
Jingga menutup kedua matanya dengan mengalirkan api semesta ke bilah pedang.
Pancaran api tak kasat mata mulai menyeruak menekan balik hantaman beliung bulu merak yang tanpa henti terus berputar cepat mengebor tubuh Jingga.
Tiba-tiba saja bilah logam Jianhuimie Yuzhou berputar cepat dari gagangnya meningkatkan kekuatan energi api semesta.
Brrr!
Siu!
Energi api semesta melesat menembus ke dalam pusaran beliung dan menghantam tepat dagu pria berbulu merak dan melubanginya.
"Sekarang!" Ucap Jingga langsung melesat ke udara menembus pusaran beliung yang berlubang tengahnya.
Siu!
Wuzz!
"Hiaaat!"
Sret!
Jingga mengayunkan pedangnya membelah tubuh pria berbulu merak secara vertikal.
"Jerat penghisap jiwa"
Jingga menjulurkan ujung pedang dengan dua jari manisnya menunjuk ke arah celah dua tubuh yang terbelah.
"Aah!" Jerit kesakitan pria berbulu merak merasakan jiwanya tertarik paksa.
Glek!
"Ha ha, jiwa yang sangat enak" kelakar Jingga setelah berhasil menelannya.
Boom!
Gelombang energi menyeruak di arena pertarungan, Jingga merasakan pondasi kultivasinya menjadi kokoh walau tidak mengalami kenaikan tingkat kultivasinya.
"Lumayan, aku sudah siap untuk pertarungan berikutnya" gumam Jingga cukup puas dengan hasilnya.
Dua bulu merak yang sangat indah melayang menghampirinya dan menempel menjadi tato di pergelangan tangannya.
"Eh, kenapa tidak menancap di rambutku?" Tanya pikirnya heran.
Jingga tidak menyangkanya, ia tadinya akan memberikan kedua bulu merak untuk istrinya sebagai hiasan rambut. Namun malah menempel di kedua pergelangan tangannya.
Tak lama setelahnya, anak tangga muncul di arena pertarungan. Jingga melesat terbang ke atasnya.
Bugh!
Jingga terjatuh menggelinding di anak tangga sampai ke dasarnya.
"Sialan! Aku tidak bisa terbang" rutuknya.
Jingga kembali bangkit dan berjalan setahap demi setahap menaikinya.
"Sepuluh ribu anak tangga, bisa gempor nih kaki" keluhnya sambil terus menaiki anak tangga dengan sabar.
"Perasaan sudah sepuluh ribu anak tangga yang aku lewati, kenapa masih jauh?" Tanya pikirnya merasa heran.
__ADS_1
Jingga melanjutkannya dan mulai menghitungnya.
"Satu, dua, tiga.." ucap Jingga menghitung setiap anak tangga yang dipijaknya.
"Sembilan ribu sembilan ratus sepuluh" imbuhnya lalu menengadahkan kepalanya melihat anak tangga di atasnya.
"Ha ha, begini amat ya, setiap mencapai arena selanjutnya harus dua kali lipat lebih jauh dari sebelumnya" gerutu Jingga setelah menyadarinya.
Pada anak tangga ke sepuluh ribu atau dua puluh ribu jumlah sebenarnya, Jingga akhirnya sampai di arena pertarungan kedua.
Tampak seorang remaja yang memiliki wajah lembut tersenyum kepadanya. Jingga langsung memindainya namun lagi-lagi ia tidak bisa melihat tingkat kultivasinya.
"Hebat betul, masih muda sudah memiliki pencapaian di atasku" gumam Jingga memujinya.
Wuzz!
"Hei!" Kaget Jingga melihat wajah remaja sudah di dekatnya.
Remaja itu mengerutkan kening menatapnya dengan begitu lekat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, bocah?" Tegur Jingga tidak senang.
Remaja itu tersenyum mendengarnya, ia tidak henti-hentinya memperhatikan Jingga dari atas sampai bawah.
"Kau yang bocah, iblis jelek" balasnya mengejek.
"Usiaku lebih tua darimu, walau tubuhku terlihat masih remaja berusia belasan tahun. Kau mau tahu rahasianya?" Imbuhnya.
Jingga mengerutkan bibir tidak peduli pada ucapannya.
"Aku selalu mencuci wajahku dengan krim anti penuaan dini. Sekali putaran, setengah putaran, bersihkan sel kulit mati dan kotoran. Putar putar di wajah, bilas. Multikolestrol" sambungnya menjawab pertanyaannya sendiri.
Bugh!
"Aah!" Jerit Jingga tersungkur di tanah dengan wajah terbenam.
Entah kapan remaja itu membantingnya dengan keras, tiba-tiba remaja itu sudah ada di belakangnya dan kembali membantingnya dengan keras.
Bugh!
"Aah!"
Bugh!
"Aah!"
Belasan kali Jingga menjerit kesakitan dibanting oleh remaja yang kecepatannya tidak bisa dilihat oleh Jingga.
"Chuanguo Yinying"
Jingga melesat cepat menghindarinya, namun remaja yang selalu tersenyum sudah berada dekat di hadapannya.
Bugh!
Jingga terkena pukulannya yang keras hingga terjengkang ke belakang.
Siu!
Wuzz!
__ADS_1
Jingga terlempar jauh dan langsung melesat menyerang balik remaja dengan pukulannya.
Wuzz!
Pukulannya hanya mengenai udara kosong, remaja yang dipukulinya tidak ada di tempat.
"Aku di belakangmu, bocah!" Ucap remaja itu memberitahunya.
Jingga langsung membalikkan badan mendengarnya
Bugh!
Lagi, Jingga harus terlempar jauh bergulingan di tanah dan berhenti tepat di kaki remaja yang menahan tubuhnya.
Bugh!
Remaja itu menendangnya dengan keras menciptakan percikan api dari gesekan tubuh jingga dengan tanah keras.
Bugh! Bugh! Bugh!
Jingga diperlakukan seperti bola yang terus melesat setiap kali ditendang oleh remaja hingga terpaksa Jingga melingkarkan tangannya di kaki remaja untuk menahan tubuhnya agar tidak terlempar jauh.
"Kau membuatku bosan" keluh remaja itu lalu menginjak tubuh Jingga hingga terbenam ke dalam tanah.
Remaja itu berjalan menjauhinya sambil melingkarkan kedua tangannya di dada dan menengadah melihat langit hitam di atasnya.
Jingga yang terjerembab ke dalam tanah akhirnya bisa kembali duduk dan bernapas lega.
"Makhluk macam apa bocah itu? Bagaimana dia bisa memiliki kecepatan yang begitu mengerikan? Aku sampai tidak memiliki waktu sedetik pun untuk berpikir" keluh Jingga.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di tanah sambil memandangi langit hitam, pikirannya terus berputar mencari cara agar tidak selalu menjadi mainan bocah remaja.
Jingga tidak menemukan jawaban untuk bisa mengalahkan remaja itu, ia begitu frustasi menghadapi kecepatannya. Sekeras apa pun ia berusaha memikirkannya, ia selalu menemui kebuntuan. Sampai akhirnya Jingga berhenti untuk memikirkannya.
Dalam kondisi pasrah akan kekalahannya, Jingga tiba-tiba teringat akan ucapan mendiang kakeknya Tang Xie Zhang sewaktu kecil.
"Kakek, apakah kekuatan puncak seorang kultivator bisa dikalahkan?" Tanya Jingga kecil.
"Ya, sekuat apa pun seseorang akan selalu kalah oleh kecepatan" jawab kakek Zhang.
"Berarti selain kuat, aku juga harus cepat ya Kek?" Imbuh pertanyaannya.
"Ya, keduanya harus beriringan, kekuatan tanpa kecepatan tidaklah berguna, begitupun sebaliknya kecepatan tanpa adanya kekuatan akan menjadi sia-sia" ujar kakek Zhang.
"Lalu apa yang bisa mengalahkan keduanya? Jangan bilang kehampaan yang bisa mengalahkannya" tanya kembali Jingga semakin ingin tahu.
"Kekuatan akan kalah dengan kecepatan dan kecepatan akan kalah dengan adanya momentum, itulah siklusnya, sebaiknya kau tidur, jangan lagi keluyuran" jawab kakek Zhang yang selalu sabar mendengarkan kebawelan cucunya.
Jingga yang teringat akan masa kecilnya lalu menyeringai tajam menemukan jawaban untuk menghadapi kecepatan remaja yang tampak bosan melawannya.
"Hei bocah, ayo kita lanjutkan" ajak Jingga begitu semangat walaupun dirinya terlihat sangat mengkhawatirkan kondisinya.
Jingga tampak seperti seorang pengemis yang bertahun-tahun tidak pernah mandi. Pakaiannya sobek compang camping di semua bagian, bahkan kondisinya sudah tidak berbentuk lagi seperti pakaian. Hanya bagian kain-kain kecil saja yang masih menempel di badannya.
Remaja itu tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Jingga, bahkan wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja.
"Kau sebaiknya bunuh diri saja, lihatlah dirimu yang begitu menyedihkan" saran remaja itu begitu iba melihatnya.
"Ha ha, kau jangan mencemoohku seperti itu. Tadi aku hanya berusaha untuk menguji kemampuanmu. Sungguh aku akui kau memiliki kecepatan yang sangat mengerikan. Tapi kekuatanmu masih sangat lemah, lihatlah dengan jelas. Apakah tubuhku tergores?" Kelit Jingga lalu tersenyum dengan merentangkan tangan memperlihatkan bagian tubuh yang memang tidak mengalami luka apa pun.
__ADS_1