
"Ha ha ha, dasar bodoh!" Ejeknya memperhatikan Jingga.
"Sepertinya kau tidak sadar, aku bahkan tidak menggunakan senjata apa pun untuk mengalahkanmu" kilah sang remaja begitu angkuh.
Jingga menyeringai tajam mendengarnya, ia lalu memutar bola matanya seolah mengacuhkannya. Remaja itu lalu mendekatinya dengan hampir beradu wajahnya dengan wajah Jingga. Keningnya mengkerut melihat tingkah Jingga yang aneh.
"Haa!" Jerit remaja itu tidak menduga sesuatu akan terjadi dengan dirinya.
Ia langsung melirik arah kakinya yang melebur terkena injakan kaki Jingga lalu menyebar dengan cepat ke arah tubuhnya.
Jingga memanfaatkan momentum didekati remaja yang selalu memperhatikan dirinya, dengan trik yang sederhana, ia berhasil membuat sang remaja mendekatkan tubuhnya. Dengan spontan Jingga mengalirkan api semesta ke telapak kakinya.
"Kau!" Ucap sang remaja singkat, ia begitu terkejut melihat tubuhnya melebur terkena energi api semesta.
"Jerat penghisap jiwa"
Jingga menempelkan ujung kedua jari manisnya di kepala remaja di depannya lalu menarik jiwanya dengan paksa.
"Aah!" Pekik teriakan remaja itu dengan matanya yang menonjol keluar.
Jingga tersenyum simpul melihatnya lalu menggelengkan kepala dengan pelan.
"Oh kasihan, oh kasihan, aduh kasihan" ucapnya setelah tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh sang remaja.
Setelahnya, Jingga langsung terdiam. Tidak ada dentuman yang keluar dari dalam dirinya setelah menghisap jiwa sang remaja.
"Aneh, padahal kecepatannya begitu mengerikan. Kenapa tidak berdampak pada kekuatanku?" Gumam pikirnya.
Jingga tidak merasakan peningkatan pada basis kultivasinya, ia tersenyum kecut lalu melihat anak tangga muncul di depannya. Jingga dengan santai menaikinya selangkah demi selangkah.
"Sepertinya bertambah menjadi tiga puluh ribu langkah, tidak sulit" gumamnya memperkirakan jumlah anak tangga yang akan dilaluinya.
Krak! Krak!
Suara retakan anak tangga di sekitarnya, Jingga tampak begitu bingung melihatnya.
Brugh!
Anak tangga yang dipijaknya ambruk, untungnya Jingga lebih cepat memindahkan kakinya ke anak tangga di atasnya, ia lalu dengan cepat berlari naik ke atas.
Brugh! Brugh!
Setiap anak tangga yang dipijaknya langsung ambruk, Jingga yang tidak bisa menggunakan energi iblis, terpaksa harus berlari menyusuri anak tangga dengan fisik murni. Lebih dari ribuan anak tangga dilaluinya, Jingga baru menyadari langkah kakinya begitu ringan.
__ADS_1
"I- ini sungguh hebat!" Serunya dengan semringah.
Jingga merasa seperti berlari di atas awan, padahal ia hanya menggunakan fisik murni dalam berlari.
"Yuhuuu!"
Jingga begitu senang bisa melangkah dengan ringan dan cepat hingga puncak tangga begitu cepat terlihat olehnya.
Tap! Tap!
Akhirnya Jingga sampai di arena pertandingan yang ketiga. Tidak ada perbedaan dengan arena pertama dan kedua, di arena ketiga suasananya begitu mirip. Jingga berjalan santai ke tengah arena yang melompong tanpa ada seorang pun yang berdiri di tengahnya.
"Siapa lawanku berikutnya? Pastinya akan lebih sulit dari sebelumnya" gumam Jingga sambil memperhatikan sekitarnya.
Tidak ada wujud yang terlihat olehnya, namun Jingga bisa merasakan adanya aura keberadaan seorang kultivator iblis di dekatnya.
Jingga begitu mewaspadainya, ia menggunakan mata iblisnya memindai sekitar area tempatnya berdiri.
Tidak ada pergerakan sama sekali, namun aura iblis semakin menekannya dengan kuat. Jingga menekan balik aura iblis lawannya.
Wuzz!
Gelombang aura iblis saling beradu di arena pertarungan, Jingga semakin kuat memancarkan auranya hingga berhasil mendominasi aura iblis dari lawannya.
"Ha ha ha, aku sudah menduga kau adalah pewaris Yuangu Mowang muridku" ucap seseorang yang masih belum terlihat wujudnya.
Namun bukanlah Jingga namanya kalau harus kalah sebelum berjuang, ia menepis rasa takut itu.
"Betul katamu, aku mendapatkan kesaktian dari warisan si monster jelek Yuangu Mowang. Tapi kau harus tahu, aku tidak pernah menginginkannya, ia yang menipuku untuk mendapatkannya. Berhentilah mengaitkanku dengan dirinya" balas Jingga dengan berlagak congkak.
Ia melingkarkan kedua tangannya di depan dada dan kaki yang menyilang. Hal itu ia lakukan untuk memberanikan diri menghadapi seseorang yang tidak ia lihat keberadaannya.
"Sombong sekali dirimu iblis kecil, aku pastikan kau tidak akan pernah melewati tahap ini" timpal gurunya Yuangu Mowang.
"Namanya juga iblis, wajar dong kalau diriku sombong, tapi aku bukanlah pengecut seperti dirimu anak kecil" balas Jingga masih dengan wajah yang congkak.
"Kurang ajar, kau mengatakan diriku anak kecil" balas gurunya Yuangu Mowang tersulut emosinya.
Ia semakin menekan auranya, Jingga tampak santai dengan tekanan aura yang mengintimidasinya.
"Dih, marah! Betulkan perkataanku, kau seperti anak kecil yang merengek tidak dibelikan kembang gula. Kemarilah anak kecil! Paman punya uang banyak untukmu beli kembang gula di hutan" ucap Jingga terus memprovokasinya.
Suasana tampak sepi, tidak ada lagi tekanan aura yang mengintimidasi. Namun Jingga masih terus mewaspadainya, sewaktu-waktu mungkin saja orang itu akan menyerangnya.
__ADS_1
Wuzz!
Gemuruh besar terdengar di sekitar arena, suasana langsung berubah menjadi begitu mencekam. Raungan arwah para kultivator saling bersahutan.
"Serangan jiwa" gumam Jingga yang pernah mempelajarinya dari ingatan Yuangu Mowang.
Ia tidak menghiraukannya, Jingga bereaksi terbalik dengan keinginan gurunya Yuangu Mowang. Dalam suasana yang semakin mencekam, Jingga malah semakin lebar tersenyum.
"Kurang seram, ini tidak seru. Cobalah kau buat suasananya seperti sebuah peperangan" pinta Jingga.
Betul saja, suasana berubah menjadi suasana perang, terdengar jeritan dan teriakan dari orang-orang yang sedang berperang, ditambah dengan dentuman ledakan yang terus bersahutan dan suara parau dari tebasan, sayatan dan tusukan benda tajam menambah suasana semakin mencekam.
"Ha ha ha, dasar iblis bodoh! Kau mau saja menuruti perkataanku" kekeh Jingga begitu bahagia.
"Apa mungkin kalau aku minta suara orang bercinta, kau juga akan menurutinya. Ha ha ha" cemooh Jingga semakin menyulut emosi lawannya.
Suasana kembali hening, gurunya Yuangu Mowang tidak lagi bereaksi. Tiba-tiba saja di atas langit muncul hujan anak panah yang ujungnya menyala kobaran api.
Langit tampak terang menyala, Jingga menyeringai menengadahkan kepala melihatnya. Ia lalu membuat perisai menutupi tubuhnya.
Wuzz!
Anak panah melesat cepat menghantam tubuhnya.
"Aah!" Jerit Jingga terkejut dengan anak panah yang bukannya menembus tubuhnya, melainkan melesat menembus ke dalam jiwanya.
Jirex yang berada di alam jiwa mengamuk terkena lesatan anak panah yang mengenai tubuhnya, ia langsung berubah menjadi logam.
Trang! Trang!
Jutaan anak panah terpental mengenai tubuh Jirex, namun hal yang menyakitkan adalah Jingga merasa kesakitan yang sangat memilukan.
Bukan tubuhnya yang tertancap anak panah, tapi jiwanya yang bertubi-tubi tertancap panasnya api yang membakar.
Jingga sampai bergulingan di tanah merasakan siksaan yang membelenggu jiwanya.
Jirex yang menyadari jiwa tuannya yang kesakitan langsung melapisi Jingga dengan logam tubuhnya.
"Kakak" panggil Jirex.
Jingga tidak menanggapinya, ia masih meringis merasakan rasa perih dan panas di jiwanya.
Jirex memancarkan aura monsternya, ia menguatkan jiwa tuannya yang terus melemah.
__ADS_1
Pelan namun pasti, kekuatan jiwa Jingga mulai menguat dengan sendirinya. Jingga beranjak duduk bermeditasi, ia membangun kekuatan jiwa bersama Jirex yang terus memancarkan aura penguasa monster legendaris.
Keadaan mulai berbalik, kekuatan jiwa Jingga semakin kokoh. Lesatan anak panah berapi tidak lagi bisa menembus menusuk ke dalam jiwanya.