Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kegemparan


__ADS_3

Jingga langsung berkelebat ke istana, namun langkahnya terhenti di tengah jalan ketika melihat ribuan pasukan yang terlihat berbeda dari prajurit kekaisaran Fei sedang berjalan beriringan di sepanjang jalan yang dilaluinya.


"Ha ha ha, Kaisar Fei Xing sangat pintar, hubungan bilateralnya dengan kekaisaran sahabatnya berhasil membawa ribuan pasukan kekaisaran lain untuk menekan mental musuhnya, sepertinya ini akan menjadi seru melihat para bangsawan sudah bersiap melakukan serangan ke ibukota kekaisaran Fei" gumam Jingga begitu senang dengan perselisihan keluarga istana menghadapi para bangsawan yang memberontak.


"Ketika perang terjadi, aku hanya akan duduk manis di atas awan sambil memunguti jiwa-jiwa yang sudah tidak sanggup lagi berperang, hem yummy!" Imbuhnya membayangkan perang yang dianggapnya sebagai memanen jiwa.


"Kak, tolong!" Jerit Bai Niu dalam pikirannya.


Jingga langsung berkelebat ke kediaman klan Ming untuk melihat langsung apa yang sedang terjadi dengan Bai Niu sampai membuatnya berteriak meminta tolong.


Terlihat seorang kakek tua begitu beringas berusaha menciumi Bai Niu dengan kasar di kamarnya.


Jingga langsung mencengkram kepalanya dari belakang dan


Boom!


Kakek tua bangka itu meledak, potongan tubuhnya berhamburan ke sekeliling kamar, kali ini Jingga tidak menghisap jiwanya, ia langsung membantu Bai Niu yang terlihat lemas tak berdaya dengan wajah berlumur darah dan beberapa potongan tubuh kakek tua bangka yang mengenainya.


"Dasar kakek tua gila!" Kesal Jingga lalu membawa Bai Niu kembali ke penginapan.


"Kenapa Kakak begitu kesal?" Tanya Bai Niu heran.


"Sebaiknya kau bersihkan dirimu dulu, kau terlihat seperti mayat hidup" ucap Jingga memintanya.


"Baik Kak" sahut Bai Niu langsung bergegas ke kamar kecil.


"Kak, kakak tadi kenapa begitu kesal, apakah Kakak cemburu melihat kakek tua bangka menyentuhku?" tanya Bai Niu setelah kembali dari kamar kecil.


"Dih! sejeleknya diriku, aku tidak sudi harus cemburu kepada kakek mesum seperti itu. Tadi itu si tua bangka telah meracunimu dengan obat pelemas sebelum dia sempat melecehkanmu" jawab Jingga lalu berbaring di samping Bai Niu.

__ADS_1


"Pantas saja aku tidak bisa mendorongnya" timpalnya mengingat kejadian yang menimpanya.


"Oya Kak, bagaimana dengan misi yang kita jalankan, apakah sudah selesai?" Imbuhnya bertanya.


"Sementara cukup, kita sudah mengetahui dalang di balik kematian Dang Ding Dung, nanti malam aku akan memusnahkan klan Ming untuk meneror klan lainnya, sekarang kita biarkan kematian patriarknya menjadi berita gempar di antara mereka" jawab Jingga lalu memejamkan matanya.


"Kakak kejam, tapi aku suka" timpal Bai Niu lalu mengecup pipi Jingga dan memeluknya dalam tidur keduanya.


Masih di hari yang sama, Ming Li yang memutuskan akan membawa lari Bai Niu pergi meninggalkan klan memasuki kamar patriark.


Ia menendang keras pintu kamar patriark, namun ia tidak menemukan siapa pun di dalam kamar.


Matanya terbelalak melihat potongan tubuh berserakan di seluruh ruang kamar.


"Sial! Apa yang terjadi di sini?, Dimana Qui'er?" Kagetnya lalu keluar memanggil anggota keluarga lainnya dengan berteriak.


Dari arah lainnya, semua anggota klan Ming berlarian menghampirinya. Semua pertanyaan diabaikannya, Ming Li hanya menunjuk ke arah kamar patriark untuk menjawab semuanya.


"Kita harus menemukannya sebelum ia pergi jauh meninggalkan kota Lanhua" ucap Ming Li diangguki anggota klan Ming lainnya, mereka semua langsung bergegas memburu wanita yang menjadi perawat patriarknya beberapa hari belakangan.


Hampir semua tempat di kota Lanhua mereka datangi, namun batang hidung wanita perawat yang melarikan diri masih tidak terlihat keberadaannya seperti hilang begitu saja di telan bumi.


"Bagaimana Kak, kita sudah mencarinya di semua tempat, apakah kita harus mengejarnya sampai ke danau Telaga?" tanya Ming Li meminta pendapat kakak perempuannya.


"Tidak perlu, kita harus mencarinya pelan-pelan, jangan tergesa-gesa, kakak yakin wanita iblis itu masih berada di kota ini" jawab kakak perempuannya memutuskan.


"Baik Kak" sahutnya lalu kembali mencari Bai Qui yang tak lain adalah Bai Niu yang menyamar.


Malam harinya Jingga berdiri di atap salah satu bangunan di kediaman klan Ming. Tidak ada satu orang pun yang berada di sana.

__ADS_1


"Sepertinya membakar semua bangunan ini akan membuat klan Ming semakin kebingungan" pikirnya lalu melemparkan bola api yang keluar dari ujung jemarinya membakar semua bangunan kediaman klan Ming.


Jingga lalu terbang ke awan menunggu reaksi dari anggota klan Ming yang kembali dari pencariannya.


Kobaran api terlihat semakin membesar melahap setiap bangunan yang mengenainya.


Beberapa klan bangsawan lainnya yang tidak jauh dari kediaman klan Ming merasa heran dengan apa yang dilihatnya, banyak spekulasi yang bertebaran dengan kejadian yang menimpa klan Ming, beberapa orang anggota klan Ming berlarian menghampiri kediamannya yang sudah hancur dilahap si jago merah, beberapa anggota wanita klan Ming bahkan terlihat begitu histeris meratapi kehancuran kediamannya.


Jingga langsung meluncur turun ke arah tangisan semua keluarga klan Ming, ia langsung membantai semuanya dan menghisap jiwanya, setelahnya Jingga melemparkan tubuh kering ke dalam kobaran api yang masih menyala.


Esok harinya, semua klan bangsawan dilanda kebingungan akan musnahnya klan Ming yang terjadi dalam semalam, semua klan bangsawan mempertanyakan apa yang menjadi penyebab kemusnahan klan Ming.


Tidak terkecuali pihak kekaisaran yang merasa heran, namun Kaisar Fei Xing menebak semua kejadian yang menimpa klan Ming adalah ulah satu pemuda yang dikenalnya. Ia tidak terlalu mempedulikan omongan para pejabat istana yang masih membahasnya.


Kediaman klan Chun


Patriark klan Chun An berpikir penyebabnya adalah wanita cantik yang menjadi perawat patriark Ming Kong sebagai orang yang menyebabkan kemusnahan klan Ming, namun ia membantahnya sendiri karena wanita yang dilihatnya bukanlah seorang kultivator.


Menyikapi kegemparan yang terjadi, patriark klan Chun langsung mengadakan pertemuan darurat dengan patriark lainnya untuk kembali fokus pada tujuannya, namun dilandasi oleh rasa penasaran, para bangsawan lainnya memilih untuk menunda penyerangan sampai ditemukan titik terang penyebab kemusnahan klan Ming.


"Kak, hampir semua orang membicarakan kemusnahan klan Ming, apakah itu akan berdampak pada peperangan yang akan terjadi sebentar lagi?" Tanya Bai Niu menyikapi kegemparan yang terjadi.


"Aku tidak tahu, mungkin saja begitu, yang aku pikirkan sekarang adalah dirimu" jawab Jingga membuat pipi Bai Niu menjadi merona.


"Kau jangan salah paham, setelah urusan di sini selesai, aku berencana akan membawamu menemui kedua orangtuaku di hutan Bambu Merah" imbuh Jingga yang semakin membuat Bai Niu begitu kegirangan.


"Kakak serius?, Bahagianya diriku" tanya Bai Niu langsung memegang pipinya merasa tidak percaya pria didepannya akan menikahinya.


Jingga hanya mengerutkan keningnya menatap Bai Niu yang belum tahu maksud ucapannya.

__ADS_1


"Dia belum tahu rasanya memanggul bambu seharian he he he" gumam Jingga menyeringai.


__ADS_2