Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Keresahan Hati Sang Jenderal


__ADS_3

"Sudahlah Juan'er, kalau kau tidak percaya, aku akan membawamu untuk membuktikan ucapanku, sekalian aku membutuhkan bantuanmu" ucap Jingga langsung menahan kedua tangan Juan yang terus memukulinya.


"Huh! Kau pasti telah menipu semua gadis itu" ketus Juan menyilangkan tangannya.


"Tuan muda, semuanya sudah selesai" ucap Paman pedagang memberitahunya.


Jingga langsung melirik tumpukan pakaian yang sudah dikemas rapi oleh para pedagang.


"Terima kasih Paman dan Bibi semuanya, ini aku kasih sedikit bonus untuk kalian" balas Jingga langsung meletakkan tujuh ratus koin emas di kursi yang didudukinya.


Setelahnya Jingga langsung memasukkan semua pakaian ke dalam cincin spasialnya lalu membuat portal dimensi ke bilik bambu lembah Sabit.


"Ayo ikut" ajak Jingga tanpa menunggu jawaban Juan, ia langsung menarik tangan Juan memasuki portal dimensi.


Berada di dalam bilik bambu yang terlihat mengkhawatirkan membuat Juan begitu waspada.


"Kenapa kau membawaku ke gubug jelek ini?" Tanya Juan dengan heran.


"Apa kau punya niat buruk kepadaku?" Imbuh pertanyaannya mencurigai pemuda yang sedang menatap keluar.


"Dih! Pikiranmu saja yang jelek, sudah tahu aku begitu geli melihat hutan rimba. Sudahlah tutup matamu" balas Jingga berbalik ke arahnya.


"Tuh kan! Kau berniat untuk melecehkanku" timpal Juan semakin mencurigainya.


Kesal dengan gadis yang begitu merepotkannya, Jingga langsung membuatnya tertidur lalu membawanya memasuki alam jiwa.


Di alam jiwanya, Jingga langsung membangunkan Putri Daishu.


"Di mana ini Kak?" Tanya Putri Daishu merasa ketakutan di tempat asing yang begitu menyeramkan untuknya.


"Kau tidak perlu mengetahuinya, aku sudah membawakan pakaian untuk para gadis, kau pakaikanlah ke mereka, nanti aku akan meminta seseorang untuk membantumu" jawab Jingga lalu mengeluarkan semua pakaian yang dikemas rapi di hadapan sang Putri.


"Baik, Kak" sahut Putri Daishu menurutinya.


Jingga langsung bergegas menghampiri Juan kemudian membangunkannya.


"Hutan rimba, bangunlah" ucap Jingga menepuk pipinya.


Juan membuka matanya, ia terlihat ketakutan memperhatikan suasana seram di tempatnya berada.


"Di mana aku?, Tempat apa ini?" Tanya Juan yang langsung merinding berada di tempat yang begitu menyeramkan.


Tak lama kemudian Jirex menghampiri dengan deraman keras.

__ADS_1


"Haa!" Jerit kedua gadis yang langsung jatuh pingsan melihatnya.


Jingga menggelengkan kepala melihat monsternya yang tanpa dosa terus melangkah menghampirinya.


"Kau ini, kembalilah bermain" pinta Jingga sambil mengibaskan tangannya.


Jirex langsung berbalik menjauhinya.


Setelah monsternya tidak lagi terlihat, Jingga lalu menyadarkan kembali kedua gadis.


Dengan wajah yang begitu ketakutan, kedua gadis langsung meluruh mendekap Jingga yang cengengesan melihat keduanya.


"Cup, cup, cup, kalian berdua membuatku hangat" celetuk Jingga sambil menepuk kedua punggung si gadis.


"Huh! Dasar Jingga jelek, kau enak saja memanfaatkan situasi" rutuk Juan langsung melepaskan dekapannya.


"Ye! Kau yang memelukku, kenapa aku yang disalahkan" kilah Jingga tidak mau kalah.


Juan langsung mendengus membelakanginya, sedangkan Putri Daishu hanya tersenyum saja melihat keduanya.


"Monster itu temanku, kalian tidak perlu takut. Sekarang cepatlah kalian memakaikan pakaian kepada para gadis, aku tidak akan melihatnya" ujar Jingga langsung berkelebat meninggalkan keduanya.


Kedua gadis saling lirik lalu beranjak mengambil pakaian dan mulai memakaikannya kepada para gadis yang masih tertidur.


Setelah beberapa waktu, Jingga kembali bersama Jirex menghampiri keduanya. Lagi-lagi kedua gadis menjerit lalu keduanya jatuh pingsan untuk kedua kalinya.


Berada di bilik bambu lembah Sabit, Jingga langsung berkelebat ke istana Xin Yue.


Semua orang yang berada di dalam istana terkejut dengan kemunculan pemuda yang selalu dicarinya.


"Kenapa kalian begitu terkejut?, Apakah kalian terkejut karena aku bisa kembali sebelum waktu yang aku janjikan kepada kalian ha ha ha" tanya Jingga sambil tertawa melihat semua orang di istana yang menatapnya heran.


"Apa maksud ucapanmu anak muda?, kau sudah menghilang selama tiga bulan lalu kembali dengan tertawa, dasar aneh" umpat penasihat raja begitu kesal.


Kali ini Jingga yang terkejut mendengarnya, ia merasa hanya dua hari menyelesaikannya.


"Berarti waktu bersama si cantik yang membuatku begitu lama" gumamnya teringat akan pertemuannya dengan Ratu Peri Xian Hou.


"Dimana putriku?" Teriak Ratu Haixiu menanyakannya sambil terisak.


Jingga langsung menarik Putri Daishu dari alam jiwanya.


Semua orang kembali terkejut melihatnya, mereka semua tidak mengerti bagaimana Jingga bisa mengeluarkan Putri mereka secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Kau tidak perlu berteriak, Nyonya. Sudah aku katakan, aku yang menjamin keselamatannya" ucap Jingga tidak senang.


"Aku tidak mau kalian banyak bertanya, semua anak-anak dan para gadis remaja ada bersamaku dalam keadaan sehat tapi aku tidak tahu berapa banyak yang sudah mati di antaranya. Sekarang aku minta satu ruangan luas untuk mengeluarkan semuanya" imbuh Jingga memintanya.


Raja Daxiang langsung mengantarnya ke taman belakang istana.


"Apakah taman ini cukup?" Tanya Raja Daxiang memilih taman istana sebagai lokasi mengeluarkan anak-anak dan para gadis.


"Cukup" jawab Jingga lalu mengeluarkan semua anak-anak dan gadis remaja dari alam jiwanya.


Kembali semua orang begitu takjub melihatnya, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengetahui tentang alam jiwa.


"Baiklah, karena tugasku sudah selesai, aku akan kembali ke istana kekaisaran Xiao" ucap Jingga lalu menghilang.


Tak lama Jingga muncul kembali, ia langsung memanggil seorang gadis yang baru saja tersadar dari tidurnya.


"Hutan rimba, apakah kau akan terus di sini atau ikut bersamaku ke kota Luyan?" Tanya Jingga melirik ke arahnya.


"Aku ikut, Jingga jelek" sahut Juan lalu berlari menghampiri Jingga.


Keduanya lalu menghilang dari taman istana kerajaan Xin Yue.


Sesampainya di kota Luyan, Jingga langsung berkelebat meninggalkan Juan yang terlihat begitu kesal.


Istana Kekaisaran Xiao.


Jingga berjalan pelan menghampiri pamannya yang terlihat begitu mabuk di depan kediamannya.


"Paman, ada apa?, Kenapa Paman begitu kusut?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Jingga kemana saja kau selama ini?" Balik tanya Jenderal Lie Zhou.


"Aku sudah menyelesaikan kasus penculikan anak dan gadis remaja di kerajaan Xin Yue" jawab Jingga lalu membopong Jenderal Lie Zhou memasuki kediamannya.


"Paman, jawablah pertanyaanku tadi, aku akan berusaha membantu Paman sebisaku" ucap Jingga mendesaknya.


Jenderal Lie Zhou menghela napas lalu menghembuskannya pelan.


"Paman gagal menjalankan tanggung jawab sebagai Jenderal, kedatangan aliansi Bintang Selatan di luar perbatasan hanya pengalihan untuk memecah konsentrasi kekaisaran Xiao. Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, aliansi Bintang Selatan menyerang kekaisaran Zhao secara mendadak, banyak pengkhianat di dalam kekaisaran Zhao yang membuat informasi menjadi terlambat" beber Jenderal Lie Zhou menceritakannya.


"Sebentar, Paman. Kekaisaran Zhao yang diserang, kenapa Paman yang terlihat begitu menderita?" Tanya Jingga memotongnya.


Jenderal Lie Zhou melanjutkannya.

__ADS_1


"Kau dengarkanlah baik-baik. Perang yang terjadi di kekaisaran Zhao memang tidak berdampak langsung pada kekaisaran Xiao, namun bukan berarti aliansi Bintang Selatan tidak akan menyerang kita juga.


Tidak hanya itu saja yang terjadi , armada laut kita pun dikalahkan oleh perompak Hei Sha yang sekarang jauh lebih kuat dari beberapa tahun silam. Paman gagal memperhitungkan keterlibatan aliansi Bintang Selatan yang bersekutu dengan kelompok Hei Sha membangun kembali perompak laut menjadi lebih kuat dan begitu mendominasi lautan.


__ADS_2