
Kini, hanya menyisakan Taiyangshen yang tubuhnya tidak lagi utuh, karena kedua tangan dan kakinya telah hancur diledakkan oleh kedipan iblis.
Hatinya sangat pilu tatkala mendengar suara yang dikenalinya. Tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukannya, Taiyangshen pasrah menghadapi kematiannya.
Dalam benaknya, ia akhirnya tahu, Jingga bukanlah lawan yang sebanding dengan dirinya. Biarpun begitu, ia tidak ingin menyesalinya. Jingga memang pantas mendapatkan kemenangan darinya. Ia pun siap untuk menerima kematiannya.
“Musnahkan aku sekarang! Kini aku tahu siapa lawanku sesungguhnya. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita akan kembali bertarung dengan kekuatan yang sama dan pertarungan kita akan menjadi sejarah abadi di alam semesta ini,” ucap Taiyangshen lalu menutup kedua matanya.
Jingga terharu mendengar pengakuan lawannya. Ia pun tersenyum menyetujuinya.
“Baiklah, tapi sebelumnya aku minta maaf kepadamu, harusnya aku tidak menunjukkan diriku yang sesungguhnya dengan begini cepat. Pertarungan kita jadi cepat berakhir,” balas Jingga sedikit kecewa sambil menggeleng pelan.
Taiyangshen sedikit terperangah mendengarnya. Ia lalu membuka kembali matanya, tatapannya begitu sayu memperhatikan Jingga di depannya.
“Sebelum aku mati, bolehkah aku tahu, berada di mana tingkat kekuatanmu?” tanya Taiyangshen ingin mengetahuinya.
“Aku berada di luar piramida kultivasi … hem, berhubung kau akan mati, aku akan mengatakannya kepadamu–,”
Jingga mengedipkan lagi matanya.
Duar!
Kepala Taiyangshen langsung hancur seketika.
“Tanyakan saja kepada siapa pun nanti yang kau temui di kehidupanmu selanjutnya. Ha-ha,” imbuhnya lalu menjentikkan jari ke arah tubuh Taiyangshen yang meluncur jatuh ke bawah.
Setelah itu, Jingga menengadahkan wajah menatap reruntuhan langit yang masih berlangsung. Pandangannya kosong, tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan.
Tiba-tiba saja, suasana langit berubah menjadi gelap namun dipenuhi dengan kerlipan bintang-bintang yang bercahaya menghiasi luasnya kegelapan.
“Ternyata seperti ini bentuk semesta setelah mengalami kehancuran,” gumam Jingga begitu takjub memandangi kekosongan alam.
Wuzz!
Lima bintang melesak cepat berputar-putar di atas kepalanya. Jingga terus memperhatikannya dengan begitu kagum.
__ADS_1
“Selamat datang di Alam Hampa, Penguasa Iblis,” ucap seorang pria yang suaranya terdengar seperti suara orang tua.
Jingga memindainya, namun tidak ditemukan sosok pria tua yang berbicara kepadanya. Ia lalu memutar tubuh mencarinya. Akan tetapi, tetap saja tidak ada seorang pun yang terlihat di sekitarnya. Ia kemudian terdiam sambil memegangi dagu memikirkan perkataan dari pria itu.
“Alam Hampa, apakah itu merupakan ruang uji kelayakan seperti yang pernah aku masuki?” kata Jingga mengingat ruang yang menjadi tempat dirinya diuji oleh para iblis untuk menjadi penguasa.
Wuzz!
Embusan angin mengenai wajahnya. Tak lama kemudian, tampaklah lima sosok yang begitu elok, tenang, berwibawa, dan sangat anggun sikapnya. Di antara kelima orang tersebut, ada satu sosok yang mencuri perhatian Jingga. Seorang wanita dengan kecantikan yang sempurna, sekilas mirip dengan mantan istrinya, Xian Hou. Namun, terlihat lebih dewasa.
Tubuhnya yang elok memancarkan cahaya keemasan, sementara matanya berkilauan dengan kebijaksanaan yang tinggi.
Kedatangan kelimanya membuat Jingga terpesona. Aura kelimanya berbeda dengan cultivator mana pun di tiga alam yang pernah ditemuinya. Energi spiritual dari kelimanya begitu absolute. Terasa halus namun sangat padu terbentuk di dalam tubuh kelimanya. Aura yang terpancar dari kelimanya tidaklah menekan, bahkan terasa seperti angin yang lembut. Tidak ada tingkatan ranah kultivasi dari tubuh kelimanya. Tampak seperti tubuh anak kecil yang belum berkultivasi.
Jingga terlihat tidak sabar ingin mengetahui siapa kelimanya.
“Kalau boleh tahu, siapakah kalian? Dan apa yang membuat kalian menemuiku? Dari apa yang kulihat, kalian berlima bukanlah sosok jahat. Tidak mungkin kedatangan kalian untuk menguji kekuatanku.” Lontar tanya diajukan Jingga dengan penuh rasa ingin tahu.
Seorang pria paling tua tersenyum lembut lalu berkata, “Kau memang cerdas,” pujinya, “kami adalah lima pilar semesta. Apa yang terjadi di tiga alam merupakan takdir yang tidak bisa kami mencampurinya ....
“Aku adalah Dewa Hampa, dan keempat lainnya yang datang bersamaku adalah Dewa Kematian, Dewi Kehidupan, Dewa Cahaya, dan Iblis Kegelapan.”
“Tujuan kami menarikmu ke sini adalah untuk memindahkanmu ke alam semesta lainnya,” sambung kata Dewa Hampa.
“Tunggu! Apa maksudmu adalah Sanbuqu?” potong Jingga mengingatnya.
“Ternyata kau sudah mengetahuinya. Akan tetapi, kau tenang saja, kami tidak akan menyegelmu di sana seperti para pendahulumu. Lagipula, ada dua gadis yang akan menemanimu,” jawab Dewa Hampa lalu melirik ke arah Dewi Kehidupan.
Sang dewi langsung mengeluarkan kedua gadis dari alam jiwanya.
Tampak kedua gadis itu adalah Xian Hou dan Qianmei. Jingga terkekeh pelan melihat keduanya.
“Pantas saja kalian berdua menghilang dari pertarungan. Ternyata disembunyikan Dewi Cantik, ha-ha,” kata Jingga begitu senang bisa bertemu kembali dengan keduanya.
“Eh, bagaimana kalian berdua bisa berbaikan? Bukankah kalian berdua berkeinginan untuk saling membunuh?” tanya Jingga kepada keduanya.
“Kami tidak rela kalau kau memilih Dewi Kehidupan daripada salah satu dari kami,” jawab keduanya serentak.
__ADS_1
“Ha-ha-ha, Dewi Kehidupan memang cantik, tapi bukan seleraku,” kata Jingga.
Dewi Kehidupan tersenyum menanggapinya. Jingga yang melihat senyumnya langsung terpana dan jatuh hati.
Xian Hou dan Qianmei terbakar cemburu melihat tatapan Jingga yang menyebalkan bagi keduanya.
“Dewa Hampa, cepatlah! Sebelum pria hidung belang ini berulah,” kata Xian Hou memohon.
“Baiklah, Nona Peri. Aku akan membuka portal ke Sanbuqu Tiga,” balas Dewa Hampa merasa lucu melihat kecemburuan dari kedua gadis.
Jingga yang mendengarnya langsung tersadar dan mengalihkan pandangan ke arah Dewa Hampa.
“Tunggu, Dewa! Bolehkah aku meminta sesuatu?” kata Jingga cepat.
“Katakanlah!” balas sang dewa mengizinkannya.
“Aku memiliki seorang adik yang terluka parah, dia berasal dari Sanbuqu Lima. Aku ingin membawanya ke sana, …, satu lagi, aku harus mengubur jasad adikku, Naninu di alam fana. Bolehkah aku menguburkannya sebelum pergi ke semesta lain?” ungkap Jingga menyampaikannya.
Dewa Hampa mengusap dagu memikirkannya. Sesekali ia melirik keempat dewa lainnya.
“Dewa, bagaimana kalau aku menghidupkannya kembali?” cetus Dewi Kehidupan menawarkan.
Dewa Hampa mengerutkan kening yang sudah berkerut menanggapi tawaran yang disampaikan oleh Dewi Kehidupan.
“Kematiannya merupakan takdir yang sudah digariskan. Meskipun kau bisa menghidupkannya, gadis itu tidak bisa mengikuti mereka bertiga ke semesta lain,” jelas Dewa Hampa.
“Tidak masalah, Dewa. Aku akan senang melihatnya kembali hidup daripada harus menguburkannya,” kata Jingga berharap.
Qianmei dan Xian Hou mengangguk menyetujui ucapan Jingga.
“Baiklah kalau seperti itu, tapi dia tidak bisa menjadi manusia seperti sebelumnya, karena itu menyalahi takdir,” ujar Dewa Hampa mengizinkannya.
“Aku akan menjadikannya seorang peri yang akan menjaga nilai kehidupan di alam fana,” timpal Dewi Kehidupan memberi solusi.
Semua dewa setuju dengannya. Jingga dan kedua gadis pun senang mendengarnya. Selanjutnya, Jingga mengeluarkan jasad Bai Niu dari alam jiwa dan langsung menyerahkannya kepada Dewi Kehidupan.
Setelahnya, Dewa Hampa langsung membukakan portal dimensi ke Sanbuqu Lima. Begitu portal terbuka, Jingga bersama Xian Hou dan Qianmei langsung berkelebat memasukinya.
__ADS_1
Tamat.