
"Zhia'er, kenapa kau bisa berada di sini?" Tanya Bai Niu masih mengenalinya.
"Siapa kau?, Pergi!" Bentak gadis itu merasa terganggu oleh kehadiran Bai Niu.
Jingga dan kedua adiknya langsung menghampiri Bai Niu yang dibentak oleh gadis mabuk.
"Apakah kau Du Zhia?" Tanya Jingga memastikan.
Gadis itu menengadah, memperhatikan pemuda yang berdiri di depannya dengan lekat lalu meluruh memeluknya sambil menangis.
Jingga membiarkan gadis yang mendekapnya terus meluapkan emosinya dan juga melarang ketiga adiknya untuk mengganggunya.
Setelah mereda tangisan si gadis, Jingga membawanya keluar meninggalkan kedai agar si gadis bisa menghirup udara segar.
Sambil berjalan santai di tengah kota yang ramai oleh lalu lalang penduduk, Jingga baru menanyainya.
"Bagaimana kau bisa sampai ke sini Zhia'er?"
Du Zhia yang dari tadi diam langsung meliriknya, raut wajahnya sudah mulai membaik dan ia bisa kembali memperlihatkan seutas senyuman.
"Klan Chun sudah punah dengan begitu mengenaskan, aku pasti akan membalas kematiannya" jawab Du Zhia begitu emosi mengingat kembali kejadian yang menimpa klan dari Ibunya.
"Aku tidak menanyakan klan yang telah membinasakan seluruh penduduk kota Yu Chen, apa kau tidak ingin membalaskan juga kematian Ayahmu, Kakakmu, Pamanmu dan seluruh penduduk warga kota Yu Chen?" Timpal Jingga bertanya balik kepadanya.
"Jangan bilang kau tidak mengetahui tentang itu, kalau kau ingin mengetahui siapa yang telah membunuh seluruh anggota klan Chun, akulah orangnya. Asal kau tahu, hanya dirimu sendiri yang menangisi kematian klan Chun, masyarakat kota Lanhua bergembira atas kematian klan bangsawan yang begitu meresahkan mereka selama beberapa generasi, bahkan kekisaran Fei terancam dikudeta oleh klan bangsawan yang dikendalikan oleh klan Chun" imbuh Jingga.
Du Zhia yang mendengarkan semua perkataan Jingga hanya terdiam tidak bisa mengelaknya.
Lama Du Zhia termenung akan ucapan Jingga, ia mulai memahami dendamnya adalah kekeliruan.
"Maafkan aku, Jingga" ucapnya tanpa menoleh lalu mendekap tangan pemuda yang berjalan di sampingnya.
"Ya, tapi kau harus melihat tangan siapa yang kau dekap" balas Jingga tersenyum menoleh ke arahnya yang berada di belakangnya.
Du Zhia langsung melirik pria yang dia dekap.
Pemuda itu tersenyum membalas lirikannya.
"Eh, maaf Tuan" ucapnya lalu melepaskan dekapannya dan berlari ke arah Jingga.
"Kau belum menjawabku, bagaimana kau bisa sampai ke sini?" sambung Jingga mengulang pertanyaannya.
Du Zhia tersenyum lalu menceritakan semuanya, ia menutup diri selama berbulan-bulan sejak kematian klan Chun, satu hal yang ia ingat adalah sahabat mendiang Kakaknya Du Dung yaitu Jingga.
__ADS_1
Du Zhia mengikuti instingnya mencari keberadaan Jingga dan selalu menanyakan pemuda yang berbeda ras itu kepada setiap orang yang ditemuinya sampai akhirnya ia menjadi depresi dan begitu putus asa, dari situ ia mulai menenggak arak di sepanjang perjalanannya sampai tiba di kota Lintang dan pencariannya akhirnya membuahkan hasil setelah Jingga menghampirinya yang sedang mabuk di kedai.
Jingga mengangguk-anggukan kepala mendengarkannya.
"Ya sudah, sekarang kau sudah bertemu denganku, sebaiknya kau pulang kembali ke kota Lanhua" ucap Jingga dengan ekspresi tanpa dosa.
Bai Niu begitu geram mendengar perkataan Jingga yang tidak memahami perasaan wanita di sampingnya, ia langsung menjambak rambut Jingga dari belakang.
"Aduh, aduh, Naninu hentikan!, Kenapa kau menjambakku?, sakit tahu" kesal Jingga langsung menoleh ke belakang.
Kedua kakak beradik langsung memalingkan muka, berpura-pura tidak melihat keduanya.
"Dasar egois! Tidak punya perasaan!" Geram Bai Niu dengan memelototinya.
Jingga langsung merinding menatapnya, ia kemudian berbalik menghampiri Du Zhia yang sedang menangis.
"Zhia'er, maafkan aku, kau boleh mengikutiku, tapi aku tidak menjamin keselamatanmu, perjalananku akan begitu sulit untukmu" ucap Jingga tidak lagi mengusirnya.
Du Zhia menoleh ke arahnya lalu memeluk Jingga yang mengizinkannya.
"Terima kasih, Kakak" balas Du Zhia begitu bahagia.
Jingga melepaskan pelukannya, ia langsung menghampiri Qianfan.
"Sudahlah, jangan berpura-pura tidak memperhatikanku" ucap Jingga tidak suka.
Qianfan langsung mengambilnya dari tangan Jingga, ia kemudian melihat isinya dan tertawa pelan.
"Kenapa kau tertawa?" Tegur Jingga.
"Aliansi Bintang Selatan adalah persekutuan dari ketujuh kerajaan yang berada di selatan benua Matahari. Ketujuh kerajaan ada dalam peta ini,
yaitu kerajaan Liaokao, Kandao, Emolian, Zhua, Sheshe, Banji, Dahuoji" ujar Qianfan menjelaskannya.
"Kenapa namanya lebih mirip dengan nama sekte?" Tanya Jingga.
"Ya, karena ketujuhnya adalah sekte terbesar di wilayah selatan yang membentuk kerajaan, karena itu juga yang membuat ketujuh kerajaan sulit ditaklukkan oleh kekaisaran manapun di benua Matahari ini, berbeda dengan kerajaanku yang berasal dari klan bangsawan" jawab Qianfan menjelaskannya.
"Itu tantangan yang berguna untuk menguji kemampuan kalian, baiklah, kerajaan mana yang terdekat dari kita sekarang?" Timpal Jingga kembali bertanya.
"Dari peta, kerajaan Kandao yang terdekat dari batas wilayah kekaisaran Xiao" jawab Qianfan setelah memperhatikan peta yang dipegangnya.
Jingga langsung mengambil kembali petanya dari tangan Qianfan lalu memasukkannya ke dalam cincin spasialnya.
__ADS_1
"Kita tidak bisa menundanya, ayo kita terbang" ucap Jingga langsung menarik tangan Qianmei terbang bersamanya.
Qianfan menepuk keningnya sendiri melihat adiknya dibawa Jingga. Ia langsung beralih melirik kedua gadis yang berjalan di depannya.
"Niu'er, Zhia'er" panggil Qianfan kepada dua gadis di depannya.
Keduanya langsung menoleh ke arahnya.
"Iya Kak Fan'er, ada apa?" Tanya Bai Niu.
"Kak Jingga sudah terbang bersama Mei'er, apakah kalian akan berjalan saja?" jawab Qianfan menanyakannya.
"Ih, dasar kakak jelek!" Kesal Bai Niu baru menyadari Jingga dan Qianmei sudah tidak ada bersamanya.
Ketiganya lalu terbang menyusul Jingga dan Qianmei yang sudah melayang ke arah selatan.
Di udara, Qianmei terlihat begitu bahagia terbang bersama pemuda yang dicintainya. Jemari tangannya begitu erat menggenggam Jingga.
Dari belakangnya, Du Zhia begitu kagum dengan tingkat kultivasi Bai Niu di sampingnya.
"Baru beberapa tahun tidak bertemu, gadis yang tidak berkultivasi sekarang berada jauh di atas ranah kultivasiku, gadis yang beruntung bisa mengikuti Kak Jingga. Tapi aku penasaran hubungan keduanya" gumam batin Du Zhia melihat gadis cantik yang terbang di sampingnya.
"Kakak jelek, tunggu!" teriak Bai Niu yang tertinggal cukup jauh darinya.
Jingga langsung memperlambat laju terbangnya.
Setelah ketiganya berhasil menyusul, Jingga melanjutkan kembali laju terbangnya.
"Jangan terlalu lambat, tujuan kita begitu jauh" pinta Jingga kepada ketiganya.
Melihat Jingga yang begitu erat dengan Qianmei, membuat Du Zhia mengerutkan keningnya.
"Apakah gadis itu yang menjadi kekasih Kak Jingga?" tanya batinnya semakin penasaran dengan hubungan Jingga bersama gadis yang begitu dekat dengannya.
Hampir seharian kelimanya terbang melintasi area luar kekaisaran Xiao. Du Zhia semakin melambat laju terbangnya. Qianfan yang berada di paling belakang langsung menghampirinya.
"kau bisa memegang tanganku" ucap Qianfan menawarkannya.
Du Zhia tersenyum lalu menggenggam jemari tangan pemuda tampan yang murah senyum itu.
Bai Niu yang menoleh ke arah keduanya terlihat begitu kesal, karena ia sendiri yang tidak memiliki pasangan.
"Menyebalkan!" rutuknya lalu mengejar Jingga dan Qianmei yang berada di depannya.
__ADS_1
Dengan cepat Bai Niu melewati keduanya, wajahnya begitu tidak enak dipandang ketika ia melirik Jingga dan Qianmei yang terlihat mesra.
Jingga dan Qianmei mengerutkan keningnya melihat wajah Bai Niu yang cemberut melewatinya.