
"Yang Mulia, hentikan!" pekik lantang Ratu Xin Li Wei memintanya.
Jingga masih terus saja terdiam tidak mendengarkannya. Hal itu membuat Ratu Xin Li Wei melesak naik menambah ketinggian. To Tao terlihat tidak senang melihatnya. Suhu panas begitu menyengat tubuhnya. Namun apa daya, ia harus mengikuti Ratu Xin Li Wei.
"Nyonya, cukup!" kata To Tao menarik tangan Ratu Xin Li Wei agar tidak terus menambah lagi ketinggiannya.
"Yang Mulia tidak mendengarnya, kita mesti mendekatinya." Kilah Ratu Xin Li Wei masih ingin terus menambahkan ketinggian terbangnya.
"Bukan tidak mendengar, Yang Mulia terlalu fokus pada aksinya," sanggah To Tao.
Pada akhirnya Ratu Xin Li Wei mau menuruti To Tao setelah keempat tetua menghampiri keduanya dengan menahan suhu panas yang kian menyengat dan rasa penasaran pada keduanya.
"Apa yang kalian bahas?" Tanya Du Zui ingin mengetahuinya.
"Bisakah kita turun?" Sosor Da Bizi yang tubuhnya mulai mengalami retakan.
"Lemah!" cibir To Tao mencemoohnya.
"Kau yang lemah!" Balas Da Bizi tidak terima dicemooh.
"Hentikan pertikaian kalian! Kita harus cari cara untuk menghentikan Yang Mulia," Bentak Ratu Xin Li Wei melerai keduanya.
To Tao dan Da Bizi langsung terdiam, tidak berani meneruskan keributannya.
"Bagaimana kalau kita lempar bola energi?" Celetuk Kuan Etou memberikan ide.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Timpal Ratu Xin Li Wei yang diangguki oleh yang lainnya.
WUZZ! SIU!
Puluhan lesakan energi dilemparkan oleh para pengikut Jingga untuk menarik perhatiannya. Mereka melakukannya secara terus menerus dengan berbagai variasi serangan agar Jingga segera menghentikan bola api yang terus mengembang. Apa yang diupayakan oleh Ratu Xin Li Wei dan yang lainnya, pada akhirnya berhasil membuat Jingga melirik ke arahnya.
"Woi! Kenapa kalian menyerangku?" pekik Jingga yang berada dalam jarak yang sangat jauh dari posisi para pengikutnya.
"Hentikan, Yang Mulia!" sahut para pengikutnya serentak.
"Apa maksudnya?" gumam pikir Jingga belum memahaminya.
"Hei! Apa kalian tahu bagaimana bola api ini bisa melayang diam?" tanya Jingga berharap salah satu pengikutnya mengetahui caranya.
"Siapa di antara kalian yang tahu?" sambung Ratu Xin Li Wei melemparkannya kepada To Tao dan keempat tetua.
To Tao dan keempatnya saling melirik. Mereka kemudian mengangkat dagu tanda tidak mengetahuinya. Jingga yang memperhatikannya hanya mendengus sedikit kesal.
__ADS_1
Sementara dua gadis iblis di tempat paling bawah, Nona Chyou dan Xinxin mulai tidak tahan dengan suhu panas yang mengikis kulit tubuhnya.
"Xin'er, apa kau bisa menghentikan Yang Mulia?"
"Aku akan coba mendekatinya, Nona Chyou tunggu aku di sini." Jawab Xinxin lalu merapalkan mantra sihir.
"Kongqi Zhuanhuan Qi"
Seketika tubuhnya mengeluarkan partikel es yang langsung menguap melahap suhu panas. Nona Chyou sedikit khawatir melihatnya.
"Xin'er, apa kau yakin?"
"Tenang saja, setidaknya tubuhku menjadi dingin."
WUZZ!
Xinxin langsung melayang terbang dengan sangat cepat melewati para tetua sekte yang masih terus berdiam diri.
"Kak Jingga!" panggil Xinxin yang semakin dekat posisinya.
"Xin'er, ada apa?" tanya Jingga ingin tahu.
"Hentikan, Kak! Bukan hanya monster iblis senyap saja yang akan punah, kami para iblis permukaan pun akan ikut punah apabila terpapar sinar matahari yang Kak Jingga buat," ungkap Xinxin menjelaskannya.
"Bukankah ini bagus ya? Tidak, tidak, tidak. Alam semesta tidak akan seimbang kalau aku membinasakan semua iblis. Nantinya aku akan menjadi satu-satunya iblis yang tersisa. Ah, tidak seru." gumam pikir Jingga menimbang dampaknya.
"Xin'er, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Jingga meminta pendapat.
"Kakak, aku tadi bilang 'hentikan!' Kenapa Kakak masih bertanya juga?" kata Xinxin terlihat kesal dari nada bicaranya.
Jingga mengerutkan bibir mendengarnya. Yang dirinya maksud bukanlah untuk menghentikan bola api yang terlanjur ada darinya, namun ia merasa bimbang akan upaya selanjutnya. Membuat bola api melayang diam tidak bisa dilakukannya, menghilangkannya tentu lebih mustahil lagi. Energi bola api hanya bisa dihancurkan olehnya di udara. Tentunya itu akan membuat langit alam iblis secara keseluruhan akan hancur. Satu-satunya cara adalah melemparkannya ke bawah. Akan tetapi, hal itu berdampak sangat besar pada kerusakan di alam iblis. Tapi tidak semua benua akan mengalami kehancuran. Jingga bisa memberi batas dengan mengukur area target. Namun, yang harus diingatnya adalah ukuran bola api yang sangat besar. Kini ukurannya menyamai sepuluh gunung besar.
"Xin'er, bisakah kau menciptakan perisai es berlapis di belakangku?"
"Untuk apa, Kak?"
"Untuk membuat kalian tetap hidup. Cepatlah!"
"Kenapa tidak masuk ke alam jiwa, Kakak saja?"
"Jangan membantah, posisiku tidak memungkinkan menarik kalian memasuki alam jiwaku."
"Ba-baik, Kak. Aku memahaminya."
Xinxin lalu membuat pola rumit di jarinya. Ia menciptakan lapisan es berlapis membentuk sebuah dimensi kubus di belakang Jingga.
__ADS_1
"Sudah, Kak."
"Pancarkan partikel es ke bawah, agar semuanya bisa memasuki ke dalam perisai es."
Xinxin mengangguk, ia kembali membentuk pola rumit di jari tangan kanannya dan merapalkan sebuah mantra. Tampak butiran es berbentuk kristal yang mencair berjatuhan dari tiap ujung jari-jarinya.
"Kalian semua, cepatlah naik!" pekik Jingga meminta seluruh pengikutnya untuk naik menghampirinya melalui rinai es yang berjatuhan.
Perintah Jingga dilanjutkan oleh keempat tetua yang meneriaki para murid sekte Mofa Gu yang berada di bawahnya. Ratu Xin Li Wei pun meneriaki para bawahannya untuk naik ke atas. Sementara To Tao meluncur turun untuk memastikan para pengikut Jingga tidak ada yang tertinggal.
"Ayo cepat!" teriak To Tao kepada para iblis yang menjadi pengikut Jingga.
Dari kejauhan, dua iblis melaju cepat ke arah istana. Keduanya adalah Nuren dan Feichang dari klan Linghun Lishou yang berhasil menyelamatkan diri dari serbuan monster iblis senyap.
"Tuan Tao, di mana Yang Mulia?" tanya Feichang setelah berada dalam jarak yang dekat dengan To Tao.
"Cepatlah naik ke atas, Yang Mulia ada di sana." Balas To Tao memintanya.
Feichang dan Nuren langsung bergegas naik mengikuti para iblis lainnya yang bersusulan mengikuti rinai es yang mencair seperti air hujan.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. To Tao langsung melesak naik menyusul yang lainnya. Dan para pengikut Jingga kini sudah berada di dalam perisai es.
"Xin'er, apakah semuanya sudah memasuki perisai?" tanya Jingga ingin memastikan.
"Sudah, Kak!" sahut Xinxin lalu menambahkan kembali lapisan es ke dalam perisai buatannya.
WUZZ!
Lapisan es yang diciptakan oleh Xinxin membuat para iblis mulai membeku. Akan tetapi, tidak ada satupun yang berani untuk mengeluarkan energi api karena akan membuat perisai es menjadi cair.
"Sialan! Aku lebih baik kepanasan daripada harus membeku seperti ini," keluh seorang iblis hitam yang menggigil kedinginan,
"Tahukah kalian? Suhu dingin akan membuat aura ketampananku berkurang." Racau To Tao yang tidak menyukai suhu dingin yang membekukan tubuhnya.
"Diam kau, Jelek!" tanggap Ratu Xin Li Wei merasa kesal mendengar ocehan iblis hitam di dekatnya.
"Biar Jelek begini juga, kau terus saja mengikutiku." Kelit To Tao menyindir sang Ratu.
"Huh! Dasar tak tahu diri. Sudah jelek, gosong, hidup pula." Cibir Sang Ratu mulai merasa jengkel mendengarnya.
"Apakah itu pujian untukku, Nyonya?" kata To Tao merasa tersanjung oleh ucapan Ratu Xin Li Wei.
*****
Bersambung.
__ADS_1