Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Versus Jiwa Akhir Yuangu Mowang


__ADS_3

Keduanya terus saja berusaha dengan sekuat tenaga untuk menapaki anak tangga sampai akhirnya tinggal tersisa satu anak tangga di depannya.


"Zilla, apa kau masih sanggup?" Tanya Jingga meliriknya.


"Hem" deham Zilla lalu menganggukinya.


"Aku hitung sampai tiga" ucap Jingga memberi aba-aba,


"satu, dua, tiga. Hiaaa!" Teriak Jingga menapaki anak tangga terakhir.


Krak!


Bugh!


Jingga dan Zilla dengan sigap langsung melompat bergulingan di tanah bebatuan arena Siksa Raja.


"Huh!" Hembus Jingga merasa lega bisa sampai di arena Siksa Raja.


Jingga bangkit berdiri lalu berjalan ke tengah arena, sedangkan Zilla menunggunya di ujung arena.


"Semoga ujian kali ini adalah sebuah pertarungan" gumam Jingga penuh harap.


Sampai di tengah arena, Jingga menghentikan langkahnya lalu memindai area sekelilingnya. Sama seperti arena sebelumnya, ia tidak dapat merasakan kehadiran seseorang yang akan menjadi lawannya.


"Selalu saja begini" keluh Jingga yang kembali harus menunggu tuan rumah datang menghampirinya.


Brrr!


Dhuar! Dhuar!


Tanah bergetar keras, kilatan petir merah menggelegar di langit ruang hampa.


"Ha ha ha, selamat datang bocah" suara seseorang yang sangat dikenali oleh Jingga menyapanya.


"Monster jelek, kukira kau sudah punah" Balas Jingga.


Sosok pria tampan dan penuh karisma nampak melayang turun menghampiri Jingga.


"Kau begitu tampan, Monster jelek" imbuh Jingga memujinya.


"Ya, inilah wujud manusiaku dan diriku hanyalah serpihan akhir jiwa yang tersisa dan terkurung di alam Siksa Raja. Tapi, bukankah seharusnya aku yang mengatakan dirimu jelek. Ha ha ha!" Balas Yuangu Mowang terkekeh.


Ia lalu memindai tingkat kekuatan Jingga dan tampak sedikit senang mengetahuinya.


"Hem! Cukup baik juga peningkatanmu, bocah" puji Yuangu Mowang menilainya.


"Ha ha ha. Kau terlalu memujiku. Aku sangat bersemangat bertarung denganmu" timpal Jingga begitu antusias.


Yuangu Mowang menyeringai sinis menanggapinya. Ia lalu menjentikkan jari menarik pedang miliknya yang bersemayam di kening Jingga.


Wuzz!


"Aah!" Jerit Jingga tidak menduga Jianhuimie Yuzhou di tarik paksa dari keningnya.


"Terima kasih kau menjaganya dengan baik" ucap Yuangu Mowang memperhatikan pedang yang pernah menjadi teman setianya.


"Akan kutunjukkan cara menggunakan Jianhuimie Yuzhou yang benar" imbuh Yuangu Mowang mengangkat ujung pedang ke langit.


"Senja Neraka Iblis"


Langit langsung berubah menjadi semerah darah, pusaran energi iblis membelenggu arena Siksa Raja.


Tekanan kuat membuat Jingga setengah berlutut menahannya, sedangkan Zilla yang berada di ujung arena sudah terjatuh dengan tubuh menggigil menahan tekanan energi yang begitu mengintimidasi.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa jurus ini begitu menekan?" Pikir Jingga yang selama mempelajarinya tidak bisa seperti yang ditunjukkan oleh Yuangu Mowang.


"Simfoni Iblis Semesta"


Yuangu Mowang menciptakan sebuah gelombang suara bias yang tidak dapat terdengar namun tekanannya mampu menghancurkan gendang telinga makhluk hidup yang memiliki indera pendengaran.


Jingga sampai harus menggunakan kekuatan jiwanya untuk menahan tekanan gelombang yang menyakiti pendengarannya.


Dalam kondisi sedang menahan dampak dari gelombang suara. Sebuah tebasan cepat melayang mengenai dadanya.


Siu! Sret!


"Aah!" Pekik Jingga menahan sakit di dadanya yang terbelah terkena tebasan pedang. Untung saja tubuhnya kembali utuh dengan sendirinya.


"Jangan diam saja kau, bocah" pinta Yuangu Mowang yang berdiri melayang di atasnya.


"Sial! Aku tidak bisa mendengar suaranya" keluh Jingga hanya bisa melihat gerakan bibir lawannya, ia lalu menggunakan ilmu ilusi untuk menjerat Yuangu Mowang.


Di atasnya, Yuangu Mowang menyeringai dingin memperhatikannya.


"Iblis bodoh!"


Ia lalu melemparkan bola api yang langsung mengenai tubuh Jingga di bawahnya.


Wuzz!


Dhuar!


"Aah!" Jerit Jingga merasakan sakit.


Kali ini bukan hanya pendengarannya saja yang tidak berfungsi, kedua matanya juga mengalami kebutaan mendadak.


"Ke-kenapa aku tidak bisa melihat?"


Dhuar!


"A-apa yang terjadi?"


Ia merasakan pusing di kepalanya. Hanya itu yang bisa ia rasakan, kondisi fisiknya mengalami penyiksaan dari Yuangu Mowang yang terus menebaskan pedang ke tubuh Jingga yang terlihat seperti sebuah boneka yang dimainkan.


"Tubuh iblismu yang sekarang sangat kuat, aku menyukainya" kata Yuangu Mowang yang tanpa henti menebasnya.


Jingga dalam posisi seperti jiwa yang meninggalkan jasadnya, ia tidak merasakan apa pun pada tubuhnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.


Dalam kondisi seperti itu, hanya pikiran dan kekuatan jiwa yang masih bisa dirasakannya.


Ia mulai menggunakan pikirannya untuk mengontrol semua kekuatan yang dimilikinya.


"Jianhuimie Yuzhou, kembalilah atau kau bukan lagi menjadi pedangku" ancam Jingga mencoba berkomunikasi dengan jiwa pedangnya.


Yuangu Mowang yang sedang asyik menebas tubuh Jingga tiba-tiba saja tidak bisa mengayunkan pedangnya. Jianhuimie Yuzhou dengan sendirinya menahan ayunan lengan Yuangu Mowang lalu menancap ke tanah.


Trak!


"Siapa tuan yang akan kau pilih?" Tanya Yuangu Mowang dengan tegas.


Jianhuimie Yuzhou bergetar kencang lalu gagangnya melesak ke jemari tangan Jingga yang tergeletak di tanah. Sang pedang pun akhirnya memilih Jingga sebagai tuannya.


"Ha ha, apa kau yakin?" Sambung tanya Yuangu Mowang.


Jianhuimie Yuzhou tidak bergeming, energi pedangnya mengalir pada telapak tangan Jingga hingga membuat Jingga bisa kembali merasakan indera perabanya.


Tak lama kemudian, Jingga akhirnya terbangun dalam kondisi normal. Ia lalu memperhatikan tubuhnya yang penuh garis sayatan.

__ADS_1


"Aku baru saja mengganti pakaianku, kau malah merusaknya" ucap Jingga dengan kesal.


"Gantilah pakaianmu lalu kita lanjutkan pertarungan" ujar Yuangu Mowang kembali melayang ke udara.


Jingga langsung mengambil selembar pakaian dari cincin spasialnya, ia memilih memakai pakaian warna biru dan langsung mengenakannya.


"Sekali-kali aku terlihat mencolok" gumam Jingga lalu melayang ke udara.


"Jianhuimie Yuzhou" panggil Jingga pada pedangnya.


"Terima kasih, kau memilihku" ucap Jingga lalu memutarnya.


Kini Jingga dan Yuangu Mowang berada dalam posisi siap bertarung.


"Sekarang giliranku menyerang" kata Jingga.


Dingin tatapan Yuangu Mowang, garis bibirnya melengkung ke atas tanda ia meremehkan lawan yang merupakan penerus dirinya. Ia lalu menciptakan sebuah pedang dari energi iblisnya.


"Serang aku sebisamu, bocah" tantang Yaungu Mowang.


"Tarian pedang Asura"


Wuzz!


Jingga melaju cepat menyerangnya. Yuangu Mowang masih tenang berdiri melayang menunggunya.


Trang! Trang! Trang!


Benturan antara logam Jianhuimie Yuzhou dengan pedang energi iblis Yuangu Mowang menciptakan percikan api yang beterbangan di atas arena Siksa Raja. Namun keindahan dari percikan api tersamarkan oleh warna langit yang merah.


Keduanya saling menebaskan pedang dalam menyerang dan bertahan. Lambat laun, Yuangu Mowang mulai kewalahan dengan kecepatan Jingga yang melebihi perkiraannya. Apalagi Jingga dengan teknik tarian pedang asuranya yang begitu elegan dan sangat lugas terlihat seperti sedang memainkan sebuah tarian.


"Teknik pedang klan Luo" batin Yuangu Mowang mengenalinya.


Seiring waktu berjalan dalam pertarungan. Jingga mulai menemukan celah bertarung lawannya, ia kemudian mempercepat gerakannya untuk membuat Yuangu Mowang terus dalam posisi bertahan.


Jingga diam-diam mulai merapalkan mantra sihirnya untuk membekukan udara dalam menghambat pergerakan Yuangu Mowang.


"Kongqi Zhuanhuan Qi"


"Ha-ha-ha, bodoh!" Ejek Yuangu Mowang langsung menghilang.


Tebasan Jingga mengenai udara kosong. Ia lalu melintangkan pedangnya di tengah dadanya sambil memindai keberadaan Yuangu Mowang di sekitarnya.


Wuzz!


Sring!


Sebuah bola api menyerangnya. Ia masih bisa berkelit menghindarinya. Beberapa bola api susulan pun datang dari seluruh arah.


Dhuar!


Ledakan keras dari benturan bola api mengenai tubuh Jingga yang tidak memiliki waktu untuk menghindarinya.


"Ha ha ha" tawa Jingga meremehkannya,


"apa kau hanya bermain-main bola api saja denganku?" Tanya Jingga yang tidak mengalami dampak apa pun pada dirinya.


Tanpa disadarinya, serangan bola api hanyalah pengalihan untuk memberi waktu kepada Yuangu Mowang menggunakan jurus andalannya.


Langit merah kembali berubah hitam seperti sebelumnya. Namun, sesuatu berbeda mulai muncul di atas langit. Ribuan cahaya menyerupai bintang-bintang bermunculan di langit ruang hampa.


"Sial! Aku melupakannya" keluh Jingga baru menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Ia lupa pada sifat para iblis yang akan menggunakan banyak siasat dalam pertarungan.


__ADS_2