Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Beast Monster Iblis Terkuat


__ADS_3

Selesai melakukan kegiatan sakral di mana dua makhluk imut berlainan jenis saling berinteraksi dengan aktraktif, menghasilkan suatu ritme terpadu yang mematuhi hukum fisika dan biologi untuk membanjiri otak dengan hormon dopamin dan endorfin.


"Terima kasih, kau memberiku kebahagiaan yang indah" ucap Mei Moshu tersenyum bahagia.


"Ya, tapi aku bingung" balas Jingga dalam pergulatan batin.


"Apa yang membuatmu bingung?" Tanya Mei Moshu menyelidik.


"Aku tidak bisa membunuhmu, apa ada cara lain?" Ungkap Jingga meminta solusi.


Tampak melengkung bibir tipis nan merah hati dari seorang gadis cantik menanggapinya dengan sorot mata yang lembut mengungkapkan sebuah rasa yang bersemayam dalam lubuk hati. Ia menjawab dengan pagutan lembut di bibir sedikit tebal sang pemuda yang telah membahagiakan hatinya. Namun apa yang dilakukannya bukanlah seperti yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih.


Diam-diam ia membuat formasi segel mengunci titik gerak pemuda yang terdiam menerima perlakuannya. Kali ini ia mengalirkan seluruh energi iblisnya langsung ke dalam kekuatan jiwa yang dimiliki oleh sang pemuda.


Jingga tersentak mendapati sesuatu mengalir memasuki tubuhnya, ia lalu berontak melepaskan diri namun Mei Moshu sudah menyegel dirinya hingga perlahan tubuh Mei Moshu berubah menjadi serpihan yang beterbangan termasuk alam jiwanya yang berhamburan menghilang.


Jingga terduduk diam setelahnya, entah kenapa hatinya begitu pilu merasakan kehilangan gadis iblis yang telah menemaninya walaupun hanya beberapa hari bersamanya.


"Apakah aku mencintainya? Bagaimana mungkin aku bisa seperti ini?" Gejolak batinnya terus bertanya.


Suasana kembali berubah, ia menengadah memperhatikan sebuah tangga muncul di atasnya, tetapi pandangannya teralihkan oleh kedua pedang yang tergeletak tidak jauh darinya. Ia melirik kedua pedang tersebut lalu menjentikkan jari menarik keduanya bersamaan. Jianhuimie Yuzhou kembali memasuki keningnya sedangkan Jiandiyu ia genggam dengan erat.


"Akan kubunuh Taiyangsen dengan pedangmu, Nona" ucap Jingga bertekad lalu memasukkannya ke dalam cincin spasialnya.


Jingga berdiri lalu melompat ke arah ujung anak tangga di atasnya.


Tap, tap!


Jingga terus melangkah cepat dengan raut datar yang tergambar di wajahnya, ia hanya tahu harus secepatnya tiba di arena selanjutnya tanpa peduli seberapa banyak akumulasi anak tangga yang dilaluinya.


Hingga sampai pada anak tangga terakhir, ia memanggil pedangnya dan bersiap untuk menghadapi siapa pun lawan yang akan dihadapinya.


Rooarr!


Deraman keras menggema di udara, suhu udara yang panas meningkat dratis ke titik didih. Seekor beast monster bertubuh besar muncul dengan sorot mata api membunuh. Monster yang seluruh tubuhnya memancarkan lidah api yang menyala tampak seperti sebuah bukit api.



ilustrasi beast monster. Souce : deviantart


"Apakah dia leluhur Jirex?" Pikir Jingga terus memperhatikannya.


Dug! Dug! Dug!


Langkah sang monster terdengar begitu mengerikan, setiap langkah kakinya mampu menggetarkan tanah dengan keras.


Wuzz!


Kobaran api besar dimuntahkan sang monster mengawali pertarungan. Jingga menyeringai dingin tidak menghindarinya. Ia diam tak bergeming. Namun ia salah menduganya, panas api yang terpancar dari mulut sang monster berkali lipat panasnya.


"Aah!" Jeritnya merasakan panas.


Jingga berkelebat menghindari, namun kobaran api terus mengikutinya. Ia lalu memasang aray formasi di tubuhnya.


Krak! Dhuar!


"Sial! Aray formasi tidak sanggup menahannya" gerutu Jingga sambil terus berlarian menghindari.

__ADS_1


Ia lalu terbang ke udara dan langsung bertransformasi ke tubuh Jirex. Kali ini ia bisa menahan panasnya. Sang monster pun berhenti memuntahkan apinya.


"Jadi kau ingin aku berubah ke tubuh monster juga" ucap Jingga di udara.


"Longjuanfeng"


Wuzz!


Jingga berputar membentuk sebuah beliung yang terus membesar.


Sang monster yang melihatnya tidak tinggal diam, ia langsung melompat tinggi menabrakkan tubuhnya ke dinding angin spiral yang berputar.


Dhuar!


"Aaah!" Pekik teriak Jingga terlempar jauh di arena.


Braak!


Jingga bergulingan dengan kasar di tanah bebatuan.


Srett!


Ujung pedang ditancapkan ke tanah batu hingga percikan api keluar dari dalam tanah.


"Bajingan!" Rutuknya kesal.


Dug, dug, dug!


Sang monster berlari cepat menghampirinya, hal itu membuat Jingga bergegas bangkit berdiri lalu memposisikan tubuhnya untuk bertahan dari serangan sang monster.


Groooar!


Bugh!


"Aaah!" Kembali Jingga menjerit keras.


Telapak tangan sang monster mencengkram tubuhnya dengan begitu keras.


Wuzz!


"Aah!, aaaah!"


Dalam posisi begitu dekat, sang monster terus menyemburkan api panasnya.


Jingga tidak menduga tubuh logamnya seperti akan meleleh karena panas yang menyengat dari api sang monster. Ia terus merintih kesakitan menahan panas pada tubuhnya yang tercengkram oleh tangan besar sang monster.


Rasa sakit yang semakin menyiksa membuat Jingga tidak bisa lagi berteriak. Gerahamnya menggeretak menahan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya. Lambat laun, rasa sakitnya tidak lagi dipedulikannya.


Kekuatan jiwa dalam tubuhnya mulai bereaksi meredakan rasa sakit. Gelombang energi mulai menyeruak keluar dari tubuh Jingga.


"Hiaaa!" Pekiknya dengan lantang.


Boom!


Jingga terbebas dari cengkraman dan semburan api sang monster.


Tiba-tiba saja tubuh Jingga bertransformasi ke wujud iblisnya. Kulit logamnya mengelupas meninggalkan tubuhnya berganti dengan kulit merah bertekstur kasar. Kedua tanduknya keluar dan tubuhnya membesar. Ia pun bertransformasi menjadi iblis aslinya.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita bertarung" ucapnya lalu berkelebat mengambil posisi menyerang.


Groooar!


Sang monster terlihat sangat bersemangat mendapatkan lawan yang layak untuk menghadapinya.


"Chuanguoyinying"


Wuzz!


Dhuar! Dhuar!


Grooarr!


Ledakan demi ledakan dari benturan bilah pedang dengan kulit keras sang monster membuat suasana pertarungan menjadi begitu sengit dan mendebarkan. Percikan api dari pergesekan bilah tajam terlihat sangat memukau.


Wuzz! Dhuar! Dhuar!


Entah sudah berapa lama keduanya bertarung. Jingga mulai merasakan pertarungannya tidaklah menguntungkan dirinya. Ia lalu mundur beberapa tombak dari sang monster untuk mengevaluasi teknik bertarung dan menganalisis kelemahan lawannya.


Seakan mengerti dengan lawannya, sang monster berdiam diri tidak melanjutkan serangan.


"Ketahanan tubuhnya mirip dengan Jirex. Kecepatan, kekuatan dan jurusku tidak mampu melukainya" batin Jingga terus menyelidik.


Jingga masih buntu mencari solusi untuk mengalahkannya. Ia lalu memasukkan kembali pedangnya dan mulai menguji kekuatan fisiknya untuk mengajak sang monster bergulat dengannya.


Tap, tap.


Jingga melangkah tenang menghampiri sang monster yang langsung berderam keras menyambutnya.


Kedua tangan dan kakinya direntangkan dalam upaya untuk menangkap tubuh sang monster.


Brugh! Brugh! Brug!


Jingga berhasil mendekap tubuh sang monster lalu mendorongnya dengan kuat. Upayanya berhasil membuat sang monster terdorong mundur beberapa langkah.


Groooarr!


Sang monster terus berusaha menahan tubuhnya untuk tidak jatuh terdorong. Kedua kakinya dihentakkan keras ke tanah.


Groooaar!


Deraman sang monster semakin keras, ia lalu menaikkan suhu tubuhnya untuk membuat Jingga melepaskan cengkramannya. Benar saja, suhu panas yang terus meningkat membuat kulit Jingga mulai berubah menjadi hitam. Namun ia tidak berniat sekalipun untuk melepaskannya.


Tiba-tiba saja sang monster menggigit tanduk iblis Jingga dan menguncinya.


"Sialan kau monster!" Rutuknya dengan kesal.


Krak!


"Aaah!" Pekik Jingga mendapati sebelah tanduknya patah.


Sang monster kembali menancapkan rahangnya ke arah tanduk satunya. Dengan sekali gigit, satu tanduk tersisa milik Jingga kembali patah.


Jingga akhirnya melepaskan dekapannya. Hilangnya kedua tanduk di kepala membuat dirinya mengalami penurunan stamina. Sang monster memanfaatkan momentum untuk mencengkram balik Jingga yang masih terhuyung mundur.


Rahang tajam dan kuat sang monster menerkam leher Jingga dan langsung mengoyaknya, namun karena tubuhnya yang alot seperti karet membuat sang monster kesulitan untuk memisahkan kepala Jingga dari tubuhnya.

__ADS_1


Kesal, upayanya gagal. Sang monster langsung menggunakan teknik clinch fighting dengan membenturkan tubuh Jingga ke tanah dan menguncinya dengan berat tubuhnya dan kedua kakinya menekuk keras bagian bawah tubuh Jingga. Ia kembali menggigit leher Jingga dan menariknya dengan kuat.


__ADS_2