Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Lima Pendekar


__ADS_3

Para pendekar menunjukkan reaksi tidak percaya pada perkataan dewi Serigala. Bagi para pendekar, Jingga tidak terlihat sehebat yang dikatakan oleh dewi Serigala.


"Hem! Kalian terlihat tidak mempercayaiku, apakah kalian akan mencobanya sebelum aku mengeksekusinya?" Tanya dewi Serigala menantang para pendekar.


Tantangan yang dilayangkan oleh dewi Serigala membuat suasana menjadi ramai dan dipenuhi oleh keinginan para pendekar untuk menunjukkan kemampuan di hadapan langsung dewi Serigala.


Tarik ulur dari perebutan siapa yang akan mewakili tiap kelompok pendekar untuk menunjukkan kepandaian terus terjadi.


Tap! Tap!


Seorang pendekar muda dengan cepat melompat ke tengah area eksekusi.


"Yang Mulia Dewi, saya Muda dari perguruan Tapak Alam. Izinkan saya mencoba bertarung dengannya" ucap Muda dengan menjura di depan dewi Serigala.


"Ha ha, silakan pendekar. Kau bisa mencobanya"


"Perdo! Lepaskan dia!" Perintah dewi Serigala kepada algojonya .


"Baik, Yang Mulia" sahutnya lalu melepaskan ikatan di tangan dan kaki Jingga.


Jingga bangkit berdiri lalu meregangkan badannya.


"Wanita jelek, apa kau yakin membiarkanku menghabisi cecunguk ini?" Tanya Jingga dengan lantang.


Muda yang mendengarnya begitu geram, ingin rasanya ia langsung menghabisi pemuda sombong yang mencemoohnya.


"Ha ha ha, itu urusanmu bukan urusanku" balas sang dewi terkekeh.


Buk!


Dua kepala jatuh menggelinding di area eksekusi, Jingga menebas algojo dan Muda tanpa disadari oleh semua orang yang terbelalak tidak percaya melihatnya.


"Ada lagi yang ingin mencobanya?" Tantang Jingga yang menggenggam golok algojo yang masih bersih tanpa noda darah.


Suasana seketika menjadi hening, bahkan dewi Serigala begitu gemetar melihatnya.


Wuzz!


Jingga sudah berdiri di samping dewi Serigala.


"Apa kau merindukanku, Nyonya?" Rayu Jingga menatapnya dengan ekspresi nakal.


"Kau, siapa kau sebenarnya?" Tanya dewi Serigala.


"Aku bukan siapa-siapa tapi aku merindukan bertarung denganmu tanpa harus saling menjambak seperti anak kecil seperti sebelumnya" jawab Jingga yang masih mengingat pertarungan pertamanya dengan dewi Serigala.


"Aku akan menurutinya, tapi kau kalahkan dulu petarung terbaikku" jawab dewi Serigala tidak mau kehilangan muka di depan para pendekar.


"Baiklah, kau jangan kabur atau aku akan memburumu" balas Jingga lalu berkelebat kembali ke area eksekusi.


Tap, tap!


Lima pendekar berlompatan menghampirinya, salah satu dari kelimanya melangkah maju mendekatinya.


"Aku Bima pendekar Bayangan Sesat dari Doloksiapi ingin menguji batasku. Mohon bimbingan dari pendekar muda" ujarnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Landak pendekar Angin Barat"


"Damean pendekar Angin Selatan"


"Patar pendekar Angin Utara"


"Parlin pendekar Angin Timur"


"Kami berempat adalah pendekar Angin pulau Emas" ujar keempatnya berbarengan.


Jingga tersenyum simpul menanggapi kelima pendekar yang ingin menguji batas kemampuan.


"Apakah kalian berlima memiliki ahli waris?" Tanya Jingga.


Kelima pendekar tampak kaget mendengarnya, pertanyaan Jingga bermaksud untuk membunuh kelimanya. Hal itu sedikit mengguncang jiwa kelimanya. Mereka sedikit ragu, namun apa mau dikata. Kelimanya tidak bisa mundur dari pertarungan, mati lebih baik daripada harus menjadi seorang pengecut.


"Aku tahu kau adalah pendekar hebat, ada ataupun tidak ada ahli waris bukanlah urusanmu. Jadi kami siap walaupun harus mati di tanganmu. Kami akan merasa terhormat bisa mati di tangan pendekar hebat" jawab Bima mewakili pendekar Angin.


"Baiklah, untuk menghormati kalian yang gagah berani menantangku, aku akan membiarkan kalian menyerangku dulu. Tunjukkan kekuatan terbaik kalian" balas Jingga lalu melemparkan golok yang dipegangnya ke tanah.


Ia tidak ingin pertarungan cepat selesai, ia akan menghadapinya dengan tangan kosong. Kelima pendekar juga mengikutinya dengan melemparkan senjatanya karena tidak ingin dianggap rendahan oleh semua pendekar yang menyaksikannya.


Jingga berdiri tegap dengan kedua tangan lurus di pinggangnya. Ia menganggukkan kepala meminta kelima pendekar menyerangnya.


"Hiaaat!"


Bak buk, bak buk!


Pukulan dan tendangan kuat diarahkan kelima pendekar padanya, Jingga masih berdiri di posisinya, ia tidak bergeser sama sekali.


Bima melompat tinggi melayangkan tendangan berputar dan langsung menghantam kepala Jingga dengan keras.


Bugh!


Dengan kokoh, tubuh Jingga tidak bergeser sekalipun. Pukulan dan tendangan kembali menghantamnya secara bertubi-tubi.


Hiaat! Hiaaat!


Bugh! Bak buk!


Suara keras hantaman terus terdengar di area eksekusi, Jingga masih bertahan tanpa pernah bergerak sekalipun. Kelima pendekar mulai merasa kelelahan dan akhirnya berhenti menyerang Jingga, tampak terdengar suara napas yang berat dari kelimanya.


Ratusan pasang mata begitu terperangah melihatnya, mereka baru pertama kali melihat seorang pendekar yang memiliki ketahanan tubuh yang begitu kuat.


"Ditempa dengan apa tubuh pendekar muda itu?" Celetuk seorang pendekar tua yang sulit mempercayainya.


Jingga melirik pakaiannya dan terus mengibaskan pakaiannya yang kotor, ia lalu membuka pakaian atasnya.


"Kalian mengotori pakaianku" ucapnya begitu kesal.


Dewi Serigala dan beberapa pendekar wanita yang melihat bentuk tubuh Jingga yang kekar serentak menelan saliva. Mereka terpesona oleh pemuda yang begitu gagah perkasa, beberapa gadis berkhayal menjadi kekasihnya. Tak terkecuali dengan dewi Serigala yang tidak melepaskan pandangannya.


"Kau begitu sempurna, aku harus bisa mendapatkanmu" gumam batin dewi Serigala mulai menyukainya.


Kembali ke tengah area eksekusi yang dijadikan arena pertarungan. Jingga berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, ia memperhatikan kelima pendekar yang masih kelelahan di depannya.

__ADS_1


"Sudah cukup waktu yang aku berikan pada kalian untuk bernapas lega, sekarang cobalah untuk bertahan dari seranganku" ucap Jingga bersiap menyerangnya.


Wuzz!


Bugh! Bugh!


"Aaah!" Aaah!"


Jerit histeris dari kelima pendekar yang terbanting keras di tanah setelah dilemparkan oleh Jingga. Kelimanya kelojotan melengkingkan tubuhnya merasakan ngilu yang teramat menyesakkan pernapasan.


Jingga menghampiri Bima di depannya, ia lalu berjongkok memperhatikan raut wajah yang meringis dan gemeretak suara peraduan geraham dari pendekar Bayangan Sesat Doloksiapi.


"Kau tidak perlu menderita lagi"


Bugh!


Satu pukulan Jingga berhasil menghancurkan kepala Bima, ia lalu berdiri dan langsung menghampiri Landak di sebelah kirinya.


Dengan keringat dingin dan menggigil, Landak menggelengkan kepalanya tidak mau mati terbunuh.


"Jangan, jangan bunuh aku" pintanya memelas.


Jingga mengangguk lalu menjambak rambutnya dan menariknya ke posisi Damean, ia lalu berjalan ke tempat Patar dan Parlin yang tergeletak di tanah dan langsung menarik tubuh keduanya ke posisi Landak dan Damean berada.


Keempat pendekar berjajar terlentang di tanah. Jingga tersenyum jahat menatap keempat pendekar yang menggigil ketakutan dalam pembaringan.


"Tunggu!" Pekik suara melenting seorang perempuan dari arah penonton.


Jingga langsung meliriknya, seorang gadis muda yang terlihat sedang mengandung berjalan menghampirinya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Jingga sambil memegang erat kedua kaki Jingga.


"Pendekar, tolong ampuni suamiku" pintanya memelas.


"Yang mana suamimu?" Tanya Jingga.


"Patar, suamiku" jawab gadis muda menunjuk suaminya yang berpakaian biru.


"Aruna, selamatkan aku. Ingatlah, anak dalam kandunganmu itu anakku bukan anak suamimu yang mandul" potong Parlin mengungkapkannya.


Jeder!


Patar yang mendengar pengakuan Parlin di sebelahnya langsung geram, dengan mengabaikan rasa sakit ia langsung bangkit memukuli Parlin. Tidak ingin kalah, Parlin menyerang balik Patar dan langsung membalikkan tubuhnya.


Bak buk, bak buk!


Keduanya saling pukul dalam posisi bergulat, Jingga menggaruk kepalanya merasa heran dengan situasinya.


"Nona, siapa yang kau inginkan untuk hidup?" Tanya Jingga memberinya pilihan.


"Aku tidak akan memilih keduanya, tapi kalau boleh. Aku ingin Damean yang hidup" jawab Aruna dengan malu-malu.


Parlin dan Patar yang mendengarnya langsung menghentikan perkelahiannya, keduanya menatap Aruna dengan kesal. Saking kesalnya, Parlin dan Patar langsung menyerang Damean.


Kesal melihat ketiga pendekar yang berkelahi, Jingga berkelebat mengambil empat senjata yang terdiri dari tiga pedang dan satu golok.


"Berhenti!" Teriak Jingga menghentikan perkelahian ketiga pendekar.

__ADS_1


"Baku hantam itu tidak seru, kalian harus saling tebas. Yang menang aku biarkan hidup" imbuh Jingga lalu melemparkan ketiga pedang.


"Kalau aku bagaimana? Bolehkah aku ikut bertarung dengan ketiganya?" Potong Landak yang daritadi diam menyaksikan ketiga pendekar Angin bertikai.


__ADS_2