
Terlihat pria tua tubuhnya mulai mengering lalu kelojotan merasakan panas dari cahaya yang terpancar menyengatnya.
"Kematian yang indah, Paman. Selamat menikmati!" Ucap Jingga lalu menjulurkan kedua jari manisnya menarik jiwa iblis pria tua yang sekarat.
"Jerat penghisap jiwa"
Siu!
Seberkas energi melesat cepat mengenai pria tua dan langsung menarik paksa jiwa iblisnya memasuki tubuh Jingga.
Setelahnya, Jingga langsung memeriksa tingkat kultivasinya, ia terkulai lemas mengetahuinya, namun ia masih bisa tersenyum puas.
Ranah kultivasinya memang tidak meningkat, akan tetapi pondasinya semakin kokoh dan siap untuk menerobos ranah selanjutnya. Apalagi kini ia memiliki tambahan energi api dalam dirinya. Setelah memiliki api semesta, ia juga memiliki api kematian dan sekarang bertambah dengan inti api yang menjadi sumber energi api lainnya.
Setelahnya Jingga langsung mencoba mengeluarkan inti api untuk menghancurkan bola api di tengah arena yang masih menyala.
Karena ukuran targetnya yang begitu besar, Jingga menggunakan jurus lemparan iblis Kapabkapabha milik Yuangu Mowang yang belum pernah dipakainya.
Jingga melayang mundur mengukur jarak, setelah merasa cukup. Ia langsung mengeluarkan bola inti api dari telapak tangannya. Tampak bola api semakin membesar sampai ukurannya sama seperti bola api yang ada di tengah arena.
"Ka.. pab.. ka.. pab.. ha.." pekiknya langsung melemparkan bola api ke tengah arena.
Boom!
Ledakan keras dari hantaman bola api yang beradu menciptakan lautan api yang menyeruak ke seluruh dimensi alam Siksa Raja.
Jingga sampai terlempar jauh ke belakang karena gelombang energi yang begitu keras menghantamnya.
"Aah!" Jerit Jingga yang terlempar entah kemana.
Di arena ketiga tempat kakek iblis berada, si kakek langsung menciptakan perisai iblis berlapis-lapis untuk menjaga struktur dimensi Siksa Raja dari kehancuran dengan menahan gelombang kejut dari energi inti api yang menyebar ke seluruh dimensi alam Siksa Raja.
Namun di arena kelima sampai arena kesembilan masih cukup aman dari dampak kehancuran.
"Untung saja aku menciptakannya secara bertingkat, kalau hanya sekatan ruang, tentunya akan hancur terkena dampak energi api paling mengerikan di alam semesta. Dasar bocah gila!" Ujarnya setelah memindai arena di atasnya yang hancur.
Kini dimensi alam Siksa Raja hanya memiliki delapan tingkat. Kakek iblis harus merekonstruksi ulang struktur alam ciptaannya.
"Nona iblis, kau tarik dengan paksa tubuh pemuda itu kembali ke arena dan bawalah dia ke alam jiwamu. Sekarang giliranmu yang akan menghadapinya. Sementara waktu aku akan sibuk merekonstruksi alam Siksa Raja" pinta Kakek iblis.
__ADS_1
"Baik, Tuan" sahut seorang gadis yang menempati tingkat kelima dimensi alam Siksa Raja.
Gadis iblis yang memiliki sayap di punggungnya langsung melesat terbang meninggalkan arena, ia memindai keberadaan Jingga yang masih melayang di ruang hampa.
"Kau begitu imut, bocah iblis" ucap gadis iblis setelah menemukan keberadaan pemuda yang tengah pingsan.
Ia tersenyum lebar memperhatikannya lalu menarik tubuh Jingga dengan rantai energi dan membawanya ke arena pertarungan.
Di arena pertarungan, gadis iblis terus saja memperhatikan wajah pemuda yang masih tidak sadarkan diri terbaring di depannya. Ia tampak begitu tertarik dengan sosok Jingga.
"Daripada kita harus saling membunuh, aku ingin kau menjadi kekasihku" gumamnya.
Gadis iblis lalu bermeditasi, ia menelusuri dimensi alam jiwanya. Walau tidak seluas milik para penguasa, setiap kultivator yang mencapai ranah Supreme Emperor bisa membuat sendiri dimensi alam jiwa.
Gadis iblis mengeluarkan sebuah artefak kuno yang disimpannya, ia lalu membaca aksara kuno yang terpatri di pinggiran bingkai artefak untuk menggunakannya.
"Sembilan bulan, hem!" Gumamnya membaca batas waktu yang tertulis.
Gadis iblis merenungkannya, ia harus memikirkan kemana ia akan berlabuh selama sembilan bulan ke depan.
"Sebaiknya aku membawanya ke waktu aku masih menjadi seorang manusia, tapi" ucapnya terputus.
Banyak pertanyaan di dalam pikirannya, ia tidak tahu harus pergi ke zaman apa dan di mana lokasinya. Berputar-putar pikirannya mencoba untuk memutuskannya.
Ia lalu merapalkan mantra dan mengikuti petunjuk dari artefak kuno.
Tak beberapa lama, artefak kuno mulai bergetar dan cahaya terang muncul keluar dari tengahnya. Tampak lorong dimensi terbuka lebar di hadapannya.
Ia lalu menarik tubuh Jingga untuk memasukinya dan meminta izin kakek iblis akan kepergiannya selama sembilan bulan lamanya.
"Tuan, sementara kau membangun ulang alam Siksa Raja. Izinkan aku membawanya ke suatu tempat" pintanya dalam sambungan jiwa dengan kakek iblis.
"Tidak boleh. Dia dalam masa ujian calon penguasa. Kau tidak boleh membawanya keluar dari arena selain alam jiwamu" tolak kakek iblis melarangnya.
Hubungan komunikasi tiba-tiba terputus, kakek iblis terlihat begitu geram. Kalau saja ia tidak disibukkan dengan alam Siksa Raja yang hancur satu tingkat, ia pasti akan membunuh gadis iblis yang membawa kabur Jingga.
"Sialan! Kalau sampai setahun tidak ada yang kembali, aku pastikan akan membunuh kalian berdua di mana pun kalian berada" ancam kakek iblis berbicara sendiri.
Gadis iblis membawa tubuh Jingga memasuki lorong waktu dan langsung menghilang dari tempatnya.
__ADS_1
Berada dalam ruang dimensi yang berputar-putar, gadis iblis menutupi tubuh Jingga dengan kedua sayapnya agar tidak terpisah. Namun sesuatu yang tidak diduganya terjadi. Putaran dimensi waktu begitu cepat berputar, membuatnya harus terombang ambing dan tekanan kuat di dalamnya membuat dirinya tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, lubang besar tercipta di atas langit. Sosok tubuh melayang jatuh ke tengah danau.
Wuzz!
Byurr!
Seorang kakek dan anak kecil berusia sekitar tujuh tahun yang sedang duduk di pinggir danau sambil memancing ikan terkejut melihat sesuatu yang jatuh dengan begitu keras ke tengah danau.
Keduanya langsung menengadah ke atas langit mencari asal kedatangan sesuatu yang belum diketahuinya.
"Cucuku, kau tunggu di sini. Kakek akan berenang ke tengah danau untuk melihatnya" pinta sang kakek yang langsung melompat.
Byurr!
Si kakek dengan begitu lihai berenang ke tengah danau, ia tampak begitu terkejut melihat tubuh polos seorang pemuda yang mengapung di atas permukaan danau.
Dengan sigap, ia langsung menarik tubuh pemuda dan membawanya ke daratan.
Si kakek kemudian memeriksa denyut nadi di leher dan pergelangan tangan si pemuda memastikannya masih hidup. Namun ia tidak mendapatkan adanya otot nadi yang bergerak.
"Kakek, bagaimana?" Tanya seorang anak kecil begitu penasaran.
Si kakek menggelengkan kepala menjawab pertanyaan cucunya.
"Kita harus menguburkan jasadnya, ayo kita pulang" ucap si kakek mengajaknya.
"Uhuk-uhuk"
Jingga batuk memuntahkan air danau yang masuk ke dalam mulutnya. Tak lama kemudian ia terbangun duduk menatap kedua orang di dekatnya. Ia begitu terpana melihat kedua sosok yang memiliki kesamaan dengan dirinya.
Namun Jingga tidak ingin bertanya lebih jauh. Ia lalu memeriksa kondisi tubuhnya paska terlempar dari ruang hampa.
"Energi iblisku menghilang" keluhnya.
Jingga lalu memindai alam jiwanya, namun tidak dapat merasakannya. Sekarang ia mengakses ingatan Yuangu Mowang. Hasilnya sama juga.
"Huh!" Dengusnya begitu kesal.
__ADS_1
Ia lalu mencoba mengambil pakaian di dalam cincin spasialnya, lagi-lagi ia tidak bisa mengaksesnya.
Tidak ada kekuatan apa pun dalam diri Jingga sekarang, namun ia tetap mensyukuri dirinya masih hidup.