Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Sengit


__ADS_3


Suasana menjadi hening di area tersebut. Dentuman keras pertarungan hanya terdengar dari kejauhan. Tak ada lagi jeritan pilu dari pasukan pembantai yang kehabisan suara. Hanya tatapan memohon untuk dibunuh yang bisa mereka lakukan. Jingga yang melihatnya tidak melakukan apa pun lagi. Pikirannya masih larut dalam kenangan indah dengan sang mantan. 


“Ternyata aku hanyalah tunas yang belum siap untuk mekar bersamamu, aku masih terlalu lemah untuk mengiringi langkahmu. Untuk bab-bab selanjutnya, cerita kita tak lagi sama.” Jingga mengambil arak lalu menenggaknya.


Para pasukan Istana Langit terdiam membatu. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bergerak. Bahkan, para komandan yang berdiri di posisi terdepan pun tidak tahu harus berbuat apa. Mereka seakan terbawa ke dalam kegundahan hati sang iblis sehingga melupakan tujuannya untuk membunuh Jingga.


“Kenapa kalian hanya berdiam diri saja? Ayo kita lanjutkan pertarungan kita!” Jingga merasa heran melihatnya. Ia lalu meregangkan ototnya yang sedikit kaku.


Para pasukan saling menatap satu dengan yang lainnya. Mereka tampak seperti kumpulan murid sekte yang menunggu perintah dari para tetua. Jingga terkekeh kecil melihatnya. 


“Ya sudah, aku akan memberi kematian yang indah kepada kalian semua,” kata Jingga.


Ia merentangkan kedua tangannya ke atas. Seketika, langit menampakkan aurora yang indah. 


Ting, ting, ting.


Denting suara lembut mulai terdengar di langit. Suaranya yang lembut bertalu-talu membuai para pasukan Istana Langit yang mendengarnya.


“Selamat bersenandung para pujangga alam dewa. Nikmatilah sensasi keindahan dan kemerduan suara langit! Lalu, matilah dengan irama yang indah dari ledakan tubuh kalian semua.” 


Semua pasukan yang terjerat ke dalam ilusi Senandung Iblis terlihat hanyut dalam buaian simfoni langit. Bait demi bait meluncur keluar dari mulut kering pasukan Istana Langit yang melantunkan sajak kelam.


“Jerat penghisap jiwa.” 


Bayangan energi dari jiwa para pasukan tertarik keluar dari kepala tiap pasukan lalu memasuki mulut Jingga yang melahapnya dengan cepat. Hanya beberapa hela napas saja, Jingga selesai menghisap ribuan jiwa pasukan Istana Langit.


Duar! Duar! Duar!


Ledakan mulai terdengar dari setiap tubuh pasukan Istana Langit yang saling bersahutan, seirama dengan suara denting langit yang membentuk simfoni dari senandung ungkapan sajak kelam.


Kini, di area pertarungan Jingga hanya menyisakan serpihan daging dan tulang belulang yang hancur memenuhi area rumput hijau yang tak lagi hijau. Suasana alam terlihat begitu mencekam. 


Kaisar Langit dan beberapa pejabat yang menyaksikannya dari kejauhan, terlihat begitu gemetar. Bahkan, tubuh Kaisar Langit terus bergetar karena membayangkan bagaimana jadinya jika saja dirinya yang mengalami hal itu.


“Ke-kenapa di semesta ini ada kekuatan sihir yang begitu mengerikan?” 


Kaisar Langit begitu gugup mengatakannya. Para pejabat yang bersamanya, tidak ada yang berani menjawab. Mereka pun mengalami hal yang sama dengan Kaisar. Bahkan, keringat dingin terus mengalir keluar dari pori-pori kulit para pejabat Istana.


“Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya seorang pejabat tua.

__ADS_1


“Panggil Taiyangshen, sekarang!” titah Kaisar kepadanya.


“Baik, Yang Mulia,” sahut pejabat tua lalu menghilang dari pandangan Kaisar Langit.


Tak berselang lama, pejabat tua datang bersama Taiyangshen dan istrinya, Xian Hou. 


“Seorang Kaisar Langit terlihat begitu panik. Sungguh memalukan!” ejek Taiyangshen begitu tiba di depan Kaisar.


Kaisar Langit tidak peduli mendengar cemoohan dari Dewa Matahari. Ia menatapnya dengan penuh pengharapan.


“Terserah dirimu mau menganggapku seperti apa … aku mohon, bunuhlah iblis itu sebelum semuanya dimusnahkan olehnya!” lirih Kaisar Langit memintanya.


Taiyangshen menyeringai lalu mengalihkan pandangan ke area pertempuran para pasukan Istana Langit yang kini hanya menyisakan remahan tubuh yang berserakan di atas rerumputan.


“Ha-ha-ha. Kaisar bodoh! Pasukan inti yang kaubanggakan terlalu lemah. Itulah hasil dari kepemimpinanmu yang buruk,” kekeh Taiyangshen semakin keras menyalahkan Kaisar Langit yang tidak bisa membuat kuat pasukannya.


Dari ucapannya tersirat maksud terselubung. Kaisar Langit memahami maksudnya.


“Kau boleh mencemoohku sesuka hatimu, tapi setelah kau berhasil membunuh penguasa iblis. Cepatlah!” balas Kaisar mulai tidak sabar.


“Ha-ha. Kau bukanlah kaisarku, kenapa aku harus mengikuti perintahmu?” Taiyangshen menatap sinis Kaisar Langit.


“Katakan apa yang kauinginkan?” tegas Kaisar menanyakan maksudnya.


“Kau! Baiklah, aku akan menyerahkan tahta kepadamu setelah semua ini berakhir.”


Taiyangshen tersenyum kecut. Ia lalu memandang sang istri dan melebarkan senyumannya. Xian Hou membalasnya dengan tersenyum lembut.


Wilayah Barat


Qianmei terlihat mendominasi laga. Sebagai penguasa elemen kayu, ia memanfaatkan rerumputan di sekitarnya untuk memperlambat gerak langkah para tetua sekte dan murid-muridnya.


Banyaknya korban yang mulai bertumbangan, membuat para tetua sekte terus berpikir keras agar bisa menekan balik sang gadis setengah iblis yang dihadapinya. Mereka pun berkumpul untuk mendiskusikannya.


“Kita tidak bisa terus menjadi bulan-bulanan gadis itu, atau jumlah kita akan terus menyusut,” ujar seorang tetua paruh baya bermata biru mulai frustasi menghadapi sang gadis.


“Aku masih bingung dengannya, auranya sebagian iblis dan sebagian dewa. Sebenarnya dia itu apa?” balas tetua sekte yang tubuhnya banyak mengalami luka.


Beberapa tetua sekte mengaminkannya.


“Apa mungkin di alam semesta ini ada orang yang bisa menggabungkan dua jalur kultivasi yang berseberangan?” sambung tanya seorang wanita paruh baya.

__ADS_1


“Tidak mungkin! Kecuali dia …” Tetua sekte bermata biru mengingat sesuatu.


“Dia apa?” tanya heran wanita paruh baya menatapnya serius. 


Semua tetua langsung meliriknya dengan serius.


“Dia, dia dari semesta lain,” kata tetua sekte bermata biru.


“Apa?” tanya beberapa tetua bersamaan.


Boom!


Ledakan besar membuyarkan diskusi para tetua sekte yang langsung terpelanting jatuh menabrak para murid di sekelilingnya. Qianmei terpingkal-pingkal melihatnya lalu berdiri di tengah para murid sekte.


“Kalian terlalu membosankan. Sebaiknya kalian semua bunuh diri saja!” Qianmei menatap dingin para murid sekte di depannya.


Para tetua sekte kembali bangkit lalu berkumpul kembali. Hampir dari semua tetua sekte dalam kondisi yang memilukan. Banyaknya luka di sekujur tubuh para tetua, membuktikan bahwa sang gadis memiliki level lebih tinggi dari mereka semua.


“Nona, apakah kau berasal dari semesta lain?” tanya tetua sekte bermata biru.


Qianmei memutar pergelangan tangan lalu keluar akar dari dalam tanah yang langsung menjerat tubuh tetua sekte bermata biru.


Krak!


Akar seukuran lengan tangan pria dewasa meremas tubuh sang tetua sampai menghancurkan semua tulang di tubuhnya. Sang tetua bermata biru itu pun mati seketika.


Kejadian itu sangatlah cepat. Para tetua dan murid sekte melangkah mundur menjauhinya. Mereka semua terbelalak melihat kejadian yang begitu mengerikan di depan mata.


Qianmei menatap mereka dengan begitu dingin dan menyeramkan. Pupil mata yang seluruhnya hitam, membuat semua orang yang melihatnya bergidik ngeri. Pergelangan tangannya terus bergerak. 


“Terbang!” pekik lantang salah seorang tetua sekte mengetahuinya, “hindari tanah!”


Krak! Krak! Krak!


Terlambat, ¾ murid sekte terjerat akar dan langsung mati seketika. Kini, yang tersisa tidak lebih dari 200 murid sekte bersama puluhan tetua lainnya yang berhasil selamat dari jeratan akar yang keluar dari tanah dengan begitu cepat.


“Ha-ha-ha!” Qianmei tertawa keras melihatnya.


Ia lalu melayang terbang untuk menghabisi sisa cultivator yang berhasil menghindari jeratannya.


Wilayah Timur

__ADS_1


Berbeda dengan tiga wilayah lain di area pertempuran. Di wilayah timur, Bai Niu terluka parah dan menjadi samsak hidup para tetua sekte dan sebagian lagi merupakan dewa yang bergabung dalam pertempuran. Biarpun begitu, tidak ada kata menyerah dari seorang Bai Niu. Ia terus memberontak dengan perlawanan keras yang membuatnya terus bertahan dari gempuran yang dihadapinya.


Badai petir yang diciptakannya terus mereda seiring waktu. Energi spiritualnya semakin menipis. Tubuhnya pun penuh luka. Tampak, berkali-kali ia harus memuntahkan darah setiap kali terkena serangan yang dilancarkan para tetua sekte dan para dewa yang menggempurnya.


__ADS_2