Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Alam Sutera II


__ADS_3


Tidak sekadar mencubitnya saja, Jingga juga mengunci tubuh pria tua dengan kekuatan jiwanya.


“Kenapa aku tidak bisa bergerak?” tanya batin pria tua merasa kesal.


Jingga yang dapat mendengarnya hanya tersenyum simpul. Tak lama kemudian, ia melepaskan jarinya dari kulit keriput pria tua di depannya.


“Kau seperti anak kecil yang meronta tidak dibelikan mainan. Pergilah! Aku tidak ingin membunuhmu,” kata Jingga berbalik badan.


Pria tua mengelus kedua pipinya yang melepuh setelah dicubit oleh Jingga. Ia juga tidak menyangka akan dilecehkan oleh pemuda yang dianggapnya tidak jauh lebih baik dari dirinya.


“Kau terlalu merendahkanku, Iblis Muda.  Asal kau ketahui, aku adalah tetua sekte Naga Angin … aku tidak akan melupakan hal memalukan ini. Tunggu saja, aku akan membalasnya!” balas pria tua lalu melayang terbang sambil terus berceloteh tak karuan.


Jingga yang berjalan ke arah kedua adiknya yang tengah sibuk membantai pasukan Istana Langit hanya menanggapinya dengan menggeleng-gelengkan kepala.


“Kak Jingga! Ayo, Kak! Seru banget ini Kak. Mereka menjerit seperti rebutan mainan,” pekik Qianmei sambil terus menebaskan pedang ke arah para pasukan.


“Jangan dihabiskan! Aku menyusul,” balas Jingga tidak ingin melewatkan pertarungan. 


Sementara itu, Bai Niu terlihat sangat menikmati pertarungannya di area yang cukup jauh dari posisi Qianmei berada. Ia sengaja menjauh supaya bisa membunuh lebih banyak pasukan. Bertarung di sisi Qianmei laiknya seorang gadis yang tengah dilindungi. Tiap tebasan yang dilayangkan selalu didahului oleh Qianmei. Itulah yang menjadi alasan Bai Niu menjauhi pertempuran dari adiknya.


Jingga berkelebat ke arah Qianmei lalu merebut satu pedang dari seorang pasukan dan menendangnya hingga menabrak beberapa pasukan lainnya.


“Gerakanmu terlalu cepat, mereka jadi tidak bisa memberikan perlawanan. Di mana serunya?” kata Jingga mengomentari pertarungan sang adik.

__ADS_1


“Ah, Kakak. Jumlah mereka kan banyak. Bukannya dengan begini kita bisa lebih cepat mengakhiri pertarungan?” balas Qianmei tak mau disalahkan.


Jingga menggelengkan kepala menanggapinya, sambil mengayun-ayunkan pedang, Jingga berjalan ke arah yang berlawanan dengan Qianmei.


“Kakak mau ke mana? Tidak mau ya bertarung bersamaku?” keluh Qianmei.


TRANG! TRANG! TRANG!


Tanpa memedulikan ucapan Qianmei, Jingga terus bergerak mengayunkan pedang menyerang pasukan Istana Langit yang mengepungnya. Meskipun dalam keadaan terkepung dan tanpa adanya energi spiritual yang menyeruak keluar. Jingga masih terlalu kuat dan tangguh untuk dihadapi para pasukan Istana Langit. Bermodalkan tubuh iblis yang tidak mengenal lelah dan juga jurus langkah bayangan sangatlah cukup untuk mengalahkan para pasukan. 


Dari sudut pandang pasukan Istana Langit, mereka menyadari kemampuan Jingga lebih mengerikan dari kedua gadis yang dihadapi. Biarpun begitu, pasukan Istana Langit tidak memiliki pilihan selain terus berusaha dengan keberanian yang dipaksa tumbuh dan tekad yang harus kuat menghadapinya. Mereka membentuk formasi pertahanan yang rapat, saling melindungi satu sama lain dengan perisai mereka. Mata mereka terus fokus, siap untuk menghadapi serangan apa pun yang akan dilancarkan oleh pemuda iblis yang perkasa itu.


“Aku suka sikap pantang menyerah kalian. Namun, terus bertahan tidaklah baik. Itu hanya akan sedikit memperlambat kematian kalian. Sebaiknya keluarkan saja semua kemampuan terbaik kalian! Setidaknya kalian mati dengan rasa hormat dariku,” ujar Jingga di sela-sela pertarungan.


Mendengar perkataan pemuda iblis membuat tatapan pasukan Istana Langit menjadi tajam dan dipenuhi amarah yang menggebu. Namun, para pasukan masih bertahan pada formasi bertahan. Mereka tidak mau gegabah untuk melakukan serangan. Hal itu terbaca oleh Jingga yang terus menghantamkan bilah pedang ke perisai baja yang digunakan para pasukan yang terus mundur selangkah demi selangkah.


“Betulkah? Aku akan mengujinya,” kata Jingga menanggapi.


Jingga lalu melancarkan serangan cepat dan mematikan dengan pedangnya yang berkilauan. Setiap gerakannya mengandung kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Ia mencoba menembus pertahanan para pasukan Istana Langit dengan serangan-serangan cepat yang bertubi-tubi.


Namun, para pasukan Istana Langit tidak bergeming. Mereka mengangkat perisai baja mereka dengan kekuatan yang mantap, mempertahankan posisi mereka dengan teguh. Setiap serangan pedang yang dilayangkan Jingga, mereka mampu menahannya dengan gesit dan tangkas. 


Suara benturan logam memenuhi udara saat pedang Jingga bertabrakan dengan perisai baja dari pasukan Istana Langit. Kilatan api dan percikan bunga api berkelebat saat kekuatan serangan Jingga bertabrakan dengan ketangguhan perisai para pasukan. Tangan-tangan mereka yang terlatih dengan baik mampu mengendalikan perisai dengan presisi yang luar biasa, sehingga mereka mampu dapat mempertahankan diri mereka dari serangan mematikan pemuda iblis tersebut.


“Kalian membuatku terhibur!” puji Jingga penuh kekaguman.

__ADS_1


Jingga melihat keberanian dan keahlian para pasukan Istana Langit dengan rasa kagum. Namun, itu tidak menghalangi tekadnya untuk mengalahkan mereka. Ia terus melancarkan serangan-serangan mematikan. Uniknya, Jingga tidak berusaha untuk mencari celah dalam pertahanan kuat pasukan Istana Langit. Ia terus menguji daya tahan perisai yang diperagakan para pasukan.


Sementara itu, para pasukan Istana Langit terus mempertahankan posisi mereka, menahan serangan Jingga dengan keterampilan dan ketabahan. Meskipun jari-jari mereka kesakitan dan dipenuhi luka karena terus menerus menahannya. 


Para pasukan Istana Langit saling melengkapi satu sama lain, menutup celah yang mungkin ada dalam pertahanan mereka. Ketika pedang yang digunakan oleh Jingga telah berubah bentuk karena terus dibenturkan dengan perisai baja, para pasukan memanfaatkannya dengan melakukan serangan balik yang cepat.


Jingga sedikit terkejut dan langsung menghadangnya. Peraduan pedang antara Jingga dan pasukan Istana langit berlangsung dengan intensitas yang luar biasa. Suasana tegang dan penuh adrenalin terasa di udara Alam Sutera. Pasukan Istana Langit berjuang keras dengan tekad yang kini terbentuk tangguh dan kokoh, mendorong diri mereka sendiri ke batas maksimum kemampuan.


“Ini yang aku inginkan. Ha-ha-ha,” kekeh Jingga mendapati lawan yang bisa menyerangnya.


Meskipun pedang yang digunakan Jingga telah berubah bentuk dan hilang ketajamannya. Namun, hal itu tidak membuatnya mengalami kesulitan yang berarti. Ia kini mulai menikmati pertarungannya.


Dengan perisai dan tombak juga beberapa ada yang menggunakan pedang. Pasukan Istana Langit mampu melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Jingga. Hingga, Jingga memutuskan untuk merubah strateginya. Ia berusaha untuk memecah konsentrasi para pasukan dengan kecepatan gerakan dari jurus langkah bayangan. Akan tetapi, pasukan Istana Langit sangatlah kuat dalam bertahan walau secara menyerang sangatlah lemah dan mudah dibaca oleh Jingga. 


Mereka tetap fokus dan waspada, dengan cermat mengikuti setiap gerakan Jingga dengan nalurinya. Mereka juga terus menjaga formasi dengan disiplin yang tinggi, bekerja sebagai tim yang terkoordinasi dengan baik. Saling melengkapi satu sama lain, membentuk perisai hidup yang cukup merepotkan Jingga.


Tidak ingin terus dipaksa bertahan oleh Jingga. Mereka mulai melakukan manuver serangan dengan menggabungkan kekuatan, kecepatan, dan ketangguhan. Jingga melebarkan senyum melihatnya. Pedang mereka berpadu dalam gerakan yang halus dan presisi, menghasilkan serangan-serangan yang berbahaya dan mematikan.


Mereka berupaya untuk mengimbangi kekuatan Jingga dengan strategi bertahan yang solid, serangan kilat yang kuat, dan formasi yang berubah-ubah dalam setiap serangan dan pertahanan yang dibangun. Mereka menunjukkan keahlian tempur yang sangat baik.


“Aku sangat menyukai pola serangan yang dibangun sebagai satu kesatuan, itu sangat menghiburku.” Jingga kembali melontarkan pujian kepada para pasukan yang dihadapinya.


Pasukan Istana Langit tidak bergeming dengan pujian yang dilontarkan Jingga, bagi mereka, bisa menyulitkan Jingga merupakan prestasi yang luar biasa. Pertarungan pun terus berlangsung dengan sengit. 


Di tempat lainnya, Qianmei telah berhasil membantai semua pasukan di sekitarnya. Ia lalu berkelebat ke arah Bai Niu untuk membantu. Akan tetapi, ia tidak melihat keberadaan kakaknya tersebut. Qianmei terus mengedarkan pandangan ke area yang dipenuhi oleh mayat para pasukan. Namun, ia tidak menemukannya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, sekelebat cahaya melaju cepat di atas langit. Dengan kemampuan penglihatannya, Qianmei dapat melihat keberadaan Bai Niu yang tengah dibawa oleh beberapa dewa. Tampak terlihat olehnya, Bai Niu diapit oleh dua dewa dalam kondisi tidak sadarkan diri.


__ADS_2