
Bowen dengan sigap menahan tubuh istrinya untuk tidak menyusul kedua anaknya.
"Suamiku, apa kau akan membiarkan kedua anak kita mati?" tanya kesal sang Istri tanpa melirik suaminya.
"Tenanglah! Aku masih mengamatinya." Jawab Bowen masih menimbangnya.
****
Sampai di samping kakaknya, Feiyaw langsung saja mengeluarkan pedang dan bersiap untuk menyerang Jingga. Akan tetapi, Bocheng dengan tegas melarangnya. Ia tidak ingin adiknya mati sia-sia.
"Yaw'er, jangan bodoh! Dia bukanlah lawanmu. Kembalilah! Jangan kau sia-siakan hidupmu," kata Bocheng memintanya untuk kembali.
"Tidak mau! Aku ingin berjuang bersama Kakak." Tegas Feiyaw lalu melesak menyerang Jingga.
Wuzz!
Dengan kecepatannya, Feiyaw terus melaju cepat untuk menebaskan pedangnya. Namun ia merasa heran dengan jarak target yang terlihat sama. Ia semakin cepat melajukan terbangnya, akan tetapi, jarak Jingga tidaklah berubah. Feiyaw terpaksa menghentikan laju terbangnya.
"Huh! Dasar Iblis pengecut!" rutuknya.
Jingga yang mendengarnya langsung membalikkan badannya lalu melirik ke arah si gadis yang masih saja meracau tidak jelas.
"Kau kenapa gadis jelek? Aku daritadi diam saja," tanya Jingga.
"Dih! Dasar tidak tahu malu. Bilang saja kau takut kepadaku sampai kau menjeratku ke dalam ilusi." Balas Feiyaw dengan ketus.
"Ha-ha-ha. Bukan aku yang melakukannya, tapi pemuda iblis di belakangmu yang menjeratmu ke dalam ilusi,"
Feiyaw menggeretakkan gigi lalu membalikkan badan dan menatap tajam kakaknya.
"Kakak!" panggilnya dengan kesal.
Bocheng tidak menyahutinya, ia menggerakkan jemarinya lalu menarik paksa tubuh adiknya dan mengempaskannya ke bawah.
"Kakak!" teriak Feiyaw tidak menerima dirinya dipaksa jatuh oleh kakaknya sendiri.
Bowen yang melihat tubuh putrinya melesat tajam ke bawah dengan sigap langsung melemparkan rantai energi menariknya, lalu dibantu oleh istrinya yang kemudian menangkapnya.
"Diamlah bersama ibumu, biar ayah yang membantu Cheng'er." Ujar Bowen lalu melesak ke udara.
"Ayah!" Seru Bocheng memanggil ayahnya yang berdiri melayang di sampingnya.
"Kau turunlah! Biar ayah yang menghadapinya."
"Baik, Ayah."
Belum sempat Bocheng melesat turun. Jingga menjentikkan jari melemparkan energi api. Seberkas sinar tanpa warna melaju cepat menghantam tubuh Bocheng yang tidak menyadarinya.
Dhuar!
__ADS_1
Tubuh Bocheng hancur berkeping-keping di samping ayahnya. Sontak saja hal itu membuat kedua mata Bowen melebar tidak percaya pada apa yang menimpa putranya.
"Cheng'er!" pekik lantang seorang wanita paruh baya menggema di Xingchang.
Sang patriark yang melihat kehancuran tubuh cucunya pun begitu murka. Ia lalu melayang terbang menghampiri
Bowen diikuti oleh Bey dan cucunya Feiyaw. Sementara Nuren dan Feichang masih berdiam diri di tempatnya.
"Chang'er, apa kau akan membiarkan keluarga kita musnah?" tanya Nuren yang walaupun berbeda pilihan dengan anggota keluarga yang lain, mereka tetaplah keluarganya.
"Tidak, Bu. Mereka tidak akan mati kalau mau tunduk pada Yang Mulia," jawab Feichang.
"Baiklah, ibu mengerti. Kau tunggulah di sini. Ibu akan mencobanya." Timpal Nuren lalu melayang terbang menyusul yang lainnya.
Feichang menganggukinya, ia lalu berkelebat ke arah sang Ratu berada.
Sementara di udara. Bowen yang terbakar amarah langsung memancarkan aura iblisnya. Ia berniat untuk mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya agar bisa membalas kematian putranya.
Langit kembali bergemuruh dengan suara yang memekakkan telinga. Suasana di Xingchang kembali mencekam. Tak kalah dengan dirinya, Patriak bersama Bey dan Feiyaw juga memancarkan aura iblis.
Nuren yang tidak ingin keluarganya mati, langsung menghadang di depan keluarganya sambil menahan tekanan dari aura iblis keluarganya.
"Hentikan! Jangan melawannya!" Tegas Nuren memintanya.
Bowen yang sudah kalap tidak memedulikannya, begitupun dengan Bobeng, Bey, dan Feiyaw. Mereka tidak lagi peduli pada kehadiran Nuren yang mencoba menghentikannya.
Kesal karena ucapannya tidak ditanggapi oleh keluarganya. Nuren lalu mengeluarkan pedangnya dan memancarkan aura iblis.
"Ha-ha-ha, aku pasti akan membunuhmu dan juga anakmu yang berkhianat itu, karena kalian adalah pengikutnya. Tunggulah sampai kami selesai membunuhnya!" balas Bobeng.
"Baiklah, kalau Ayah inginnya begitu. Semoga kematianmu indah, Ayah. Ha-ha-ha."
"Jangan kau sebut aku ayahmu. Kau bukanlah anakku. Pergilah dan tunggu kematianmu!" Geram Bobeng.
Nuren menyeringai dingin menanggapinya. Ia lalu melayang turun menghampiri putrinya.
"Aku kira hanya manusia fana saja yang memiliki masalah keluarga. Ternyata para iblis pun begitu." Celetuk Jingga yang daritadi memperhatikan perseteruan keluarga klan Linghun Lieshou.
"Diam kau bajingan busuk!" Geram Bowen membalasnya.
"Daritadi aku diam saja menunggu dirimu menyerangku. Apa kau masih ragu untuk menyerangku?"
"Ha-ha-ha. Aku sengaja mengulurnya, agar kau bisa melihat semua kemampuanku," kilah Bowen lalu mengeluarkan rantai belati miliknya.
"Wah! Betulkah begitu? Ayo mulailah! Aku sudah tidak sabar melihatnya."
Bowen menolehkan wajah melirik istri dan putrinya.
"Maafkan aku yang gagal melindungi kalian," ucapnya mengisyaratkan perpisahan kepada anak dan istrinya.
__ADS_1
"Jangan berkata begitu. Ayo kita sama-sama tunjukkan kehebatan klan kita. Percayalah, kita pasti bisa membunuhnya." Ujar Bey meyakinkan suaminya.
Jingga tersenyum kecut melihat keluarga klan Linghun Lieshou yang menurutnya terlalu banyak drama keluarga.
"Kalian sebenarnya mau bertarung denganku atau tidak? Menunggu kalian sama seperti aku menunggu gadis yang bersolek. Sama-sama membuang waktu," gerutunya.
"Ha-ha-ha. Dasar bodoh! Kenapa kau tidak mencoba memulainya? Kau malah membiarkan kami berlama-lama." Kekeh Bobeng mencemoohnya.
"Dih! Keluarga tidak tahu diri. Aku hanya memberi kalian kesempatan untuk mengeluarkan semua kemampuan kalian. Karena kalau aku yang memulainya, kalian bisa apa?"
Kesal juga Bobeng mendengarnya. Ia lalu meminta keluarganya membentuk formasi tempur yang menjadi senjata rahasia klan.
Bowen yang menjadi poros serangan memposisikan diri di bagian depan formasi, sedangkan Bey berdiri di sisi kanannya, dan Feiyaw berdiri di sisi kirinya. Bobeng sendiri berada di belakang dengan kedua tangan menggenggam dua bola energi berwarna merah dan biru.
Formasi keempatnya terlihat seperti busur panah yang bersiap untuk meluncurkan anak panah. Jingga tampak terlihat begitu penasaran dengan strategi bertarung yang ditunjukkan oleh klan pemburu Linghun Lieshou.
"Jianhuimie Yuzhou"
"Shashou Shouzi"
Jingga mengeluarkan pedangnya lalu dengan teknik Shashou Shouzi menjadikannya dua bagian yang tertancap di kedua lengannya.
Sontak saja keempat iblis pemburu menjadi gemetar melihatnya. Mereka semua mengetahui pada teknik yang dipakai oleh Jingga. Bey dan Feiyaw langsung menoleh ke arah Bowen dengan tatapan pilu.
"Abaikan kecemasan yang menjangkiti kalian. Bersiaplah untuk menyerang!" ujar Bowen yang memahami keresahan istri dan anaknya.
Bey dan Feiyaw menganggukinya lalu kembali fokus menatap lawannya dengan sorot mata membunuh. Namun, hal tak terduga terjadi dalam diri Bobeng. Ia meyakini dirinya tidak akan mampu untuk mengalahkan lawannya. Apa yang ditunjukkan oleh Jingga membuatnya mengingat kembali ke tujuan awalnya yang hanya ingin menguji kelayakan pemuda iblis sebagai pilihan keluarganya. Ia lalu menghentikan aksinya dan melaju terbang di depan ketiganya.
"Patriark ada apa?" tanya heran Bowen melihat iblis tua melewati dirinya.
"Sudahlah, kita tidak perlu bertarung dengannya. Ingatlah apa yang menjadi tujuan kita pada awalnya. Dia memang benar-benar seorang penguasa iblis yang harus kita muliakan sosoknya." jawab Bobeng dengan suaranya yang parau.
"Bagaimana dengan Cheng'er?" sosor Bey begitu kesal.
"Iya, kita harus membalaskan kematian Kak Cheng'er." Sambung Feiyaw yang juga kesal pada kakeknya.
"Kalau kalian ingin membalaskan dendam, aku tidak akan melarangnya," timpal Bobeng lalu menghampiri Jingga.
"Yang Mulia. Aku, Patriark klan Linghun Lieshou menyatakan tunduk kepada Yang Mulia. Mohon, terimalah diriku."Ucap Bobeng sambil menundukkan kepala di depan Jingga.
"Aku sudah bersiap untuk bertarung dengan kalian semua. Kenapa kau begitu cepat menyerah kepadaku?" Keluh Jingga yang merasa geram karena sudah terlanjur mengeluarkan pedangnya.
"Maaf, Yang Mulia. Hamba siap dihukum mati." balas Bobeng yang tidak tahu aksinya malah membuat Jingga kesal padanya.
"Ha-ha-ha. Begini saja, kalahkan To Tao dan aku akan menerimamu menjadi bagian pengikutku." Ujar Jingga memberinya tantangan.
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan berusaha mengalahkannya." Ucap Bobeng menerima tantangan.
Jingga tersenyum lembut menanggapinya, namun pandangannya masih tertuju ke arah ketiga iblis pemburu yang menatapnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Sepertinya keluargamu begitu kecewa. Sebaiknya selesaikan masalah keluargamu dahulu. Aku akan meminta To Tao memberimu waktu untuk itu." Imbuh Jingga lalu menghilang pergi.