Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kai Jun dan Ming Na


__ADS_3


Lubang portal terbuka di tengah perkebunan jeruk. Jingga dan Qianmei yang baru saja keluar dari portal langsung terkekeh melihatnya. Semilir angin lembut menerpa keduanya yang terlihat sangat ceria.


“Apa kau ingin memetiknya, Memimu?” Jingga meliriknya dengan tersenyum.


“Tidak, Kak. Yang kuinginkan pemilik senyum di dekatku,” kata Qianmei langsung menundukkan wajah.


Jingga semakin melebarkan senyum lalu membelai lembut pipi Qianmei. 


“Bukankah aku ini milikmu juga? Meski hanya menjadi seorang kakak, rasa sayang yang kuberikan tidak berbeda dengan rasa sayangku kepada Hou’er.” Jingga menarik tangannya dari pipi Qianmei lalu berjalan pelan sambil memperhatikan banyaknya buah jeruk yang menggantung di pepohonan.


Qianmei tersipu mendengarnya, ia berjalan cepat menyusul Jingga di depannya lalu memeluk erat Jingga dari belakang. Sang kakak pun menghentikan langkah membiarkan sang adik memeluknya dengan erat.


“Kak,” bisik Qianmei di telinga.


“Iya,” sahut Jingga membalasnya.


“A– aku ingin jadi istri Kakak,” ucap Qianmei mengungkapkan.


Jingga menautkan alis sedikit terperangah mendengar pengakuan dari Qianmei. Ia lalu melepaskan kedua tangan Qianmei yang terikat di perutnya dan membalikkan badan.


“Memimu, …, kita bicarakan masalah ini nanti saja.” Jingga kembali berbalik melanjutkan langkah.


Qianmei terpaku di tempatnya menatap punggung Jingga yang semakin menjauh. Tak lama kemudian, ia tersenyum lebar.


“Kak Jingga menggantungnya … ini artinya, aku masih memiliki kesempatan … ah, semoga saja,” gumamnya mengartikan maksud dari perkataan Jingga.


Perjalanan kembali dilanjutkan keduanya sampai berada di batas terluar perkebunan jeruk. Jingga berdiri sambil mengedarkan pandangan ke arah di depannya. Sedangkan Qianmei lebih sering memperhatikan Jingga daripada obyek apa pun di sekitarnya.


“Kak, apakah kita akan mencari inang lagi?” tanya Qianmei.


Jingga menoleh melirik adiknya.


“Itu yang sedang aku pikirkan. Kondisi kita sekarang seperti umpan yang dilempar ke danau. Apa kamu bisa berubah wujud ke bentuk lain?”


Qianmei memiringkan wajah menengadah ke langit. Dalam benaknya, ia sedang memindai pengetahuan dari Dewa Iblis.


“Berkamuflase ya, Kak?” 


Jingga mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan oleh Qianmei.

__ADS_1


“Bisa, Kak.” Qianmei lalu mencobanya. Ia berubah menjadi burung kecil berwarna hijau cerah.


Bola mata Jingga melebar memperhatikan burung cantik yang mengepakkan kedua sayap di depannya. Tak lama kemudian, ia pun berkamuflase menjadi burung yang sama dengan Qianmei. Setelahnya, sepasang burung itu pun melayang terbang ke arah kota terdekat dari istana Langit.


Matahari tampak condong ke barat ketika dua burung berada di sisi terluar kota yang sangat megah. Kota yang memiliki banyak bangunan yang menjulang tinggi seperti menembus langit, menjadikan kota ini sebagai lambang kekuatan dan kemakmuran yang tidak bisa disaingi oleh kota mana pun di alam fana. 


“Kak Jingga, apa kita akan langsung memasuki kota?” tanya Qianmei mulai tidak tahan melihat suasana kota yang dipenuhi kehidupan dan kegembiraan. 


“Kau ini. Kedatangan kita pasti tercium oleh para cultivator. Kita harus mencari inang sebelum memasuki kota.” Jingga bermanuver ke arah gerbang kota diikuti oleh Qianmei yang terbang di belakangnya.


“Kak, lihat di bawah! Banyak orang yang mengantre memasuki gerbang kota,” kata Qianmei begitu bersemangat.


“Iya, aku tahu. Pilihlah salah satu dari mereka yang akan dijadikan inang,” balas Jingga sambil mengamati orang-orang yang berderet di depan gerbang kota.


“Aku sudah menemukannya. Lihatlah gadis bergaun hijau itu! Dia sangat cantik sepertiku dahulu.” Qianmei langsung melaju turun ke arah si gadis yang akan dijadikannya sebagai inang.


“Cepat sekali kamu menemukannya, aku bahkan belum punya pilihan yang pas,” gumam Jingga masih terus mencari pemuda yang cocok dengannya.


“Sialah! Apa di kota ini tidak ada pemuda yang tampan sepertiku?” Jingga masih disibukkan oleh pilihannya.


Di bawahnya, suasana terlihat sangat tertib. Orang-orang yang akan memasuki gerbang kota diperiksa satu per satu. Uniknya, para penjaga kota yang memeriksa bukanlah para penjaga yang memakai baju zirah seperti umumnya terjadi di kota kerajaan, para penjaga yang memeriksa tamu kota merupakan para cultivator beranah tinggi. Mungkin saja hal itu dilakukan karena ada kaitannya dengan perburuan penguasa iblis.


“Kai Jun, ada apa denganmu?” tanya seorang pemuda di belakangnya.


“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing,” jawab pemuda yang dipanggil Kai Jun.


“Berhentilah memikirkan gadis itu. Lihatlah di depanmu! Banyak gadis cantik yang bisa menggantikannya.”


Kai Jun menoleh lalu tersenyum.


“Betul juga katamu, Yong An. Kau sebaiknya tidak usah mengkhawatirkanku. Aku sudah menemukan gadis cantik yang akan menggantikannya.” 


Yong An terbelalak menatap Kai Jun. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal lalu berkata, “Secepat itu!”


Kai Jun mengangguk lalu memalingkan muka ke arah gerbang. Beberapa waktu kemudian, Kai Jun mendapat giliran pemeriksaan. 


“Kau pemuda lemah, jangan mencari masalah di dalam kota,” ujar seorang penjaga setelah memindai tingkat kultivasi.


“Baik, Tuan. Aku pemuda baik hati. Tuan tidak perlu mengkhawatirkanku,” balas Kai Jun lalu berjalan memasuki kota.


“Kai Jun, tunggu aku!” teriak Yong An yang sedang diperiksa oleh petugas.

__ADS_1


“Ya, aku tunggu,” balas Kai Jun tanpa menoleh.


Yong An yang telah selesai melalui pemeriksaan, langsung berlari menyusul Kai Jun yang berjalan ke arah lima gadis cantik yang tengah berdiri di depan sebuah kedai.


“Hai, Nona. Kau sangat cantik. Bolehkah aku menemanimu?” Kai Jun mengulurkan tangan.


Gadis cantik bergaun hijau tersenyum lembut lalu menyambut uluran tangan dari Kai Jun.


“Temani aku seumur hidupmu,” balas gadis bergaun hijau.


Di sampingnya, empat gadis membelalakkan mata tidak percaya akan sambutan salah satu temannya. Begitu pun dengan pemuda yang berada di belakang Kai Jun, lebih tidak memercayainya.


Kai Jun lalu menarik tangan si gadis dan membawanya meninggalkan para gadis dan seorang pemuda yang mematung memperhatikan keduanya.


“A– apa yang terjadi?” gugup seorang gadis tidak menduganya.


Para gadis saling melirik satu dengan yang lainnya. Sementara itu, Yong An yang tersadar langsung berlari menyusul temannya. Melihat pemuda itu berlari membuat keempat gadis bergegas mengikutinya.


“Ming Na, tunggu!” teriak seorang gadis bergaun merah.


Gadis bergaun hijau yang dipanggil Ming Na tidak menghentikan langkah. Ia terus melangkah bergandengan tangan dengan Kai Jun. 


Yong An yang telah dekat di belakang keduanya langsung menarik tangan Kai Jun.


“Kai Jun, kau sahabatku, jelaskan semuanya,” pinta Yong An dengan terengah-engah.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Pergilah, aku akan menyusulmu setelah bersenang-senang dengan kekasihku!” balas Kai Jun mengusirnya.


“Baiklah, aku menunggumu. Tapi, …, aku suka gadis bergaun ungu. Kau pasti memahamiku,” kata Yong An berbisik.


Kai Jun mengangguk seraya tersenyum memahaminya. Hal itu membuat Yong An berjalan sambil berjingkat senang meninggalkannya. Sementara di posisi sang gadis. Ming Na sedang diinterogasi oleh keempat gadis yang mengerubunginya. Tak lama kemudian, keempat gadis menarik tangan Ming Na. Namun, keempatnya terlihat begitu kesulitan membawa Ming Na dari posisinya.


“Kalian pergi saja, biarkan aku bersama kekasihku,” kata Ming Na lalu menarik kedua tangan dari cengkraman para gadis.


“Kau, aku akan melaporkanmu kepada Ayah dan Ibu,” ancam gadis bergaun putih lalu mengajak ketiga gadis untuk pergi meninggalkan Ming Na.


Setelah kepergian keempat gadis, Kai Jun menghampiri Ming Na yang berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


“Memimu, kenapa kau memilih gadis ini? Sungguh merepotkan!” ketus Jingga yang menempati tubuh Kai Jun.


“Habisnya gadis ini begitu cantik dan imut, aku menyukainya,” jawab Qianmei beralasan.

__ADS_1


__ADS_2