merasa putus asa.


“Kenapa diam?”


Ingin sekali rasanya Jingga menjambak istrinya karena gemas dan kesal di hatinya. Biarpun begitu, Xian Hou tetaplah seorang istri yang sangat dicintainya. Ia hanya bisa diam saja membiarkan istrinya terus mengomeli dirinya.


“Naninu, Memimu. Kalian jaga Nenek Peot di sini. Aku akan menghancurkan formasi ilusi yang mengurung hutan,” pinta Jingga lalu melaju ke suatu tempat tidak jauh dari posisinya.


“Aliansi Es Utara, kalian sungguh pintar. Sayangnya, aku bukan orang yang bisa kalian kelabui,” gumam Jingga kemudian membuat pola rumit di jarinya sambil membaca mantra.


KRAK! KRAK!


Tampak retakan formasi mulai muncul di sekitarnya yang terus meluas di sekeliling hutan. Tidak lama kemudian, serpihan energi dari formasi ilusi berhamburan di udara. Langit pun berubah menjadi gelap dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip, dan hutan di bawahnya berubah menjadi lahan kosong yang dipenuhi oleh puing-puing bekas reruntuhan dan juga beberapa mayat dari aliansi Es Utara yang terbujur kaku di antara puing-puing. 


“Sungguh, ilusi yang sempurna…. Menarik untuk mengetahui siapa yang menciptakannya. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya,” gumam Jingga setelah memperhatikan area di bawahnya.


Ia lalu kembali ke tempat istri dan kedua adiknya menunggu. 


“Istriku, ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi pendiam?” tanya Jingga merajuknya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Ayo kita ke kota Luyan! Via udara saja, tidak perlu berjalan kaki.” Jawabnya sedikit ketus.


Jingga mengangguk pelan. Ia kemudian menggenggam jemari tangan istrinya, namun, Xian Hou langsung menepisnya.


“Jangan sentuh aku!” kata Xian Hou menolaknya.


“Kamu marah?”


“Tidak.”


Tidak ada lagi yang bisa Jingga lakukan untuk membujuk istrinya, ia lalu melirik Bai Niu dan Qianmei yang iba menatapnya. Jingga pun berbalik dan memimpin kembali perjalanan menuju ke kota Luyan.


Dalam perjalanan melintasi udara menuju kota Luyan di kekaisaran Fei. Tidak ada percakapan yang mengiringi perjalanan sepasang suami istri yang bergelut dengan perasaan dan ego. Bahkan, dua gadis yang berwajah palsu dipaksa bungkam oleh pertengkaran kedua kakaknya.


Malam kian sunyi, namun tidak pada kepala sepasang kekasih yang semakin bising. Jingga yang melayang paling depan sedikit memperlambat laju terbangnya. Ia menikmati keheningan malam yang meredam panas di hatinya.


“Di dalam cinta, keheningan lebih berarti daripada percakapan, sebab cinta awalnya bukan kata, melainkan rasa. Kubiarkan keheningan yang akan menjawabnya,” kata hati Jingga berceloteh.


Xian Hou tersentak mendengarnya, hatinya yang terpaut dapat mendengar jelas kegundahan hati sang suami. Ia pun membalasnya,


“Kamu terlalu lama meninggalkanku sehingga aku terbiasa dengan sepi dan kesendirian. Kau mungkin mengira aku terobati oleh kedua adikmu, tapi itu hanya pengalihan kerinduan di hatiku. Aku masih merasa sedih sendiri, aku tidak sanggup mendera rindu yang bersemayam selama ini.”


Giliran Jingga yang tersentak mendengar keluh kesah sang istri. Ia terdiam menerjemahkan setiap kata demi kata yang meluncur deras dari hati sang istri.


“Tidak mengapa, suamiku. Tidak setiap hal harus kau mengerti, cukup rasakan saja apa yang terasa di hatimu.”


“Terima kasih, istriku. Aku hanya takut kau terus bungkam. Akhirnya setiap katamu meleburkan keresahanku. Aku sayang kamu.”


Xian Hou tersenyum mendengarnya, ia lalu mempercepat laju terbangnya untuk mendampingi Jingga yang melaju sendirian di depannya.


“Suamiku,” panggilnya lirih.


Jingga langsung menolehkan wajah menatapnya sendu dan tersenyum simpul menyahuti panggilan istrinya.


“Maafkan aku yang menyakitimu hari ini, sungguh! Aku hanya melampiaskan kerinduanku padamu,” ucapnya dengan wajah tertunduk menyesali diri.


“Tanpa kamu mengatakannya, aku sudah lebih dulu memaafkanmu.” Balas Jingga lalu mengusap lembut pipi Xian Hou.


Sayang, suasana romantis di atas awan harus terhenti tatkala terdengar dentuman keras di bawahnya.

__ADS_1


BOOM! BOOM! BOOM!


Ledakan demi ledakan terdengar jelas di udara. Jingga langsung menghentikan laju terbangnya. Ia menggunakan mata iblisnya memindai area di bawahnya yang merupakan kota tujuan yang akan disinggahinya, yaitu kota Luyan ibu kota kekaisaran Fei.


Jingga mengerutkan kening melihatnya, tampak terlihat adanya pertempuran sengit dari ribuan prajurit kekaisaran yang saling menyerang satu sama lainnya. Terlihat pula keberadaan ratusan kultivator dari berbagai klan maupun sekte yang ikut mengisi pertempuran.


Ia pun mengedarkan pandangannya ke berbagai arah di sekeliling kota Luyan. Kembali terlihat olehnya keberadaan keluarga kekaisaran yang sedang bertarung menghadapi para kultivator alam fana. Tidak sampai di situ, Jingga kembali mengedarkan pandangannya ke area terluar kota Luyan. Ia terperangah melihat keberadaan murid-murid sekte Mofa Gu yang tengah bertarung dengan brutal menghadapi ratusan prajurit yang disinyalir merupakan prajurit dewa dari istana Langit.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa sampai tiga ras bertarung secara bersamaan dalam satu lokasi?” pikir Jingga dipenuhi banyak pertanyaan.


“Suamiku, apa yang terjadi?” tanya Xian Hou yang hanya bisa melihat kilatan cahaya dan gemuruh suara pertarungan di bawahnya.


“Pertempuran komplikasi tiga alam,” jawab Jingga sekenanya.


Xian Hou mengerutkan kening tidak memahami maksud ucapan suaminya.


“Aku baru tahu, ternyata seorang nenek peot bisa terlihat imut ketika bingung. Ha-ha.” Imbuh Jingga terkekeh melihat ekspresi lucu dari istrinya.


“Berhentilah bercanda! Aku merasa pertarungan di kota Luyan lebih laik disebut dengan perang. Dentumannya tidak pernah berhenti dan gemuruh suara teriakan sampai menembus langit.” Ujar Xian Hou menganalisisnya.


“Betul katamu, istriku.” Timpal Jingga lalu melirik kedua adiknya.


“Memimu dan Naninu,” panggil Jingga.


“Iya, Kak.” Sahut keduanya serentak.


“Keluarga istana sedang bertarung di barat kota Luyan, aku melihat keberadaan Fan’er dan Zia’er di sana. Bantulah mereka sambil cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Kata Jingga memintanya.


“Baik, Kak. Kami langsung turun sekarang.” Sahut keduanya yang langsung melayang turun ke arah barat kota Luyan.


Jingga kembali menoleh ke arah istrinya.


“Sayang, sebagian prajurit kekaisaran merupakan para iblis yang bersemayam di tubuh prajurit. Gunakan energi cahaya yang kaumiliki untuk mengeluarkan para iblis dari tubuh prajurit.” 


Xian Hou mengangguk memahaminya. Namun, sebelum ia turun ke lokasi pertarungan. Xian Hou menyempatkan diri mencium lembut bibir Jingga.


“Dasar, Nenek genit. Sudah sana, nikmati pertarunganmu. Aku akan membantu para murid sekte Mofa Gu mengatasi prajurit istana langit.” Kata Jingga yang merasa aneh dicium oleh seorang nenek.


“Baik, suamiku. Awas saja kalau kau memintanya lagi dariku. Tidak akan aku kasih.” Balas Xian Hou mengancamnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Xian Hou melayang turun sambil mengedipkan sebelah mata menggoda suaminya.


Jingga tersenyum kecut menanggapinya. Ia lalu melayang turun ke arah terluar kota Luyan.


__ADS_2