Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sang Dewi Iblis


__ADS_3


SRET!


Ujung pedang menembus tepat di jantung Qianmei yang seketika langsung melebur menjadi serpihan yang beterbangan. Pedang kayu hitam yang menancap pun berubah menjadi serpihan yang meliuk-liuk membentuk pola spiral dalam alur vertikal. Selanjutnya, serpihan dari pedang kayu hitam berkumpul membentuk kembali tubuh sang gadis. Satu per satu serpihan-serpihan kecil bersatu mengecilkan rongga dalam bentuk tubuh yang sempurna. Proses itu pun tampak begitu cepat dan pada akhirnya tubuh sang gadis terbentuk sempurna.


Serpihan dari pedang kayu hitam membuat tubuh Qianmei yang sekarang merupakan tubuh yang tercipta dari unsur kayu. Perubahan yang paling ekstrem adalah warna kulitnya yang berubah menjadi hitam legam dengan tekstur kayu terukir dari seluruh tubuhnya dan simbol kuno yang melingkar di lehernya. Tentu saja untuk seorang gadis yang sebelumnya sangat cantik dengan kulit seputih kapas kini berubah sangat drastis menjadi hitam bercorak kayu. Jingga yang memperhatikan perubahannya langsung melebarkan mata tidak menduganya. Biarpun begitu, aura kecantikan dari adiknya tidaklah berubah.


Qianmei mulai membuka kedua matanya. Tampak kedua bola mata sepenuhnya berwarna hitam legam dengan sorot mata membunuh yang begitu pekat terpancar dari keduanya. 


BOOM! BOOM!


Dentuman teredam terdengar dari dalam tubuh Qianmei. Tak lama kemudian, gelombang aura menyeruak keluar memancarkan tekanan yang kuat hingga puncak bukit menggantung bergetar keras.


“Supreme Emperor Kristal!” gumam Jingga terperangah melihatnya.


“I-ini luar biasa!” imbuhnya dalam kekaguman melihat lompatan peningkatan ranah kultivasi adiknya.


Qianmei yang baru tersadar tampak bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia lalu mengangkat kedua tangan dan memperhatikannya. Matanya terbelalak tidak percaya melihat kulit tangannya berwarna hitam legam. Tubuhnya menggigil ketakutan. Berkali-kali dia memperhatikan bagian tubuhnya yang lain dan ketakutan semakin memuncak dialaminya.


“Aah!” pekik lantang Qianmei tidak memercayai keadaan tubuhnya.


Teriakan demi teriakan terus dilontarkan oleh Qianmei karena tidak menerima keadaan tubuhnya yang berubah menjadi makhluk aneh. 


Suasana malam di atas puncak bukit menggantung menjadi sangat memilukan. Suaranya yang melenting membuat para hewan dan beast monster di sekitar puncak bukit kembali berhamburan menjauhi puncak bukit.


Bai Niu yang tergeletak pingsan langsung terbangun mendengarnya. Dia pun terkejut melihat perubahan adiknya yang menjadi sosok aneh bertubuh hitam legam.


“Mei’er. Apa yang terjadi denganmu?” tanya Bai Niu lalu berdiri menghampiri adiknya.


Belum sampai Bai Niu mendekati Qianmei, Jingga langsung menarik tubuh Bai Niu ke arahnya.


“Jangan diganggu! Biarkan dia melampiaskan amarahnya,” kata Jingga.


“Kak, ada apa dengan Mei’er?” 


“Dia bertransformasi menjadi dewi iblis.”


“Hah!” 

__ADS_1


“Sudahlah. Setelah emosinya reda, pakaikan dia gaun.”


Bai Niu mengangguk pelan. Dalam benaknya ia masih tersentak dan sulit untuk menerima kejadian yang dialami adiknya. 


Qianmei yang terus berteriak akhirnya terkulai lemas dalam posisi setengah berlutut. Tidak ada lagi suara yang keluar dari bibirnya. Setelah melihatnya diam, Bai Niu langsung menghampirinya lalu berjongkok untuk mengenakan gaun menutupi tubuh Qianmei yang polos tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh gelapnya.


“Mei’er,” lirih Bai Niu memanggilnya 


Qianmei mendongakkan wajah menatap sayu Bai Niu kemudian meluruh memeluknya. Isak tangis kembali pecah di keheningan malam. Bai Niu membalasnya dengan mengencangkan kedua tangannya yang melingkar di punggung sang adik.


“Bersabarlah, aku yakin kak Jingga bisa mengembalikan dirimu seperti sebelumnya,” ujar Bai Niu menenangkannya.


“Terima kasih, Kak Niu’er. Tapi, aku takut kak Jingga tidak menyayangiku lagi,” balas Qianmei.


“Aku akan tetap menyayangimu, Memimu,” sambung Jingga yang berjalan menghampiri keduanya.


“Berdirilah!” imbuh Jingga memintanya.


Qianmei berdiri sambil menundukkan wajah karena malu dengan kondisi tubuhnya yang hitam legam. Jingga kemudian mengangkat dagu Qianmei dan tersenyum lembut menatapnya. 


“Kecantikanmu tidak berkurang sedikit pun,” kata Jingga lalu mengecup lembut bibir Qianmei.


Cukup lama keduanya berciuman, tiba-tiba saja suhu udara berubah menjadi panas. Jingga lalu melepaskan pagutan bibirnya dan langsung memindai area di sekitarnya.


“Kita kedatangan tamu tak diundang. Apa kalian berdua siap menghadapinya?” Jingga menatap tajam kedua adiknya.


“Aku siap,” jawab Bai Niu yang langsung mengeluarkan Jianshandian.


“Kak, aku merasa ada sesuatu yang mencuat dari dalam tubuhku,” kata Qianmei mengungkapkan.


“Apa kau tahu siapa dirimu yang sekarang?” tanya Jingga.


Qianmei menggeleng tidak mengetahuinya lalu mengernyitkan dahi meminta jawaban.


“Kau sekarang adalah seorang dewi iblis,” kata Jingga memberitahunya, “ada sosok tersembunyi di dalam tubuhmu. Cobalah kau berkomunikasi dengannya.” 


Qianmei lalu menutup kedua matanya. Ia mencoba merasakan kehadiran sosok yang bersemayam di dalam tubuhnya. Akan tetapi, setelah berkali-kali mencoba berkomunikasi, sosok yang dimaksud tidak menanggapinya. Ia lalu membuka kembali kedua matanya seraya menggeleng pelan dengan mimik wajah kecewa.


“Ranah kultivasimu tidak diimbangi oleh kekuatan jiwa yang sepadan. Kau harus banyak menyerap jiwa kultivator, sumber daya dan yang paling penting adalah kau harus sering bertarung,” kata Jingga lalu memasang perisai iblis setelah merasakan adanya serangan yang dilontarkan ke arahnya.

__ADS_1


WUZZ! DUAR! DUAR!


Puluhan bola energi ditembakkan oleh beberapa beast monster yang menyerang secara serentak di kejauhan.


 Jingga melirik Bai Niu lalu berkata, “Naninu, masukkan kembali pedangmu.”


“Baik, Kak,” sahut Bai Niu.


Setelahnya, Jingga mengalihkan pandangannya ke arah Qianmei lalu berkata, “Ini pertarunganmu. Hancurkan semuanya dan kumpulkan inti jiwa para beast monster, …, kau siap?”


“Aku siap!” sahut Qianmei lalu melayang terbang meninggalkan kedua kakaknya.


Berada di ketinggian di atas puncak bukit menggantung. Qianmei langsung mengalirkan energi spiritualnya. Tatapannya dingin dengan sorot mata membunuh menatap puluhan beast monster dari ras Phoenix api. Namun, energi spiritualnya secara tiba-tiba tidak bisa dirasakannya. Ia lalu memeriksa ke dalam dantiannya. 


“Hah! Kenapa lautan dantianku menjadi hitam pekat?” gumamnya.


WUZZ! DUAR!


Serangan dadakan dari para beast monster tidak diantisipasi oleh Qianmei yang lengah pada keberadaan musuhnya.


Lontaran bola energi kembali dimuntahkan dari mulut phoenix api.


WUZZ! DUAR!


Qianmei yang masih terpelanting harus kembali terkena serangan yang mengarah kepadanya. Ia pun semakin jauh terlempar di udara. Lebih dari 20 ekor phoenix api tidak ingin memberinya kesempatan untuk balik menyerang.  Puluhan bola api terus dimuntahkan dari mulut para phoenix api sambil melaju cepat mendekati Qianmei.


DUAR! DUAR! DUAR!


Ledakan demi ledakan terus terjadi di langit. Qianmei yang terpelanting sengaja membiarkan tubuhnya terus diserang oleh phoenix api. Dalam benaknya ia terus mencari cara untuk mengeluarkan kemampuannya. 


“Gunakan kekuatan jiwamu, Memimu,” kata Jingga melalui alam pikir Qianmei.


“Baik, Kak,” balas Qianmei lalu memfokuskan diri pada kekuatan jiwanya.


“Siapa kau?” tanya Qianmei kepada sosok yang bersemayam di tubuhnya.


Tidak ada jawaban yang terdengar dari sosok yang bersemayam di tubuhnya. Qianmei tanpa henti terus berkomunikasi dengan sosok tersebut meskipun tubuhnya terus dihantam oleh energi api dari para beast phoenix api.


Kesal karena tidak ditanggapi, Qianmei akhirnya berhenti bertanya. Ia lalu menghubungi kakaknya Jingga.

__ADS_1


“Kak Jingga, hancurkan tubuhku,” pinta Qianmei.


__ADS_2