Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Tiba di Benua Intibumi


__ADS_3


Jingga yang berada tidak terlalu jauh dari keduanya masih dapat mendengarkan perbincangan dengan jelas. Ia pun menyeringai lebar menanggapinya sambil mempercepat laju ke arah kapal kekaisaran Xiao yang lumayan sudah cukup jauh meninggalkannya.


Lebih dari 500 kaki Jingga meninggalkan para kultivator. Arus air laut di kedalaman tampak kencang mengempaskan partikel sedimen di sekitarnya. Sontak saja hal itu membuat Jingga menghentikan laju renangnya.


“Sepertinya ada yang sedang asyik menari-nari,” gumam pikirnya lalu melanjutkan kembali laju renangnya.


Beberapa jarak di depannya terlihat seekor naga berwarna hitam pekat sedang meringis dan meliuk-liuk kesakitan. Masih dalam kamuflase ikan monster, Jingga terus mendekatinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah berada cukup dekat, kini terlihat sang naga hitam bertubuh besar dan panjang sekitar 50 kaki itu sedang berusaha mengeluarkan sebilah pedang berwarna hitam pekat yang menancap di perutnya. 


“Naga hitam tertusuk pedang hitam di pekatnya kedalaman laut,” kata Jingga.


GROAR!


Sang naga hitam langsung menghentikan aksinya dan menatap tajam ikan monster di hadapannya.


“Siapa kau? Kenapa kau menyamar menjadi beast monster?” tanya sang naga.


Jingga langsung bertransformasi ke wujud aslinya. Aura iblis yang terpancar dari tubuh Jingga membuat naga hitam mundur beberapa tombak dengan mimik wajah ketakutan.


“Ma-maafkan aku,” lirih sang naga hitam tidak ingin berhadapan dengan Jingga.


“Kau tidak perlu takut, biar aku bantu mencabut pedang di tubuhmu,” balas Jingga sambil menjulurkan tangan lalu mengayunkan jemarinya menarik pedang dari tubuh naga hitam.


SRET!


Jingga lalu menangkap pedang yang ternyata terbuat dari kayu sepenuhnya. Ia pun menyipitkan mata memperhatikannya dengan lekat.


“Aku baru tahu ada pedang kayu yang memiliki kekuatan jiwa. Siapa tuan dari pedang unik ini?” kata Jingga sambil memutar bilahnya.


Pedang yang digenggamnya terlihat unik karena memiliki simbol kuno yang terukir di tengah bilah pedang.


“Sungguh karya yang mengagumkan!” puji Jingga lalu memasukkannya ke dalam cincin spasial.


Jingga kembali melirik sang naga hitam. Namun, tiba-tiba saja kedua bola matanya membesar melihat serpihan tubuh sang naga yang hancur berserakan terbawa arus air laut.


“Wow! Sungguh kematian yang indah,” imbuhnya melihat dampak dari tercabutnya pedang kayu hitam di tubuh sang naga.

__ADS_1


Tanpa menunda waktu lagi, Jingga langsung berenang cepat ke arah kapal yang jaraknya lumayan jauh dari posisinya berada. Meskipun begitu, kecepatan yang dimiliki Jingga sekarang seperti tidak mengenal adanya jarak. Ia melesak dengan hanya satu kedipan mata dan sudah berada di bawah badan kapal.


WUZZ! 


Tap, tap.


Jingga naik ke permukaan dan hinggap tepat di haluan kapal. Pandangannya menyapu setiap bagian kapal dan mendapati keberadaan kedua adiknya beserta Jenderal Qing yang sedang meneropong.


“Syukurlah, ketiganya baik-baik saja.” Jingga tersenyum simpul lalu berjalan menghampiri ketiganya.


“Kakak,” pekik Bai Niu yang langsung meluruh memeluk Jingga.


“Hei, kau ini kenapa?”


“Aku rindu,”


Jingga mencubit gemas pipi Bai Niu lalu kembali melangkah mendekati Jenderal Qing.


“Apa kita sudah dekat?” tanya Jingga ingin tahu.


“Ya, sekitar seminggu pelayaran lagi kita akan sampai di benua Intibumi,” ujar Jenderal Qing begitu sumringah memberitahunya.


“Lihatlah, ada dua kapal besar yang melaju ke arah kita!” kata Jingga yang kemudian menyerahkan teropong kepada Jenderal Qing.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Jenderal Qing langsung meneropong dengan serius. Namun anehnya ia tidak mendapati keberadaan kedua kapal besar seperti yang dikatakan oleh Jingga.


“Adik Mei, tolong ambilkan kristal paling besar!” pinta Jenderal yang ingin memperbesar area jangkauan.


“Baik, Jenderal,” sahut Qianmei lalu bergegas mengambil kristal yang digunakan sebagai kamera untuk melihat area terjauh.


Qianmei mengambilnya di kotak penyimpanan yang terletak di bawah kemudi. Ia lalu mengambil kristal yang paling besar dan langsung menyerahkannya kepada Jenderal Qing.


Sejurus kemudian, sang Jenderal langsung memasangnya dan kembali fokus meneropong area lautan. Ia mulai menggeser pelan teropong ke arah kanan dan berbalik ke arah kiri. Namun, ia masih belum bisa melihat keberadaan kedua kapal yang disebutkan oleh Jingga. Cukup lama ia memindai area lautan, akan tetapi pada akhirnya ia menyerah juga. Jingga yang masih berdiri di dekatnya hanya menaikkan sebelah alis menanggapinya.


“Nak Jingga, apakah kau tidak membohongiku?” tanya Jenderal Qing mencurigainya.


Jingga menyeringai lebar mendengarnya, ia lalu mengambil alih teropong dan kembali melihatnya. Kali ini tidak hanya dua kapal saja yang dilihat oleh Jingga, di belakang kedua kapal besar tampak terlihat adanya barisan kapal berukuran setengah dari dua kapal di depannya.

__ADS_1


“Sepertinya mereka baru saja kembali dari peperangan di benua Intibumi,” kata Jingga setelah memperhatikannya.


Jenderal Qing mengerutkan kening mendengarnya, ia menjadi semakin heran dengan ucapan yang dikemukakan oleh Jingga.


“Kak Jingga, kenapa mata Kakak sekarang berwarna biru?” tanya Bai Niu baru menyadarinya.


Qianmei dan Jenderal Qing langsung memperhatikan kedua mata Jingga dan mengangguk membenarkan ucapan Bai Niu. Jingga merasa heran sendiri lalu mengusap dagu memikirkannya.


“Bukankah seharusnya mataku kembali normal setelah keluar dari kegelapan? Apa warna mataku yang sekarang bersifat permanen? Nanti sajalah aku akan mencari tahu dari peninggalan dewa iblis Jiasing,” pikir Jingga mempertanyakan.


“Kak Jingga,” panggil Qianmei sambil menepuk bahu.


Jingga sedikit terperanjat lalu melirik adiknya Qianmei seraya mengisyaratkan tanya dari tatapannya.


“Kakak sangat tampan!” puji Qianmei tak henti-hentinya menatap Jingga dengan sorot mata yang berbinar.


Jingga tersenyum lembut membalasnya lalu berbalik meninggalkan ruang kemudi.


“Aku akan memasang perisai untuk menutupi kapal sebelum mereka sempat melihat kapal kita,” kata Jingga sambil terus melangkah meninggalkan ruang kemudi.


“Baik, Nak Jingga,” sahut Jenderal Qing.


Sang Jenderal kini mulai memahami alasan kenapa dirinya tidak bisa melihat keberadaan kedua kapal yang disebutkan oleh Jingga, hal itu karena Jingga memiliki penglihatan yang jauh melebihi dirinya.


Beberapa hari berikutnya pun telah berlalu dalam pelayaran. Tepat di tengah malam yang gulita dengan embusan angin yang sangat kencang. Jingga berdiri di atas tiang layar memperhatikan dua kapal besar yang kini berada sekitar 500 tombak dari arah depan kapal yang ditumpanginya.


“Jenderal Qing!” pekik Jingga memanggil.


“Iya, Nak Jingga. Aku melihat keberadaan kedua kapal perang dan belasan kapal prajurit kekaisaran Zhao,” sahut Jenderal Qing dari ruang kemudi.


“Putar kapal sedikit ke arah timur. Kita tidak perlu mencampuri urusan mereka.”


“Baik, aku memahaminya.”


Jenderal Qing langsung memutar kemudi ke arah yang diminta oleh Jingga. Hal itu dilakukan untuk menghindari jalur pelayaran dari kapal perang kekaisaran Zhao yang mengarah ke arah kapal perang yang dikemudikannya.


Tanpa terasa, dua hari berlalu begitu cepat dan kini tampak dari kejauhan keberadaan sebuah pulau besar yang sebagian besar merupakan area perbukitan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar nan rimbun. Kapal perang kekaisaran Xiao akhirnya tiba di benua Intibumi.

__ADS_1


“Aku meyakini benua yang kita kunjungi merupakan pusat sumber daya energi di alam fana,” kata Jingga setelah merasakan pekatnya energi spiritual di sekitarnya.


__ADS_2