Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Turnamen - Babak I


__ADS_3

Beberapa langkah kaki ketiganya berjalan menelusuri taman bunga, sampailah ketiganya berada di padang rumput yang lumayan luas di kaki gunung Lanhua, Jingga melirik Du Dung yang juga meliriknya, keduanya mengangguk lalu bersiap memulai pelatihannya, sementara Bai Niu terus berlarian mengejar kupu-kupu menikmati suasana taman.


"Dang Ding Dung, mana arakku?" Tanya Jingga memintanya.


"Apakah kau tidak mau berlatih?" Balik tanya Du Dung lalu melemparkan sebotol arak ke arah Jingga yang sigap menangkapnya.


"Kau sajalah, kan dirimu yang akan mengikuti turnamen, aku hanya cadangan dirimu saja" jawab Jingga yang langsung menenggak arak.


"Terserah dirimu saja" timpal Du Dung lalu mengeluarkan tombaknya, Du Dung langsung memperagakan jurus-jurus andalannya, ia terus melompat, berlari dan memainkan tombaknya sesuai dengan jurus yang dikuasainya.


Seiring waktu berjalan, Du Dung semakin semangat dalam pelatihannya, ia merasakan peningkatan yang cukup signifikan dalam penguasaan jurus dan energinya, tanpa ia sadari, beberapa lesatan energi menghantam taman bunga di dekatnya, Bai Niu yang sedang berlarian bahkan terpental bergulingan di tengah taman bunga.


Dengan kesal ia berteriak ke arah Du Dung,


"Kakak Dang Ding Dung!" Teriakannya berhasil membuat Du Dung menghentikan latihannya lalu menoleh ke arah Bai Niu.


"Ada apa?" Sahutnya bertanya dari kejauhan.


"Jangan merusak tanaman" timpalnya lalu melanjutkan kegiatannya menangkap kupu-kupu yang beterbangan.


Jingga yang sedang membaringkan tubuhnya sambil menikmati araknya mulai merasa bosan, ia langsung berdiri dan berjalan menyusuri kaki gunung Lanhua.


Semakin dekat ia ke arah gunung, semakin ia merasakan keanehan di tubuhnya, namun perasaan itu ia abaikan.


Sampai pada suatu lokasi, ia menemukan sebuah danau yang ukurannya memanjang memutari gunung.


"Ini sungai atau danau?, Panjang sekali" gumamnya lalu mendekatinya.


Dua langkah berada di tepian danau, getaran keras muncul, Jingga berbalik pergi menjauhi danau.


Du Dung dan Bai Niu menghentikan aktifitasnya karena merasakan getaran tanah lalu keduanya berdiri menunggu Jingga yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Tak lama kemudian, Jingga terlihat dari kejauhan menghampiri keduanya.


"Kak Jingga, kemana saja?, Tidakkah kakak merasakan gempa tadi?" Tanya Bai Niu menghampirinya.


"Aku hanya berjalan-jalan saja, ayo kita kembali ke penginapan" jawab Jingga lalu mengajaknya pulang.

__ADS_1


Ketiganya lalu berbalik pergi meninggalkan taman bunga di kaki gunung Lanhua.


Besoknya, ketiganya kembali lagi ke kaki gunung Lanhua, seperti biasa Du Dung kembali berlatih, Bai Niu kembali berlarian di taman bunga mengejar kupu-kupu, sedangkan Jingga masih dengan kesenangannya meminum arak sambil berbaring.


"Aku penasaran dengan danau melingkar itu" gumam Jingga lalu kembali ke arah danau.


Kejadian yang sama pun terjadi lagi, tanah kembali bergetar, namun kali ini Jingga memaksakan diri terus melangkah, getaran yang berasal dari gunung di depannya semakin membesar, tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Jingga kembali menghampiri kedua temannya.


Malam harinya Jingga mulai memikirkan kejadian di kaki gunung Lanhua.


"Apakah itu berkaitan dengan diriku?" Tanya batinnya sambil menatap langit-langit di kamarnya.


Jingga yang biasa tidur pertama, malam itu ia tidak bisa tidur, pikirannya terus mengingat kejadian di kaki gunung Lanhua.


"Kakak Jingga ayo bangun, kakak Dang Ding Dung sudah menunggu kita di alun-alun kota" ucap Bai Niu terus membangunkannya sambil menggoyang-goyangkan Jingga yang masih terlelap dalam tidurnya, tak lama kemudian, Jingga pun bangun dari tidurnya.


"Apa katamu tadi?, Coba kau ulangi" pinta Jingga yang terus mengucek matanya.


Bai Niu lalu mengulangi perkataannya, Jingga langsung berdiri lalu pergi ke kamar kecil.


"Ayo kita menyusulnya" ajak Jingga yang telah selesai membersihkan dirinya.


Keduanya lalu menyusul Du Dung yang sejak pagi sudah pergi ke alun-alun kota yang dijadikan arena pertarungan.


Berada di tengah keramaian kota, suasana turnamen begitu meriah, turnamen tahun ini merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan di alun-alun kota yang cukup luas untuk dijadikan turnamen.


Jingga dan Bai Niu yang baru sampai di lokasi, langsung mencari keberadaan Du Dung yang tertelan oleh ribuan orang yang menyaksikan turnamen beladiri kekaisaran Fei.


"Kak Jingga, lihatlah di sana" teriak Bai Niu menunjukkan lokasi peserta di bagian barat alun-alun, keduanya lalu melangkah ke arah barat alun-alun.


"Hei tunggu, penonton tidak boleh memasuki area barat" ucap seorang penjaga bertubuh besar menghadang keduanya.


Jingga lalu menunjukkan token peserta kepada petugas, setelah memperhatikannya, petugas mengizinkan keduanya memasuki area barat alun-alun.


Du Dung berdiri melambaikan tangan yang langsung terlihat oleh Jingga dan Bai Niu yang mencarinya.


Tak lama kemudian, pertandingan pertama dimulai.

__ADS_1


"Untung kita masih sempat melihat pertandingan pertama, sayang kalau sampai terlewat" ucap Jingga begitu semangat melihat pertandingan.


Bai Niu yang mendengarnya hanya bisa mendengus sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Ketiga pemuda itu begitu serius memperhatikan jalannya pertandingan, satu jam kemudian, pertandingan pertama selesai.


Jingga memberikan tepuk tangan kepada pemenang lalu berkomentar,


"pemuda itu begitu luwes gerakannya, dia mencoba memancing emosi lawannya, itu trik yang bagus".


Du Dung menoleh ke arahnya lalu membalas komentar Jingga,


"beruntung aku bukan yang pertama menghadapinya, aku jadi tahu bagaimana menghadapinya".


"Memangnya kakak Dang Ding Dung kapan mendapatkan giliran tanding?" tanya Bai Niu ingin tahu.


"Kau itu kebiasaan mengikuti Jingga memanggilku begitu, kakak nanti di pertandingan keempat" jawab Du Dung selalu saja menolak dipanggil Dang Ding Dung.


Beberapa waktu berlalu, pertandingan kedua dan ketiga pun telah selesai.


Panas terik matahari semakin berkurang seiring waktunya pada senja hari, Du Dung melangkah ke arena pertarungan bersama seorang pemuda dari salah satu sekte.


Pembawa acara hanya menyebutkan asal sekte atau klan tanpa menyebut kedua nama yang bertanding, Du Dung yang berasal dari sekte Hiu Purba akan bertanding melawan pemuda dari sekte Kilin Emas.


Du Dung telah bersiap dalam posisinya, begitu pun dengan lawannya dalam posisi siap.


Begitu kata "mulai" terucap, Du Dung langsung menyerang lawannya, tebasan tombak terus diarahkannya kepada lawannya yang terkejut karena terus diserang seraca bertubi-tubi, tak sedetikpun Du Dung mengendurkan serangannya.


Jingga menyeringai dingin memperhatikan temannya begitu buas menyerang musuhnya yang terus bertahan tanpa ada ruang untuk menyerang.


"Kakak Dang Ding Dung, ayo terus serang lawanmu" teriak Bai Niu menyemangatinya.


Semua orang yang mendengar teriakannya langsung melirik ke arah suara, tak lama semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar kata Dang Ding Dung yang dilontarkan oleh Bai Niu, Jingga yang berada di sebelahnya langsung menundukkan badannya bersembunyi.


"Kalian dengar tadi! Nama pemuda itu begitu aneh hahaha" ujar beberapa pemuda berkomentar.


Bai Niu yang melihat semua orang meliriknya hanya cengengesan sambil menutupi wajah dengan rambut panjangnya.

__ADS_1


Beruntungnya Du Dung tidak mempedulikan teriakan Bai Niu, ia terus fokus melancarkan serangannya yang membuat lawannya kelelahan lalu melemparkan pedang yang kedua sisinya berubah bentuk menjadi bergerigi, pemuda itu menyerah kepada Du Dung.


__ADS_2