Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pulau Intan


__ADS_3

Naray mencak-mencak menggerutu kesal dengan memukuli kayu di sisi kiri kanannya, lama kelamaan kekesalannya berubah menjadi tangisan sendu. Ia menangis tersedu-sedu sambil menundukkan wajahnya.


Hik, hik, hik!


Jingga melompat ke dalam air sambil membawa sebatang kayu menyelam ke arah perahu. Tanpa diduga olehnya, kecepatan dan kekuatannya kembali.


"Hah! Ini tidak mungkin, bagaimana bisa kekuatanku langsung kembali di masa sekarang? Apakah energi iblisku telah kembali?" Gumam tanya Jingga di dalam air.


Ia melesat ke arah perahu lalu menariknya menuju daratan di depannya.


Naray yang sedang menangis langsung tersentak, ia memegang erat perahu sambil menengok ke segala arah mencari kakaknya Jingga.


"Aa!" Jerit Naray melengking di udara.


Naray hanya bisa menjerit selama beberapa detik sampai perahu mendarat dengan mulus di tepi pantai.


Jingga yang berada di bawah perahu langsung berjalan dengan lunglai, tenaganya terkuras habis, kembali ia dikejutkan dengan kondisi badannya yang kembali seperti semula.


"Aa" panggil Naray langsung melompat dari perahu.


"Aa kenapa?" Tanya Naray heran melihat wajah Jingga yang begitu lesu.


"Tidak apa-apa, Neng" jawab Jingga lalu menjatuhkan badannya di atas pasir pantai.


Gedebuk!


Jingga telentang menatap langit biru di atasnya, ia masih memikirkan kondisi tubuhnya waktu menyelam di bawah air laut.


"Neng, berapa lama perahu sampai di sini?" Tanya Jingga melirik adiknya yang duduk di sampingnya.


"Sangat cepat, A. Tidak sampai tiga detik, perahu sampai sini" jawab Naray.


Jingga kembali bangun, ia lalu berlari dan melompat ke dalam air dan langsung menyelam di dalamnya. Kali ini ia seperti manusia biasa, tidak ada kecepatan dan kekuatan seperti sebelumnya. Dengan kecewa, Jingga kembali ke permukaan dan berenang menghampiri adiknya yang berdiri mengerutkan kening melihat tingkah Jingga yang aneh.


"Aa, ada apa?" Tanya Naray ingin tahu.


"Kekuatan asli Aa tadi keluar waktu menarik perahu, tapi sekarang hilang lagi" jelas Jingga menjawabnya.


Naray baru memahami perilaku kakaknya yang membuatnya begitu heran. Jingga tersenyum menatapnya, ia lalu membuka baju atasnya dan langsung menjemurnya di atas kayu perahu.


Naray yang melihatnya langsung menelan saliva tertegun pada pemandangan maskulin seorang pria dewasa, Jingga tampak begitu gagah dengan tubuh yang berotot dan juga kekar, namun kulitnya terlihat pucat tanpa darah.


"Jangan nakal! Neng masih kecil" celetuk Jingga langsung merebahkan kembali tubuhnya.


"He he he, aku sudah besar, A. Kelihatan kan?" Balas Naray membusungkan dadanya.


Jingga langsung membuang muka tidak ingin melihatnya. Baginya kesempurnaan hanya milik istriknya Xian Hou.


"Baru sebesar jambu kelutuk saja sudah pamer. Nanti kalau sudah sebesar kelapa, baru boleh ditunjukkan" celetuk Jingga mengomentarinya.


"Huh! Biarin, yang penting imut dan menggemaskan" balas Naray lalu membelakangi Jingga sambil mengintip miliknya yang memang masih kecil.

__ADS_1


Pletak!


"Aw!" Jeritnya sambil mengusapi kepalanya yang dijitak oleh Jingga.


"Aa, kenapa sih senang betul jitakin kepala?" Protes Naray.


"Lagian, sudah tahu kecil. Masih saja dilihatin" jawab Jingga yang langsung memakai kembali pakaian atasnya.


"Huh! Nyebelin" dengus Naray lalu berlalu pergi ke arah perkebunan.


Jingga yang menolehnya langsung menyusul dan keduanya berjalan di area perkebunan pulau Intan. Hanya beberapa langkah saja di area kebun, Jingga menarik tangan Naray menahannya.


"Ada apa, A?"


"Sambutan meriah pulau Intan"


"Serius?"


Jingga diam saja tidak menjawabnya, kedua bola matanya berputar-putar memperhatikan ratusan orang berpakaian hitam sedang bersembunyi di antara pepohonan.


"Pasti Aa senang ya, mendapat lawan tarung yang banyak?"


"Akhirnya Neng tahu juga, iya dong pasti. Tapi kali ini Aa ingin sesuatu yang berbeda" kata Jingga mendongak ke atas memikirkan sesuatu.


"Apa itu, A?" Sambung tanya Naray.


"Kita menyerah" jawab Jingga.


Naray yang mendengarnya merasa heran, seorang Jingga yang gila pertarungan memutuskan untuk menyerah. Ia terus menatap Jingga dengan lekat, mencoba memahami jalan pikirannya.


"Neng mau kabur?" Tanya Jingga.


"Tidak, A. Aku ikut Aa saja" jawabnya.


Setelah mendengar jawaban adiknya, Jingga langsung melemparkan kedua belatinya dan mengangkat tangan ke atas. Naray yang melihatnya langsung mengikuti Jingga dengan melemparkan panahnya lalu mengangkat kedua tangannya.


Di balik pepohonan, beberapa pendekar tersenyum senang melihat keduanya. Seorang pendekar yang merupakan pemimpin membuat kode meminta pendekar lainnya untuk turun menangkap Jingga dan Naray yang menyerahkan diri.


Tap! Tap!


Lebih dari seratus pendekar berlompatan menghampiri Jingga dan Naray yang masih berdiam diri sambil mengangkat tangannya.


"Pilihan yang tepat, anak muda. Kalian masih bisa hidup sampai esok hari" ujar seorang pendekar berusia tiga puluhan.


"Ikat keduanya!" Imbuhnya memberikan perintah.


Jingga dan Naray langsung diikat dan dibawa oleh empat pendekar yang mengawalnya menuju pusat klan Serigala, sedangkan sebagian besar pendekar berkelebat pergi meninggalkan lokasi.


Sinar matahari begitu terik ketika para pendekar memasuki area perkotaan, warga kota berderet di pinggir jalan memperhatikan dua pemuda yang selalu tersenyum walau dalam keadaan terikat kedua tangannya di punggung.


"Sayang sekali, keduanya masih terlalu muda untuk menghadapi kematian" bisik salah seorang warga menyayangkan.

__ADS_1


"Apalagi yang gadis itu terlihat masih belia" sambung yang lainnya.


Jingga dan Naray menjadi perbincangan hangat para warga yang menyayangkan usia keduanya yang masih muda harus ditangkap dan akan dieksekusi oleh dewi Serigala.


Setelah melewati area perkotaan, para pendekar yang membawa Jingga dan Naray berjalan menaiki sebuah bukit yang terletak di belakang kota.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di halaman sebuah rumah besar nan luas layaknya sebuah istana kerajaan.


Memasuki area dalam rumah besar, Jingga dan Naray memperhatikan para pendekar sudah berkumpul di bawah singgasana sang Dewi.


"Lapor, Yang Mulia Dewi. Kami berhasil membawa kedua pendekar yang menyerahkan diri. Tidak ada pertarungan dan tidak ada korban" ujar pemimpin pendekar melaporkan.


Dewi Serigala mengangguk dan melambaikan tangan memintanya pergi. Ia lalu turun dari singgasananya menghampiri Jingga dan Naray.


"Perlu kalian ketahui, dengan menyerahkan diri berarti kalian menerima eksekusi mati pada pagi hari yang akan disaksikan oleh seluruh pendekar pulau Emas di pulau Intan ini" ujar dewi Serigala menjelaskannya.


"Wah! Itu seru! Aku jadi bisa memusnahkan klan Serigala di hadapan para pendekar pulau Emas" balas Jingga menyukainya.


Plak!


Dewi Serigala menamparnya dengan keras.


"Dasar bodoh! Sepertinya volume otakmu mengecil" umpat dewi Serigala.


"Kau yang bodoh! Kau membawa monster memasuki rumah yang berisi para domba" balas Jingga.


"Ha ha ha, kau sangat menyedihkan" timpal dewi Serigala merendahkannya.


"Masukkan keduanya dalam penjara, ikat kedua tangan dan kakinya dengan kawat berduri" perintah dewi Serigala kepada para pengawalnya.


"Jangan, masukkan keduanya ke dalam kandang harimau" imbuhnya menyela.


Jingga menyeringai sinis menatapnya, beberapa pengawal langsung mendorongnya dan membawanya ke ruang tahanan di area lain klan Serigala.


Jingga dan Naray memasuki ruang tahanan dan melewati beberapa kerangkeng besi yang berisi para pendekar yang ditangkap oleh klan Serigala.


"Ini klan atau kerajaan? Kenapa ada penjaranya juga?" Gumam pikir Jingga memperhatikan ruang tahanan yang dilaluinya.


Sampai juga Jingga dan Naray di sudut dinding penjara, seorang pengawal membuka pintu kayu tebal dan mendorongnya dengan penuh tenaga.


GROOARR!


Raungan keras terdengar dari dalam begitu pintu terbuka. Tampak seekor harimau putih yang terantai satu kakinya terus menatap tajam ke arah pintu.


"Aa, takut!" Ucap Naray yang berdiri di belakang Jingga.


Para pengawal langsung mendorong keduanya memasuki ruang tahanan.


Krak! Bugh!


Pintu tertutup kembali membuat ruangan menjadi gelap gulita, hanya dua bola mata harimau yang terlihat jelas.

__ADS_1


__ADS_2