
Jirex tidak henti-hentinya terus saja mencabik-cabik pasukan iblis yang mulai terlihat panik karena setiap serangan yang dilancarkan para iblis tidak berdampak sekalipun di tubuh Jirex yang sangat keras.
Jenderal Jieru yang memperhatikannya sedikit tidak percaya akan kemampuan monster bertubuh asing yang sangat kuat itu. Dalam pemindaian dan pengamatannya, ia tidak menemukan satu pun titik lemah sang monster yang terus mengamuk menghabisi pasukannya.
"Pantas saja dia begitu mudah membantai ribuan monster iblis," gumamnya merasa kagum akan kemampuan bertarung yang ditunjukkan oleh Jirex,
"Siapa sebenarnya sosok yang menjadi tuannya? Apakah sosok itu adalah Yang Mulia Agung yang sedang diburu klan Linghun Lishou?" Imbuhnya.
Dalam situasi yang tidak menguntungkan pasukannya, Jenderal Jieru memutuskan untuk menggunakan formasi tempur andalannya. Ia lalu mengacungkan pedangnya ke langit. Tampak sinar merah melesak membentuk kilat petir yang membakar langit kota Monster. Para komandan yang melihatnya langsung menyambung aksi sang Jenderal dengan membentuk pola bintang dan menginstruksikan pasukan iblis pada formasi pola bintang di setiap sudut kota.
Jirex yang tengah asyik mencabik-cabik pasukan iblis di dekatnya langsung terdiam memperhatikan para iblis membentuk suatu pola bertempur di sekelilingnya.
Tiba-tiba saja tanah yang dipijaknya bergetar keras, langit yang berkilatan petir pun tampak berguncang, dan gelombang energi iblis mulai menekannya.
Bukan ketakukan yang dirasakan olehnya, Jirex malah semakin bersemangat untuk menghabisi semua iblis yang bersiap menyerangnya kembali.
Tidak berbeda jauh dengan Jirex. Zilla terlihat semakin tidak sabar untuk ikut bergabung dalam pertempuran yang memacu adrenalinnya, namun ia masih mempercayakan kepada kemampuan Jirex dan menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya.
Setelah formasi bintang iblis terbentuk sempurna, Jenderal Jieru langsung mengayunkan pedangnya ke arah Jirex.
Wuzz!
Dhuar!
Kilatan energi api dari langit melaju cepat menghantam Jirex yang berdiri tenang di tengah kota Monster. Tidak sampai di situ saja, berbagai serangan energi api dari pasukan iblis menyambungnya menyerang Jirex. Hal itu membuat kota Monster berubah menjadi lautan api.
Groooaar!
Jirex menderam keras merasakan tekanan pancaran dari berbagai energi api yang terus menghantam tubuhnya. Suhu hangat dari pancaran energi api semakin meningkat seiring waktunya, sampai pada titik di mana kulitnya berubah menjadi logam emas. Jirex bertransformasi ke tubuh logamnya.
Boom!
Gelombang energi sang monster memancar keluar menekan balik gelombang energi iblis yang menyebabkan ledakan keras dan menghancurkan pola bintang pasukan iblis. Jirex dengan kecepatannya yang tinggi langsung berkelebat mencabik-cabik para iblis sebelum mereka sempat kembali ke posisinya.
Di tengah lautan api yang masih membara, Jirex terlihat seperti gumpalan angin berwarna keemasan yang menghisap setiap tubuh para iblis dari satu titik ke titik lainnya di mana para iblis merasa kebingungan tidak bisa menghindarinya.
Di posisi keberadaan sang Jenderal Iblis. Jenderal Jieru mulai merasakan kepanikan melihatnya. Ia lalu meminta semua iblis melayang ke udara untuk menghindarinya. Namun, ia melupakan satu monster yang tengah bersiap untuk menyerang para iblis di udara.
__ADS_1
"Sekarang giliranku berpesta. Ha-ha-ha!" Seru Zilla melihat para iblis melesak ke udara bergabung dengan ratusan iblis lainnya yang memang berada di udara.
Suhu panas yang ekstreme memancar dari tubuh Zilla. Ia lalu melaju cepat menyerang para iblis yang belum sempat menyadarinya.
Dhuar! Dhuar! Dhuar!
Dentuman keras dari ledakan tubuh iblis terus bersahutan di udara. Kecepatan Zilla yang melebihi kilat petir berhasil membuat para iblis kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Hanya beberapa helaan napas, sudah ratusan iblis meledak tanpa bisa berbuat apa-apa.
Jenderal Jieru semakin panik dibuatnya. Ia terdiam membatu menyaksikan ribuan pasukan iblis terus berkurang jumlahnya.
"Sialan! Dia monster legenda," geram Jenderal Jieru baru menyadari sosok monster yang sedang menyerang pasukannya.
"Semuanya, lari!" Pekik Jenderal Jieru meminta pasukannya untuk mundur.
Ia lalu melesak keluar kota Monster diikuti para komandan dan ratusan pasukan iblis yang bersusulan melarikan diri di tengah serangan sang monster yang terus meledakkan setiap iblis di dekatnya.
Zilla menghentikan aksinya. Ia membiarkan para iblis yang tersisa melarikan diri dengan harapan akan kembali mencarinya.
"Huh!" Dengus Zilla merasa kurang puas meskipun telah membantai banyak pasukan iblis.
Ia lalu melesak turun menghampiri Jirex yang sudah kembali ke wujud manusianya.
"Ha-ha-ha. Biar kita mendapat pertarungan yang lebih seru nantinya." Kilah Zilla menjelaskannya.
Jirex mengangguk memahaminya, namun kekhawatiran tergambar di wajahnya. Zilla memahami apa yang sedang dikhawatirkan si gadis monster di depannya.
"Tenanglah, Jirex. Kita tidak gagal, merekalah yang menolak untuk bergabung dengan kita. Sebaiknya kita kembali menemui Kak Jingga," ujar Zilla berusaha menenangkannya.
"Baik, Kak." Balas Jirex sedikit tenang.
Zilla lalu membuat portal dimensi yang langsung menuju ke halaman luar kediaman Kakek Wu Yao.
"Ayo Jirex!" Ajak Zilla langsung menggenggam jemari tangan Jirex dan membawanya memasuki portal dimensi.
Jingga yang sedang berbincang dengan kakek gurunya merasakan kehadiran kedua beast monster di halaman luar.
"Jirex dan Zilla telah kembali. Aku akan menemui keduanya," ucap Jingga langsung berjalan ke arah pintu.
Kakek Wu Yao dan Feichang mengikutinya dari belakang. Tampak Zilla dan Jirex masih saling berpegangan. Jingga tersenyum simpul memperhatikan keduanya yang kini semakin dekat.
__ADS_1
Jirex langsung melepaskan genggamannya dan menjauhi Zilla beberapa langkah karena malu dilihat oleh tiga orang yang berjalan menghampiri keduanya.
"Cie, dua monster bisa bucin juga. Ha-ha-ha!" Ejek Jingga kepada keduanya.
Jirex langsung menundukkan wajahnya, walau tidak terlukis rona malu seperti laiknya seorang gadis di alam fana ataupun para dewi di alam dewa. Jingga masih bisa menangkapnya dengan baik.
Zilla yang masih menampakkan wajah datar yang menjadi ciri khasnya melangkah mendekati Jingga yang berdiri tak jauh darinya.
"Maaf, Kak Jingga. Tidak ada satu pun monster iblis dari sekte Neraka Iblis yang mau tunduk pada Kakak ... jadi kami berdua memusnahkannya." Beber Zilla melaporkan.
"Tidak masalah, itu bukti bahwa kita tidak memerlukannya," balas Jingga,
"Aku akan memberi misi baru kepada kalian berdua. Tentunya misi ini sangat mudah." Imbuhnya.
"Siap, Kak. Kami laksanakan!" Timpal Zilla dan Jirex penuh antusias.
Jingga terkekeh pelan melihat keduanya yang begitu sigap dengan perintahnya.
"Jangan berpikir dalam misi ini kalian bisa membantai seperti yang kalian lakukan di kota Monster,"
Zilla dan Jirex langsung mengerutkan kening, keduanya menjadi penasaran akan misi selanjutnya.
"Misi kalian sangat mudah. Kalian berdua hanya harus melatih para penyihir di sekte Mofa Gu untuk bisa bertarung dengan buas." Sambung Jingga menjelaskan maksudnya.
"Baik, Kak. Kami akan melatih semuanya dengan baik." Sahut Zilla dan Jirex serentak.
Di belakang Jingga. Kakek Wu Yao terbelalak mendengarnya. Ia membayangkan hal gila yang akan terjadi kepada semua murid-murid sektenya. Namun ia memahami keinginan Jingga yang sebelumnya begitu kecewa melihat kekalahan para tetua tatkala bertarung dengan seorang gadis dari klan pemburu Linghun Lieshou yang tak lain adalah Feichang.
Jingga yang selesai menjelaskan misi kepada kedua monsternya langsung berbalik menatap kakek gurunya yang sedang melamun.
"Halo, Kek!" Ucap Jingga.
"Eh, maaf, Yang Mulia." Sahutnya tersadar dari lamunan.
"Tak perlu khawatir, Kek. Tidak ada yang akan mati oleh pelatihan yang diberikan keduanya, kecuali memang lemah dan tak layak menjadi murid sekte," ujar Jingga memahaminya,
"Aku dan Chang'er akan pergi ke benua Siwang Zhihong. Kakek bisa fokus membantu keduanya di sekte Mofa Gu dan juga terus berkomunikasi dengan Xin'er tentang perkembangan pasukanku di luar kota Zhandao Shibing." Sambung Jingga berpamitan.
"Baik, Yang Mulia. Hamba laksanakan." Balas Kakek Wu Yao sambil menjulurkan kedua tangannya yang terkepal.
__ADS_1