Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Petualangan


__ADS_3

"Aku senang kau selamat dari kehancuran kota Yu Chen, tapi aku sangat sedih kehilangan teman terdekatku Dang Ding Dung" ucap Jingga sambil menepuk-nepuk punggu Zhu Xia.


"Dang Ding Dung siapa Kak?" Tanya Zhu Xia merasa aneh dengan nama yang disebut Jingga.


"Oh maaf, itu nama panggilanku untuk Du Dung hehe" jawab Jingga terkekeh.


Zhu Xia langsung melepaskan pelukannya, lalu mengajak Jingga memasuki kediamannya.


"Maaf Kak, aku tidak punya arak untuk disuguhkan" ucap Zhu Xia yang tahu kalau Jingga tidak memakan apa pun selain meminum arak.


"Tidak apa-apa, rengginang juga boleh kalau ada" balas Jingga.


Zhu Xia mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang disebut oleh Jingga.


"Ha ha ha, itu nama makanan di benua Majang tempat asalku, oh iya bisakah kau ceritakan tentang kehancuran kota Yu Chen, aku masih belum mendapatkan kejelasan ceritanya dari orang lain" imbub Jingga memintanya.


"Maaf Kak, aku sendiri tidak berada di kota Yu Chen waktu bencana itu terjadi, dua minggu setelah Kakak Jingga dengan Kakak Dung'er pergi meninggalkan kota, Ayahku memintaku untuk menyusul Kakak ke ibukota, aku bersama tiga murid sekte Hiu Purba pergi saat itu juga, aku bisa tinggal di sini karena bantuan dari Pangeran Fei Huang" ujar Zhu Xia menjelaskannya.


Jingga sedikit kecewa tidak mendapatkan cerita utuh, namun ia merasa bersyukur melihat Zhu Xia baik-baik saja.


"Oh iya Kak, ada satu tempat yang harus Kak Jingga kunjungi, mari Kak" imbuh Zhu Xia melangkah keluar mengajaknya.


Jingga mengikutinya dari belakang ke arah suatu pemakaman umum, beberapa langkah kemudian, terbaca olehnya satu nisan bernama Du Dung.


Bergetar hatinya begitu pilu melihat pembaringan terakhir teman dekatnya.


"Saudaraku, maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkanmu, sekarang kau bisa tenang karena aku sudah membalaskan kematianmu meskipun hal itu tidak bisa membuatmu hidup kembali" ucapnya lalu meletakkan botol arak di atas kubur.


Setelah mengunjungi Zhu Xia dan persemayam Du Dung, Jingga berpamitan untuk kembali ke penginapan.


"Kak, bolehkah aku mengikuti Kakak?" Tanya Zhu Xia memintanya.


"Maafkan aku Xia'er, aku tahu kau seorang kultivator, tapi tidak ada tempat yang aman untukmu selain di desa ini, aku akan jujur padamu siapa aku sebenarnya, kau tentu tahu kenapa aku tidak pernah makan, aku bukanlah manusia sepertimu, aku seorang iblis, tentu bersamaku hanya akan membuat dirimu selalu terancam oleh kematian, kau satu-satunya saudara temanku, aku tidak ingin membuat temanku bersedih melihat dirimu selalu terancam" ujar Jingga menolaknya.


"Aku minta satu hal padamu, rawatlah makam temanku dengan baik, bila ada kesempatan aku akan kembali, pastinya desa ini akan menjadi tujuanku dan ketika itu tiba, aku ingin melihatmu selalu bahagia" imbuhnya.


Zhu Xia mengerti semua maksud perkataan Jingga yang tidak ingin membawanya, ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi, hanya bisa menatap teman saudaranya yang telah mengunjunginya.


"Kak, boleh aku minta satu hal" ucap Zhu Xia memberanikan diri.

__ADS_1


"Iya, katakan saja" balas Jingga penasaran.


Zhu Xia langsung merangkulkan kedua tangannya melingkari leher Jingga lalu mencium bibirnya.


Jingga terkejut dengannya lalu membalas ciumannya.


Setelahnya Zhu Xia melepaskan dekapannya dan berlari meninggalkan Jingga yang masih berdiri diam merasakan ciuman pertamanya.


Jingga kembali pulang ke penginapan, ia sudah ditunggu oleh ketiga temannya.


Bai Niu yang melihat kedatangan Jingga langsung menerkam wajah Jingga hingga dirinya puas melampiaskan kekesalannya.


"Kakak jelek, kau jahat selalu meninggalkanku" berangnya begitu kesal.


Jingga langsung menarik tubuhnya lalu memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku" ucap Jingga yang membuat Bai Niu semakin erat memeluknya.


Jingga melepaskan pelukannya, ia menatap kedua kakak beradik yang dari tadi diam melihat keduanya.


"Pangeran Qianfan dan Putri Qianmei, sudah waktunya kami harus pamit kepada kalian, semoga di lain kesempatan, kita bisa bertemu kembali" ucap Jingga yang langsung menarik tangan Bai Niu melangkah ke arah pintu.


Jingga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Pangeran Qianfan.


"Kami berdua sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kami memutuskan untuk mengikutimu berpetualang ke mana pun kau pergi, aku mohon kau tidak menolak kami" imbuh Pangeran Qianfan langsung berlutut memintanya.


Putri Qianmei pun mengikuti kakaknya berlutut.


Jingga langsung menarik tangan keduanya untuk berdiri kembali, namun ada perasaan aneh ketika tangannya menyentuh tangan Putri Qianmei.


"Kalian adalah seorang putra mahkota, tidak sepantasnya kalian berlutut kepadaku, baiklah aku mengizinkan kalian berdua ikut bersama kami" balas Jingga menerimanya.


"Tapi ada satu hal yang aku pinta padamu Pangeran" imbuh Jingga meminta sesuatu.


"Katakanlah saudara" balas Pangeran Qianfan.


"Pastikan adikmu tidak mengalami lecet apa pun selama perjalanan mengikutiku" pinta Jingga yang membuat Bai Niu dan Putri Qianmei terkejut mendengarnya.


"Baiklah, aku akan memastikannya dengan nyawaku" balas Pangeran Qianfan begitu senang bisa mengikutinya.

__ADS_1


Keempat muda-mudi itu pun pergi meninggalkan wilayah kekaisaran Fei.


Setelah lama mereka berjalan melintasi hutan dan perbukitan, Jingga menghentikan langkahnya.


"Pangeran, apakah kau tahu arah ke kota Luyan?" Tanya Jingga baru mengingat tujuannya.


"Hah! Kenapa saudara baru menanyakannya?" Jawab Pangeran Qianfan bertanya balik.


"Kau tidak perlu terkejut seperti itu Pangeran, kan namanya juga bertualang" kelit Jingga mengelak kebodohannya.


"Ha ha ha, tapi kita harus berputar kembali ke arah hutan" tukas Pangeran Qianfan memberitahunya.


Kedua wanita yang mendengarkannya langsung menepuk keningnya karena membayangkan jauhnya melintasi hutan yang telah dilewatinya.


Kedua pria tersenyum melihat kedua wanita begitu cantik walaupun sedang kesal.


"Putri, kalau kau capek, aku bisa menggendongmu" tawar Jingga memanfaatkan kesempatan.


"Dih! Jangan mau digendong Kakak jelek, nanti sakit pinggang" sosor Bai Niu mengingatkan Putri Qianmei.


"Bilang saja kalau kau cemburu Naninu, bukankah ada Pangeran yang bisa menggendongmu, iya kan Pangeran?" Timpal Jingga mengedipkan sebelah matanya ke arah Pangeran Qianfan.


Pangeran Qianfan dan Putri Qianmei hanya terkekeh pelan melihat keduanya yang selalu bertengkar.


Baru saja keempatnya berbalik, Jingga langsung memasang perisai iblis melindungi ketiganya.


"Keluarlah!" Pekik Jingga merasakan tekanan aura dari beberapa orang kultivator.


"Ha ha ha, kalian sebaiknya memberikan kedua wanita itu, maka aku akan membunuhmu kalian berdua dengan cepat" ujar seorang pria gemuk keluar dari persembunyiannya.


Jingga mengambil satu inti jiwa beast monster lalu melemparkannya kepada pria gemuk yang dengan sigap menangkapnya.


"Pulanglah gendut, kau masih begitu lemah untuk mengatakan hal di luar kemampuanmu" pinta Jingga merasa lucu dengan pria gemuk yang begitu sombong.


"Ha ha, kau malah memberikanku sumberdaya yang berharga ini, tapi ini tidak akan mengalihkan keinginanku, aku akan membiarkanmu hidup, kemarilah Nona" balas pria gemuk melirik ke arah kedua wanita dengan tatapannya yang kotor.


Tujuh orang berikutnya mendarat turun di belakang pria gemuk.


"Wah, nalurimu sangat jitu, kau bisa menemukan dua wanita yang begitu cantik, yang kanan itu milikku" seloroh pria tinggi besar menunjuk ke arah Putri Qianmei.

__ADS_1


Jingga semakin heran dengan para pria yang tidak mengukur diri begitu asal dalam berbicara.


__ADS_2