Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Perjodohan Iblis


__ADS_3


Kaisar Langit menghela napas dalam-dalam setelah ia menerima laporan dari dewa berkepala plontos tersebut. Wajahnya yang gagah dan serius berubah menjadi suram dan penuh kemarahan. Ia mengetuk lengan kursi dengan keras, membuat segala sesuatu di sekitarnya berguncang. 


“Bagaimana bisa ini semua terjadi?” serunya dengan suara lantang, “ini adalah penghinaan terhadap kekaisaran Langit!”


Kaisar Langit lalu mencurigai keterlibatan bangsa iblis yang diyakini bersekutu dengan ras monster alam fana. Ia merasa sangat murka kepada Ratu Kalandiva yang telah mencoreng kekaisaran Langit. 


Setelah sedikit reda kemarahannya, Kaisar Langit segera memanggil para panglima perang dan para dewa untuk merencanakan langkah-langkah strategis dalam upaya membalaskan dendam dan mempersiapkan diri menghadapi serangan yang mungkin akan dilancarkan oleh Ratu Kalandiva setelah mengetahui niatnya menghancurkan istana Monster dan membinasakan ras Monster di alam fana.


Kembali ke posisi Jingga berada. Ratu Kalandiva bersama Jirex dan beberapa beast monster lain di sekitarnya tampak serius mendengarkan rencana yang dikemukakan oleh Jingga. Tak lama kemudian, Bai Niu dan Qianmei datang dengan wajah bingung memperhatikan sang kakak yang berbicara dengan nada serius di hadapan para beast monster.


Jingga yang melihat kedatangan keduanya langsung terdiam lalu tersenyum lembut ke arah keduanya.


“Pondasi kalian berdua sangat baik, selamat adik-adikku,” ucap Jingga memuji keduanya.


“Terima kasih, Kak. Tapi, apa yang terjadi di istana? Kenapa banyak kerusakan?” balas Bai Niu diakhiri tanya.


Jingga menghela napas pelan, lalu melambaikan tangan meminta kedua adiknya untuk mendekat.


“Kaisar Langit mengirim banyak pasukan untuk membumihanguskan istana langit dan membinasakan ras monster, aku masih belum tahu alasan di balik serangan pasukan istana Langit. Namun, hal itu membuat rencana kita mendatangi alam dewa untuk mencari Taiyangshen menjadi lebih rumit,” ujar Jingga menjelaskannya.


“Lalu, apa rencana Kakak selanjutnya?” sambung tanya Bai Niu.


“Itulah yang sedang kita bicarakan, aku sendiri masih belum yakin langkah apa yang harus kita tempuh di depan, …, sebaiknya kita bicarakan di alam jiwa. Ayo semuanya!” kata Jingga lalu membuka portal masuk ke alam jiwa.


Setelah memasuki alam jiwa, para iblis yang masih berpesta langsung terdiam dan berlutut menyambut kedatangan Jingga dan yang lainnya. Sementara itu, Ratu Kalandiva beserta para pengikutnya yang pertama kali memasuki alam jiwa mendadak ketakutan dan bergegas merapatkan diri di belakang punggung Jingga. Mereka tidak berani menatap para iblis yang bersemayam di alam jiwa.


“Berdirilah kalian semua!” pinta Jingga kepada para pengikutnya.


Jingga lalu mendekati Ratu Iblis Xin Li Wei yang berdiri di samping iblis hitam To Tao.


“Kalian terlihat semakin dekat, aku harap ini menjadi hal yang baik untuk kalian berdua,” kata Jingga menyinggung keduanya.


Mendengar ucapan Jingga yang menyinggungnya, membuat Ratu Xin Li Wei langsung menjauhkan diri dari To Tao. Sontak saja, hal itu membuat Jingga terkekeh pelan melihat reaksi sang ratu.

__ADS_1


“Nyonya, kekosongan pemimpin di alam iblis akan berdampak buruk pada keseimbangan tiga alam. Aku minta Nyonya didampingi Tuan To Tao kembali ke alam iblis.” Jingga lalu mengalihkan pandangan pada iblis hitam To Tao.


“Ma-maaf, Yang Mulia. Kenapa menatapku seperti itu?” tanya To Tao terbata.


“Apa kau berkenan mendampingi Nyonya Xin Li Wei?” tanya balik Jingga menatap serius.


To Tao semakin kaku untuk menjawab pertanyaan Jingga, ia lalu melirik ke arah Ratu Xin Li Wei meminta persetujuan. Sang Ratu menatap dingin membalasnya lalu mengalihkan pandangan ke arah Jingga dan berkata,


“Yang Mulia, bolehkah aku menolaknya, …, maksudku, aku tidak ingin menjadikannya seorang raja di alam iblis, aku tidak ingin ada dua komando di dalam istana.”


Jingga tersenyum lembut memahami maksudnya lalu berkata, “Tidak masalah, Nyonya. Aku memintanya untuk mendampingimu bukan berarti menjadikannya seorang raja di alam iblis.”


“Terima kasih, Yang Mulia,” balas Ratu Xin Li Wei merasa lega mendengarnya.


Jingga kembali mengalihkan pandangannya ke arah To Tao. Kali ini ia meminta pendapat langsung dari To Tao.


“Aku tidak pernah ingin menjadi raja di alam iblis, namun aku tidak mengelak ingin menjadi suami dari Ratu,” ujar To Tao dengan lugas.


“Bagaimana dengan hal itu, Nyonya?” tanya Jingga kepada Ratu Xin Li Wei.


“Kalau itu disetujui oleh Yang Mulia, aku akan menerimanya,” ucap Ratu Xin Li Wei mengembalikan keputusan kepada Jingga.


Jingga tidak langsung menanggapinya, ia membalikkan badan ke arah para iblis dan beast monster di sekitarnya.


“Bagaimana dengan kalian semua? Apa kalian menyetujuinya?” tanya Jingga dengan nada lantang.


“Kami mengikuti persetujuan Yang Mulia!” seru semua iblis dan beast monster bersamaan.


“Baiklah, aku menyetujuinya,” kata Jingga sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara.


Gemuruh suara menggema di alam jiwa, para iblis dan beast monster bersorak gembira dengan keputusan yang diambil oleh Jingga. Dalam suasana yang meriah, dua orang iblis mendekati Jingga lalu berlutut. Jingga lalu merentangkan kedua tangan meminta semua pengikutnya untuk diam. Setelahnya, ia meminta kedua iblis berdiri dan berbicara.


Kedua iblis berdiri dan saling melirik, seorang iblis muda lalu mempersilakan iblis tua untuk mengutarakan terlebih dahulu. Iblis tua itu adalah Kuan Etou dari divisi alkemis iblis Wushi Xuetu. Sementara iblis muda berasal dari divisi elementalist.


“Yang Mulia, izinkan hamba menyampaikan maksud yang sudah lama hamba pendam selama ini,” ucap Kuan Etou mengawali.

__ADS_1


“Silakan, Tetua,” kata Jingga mengizinkannya.


“Hamba ingin menikahi Nyonya Nuren,” ucap lugas Kuan Etou mengungkapkannya.


Nyonya Nuren yang berdiri di samping anaknya Feichang langsung terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan pengakuan dari tetua divisi alkemis Wushi Xuetu. Jingga lalu memanggilnya untuk mendekat.


“Nyonya, apa kau menerimanya?” tanya Jingga.


“Maaf, Yang Mulia. Tapi aku tidak bisa memutuskannya sendiri, aku akan serahkan keputusan kepada Chang’er,” jawab Nuren lalu melirik anaknya.


“A–aku tidak tahu, Ibu. Apakah Ibu ingin menikah lagi?” jawab Feichang disertai tanya.


Nuren terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Ia lalu menatap Kuan Etou dengan serius.


“Apa alasanmu ingin menikahiku?” tanya Nuren dengan serius.


“Terlalu banyak alasan untukku menjawabnya, aku sendiri tidak tahu alasan yang tepat untuk mewakilinya. Tapi yang pasti, aku menyayangimu dan juga Chang’er. Bersediakah kalian berdua menerimaku?” jawab Kuan Etou yang begitu lugas seperti sudah mengetahui semuanya.


Nuren melirik Feichang meminta persetujuan. Feichang yang merasakan ketulusan dari Kuan Etou tidak meragukannya. Ia lalu mengangguk setuju. Para iblis dan beast monster kembali bersorak gembira menyikapi keputusan Feichang dan Nuren yang menerima Kuan Etou menjadi bagian keluarga klan Linghun Lieshou. Namun, sorakan mereka hanya sebentar. Mereka penasaran akan ungkapan lainnya dari seorang iblis muda yang begitu berani menghadapi Jingga.


“Sekarang giliranmu, Pemuda. Sebelumnya, katakan siapa namamu dan apa yang ingin kaukatakan kepadaku?” ucap Jingga memintanya.


“Terima kasih, Yang Mulia. Hamba Zin Lou dari divisi Elementalist di bawah Tetua Qingxie. Maafkan kalau hamba lancang mengatakannya, hamba siap dihukum mati, Yang Mulia … sama seperti Tetua Kuan Etou, izinkan hamba menikahi salah satu adik Yang Mulia, Xinxin,” ungkap pemuda bernama Zin Lou.


“Aku suka keberanian yang kautunjukkan, tapi, aku tidak bisa memutuskannya, jadi aku serahkan keputusan kepada adikku,” balas Jingga lalu meminta adiknya Xinxin mendekat.


“Baik, Yang Mulia,” timpal Zin Lou.


Sama seperti nyonya Nuren yang terkejut akan pengakuan dari orang yang tidak diduganya, Xinxin berjalan berjalan mendekati Jingga dengan pemikiran yang rumit, ia menundukkan wajah tidak berani melihat tatapan orang-orang di sekitarnya. Sesampainya di depan Jingga, ia lalu berlutut tanpa mau menunjukkan wajah.


“Bangunlah, Xin’er. Katakan saja apa pun yang menjadi keputusanmu, aku akan menghormatinya,” kata Jingga sambil mengangkat bahu sang adik.


“Kakak, jiwa dan ragaku milik Kakak sepenuhnya. Aku tidak bisa memutuskan masalah ini, mohon petunjuk Kakak!” 


Jingga langsung memeluk Xinxin, pandangannya tertuju ke arah Zin Lou yang tidak gentar untuk membalas tatapan dengan penuh keyakinan akan mendapatkan persetujuan dari Jingga.

__ADS_1


__ADS_2