
Pedang sepanjang dua meter itu berputar-putar menyerang para kultivator yang langsung berhamburan meninggalkan formasi. Akan tetapi, kecepatan pedang tidak dapat dihindari oleh para kultivator yang satu per satu meledak terkena tebasannya.
DUAR! DUAR! DUAR!
Bai Niu dan Qianmei terperangah melihatnya. Pertarungan yang seyogyanya akan mereka jalani, kini diambil alih oleh sebatang pedang yang begitu liar membantai para kultivator hingga tak bersisa.
“Kak Jingga!” pekik Bai Niu tidak menerimanya.
“Jangan marah, mereka hanya boneka yang diciptakan para kultivator aliansi Es Utara.” Ungkap Jingga yang baru mengetahuinya juga.
“Pantas saja, mereka tidak mau berbicara. Lalu, di mana mereka semua? Aku sudah tidak sabar ingin menghabisinya.” Balas Bai Niu memahaminya.
“Santai saja, mereka sedang bingung dengan kehancuran boneka ciptaannya. Ha-ha.” Kekeh Jingga lalu menarik kembali pedangnya.
Tak berselang lama, lima orang pria bertubuh tinggi besar melayang mendekati Bai Niu dan Qianmei dengan menampilkan wajah dingin penuh dendam.
“Naninu, Memimu. Selamat bersenang-senang.” Kata Jingga penuh harap pada pertarungan seru yang akan disaksikannya bersama rombongan istana kekaisaran.
“Dengan senang hati, Kak. Selamat menyaksikan.” Balas Bai Niu lalu kembali fokus pada kelima pria yang menghampirinya.
“Tidak bisakah kalian tersenyum ketika mendekati gadis cantik seperti kami?” sindir Bai Niu.
“Cantik? Ha-ha-ha. Katanya mereka cantik. Apa kalian percaya?” tanggap seorang pria beralis tebal terkekeh mendengarnya.
“Ha-ha-ha. Tidak ada cantiknya sama sekali. Biarpun demikian jeleknya, setidaknya tidak jelek banget. Ya, lumayanlah!” kata seorang pria berhidung pesek menilainya.
Keempat pria lainnya mengangguk setuju pada opini si pria hidung pesek yang begitu merendahkan Bai Niu.
“Sialan! Baru kali ini aku dianggap jelek oleh pria jelek. Ini suatu penghinaan terbesar untukku,” gerutu Bai Niu tidak menerimanya.
“Kalian menilaiku jelek, memangnya kalian semua itu tampan? Wek! Sudah jelek, hidup pula. Mending kalian mati saja. Keberadaan kalian hanya merusak pemandangan.” Balas Bai Niu tidak mau kalah mencemoohnya.
Kelima pria lalu saling melirik satu sama lainnya. Kelimanya pun sontak tertawa terbahak-bahak menanggapi perkataan Bai Niu.
__ADS_1
Seorang di antaranya yang berhasil mengendalikan diri walau harus menekan perutnya karena tertawa kembali menatap Bai Niu dengan serius.
“Nona jelek, kau membuat kami terhibur, tapi kami tidak datang untuk mencari hiburan. Kami datang untuk membalas kematian kawan-kawan kami yang telah kalian bantai kemarin. Maaf, Nona. Jenaka Nona tidak kami butuhkan. Terimalah kematian kalian berdua,”
WUZZ! TRANG! TRANG!
Serangan cepat dari seorang kultivator mampu diadang dengan sigap oleh Bai Niu yang sedari tadi menantikan adanya serangan ke arahnya.
“Kau lumayan juga, Nona jelek. Ha-ha.” Puji kultivator bermata besar yang gagal menebaskan pedangnya mengenai tubuh Bai Niu.
“Cih! Aku yang lumayan atau kau yang bodoh!” tanggap Bai Niu mulai memprovokasinya.
“Menarik. Aku akan mempercepat membunuhmu.” Balas si kultivator bermata besar.
Ia kemudian mempercepat ayunan pedangnya menebas tubuh Bai Niu secara acak dan brutal.
TRANG! TRANG! TRANG!
Benturan bilah pedang yang cepat dan kuat berenergi menciptakan percikan api yang menyala. Bai Niu dalam posisi bertahan terus mengamati pola serangan musuhnya.
“Nona bercadar, apakah kau akan diam saja atau menunjuk salah satu dari kami yang akan mengakhiri hidupmu?” kata seorang pria beralis tebal menawarkan.
“Kenapa harus salah satu kalau kalian berempat bisa langsung melawanku secara bersamaan? Apa kalian butuh saksi untuk menyaksikan kematian salah satu dari kalian? Menurutku itu tidak perlu, kecuali kalau kalian memang sejatinya para pengecut.” Balas Qianmei tak kalah pedas berkata.
“Para gadis memang jago bersilat lidah, tapi buruk dalam bertarung.” Timpal si pria beralis tebal.
“Kau hanya bisa membual saja. Kalau berani, kenapa tidak mencoba menghadapiku? Jangan bilang kalau kautakut padaku. Ha-ha.” Imbuh Qianmei semakin memanasinya.
“Kau!” geram si pria beralis tebal tersulut emosinya.
WUZZ! TRANG! TRANG! TRANG!
Peraduan logam dari dua bilah pedang pertarungan Qianmei tak kalah hebat dari pertarungan Bai Niu. Namun, yang berbeda adalah Qianmei tidak mempelajari pola serangan musuhnya dengan bertahan mengadang setiap serangan. Ia dengan kecepatannya berhasil mendominasi perlawanan musuhnya.
Dua pertarungan epik pun tak terelakkan di atas langit kota Luyan. Jingga yang asyik mengunyah cemilannya begitu bersemangat melihat pertarungan kedua adiknya. Namun nahas, cemilannya habis tak tersisa. Ia celingak-celinguk mencari komandan yang tadi memberikannya.
__ADS_1
Kesal tidak menemukannya karena semua komandan kekaisaran terlihat mirip, ia pun berteriak memanggilnya.
“Woi! Cemilanku habis! Siapa yang masih punya kacang tanah?” teriak Jingga tiba-tiba.
Sontak saja semua orang langsung meliriknya dengan raut wajah heran, bahkan sang istri yang tengah pulas tertidur di dadanya langsung terbangun karena terkejut mendengar teriakan Jingga.
Sang komandan yang memberikan cemilan padanya langsung bergegas menghampiri. Ia lalu mengeluarkan dua bungkusan kacang tanah dari cincin spasialnya.
“Ini, Tuan. Tapi maaf, kalau habis aku tidak bisa memberikannya lagi.” Ucapnya lalu memberikan dua bungkus kacang tanah yang langsung diambil Jingga dengan wajah ceria.
“Terima kasih, aku akan memberimu arak terbaik. Sebentar!” balas Jingga lalu mengambil dua guci arak sedang dan menyerahkannya kepada si komandan.
“Terima kasih, Tuan.”
“Terima kasih kembali. Kalau habis, kau bisa memintanya kembali kepadaku. Aku masih punya banyak stok arak. Ha-ha.”
Sang komandan menelan saliva mendengarnya. Ia lalu berbalik pergi dengan wajah tak kalah ceria dengan Jingga.
Kembali pada pertarungan kedua gadis di atas. Bai Niu yang terus bertahan, kini mulai melancarkan serangan balik yang sangat brutal dan liar mengayunkan pedangnya dengan teknik bayangan. Alhasil, si kultivator bermata besar merasa kewalahan dibuatnya. Ia dipaksa untuk terus mundur menghindari serangan frontal yang dilayangkan oleh gadis yang semakin cepat menyerangnya.
Energi petir terus dialirkan ke bilah pedang untuk memperkuat tekanan dan memberikan efek sengatan listrik di setiap kali pedang berayun dan beradu dengan pedang sang kultivator yang menahannya. Betul saja apa yang dilakukannya, sang kultivator meringis kesakitan setiap kali menahan tebasan yang dilayangkan oleh Bai Niu.
“Sialan! Aku bisa kalah kalau terus begini.” Keluh sang kultivator mulai memikirkan jalan keluar untuk mengatasi serangan frontal dari lawannya.
Nahas, Bai Niu tidak sekalipun mengendurkan serangannya. Seiring waktu, ia semakin mempercepat serangannya. Tepat ketika ia mulai menggenggam pedangnya dengan kedua tangan. Bai Niu mengayunkan pedang dengan posisi vertikal menebas si kultivator yang mengadangnya dengan pedang dalam posisi horizontal.
“Matilah kau pria jelek!” raung Bai Niu mengerahkan energi penuh menebasnya.
KRAK! SRET!
Ayunan pedang berhasil mematahkan pedang si kultivator dan menembus kepalanya dengan sangat cepat. Sang kultivator bermata besar pun mati di tempat lalu melayang jatuh menghantam puing-puing bangunan kota Luyan yang berserakan.
Ketiga pria yang melihatnya terbelalak tidak percaya pada kematian seorang teman yang dikenal tangguh dalam pertarungan pedang.
“Tidak mungkin, seorang kultivator ahli pedang bisa kalah oleh seorang gadis lemah sepertinya." Ujar kultivator hidung pesek.
__ADS_1
"Tidak benar yang kaupikirkan itu. Gadis itu seorang dewi. Kau harus mengingat itu." Timpal pria bermata sipit membantahnya.