
Jingga yang melihat kedatangan para dewa hanya menyeringai dingin menanggapinya. Ia bersama istrinya melanjutkan terbang meninggalkan area perang menuju ke wilayah aliansi Bintang Selatan.
“Sayang, kita mau ke mana?” tanya Xian Hou bingung.
Jingga menolehnya sejenak lalu kembali fokus pada laju terbangnya.
“Aku akan pergi ke paviliun puncak di kota Lieren Guojia, …, tepatnya di kerajaan Kandao,” ungkapnya.
Xian Hou mengernyitkan wajah tidak mengetahui tujuan Jingga sebenarnya. Ia terus saja terdiam menunggu perkataan lanjutan dari suaminya.
“Kamu penasaran ya? Ikuti saja,” imbuh Jingga memahami tanggapan diam istrinya.
Sesampainya di kota Lieren Guojia, Jingga berputar-putar mengelilingi kota dengan mimik wajah heran. Kondisi kota Lieren Guojia terlihat hanya menyisakan tanah yang tandus tanpa ada sesuatu apa pun. Yang membuat Jingga keheranan adalah kontur tanah yang datar di sekelilingnya. Ia bingung mencari lokasi puncak paviliun yang sebelumnya merupakan sebuah bukit yang cukup besar dan tinggi.
“Sayang, ada apa?” tanya Xian Hou tidak memahaminya.
“Paviliun puncaknya hilang,” jawab Jingga masih terus mengedarkan pandangannya mencari posisi pasti keberadaan paviliun puncak.
“Sebenarnya apa yang kamu cari di paviliun puncak?” imbuh tanya Xian Hou begitu penasaran.
“Aku memiliki pasukan beast monster beruang hitam. Aku akan memanggilnya untuk membantu pengikutku berperang dengan pasukan istana Langit.”
“Apa mereka terikat kontrak jiwa denganmu, Sayang?”
Sorot mata Jingga bersinar terang mengingatnya. Ia lalu mencoba memanggil para beast monster melalui teleportasi alam jiwa.
GROAR!
Terdengar deraman dari para beast monster menyahuti panggilannya. Jingga lalu memintanya untuk datang menemuinya.
“Terima kasih, istriku.” Jingga mengecup kening istrinya.
“Ayo kita kembali!” ajak Jingga langsung menggenggam jemari tangan istrinya.
Beberapa saat kemudian, Jingga dan Xian Hou sudah berada di sudut terluar zona bebas. Pandangan Jingga langsung tertuju ke arah seorang dewa yang sedang asyik mengamati peperangan sambil menikmati arak bersama dua gadis cantik di kedua sisinya.
“Sayang, aku akan menyapa dewa yang berada di sana,” ucap Jingga sambil menjulurkan tangan menunjuk ke arah keberadaan dewa yang tidak jauh dari posisinya.
Xian Hou langsung menoleh mengikuti arah telunjuk suaminya.
“Biar aku saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan,” ucap Xian Hou lalu menyeringai.
“Ha-ha-ha, jangan terlalu menyiksanya, Sayang,” balas Jingga tidak berani membayangkan tingkah istrinya.
“Jangan terlalu khawatir, aku hanya akan bermain-main saja,” timpal Xian Hou lalu melayang ke arah sang dewa.
__ADS_1
Jingga menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali fokus menyaksikan peperangan di hadapannya.
Xian Hou yang menyamar menjadi nenek Sashuang menampilkan wajah ketus menghampiri seorang dewa berusia sekitar 40-an tahun dari perawakannya. Sang dewa dan kedua gadis merasa heran melihat seorang nenek judes menghampirinya.
“Anda siapa?” tanya sang dewa tidak mengenalinya.
“Oh, jadi begitu caramu setelah meniduriku lalu seenaknya saja kau membuangku dan sekarang kau berpura-pura tidak mengenalku. Kamu jahat. Hiks.”
Xian Hou menangis tersedu seolah dirinya adalah korban asmara sang dewa.
“Hei! Apa maksudmu mengatakan itu? Siapa kau sebenarnya?” lontar tanya sang dewa semakin bingung dibuatnya.
“Terus saja menyangkalnya … begitu teganya kau mempermainkan perasaanku. aku tidak akan berhenti sampai kau menikahiku. Nikahi aku sekarang!”
Kesal juga sang dewa dibuatnya. Ia lalu mengambil pedang dari cincin spasialnya dan menjulurkan ujungnya ke leher Xian Hou.
“Pergi atau mati?” ancam sang dewa begitu geram.
SRET!
Kepala sang dewa jatuh bersama dengan tubuhnya. Entah kapan Xian Hou memenggalnya. Kedua gadis terperangah melihatnya.
“Nona-Nona, temani tuanmu, ya,” ucap Xian Hou lalu mengayunkan pedang ke arah leher kedua gadis.
“Sialan! Dramaku sangat buruk,” keluh Xian Hou lalu berbalik menghampiri suaminya.
“Tidak apa-apa. Bagaimana perkembangannya?” jawab Xian Hou balik bertanya.
“Lihat saja, para pengikutku masih mendominasinya. Aku jadi heran apa maksud dari kaisar Langit mengirim banyak pasukan untuk mendeklarasikan perang terhadap bangsa iblis?”
“Mudah saja. Kaisar Langit ingin memiliki alasan untuk menguasai ketiga alam.”
“Dengan mengorbankan ribuan pasukannya? Apa itu bukan tindakan yang sangat bodoh?”
“Tidak cukup waktu untuk menjelaskannya. Suatu hari nanti, kau akan mengetahuinya sendiri.”
Sulit bagi Jingga untuk memahami perkataan istrinya. Namun, ia semakin bertekad untuk mencari tahu kebenarannya di alam dewa. Jingga kembali memfokuskan pandangannya menyaksikan peperangan yang masih berlangsung dengan sengit.
Kilatan-kilatan petir di langit masih terus bersahutan mengiringi peperangan yang mulai terlihat timpang. Lebih dari setengah pasukan istana Langit gugur di medan perang. Uniknya, tidak ada satu pun pengikut Jingga yang gugur dalam perang.
Jirex yang memiliki ketahanan fisik, kecepatan lari, dan ketajaman cakar maupun taringnya membuat para pasukan istana Langit tidak bisa mengimbanginya.
Demikian juga dengan para murid dari sekte Mofa Gu yang begitu brutal dan sangat mematikan tanpa lelah terus membantai pasukan istana Langit. Duet sang ratu ilbis bersama iblis hitam pun tak kalah brutalnya dalam membantai. Begitu pun dengan pengikut Jingga yang lainnya seperti keluarga klan Linghun Lieshou, Nuren dan Feichang, Xinxin dan Nona Chyou, bahkan Jenderal Jieru yang memimpin 20 pasukan istana iblis tampak begitu mudah membantai para pasukan istana Langit.
GROAR!
Gemuruh langkah kaki dan raungan keras beast monster mulai terdengar dari arah belakang Jingga dan Xian Hou.
__ADS_1
“Sayang, beast monstermu telah tiba,” kata Xian Hou memberitahunya.
“Tunggulah di sini, aku akan turun menemuinya,” balas Jingga lalu melayang turun.
Lebih dari 300 beruang hitam berlarian menghampiri Jingga yang berdiri di batas wilayah aliansi Bintang Selatan dengan area zona bebas.
GROAR!
Para beast beruang hitam meraung keras menemui tuannya. Jingga tersenyum senang melihat para beast monsternya yang begitu bersemangat menunggu titah darinya.
“Terima kasih, kalian semua telah datang menemuiku. Akan tetapi, pertarungan kalian masih belum dimulai. Kalian bersiagalah! Aku akan memberikan perintah ketika telah tiba waktunya,” ujar Jingga lalu melayang terbang menghampiri istrinya.
GROAR!
Sahut para beast beruang hitam lalu membentuk formasi siaga dan beberapa beruang berputar mengelilingi kelompoknya.
“Sayang, portal dimensi telah tertutup. Para dewa yang mengamati perang telah kembali ke alam dewa,” kata Xian Hou melaporkannya.
“Secepat itu.” Jingga masih tidak memahami maksud dari kaisar Langit.
Dalam kebingungannya, Jingga sampai tidak tahu peperangan telah usai. Di area perang, para pengikutnya sedang berselebrasi merayakan kemenangan yang sangat cepat.
“Sayang!” tegur Xian Hou sambil menepuk kedua pipi suaminya.
Jingga sedikit terperanjat menatap kosong sang istri yang menatapnya dengan tajam.
“Maaf, istriku. Banyak hal yang membuatku bingung,” ucap Jingga.
“Perangnya sudah usai,” kata Xian Hou memberitahunya.
“Oh,” balas Jingga masih tidak sadar pada ucapan istrinya.
“Begitu saja,” imbuh Xian Hou menanggapi.
“Memangnya kenapa?” tanya Jingga tidak mengerti.
Kesal juga Xian Hou mendengarnya. Ia lalu memutar wajah Jingga ke area perang.
“Perhatikan baik-baik ya, Sayang.”
Jingga kemudian menatap fokus area perang yang tidak ada lagi pertarungan yang berlangsung.
“Eh, kok tidak ada pertarungan?” Heran Jingga baru menyadarinya.
“Sudah dari beberapa waktu tadi,” ketus Xian Hou menjawabnya.
“Kenapa kamu tidak bilang?” tanya Jingga menyalahkan istrinya.
__ADS_1
“Sayang, mau aku pukul lagi?” ancam Xian Hou begitu kesal.