Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Penyelamatan


__ADS_3

Jingga masih termenung melihatnya, bibirnya kemudian melengkung membentuk sebuah senyum yang mengembang.


"Ha ha ha, ini sungguh hebat!" Serunya memuji panah milik istrinya.


Ia lalu melompat dari atas pohon dan langsung mengejar kambing-kambing yang berlarian.


Wuzz!


Jingga menarik ekor kambing lalu membantingnya ke tanah.


Bugh!


Mbeeeek!


Sleb!


Seekor kambing yang tidak berdaya langsung mati ditusuk Jingga dengan belatinya.


Jingga langsung memanggulnya lalu berbalik kembali ke lokasi Naray dan Duma berada.


Ketiganya lalu sibuk membakar kambing guling dan menikmatinya.


Malam semakin larut, ketiganya berbincang dalam posisi bersandar di batang pohon sampai akhirnya ketiga perut yang kenyang membuat ketiganya terlelap tidur.


***


Mentari pagi bersinar terang menyinari dua perempuan berselisih umur yang masih terbaring dalam tidurnya. Seorang pemuda yang sudah terbangun, mendongakkan kepalanya ke langit, ia memperhatikan langit biru yang membentang dengan gagah diiringi oleh kepulan awan-awan yang tampak saling berkejaran.


Jingga tersenyum simpul mengingat anak kecil yang dinamainya Biru Langit.


"Biru" gumamnya lembut.


Lagi asyiknya meresapi keindahan alam, Jingga merasakan dua tangan kecil melingkar di tubuhnya. Naray mendekap erat dirinya dengan penuh kehangatan.


"Neng, sudah bangun?" Tanya Jingga melepaskan dua jemari yang terikat di perutnya.


Jingga berbalik lalu menoel hidung kecil adiknya yang terlihat manja di pagi hari.


"Sudah, A. Aa kenapa melamun?" Jawab Naray balik bertanya.


"Hanya menikmati alam yang indah ini" jawab Jingga lalu membawanya ke arah Duma yang sudah menaiki punggung kuda.


"Bibi baru melihat kakak beradik begitu dekat saling menyayangi. Ayo ķita lanjutkan perjalanan" ucap Duma lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan.


"Hiaa!" Raung Naray melajukan kudanya.


Dalam perjalanan, Jingga selalu saja menjahili adiknya, kadang ia mencubit pinggangnya, menutup mata, menjewer telinga dan apa pun yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan kebosanannya.


Hampir setiap hari, Jingga selalu menjahili adiknya, Duma yang sering memperhatikannya juga ikut terhibur oleh tingkah keduanya.


Pada hari keenam di pagi hari, Jingga bertukar tempat dengan Naray. Ia mulai bisa melajukan kuda sendiri, aneh bin ajaib. Jingga terlihat seperti pendekar kuda yang mahir, itu karena selama lima hari ia terus memperhatikan adiknya dalam melajukan kuda, setiap hal ia pelajari dari adiknya.


"Jingga, bagaimana dirimu bisa secepat itu menguasainya?" Tanya Duma sedikit heran.


"Aku selalu memberi makan kuda dengan rumput terbaik disetiap kali beristirahat, mungkin saja kuda ini ingin membalas jasaku, he he" jawab Jingga sekenanya saja.


"Ha ha, kau bisa saja menjawabnya. Baiklah, tinggal semalam lagi kita akan tiba di ibukota, maka cepatlah!" Timpal Duma begitu senang.

__ADS_1


"Hiaat!"


Duma pergi melajukan kudanya dengan cepat, Jingga mulai menghentakkan kedua kakinya memberi perintah pada kudanya untuk berlari cepat, namun sang kuda masih saja berjalan pelan.


"Ha ha ha" tawa Naray yang melihat gemas ekspresi wajah Jingga kepanikan.


Naray lalu menepuk pinggul kuda dan sontak saja Jingga terkejut hampir jatuh mendapati kudanya berlari kencang.


"Makanya jangan sok mahir, akui saja masih amatir. Tentunya tidak merepotkan orang lain" ejek Naray lalu memeluk erat Jingga.


Jingga cengengesan mendengar ucapan adiknya, berlagak seperti pendekar berkuda. Ia melajukan kudanya dengan sedikit membungkuk.


"Hiaa!" Pekik Jingga semakin mempercepat laju kuda.


Menjelang sore hari, ketiganya sudah sampai di batas ketinggian hutan. Tampak Duma sedang berdiam diri di batas tebing, Jingga menghentikan laju kuda tepat di sampingnya.


"Itu kota Dame, ibukota pulau Emas" tunjuk Duma pada wilayah kota yang cukup banyak bangunannya.


"Berarti tidak sampai esok hari kita sampai" balas Jingga menerkanya.


"Ha ha, pandangan mata kadang menipu, kita harus berputar ke area kiri sana" tanggap Duma kembali menunjukkan rute jalan yang harus dilaluinya.


Jingga yang melihatnya merasa heran, padahal dalam titik lurus pandangannya, mereka bisa sampai hanya dalam beberapa waktu saja.


"Kenapa harus berputar?" Tanya Jingga.


"Di balik bukit itu ada danau yang luas. Kalau kau bisa terbang, pasti cepat sampai" jawab Duma sedikit terkekeh.


"Ya sudah, kita berputar saja" balas Jingga memahaminya.


Kedua kuda kembali berpacu memasuki sebuah hutan di kaki bukit. Kali ini perjalanan tidak semulus hutan sebelumnya. Kontur tanah yang licin dengan banyaknya tumbuhan merambat membuat Jingga berhati-hati agar kudanya tidak terjerembab.


"Sejak kapan area ini berubah menjadi rawa?" Tanya pikirnya merasa heran.


"Bibi, ada apa?" Tanya Naray.


Duma menoleh ke arahnya lalu berkata,


"Terakhir kali Bibi melewati daerah ini, tidak ada rawa di depan kita"


Jingga yang mendengarnya langsung melompat turun, ia mengambil ranting panjang yang tergeletak di dekatnya.


"Kalian tunggu saja, aku akan memeriksanya" ucap Jingga lalu berjalan di area rawa sambil menusukkan ujung ranting ke dalam air memastikan kedalaman.


Cukup jauh Jingga melangkah, batas air masih sama sebatas betisnya. Karena area rawa cukup luas, Jingga meneruskan langkah kakinya menyusuri rawa sampai menemukan ujungnya.


Dari area lainnya, beberapa pendekar berkuda sedang mengintai kedua perempuan cantik yang sedang menunggu Jingga kembali.


"Bang, yang muda buat diriku. Abang bisa ambil yang tua" celetuk seorang pendekar muda memilih gadis yang jadi incarannya.


"Ha ha, itu bisa diatur" balas pendekar berambut panjang yang diikat.


Ia lalu memberikan kode pada pendekar lainnya untuk memanah seorang pendekar wanita yang terlihat sakti.


Kode diterima oleh pendekar yang langsung membidik Duma.


Wuzz!

__ADS_1


Sleb!


Duma tersentak, bahunya tertancap anak panah, Naray yang melihatnya tampak panik, ia belum sempat berteriak, seorang pendekar mendekam mulutnya lalu seorang lagi melompat ke atas kuda dan langsung kabur membawanya.


Hihik, hihik!


Kuda meringkik dari kejauhan, Jingga langsung menoleh untuk melihatnya. Terlihat olehnya, Naray dan Duma berontak dari sergapan beberapa pria yang berusaha menculiknya.


"Langkah bayangan"


Jingga berkelebat mengejarnya, ia terlihat seperti berlari di atas air. Namun jaraknya terlalu jauh, pada akhirnya Jingga gagal menyelamatkan adiknya.


"Sialan! Siapa mereka berani menculik Adikku?" Geramnya begitu kesal.


Jingga lalu memanjat ke puncak pohon untuk menjangkau penglihatannya, sekarang ia bisa melihat beberapa ekor kuda berlarian dari kejauhan.


Tidak ingin kehilangan jejak, Jingga langsung berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya membentuk bayangan hitam mengejarnya.


Kali ini ia berhasil mengejarnya, terlihat olehnya Naray terapit dua pria yang menunggangi kuda, sedangkan Duma tergeletak pingsan di atas punggung kuda, di bahunya mengalir darah bekas tertancap anak panah.


"Aku harus tahu ke mana mereka membawa keduanya" gumam Jingga yang terus berlompatan mengikuti lari kuda-kuda di kedalaman hutan.


Tak berselang lama, kuda-kuda berhenti di suatu gundukan besar namun rendah yang tertutupi oleh akar pohon.


Empat kuda langsung berbalik dan terlihat sedang berjaga di depan pintu masuk, keempat pria yang menunggangi kuda langsung mengeluarkan pedangnya yang berbentuk lurus seperti sebuah anggar.


"Bas, apa kau juga merasakan seseorang mengikuti kita?" Tanya seorang pria berkumis tebal.


"Iya, kita tunggulah di sini, orang itu pasti akan kemari" jawab Obas.


"Hei, Cok. Makan apa ko? Bagilah sikit" pinta Ingot si pria berwajah kotak.


"Ah, kau ini tahunya minta saja, tak mau aku" tolak Ucok si kurus masih saja terus mengunyah makanannya.


"Celit kali kau, bagi sikit aja pun tak boleh" dengus Ingot kesal.


"Sudahlah! Kelen daritadi bekombur saja, sebaiknya kita masuk ke dalam" potong Pintor berkumis tebal melerai keduanya.


Keempat pria itu langsung memasuki sebuah pintu yang menjorok ke dalam. Jingga mengernyitkan dahi melihat area pintu rendah yang bisa dimasuki oleh kuda.


"Sepertinya area dalam lebih luas" gumam Jingga lalu melompat turun dan berjingjit menapaki tanah agar tidak terdengar dari dalam.


Baru saja Jingga akan memasuki pintu, seorang pria kurus berjalan keluar dengan mulutnya yang mendumel.


"Hoi, sapa ko?" Tegur ucok terkejut melihatnya.


Jingga yang melihatnya juga tersentak mendapati dirinya tertangkap basah oleh pria kurus di depannya.


"Tenang, Bang! Aku lagi cari ayam jago punya Mamakku, apa Abang melihatnya?" Kelit Jingga berbohong.


"Bohong kau, mana ada ayam jago lari ke sini. Kubunuh kau!"


"Lah! Main bunuh-bunuh saja, Abang ini. Ku bilang Mamakku nanti" balas Jingga mulai bersiap untuk menyerangnya.


Sring!


Pedang ditarik dari sarungnya, Ucok langsung menebas Jingga dengan cepat.

__ADS_1


Wuzz!


"Bengak kau, Bang! Makan kau banyak tapi badan tetap kerempeng, kau ke manakan nutrisi makanannya" ledek Jingga yang berhasil menghindari tebasan Ucok.


__ADS_2