Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Bayar Lunas


__ADS_3

Keduanya terdiam dalam lamunan sampai Jingga tersadar kembali mengingat para kultivator yang telah ia kurung dengan perisai ilusi iblis.


Jingga melihat Pangeran Qianfan dengan tersenyum, ia begitu lega dengan kondisi Pangeran Qianfan berangsur membaik.


"Kau tunggulah di sini, aku akan mencincang makananku dulu" pinta Jingga lalu terbang ke arah hutan.


Pangeran Qianfan tidak mengerti maksud ucapan Jingga, ia memilih untuk bermeditasi.


Di area hutan, ribuan kultivator yang berlarian mulai merasakan sesuatu yang janggal.


"Berhenti!" Teriak salah satu tetua memberi perintah.


"Ada apa tetua?" Tanya tetua lainnya merasa heran.


"Tidakkah di antara kalian ada yang menyadari keanehan hutan ini?" Tanya tetua satu melirik semua orang.


Semua orang yang dilirik lalu berlanjut saling lirik satu sama lainnya, beberapa saat kemudian setelah memikirkan maksud perkataan tetua, mereka mulai menyadarinya.


"Aku sudah katakan lebih cepat lewat udara dari pada berlarian di tengah hutan" ucap tetua dua menyampaikan.


"Rugi kalau kita tidak bisa membawa habis semua jarahan kita, cincin spasial kita sudah tidak menampung semuanya" timpal tetua tiga membela diri.


"Aku tidak menyangka istana Shuijing menimbum begitu banyak harta, pantas saja rakyatnya begitu makmur" timpal tetua empat yang diangguki oleh tetua lainnya.


"Sudah cukup! Kita tidak membahas harta jarahan, sekarang bagaimana caranya kita bisa keluar dari hutan ini?" Tanya tetua satu yang bingung dengan tetua lainnya sibuk membicarakan harta jarahan.


"Setelah pedangku mencincang kalian semua" jawab Jingga yang langsung muncul tidak jauh dari hadapan para tetua.


Terkejut dengan keberadaan Jingga yang tidak dirasakan sebelumnya oleh para tetua, mereka mulai bersiaga terhadapnya.


"Siapa kau?" Tanya para tetua berbarengan.


Jingga menyeringai mengacuhkan pertanyaan para tetua, ia bersiap untuk memberikan kejutan kepada para tetua.


"Jianhuimie Yuzhou" ucapnya mengeluarkan pedang dari keningnya.

__ADS_1


"Tarian pedang Asura" imbuhnya pelan lalu


Buzz!


Jingga berkelebat seperti angin yang berhembus kencang menerjang ribuan kuktivator yang tidak menyadari dengan apa yang terjadi pada mereka semua, mereka hanya merasakan terpaan angin berhawa panas melewati tubuhnya.


Jingga menari-nari dengan jurusnya ke berbagai arah seperti sapuan angin yang berhembus dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun.


Hanya beberapa tarikan napas jingga kembali berhadapan dengan para tetua yang berjumlah dua puluh orang. Jingga berdiri dengan menggenggam Jianhuimie Yuzhou yang terlihat tidak meninggalkan noda sedikitpun dari ribuan murid kultivator yang telah dicincangnya.


"Perutku begah, sepertinya aku kekenyangan" ucap Jingga sambil mengelus perutnya setelah menghisap ribuan jiwa kultivator.


Para tetua saling melirik tidak memahami maksud ucapan pemuda aneh di hadapannya.


"Aku minta kalian tidak berbalik ke belakang, sebaiknya kalian menunjukkan kepadaku kemampuan terbaik kalian, aku ingin mendapatkan pertarungan yang seru" ujar Jingga yang masih mengelus perutnya.


Para tetua langsung saja menoleh ke arah belakang, wajah mereka menjadi pucat, keringat mengalir deras dari pori-pori kulitnya.


"A- apa yang terjadi?, Ka- kapan ini terjadi dan ba- bagaimana mungkin?" Rentetan pertanyaan terbata-bata dari para tetua tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Para tetua lainnya langsung berbalik badan dengan kaki yang terus gemetar menahan rasa takut pada pemuda yang masih berdiri dengan santainya sambil mengelus-elus perutnya.


"Mohon ampuni kami" ucap para tetua yang langsung menjatuhkan diri bersujud di depan Jingga.


"Kalian memohon ampun setelah membantai dan membakar ribuan rakyat kerajaan Shuijing, kalian begitu menikmati jeritan kesakitan orang-orang yang tidak tahu kesalahan apa yang mereka perbuat sampai sesuatu yang mengerikan harus mereka rasakan, kalian pun tidak peduli apakah mereka masih bayi, anak kecil, para gadis belia, para orangtua, orang yang sedang sakit dan masih banyak lainnya yang seharusnya tidak menjadi target kebrutalan kalian, itu pun tidak membuat kalian puas, kalian bahkan menjarah seluruh harta mereka, katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan untuk memberi keadilan kepada mereka?" Ujar Jingga dengan begitu geramnya akan perlakuan para kultivator perampok yang kejam.


Semua tetua menundukkan wajah tidak bisa menjawabnya hingga salah satu tetua memberanikan diri menengadah menatap Jingga yang pupil matanya berubah merah.


"Maafkan kami, tolong bunuh kami dengan cepat untuk membalas perilaku kami, namun sebelumnya kau harus tahu, selama seminggu lebih kami tidak mendapatkan lagi kebutuhan yang kami perlukan untuk mengisi perut kami, kami awalnya hanya ingin menjarah, namun kami terbawa oleh kebanggaan kami sebagai kultivator besar" jawab salah satu tetua begitu ketakutan menatap pemuda yang terlihat mengerikan.


"Kematian cepat" gumam Jingga sambil mengusap dagunya yang tidak berjanggut.


"Itu bukan jawaban yang aku inginkan, tapi baiklah, aku akan membiarkan kalian menemani murid-murid kalian yang sebentar lagi akan dikerubungi oleh banyak hewan" imbuhnya.


Jingga langsung melambaikan tangannya menghancurkan kultivasi semua tetua lalu memutus semua syaraf hingga para tetua menjadi lumpuh, hanya menyisakan bagian lehernya saja yang masih bisa bergerak.

__ADS_1


Dan untuk ketiga tetua wanita yang baru tersadar kembali dari pingsannya, Jingga menghancurkan kultivasinya lalu melumpuhkan syaraf di bagian sebelah tubuhnya saja.


"Maafkan aku berbuat kejam kepada kalian, sebagai sesama iblis kalian harus memakluminya, iya kan?, Iya dong!" ucapnya lalu menghilang dari hutan meninggalkan para tetua yang terbaring meratapi diri.


Tak lama kemudian, Jingga kembali lagi ke hutan.


"Aku turut berduka ya tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian, aku mohon izin mengambil cincin spasial kalian, permisi" ucapnya dengan wajah tanpa dosa, Jingga memunguti cincin spasial para tetua dan ribuan murid yang sudah tidak utuh lagi bentuknya.


Setelah selesai mengumpulkannya, Jingga langsung menghilang kembali menemui Pangeran Qianfan.


Pangeran Qianfan yang sedang bermeditasi menenangkan dirinya membuka kembali kedua matanya merasakan kehadiran Jingga di depannya.


"Kau terlihat seperti baru selesai makan" ucapnya dengan tatapannya yang masih kosong memperhatikan Jingga.


"Ya, ini pertama kalinya aku makan begitu banyak, perutku sampai begah begini" balas Jingga kembali mengelus perutnya lalu duduk berhadapan dengan Pangeran Qianfan.


"Apakah kau sudah baikan, Pangeran?" Imbuh Jingga bertanya.


Pangeran Qianfan hanya mengangguk saja menjawabnya.


Jingga langsung membuat portal dengan jarinya, ini bisa ia lakukan karena kedua tempat pernah didatanginya.


"Ayo Pangeran" ajak Jingga yang langsung memasukinya.


Pangeran Qianfan terdiam sejenak melihat apa yang dilakukan oleh Jingga.


"Dia bisa membuat portal, apakah dia berada di ranah Warrior?" Tanya pikirnya lalu mengikuti Jingga memasuki portal dimensi.


"Kota Lanhua tidak banyak berubah" ucap Pangeran Qianfan memperhatikan sekitarnya.


"Ya, masih sama seperti waktu kita bertanding di arena alun-alun kota, tapi kau mungkin belum menyadari sesuatu yang berubah" ucap Jingga mengomentarinya.


"Apa maksudmu saudara Jingga?" tanya Pangeran Qianfan belum memahaminya.


"Sesuatu paling ikonik di kota Lanhua ini" jawab Jingga langsung berjalan mendahuluinya ke arah penginapan.

__ADS_1


__ADS_2