Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Klan Pemburu vs Iblis Hitam


__ADS_3


Bobeng berbalik menatap keluarganya, Bowen, Bey, dan juga Feiyaw dengan sorot matanya yang tajam.


"Apa kalian masih ingin meneruskan balas dendam padanya?"


Tidak ada yang menjawabnya, ketiga keluarganya hanya mendengus penuh kebencian.


"Hem, sebelum aku bertarung dengan salah satu iblis hitam. Sepertinya aku harus meladeni kalian bertiga," imbuh Bobeng merasa pasrah akan kehilangan ketiganya.


Bowen menyeringai sinis mendengarnya. Ia berpikir keputusan ayahnya hanya karena tidak ingin kedudukannya terganti oleh Nuren.


"Katakan saja kalau Ayah tidak ingin kehilangan status sebagai patriark?" tanya Bowen menyinggungnya.


Bobeng menggeleng pelan menanggapi pertanyaan anaknya yang keliru, lalu menutup kedua matanya. Ia terdiam sejenak agar anak dan cucunya bisa sedikit mereda kebenciannya. Namun apa yang diharapkannya terlalu semu bagi iblis yang dibutakan oleh kebencian. Karna sejatinya kebencian adalah sifat yang paling disukai oleh bangsa iblis.


Tak lama kemudian, ia pun membuka kembali matanya. Bola matanya berubah menjadi perak seluruhnya dan sorot matanya tampak begitu mengerikan, seakan kematian ketiga keluarganya tidak dapat lagi dicegah oleh siapa pun.


Bobeng lalu merentangkan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap langit. Tampak bola api berwarna merah dan biru keluar dari kedua telapak tangannya.


Melihat sang Patriark bersiap untuk menyerang. Bowen masih sempat memikirkan nasib putrinya. Ia langsung meliriknya.


"Yaw'er, kau adalah satu-satunya penerusku. Pergilah ke sekte Kumbang Api di alam dewa, dan berikanlah token ini kepada Tetua Sekte di sana. Jadilah kuat dan balaskan dendam ayah dan ibumu di masa depan." Pesan Bowen.


"Tapi, Ayah. Aku tidak ingin meninggalkan Ayah dan Ibu di sini," kilah Feiyaw menolaknya.


"Lalu siapa yang akan membalaskan dendam untuk ayah dan ibumu?"


Feiyaw terdiam memikirkan kebenaran ucapan ayahnya.


"Pergilah ketika ayah membuka portal, dan teruslah berkelebat ke jalur penghubung tiga alam."


"Ba-baik, Ayah." Feiyaw menurutinya.


Suasana terasa mencekam di langit Xingchang. Para iblis yang berada di bawah kembali bergemuruh menyaksikan pertarungan yang akan terjadi di antara anggota klan pemburu. Mereka pun meneriakkan yel-yel yang semakin nyaring terdengar saling bersahutan.


Sementara di posisi Jingga berada. Ia meminta kepada To Tao untuk bersiap naik ke udara ketika Bobeng menyelesaikan pertarungannya melawan anggota keluarganya sendiri.


Di satu sisi, raut cemas semakin jelas terukir di wajah seorang wanita paruh baya yang tampak begitu gusar memikirkan nasih keluarganya.


"Yang Mulia, tidak bisakah Yang Mulia memaafkan keluargaku?" rajuk Nuren memohonnya.


Ia masih mencoba untuk bisa menyelamatkan anggota keluarganya yang akan saling bunuh di udara. Jingga meliriknya dengan tersenyum lalu berkata,


"Nyonya, aku bukannya tidak ingin memaafkan keluargamu. Asal mereka mau tunduk kepadaku, tentunya aku bisa menghentikan pertarungan. Bukankah dirimu sudah mencobanya?"

__ADS_1


Nuren tertunduk lesu mendengarnya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa menyelamatkan keluarganya. Namun ada hal yang membuatnya janggal. Ia lalu mengangkat kembali wajahnya.


"Yang Mulia, bukankah kami memiliki dua pilihan? Kalau kami tidak tunduk kepadamu, lalu apa yang terjadi ketika kami memilih bergabung dengan kudu Jenderal Jieru?" tanya Nuren begitu penasaran.


Semua iblis yang berada di dekat keduanya langsung melirik. Mereka mengabaikan pertarungan yang memang belum dimulai daritadi. Jingga menyeringai dingin menatap Nuren. Ia lalu menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat kepada Nuren untuk diam tidak menanyakannya.


Dhuar! Wuzz!


Tiba-tiba saja ledakan keras terdengar di udara. Hal itu membuat semua iblis kembali menengadah menyaksikan pertarungan yang baru saja dimulai.


Tampak lemparan bola api saling beradu dari tiga arah yang berbeda. Bobeng terlihat sedikit kewalahan menghadapi sepasang suami istri yang tanpa henti terus melemparan bola api ke arahnya. Akan tetapi, tidak terlihat keberadaan seorang gadis iblis yang seumuran dengan Feichang dalam pertempuran tiga arah itu.


Wuzz!


Bey melesak menyerang Bobeng dengan kedua tangannya yang berubah seperti tangan monster.


Sret! Sret! Sret!


Serangan cakar iblis dari Bey yang sangat cepat berhasil membuat Bobeng terus mundur. Entah apa yang dipikirkan oleh Bobeng yang semestinya bisa dengan mudah menghadang serangan dari menantunya tersebut.


Feichang yang mengamatinya tahu pada apa yang kakeknya maksud.


"Sepertinya Kakek memberi kesempatan untuk Yaw'er melarikan diri," celetuk Feichang yang membuat Jingga menoleh ke arahnya.


"Sepertinya ucapanmu itu betul. Bisakah kau mengejarnya?"


"Baik, Pria Imut. Aku akan mengejarnya." Sahut Feichang lalu melesak terbang.


Tiba-tiba saja Jingga berubah pikiran setelah menimbangnya. Ia lalu mengejar Feichang yang baru saja mencapai jarak setengah dari posisi pertarungan yang sedang berlangsung di atasnya.


Wuzz!


"Chang'er, tidak perlu dikejar." Ucap Jingga melarangnya.


Feichang tidak memahami kenapa Jingga melarangnya, namun ia menurutinya saja dan turun kembali ke barisannya di sisi ibunya.


****


Pertarungan yang berlangsung masih cukup alot dan sangat menghibur para iblis yang menyaksikannya. Benar saja apa yang dikatakan oleh Feichang. Sebuah portal dimensi terbuka dari jarak seratus langkah di tempat pertarungan.


"Yaw'er. Cepat pergi!" teriak Bowen sambil memperhatikan pertarungan ayah dan istrinya.


Feiyaw yang daritadi bersembunyi langsung melesak cepat memasuki lubang portal yang melayang di udara. Setelahnya, Bowen langsung menutupnya dengan cepat.


Bowen sedikit merasa heran dengan ayahnya yang membiarkan putrinya lolos tanpa hadangan. Namun ia mengabaikannya karena harus segera membantu istrinya yang mulai terdesak oleh serangan Bobeng yang membalikkan keadaan dan mulai mendominasi pertarungan.

__ADS_1


"To Li!" Panggil Jingga.


"Hamba, Yang Mulia." Sahutnya.


"Habisi dia."


"Baik, Yang Mulia. Hamba laksanakan."


Wuzz!


To Li melayang cepat ke arah pertarungan sambil melemparkan bola api yang ditargetkannya kepada Bowen yang sedang melaju ke arah istrinya.


Dhuar!


Bowen mencelat jauh terkena lemparan energi dari To Li yang tiba-tiba menyerangnya. Bey yang tengah disibukkan iblis tua melirik ke arah suaminya, nahas, hal itu membuat ia lengah dan si iblis tua dengan cepat menghantamkan pukulan energi api merah ke dada menantunya tersebut.


Dhuar!


Tubuh iblis wanita paruh baya itu meledak seketika menjadi serpihan yang menyebar ke segala arah. Nuren yang merupakkan kakak iparnya sampai harus menundukkan kepala karena pilu melihatnya. Sedangkan Bowen yang dalam posisi melayang tidak seimbang karena terempas oleh serangan dari To Li sekilas melihat kehancuran tubuh istrinya.


"Ha!" pekik melenting dari seorang pria paruh baya menggetarkan langit di atas Xingchang.


Gelombang aura iblis menyeruak dari tubuh si pemilik jeritan. Ia pun bertransformasi ke wujud iblisnya yang mengerikan. To Li yang mengejarnya sampai terdorong mundur beberapa langkah karena tekanan yang sangat besar menerpanya.


Semua iblis terperangah melihatnya. Namun bukan transformasi tubuh Bowen yang membuat semua iblis terperangah melihatnya, akan tetapi tingkatan kultivasinya yang menembus ranah Supreme Emperor Platinum yang membuat para iblis tidak menduganya sama sekali.


Di antara semua iblis yang berada di Xingchang, hanya seorang iblis muda yang bereaksi berbeda dengan yang lainnya, siapa lagi kalau bukan jingga adanya. Ia terlihat sangat antusias menyaksikan pertarungan yang akan berjalan seimbang di atas Xingchang.


"To Tao!" panggil Jingga tanpa meliriknya.


"Hamba, Yang Mulia." Sahut To Tao menunggu perintah.


"Sekarang!"


To Tao menyeringai dingin memahami perintah dari Jingga. Ia lalu dengan cepat melayang ke udara untuk bertarung dengan iblis tua bertanduk perak yang masih berdiri diam menatap serius putranya yang bertransformasi.


Bowen yang transformasinya telah sempurna langsung melesak cepat menyerang To Li dengan menjulurkan pedang yang bagian bilahnya terbungkus lidah api yang berkobar-kobar.


"Ha-ha-ha, akhirnya aku mendapatkan lawan seimbang. Terima kasih, Yang Mulia Jingga." Gumamnya begitu bersemangat.


Ia lalu menghilang dari posisinya untuk menghindari tebasan sang iblis pemburu. Sayangnya, ia gagal memperhitungkan kecepatan serangan Bowen dalam tubuhnya yang sekarang.


Dhuar!


To Li terpelanting jatuh ke tanah hingga menciptakan kawah yang cukup dalam tidak jauh dari sisi kubu Jenderal Jieru.

__ADS_1


"Sialan! Aku lupa pada kecepatannya dalam tubuh transformasi. Ha-ha." Kekeh To Li lalu bangkit berdiri.


__ADS_2