
Sesampainya di bale bambu, Jingga langsung menarik tubuh kedua adiknya dan meletakkannya di alas bambu.
"Kak, bagaimana dengan misinya?" Tanya Qianfan merasa tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan keduanya.
"Misinya batal, sekte Jangkrik Xianhui akan mengeksekusi para gadis. Itu karena aku mengerjai tuan muda sampai ia muntah karena jijik hehehe" jawab Jingga sambil terkekeh mengingat kejadiannya.
"Pantas saja, Kakak langsung kembali pagi ini. Jadi apa rencana kita selanjutnya?" Tanya kembali Qianfan.
Jingga langsung tertawa mendengarkannya.
"Kau ini, rencana terus yang dipikirkan, menikmati hidupnya kapan? Sematang apa pun rencana yang kita persiapkan, takdirlah yang menentukan" ujar Jingga mengacuhkan sementara rencananya.
"Mending kita perbaiki gubuk Nenek Sashuang sebelum Nenek ganjen itu kembali" imbuhnya.
"Baik, Kak! Bagaimana dengan Niu'er dan Zhia'er yang masih tidak sadarkan diri?" Balas Qianfan.
Jingga langsung melirik kedua adiknya yang berbaring lalu memasukkan pil kehidupan kepada keduanya.
"Sebentar lagi keduanya sadar, Adik cantik. Tolong jaga keduanya!" Ucap Jingga melirik Qianmei.
Qianmei tersenyum simpul mendengarnya lalu mengangguk pelan.
Jingga dan Qianfan mulai menebang beberapa batang bambu dan merakitnya.
Tepat ketika posisi matahari condong ke arah barat. Keduanya selesai membangun kembali gubuk Nenek Sashuang.
"Mantap, hasilnya sangat bagus" puji Jingga sambil berdecak pinggang.
Baru saja keduanya berbalik ke arah bale bambu.
Dhuar!
Seberkas energi menghancurkan kembali gubuk Nenek Sashuang.
"Sialan! Siapa yang berani menghancurkan gubuk yang aku bangun?" Geram Jingga yang sudah susah payah membangunnya.
Tampak seorang nenek tua melayang turun dengan sorot mata membunuh.
"Nenek!" Ucap Jingga begitu terkejut melihat Nenek Sashuang berdiri menatapnya dengan tajam.
Tanpa berbicara, nenek Sashuang langsung menyerang Jingga dengan buas.
Wuzz!
Dhuar!
Jingga terlempar jauh ke pepohonan di belakangnya. Nenek Sashuang seperti tidak memberinya kesempatan untuk berdiri, ia langsung menyerangnya kembali.
Dhuar!
Dhuar!
Jingga terus terlempar jauh menabrak pepohonan yang langsung hancur terkena hantaman tubuhnya.
"Tunggu!" Teriak Jingga meminta nenek Sashuang untuk berhenti menyerangnya. Namun permintaan Jingga diacuhkannya, Nenek Sashuang terus menyerangnya.
Qianfan dan ketiga adik perempuannya langsung melesat membantunya.
Nenek Sashuang tanpa melirik keempatnya langsung melemparkan keempatnya memasuki dimensi alam jiwanya.
Jingga begitu terkejut dengan kemampuan nenek Sashuang yang memiliki dimensi alam jiwa sama sepertinya.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya Nenek Sashuang ini? Kenapa dia begitu marah kepadaku?" Tanya pikirnya begitu sulit memahami.
"Jianhuimie Yuzhou"
"Tarian pedang Asura"
Jingga berkelebat dengan kecepatannya menyerang nenek Sashuang.
Kembali ia terkejut karena nenek Sashuang dengan mudah menghindari tebasannya.
"Ini tidak mungkin, bagaimana dia bisa menghindari seranganku?" Gumam batin Jingga begitu sulit memahaminya.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, nenek Sashuang membalas serangannya.
Berbeda dengan para kultivator yang mampu menciptakan ratusan sampai ribuan berkas energi spiritual.
Nenek Sashuang bisa menutup ruang udara dengan energinya yang begitu lembut namun mematikan.
Tidak ada tempat untuk Jingga bisa melarikan diri. Ia kembali terlempar jauh sampai menghancurkan sebuah bukit.
Boom!
Bukit yang terkena tubuhnya langsung hancur seketika.
"Sial! Kekuatan macam apa ini? Aku kira kekuatanku berada paling atas di seluruh semesta" rutuk Jingga kembali terlempar jauh menghancurkan ratusan pohon di belakangnya.
Kali ini ia langsung berlutut dengan menancapkan pedangnya di tanah yang sudah menjadi kawah panjang. Ia tidak berniat menyerang nenek Sashuang.
Nenek Sashuang sudah berada di atasnya, ia menatap pemuda yang terlihat menyerah menghadapinya.
"Lemah!" Cibirnya begitu kecewa dengan pemuda di depannya.
Jingga menengadahkan kepala menatapnya, ia tidak berani mengatakan apa pun kepadanya.
"Tunggu! Sebelum kau membunuhku, bolehkah aku menitipkan pesan kepadamu?" Tanya Jingga memintanya.
"Katakan!" Jawab nenek Sashuang mengizinkannya.
"Aku tidak peduli kau mengetahuinya atau tidak, ada seorang gadis yang harus mengetahui perasaanku. Dia adalah Ratu Peri Xian Hou. Katakan kepadanya, aku sangat mencintainya" ucap Jingga lalu menutup kedua matanya.
Nenek Sashuang tersentak hatinya mendengar perkataan tulus pemuda di depannya. Ia langsung melemparkan kembali keempat adiknya dari alam jiwanya lalu menarik masuk Jingga ke dalam alam jiwanya.
Bugh!
"Wadaw!" Ringisnya merasakan sakit di seluruh badannya.
Jingga jatuh dengan keras bergulingan di area rerumputan dan langsung tidak sadarkan diri.
Hari-hari pun berlalu dengan cepat, Jingga membuka kembali matanya menatap bunga-bunga yang bergelantungan mengambang di atasnya.
"Inikah kematian, kalau tahu begini indahnya, mungkin semua orang memilih mati daripada hidup harus bersusah payah" gumamnya merasakan ketenangan berada di tempatnya.
"Kau sudah bangun rupanya" ucap seorang gadis tidak jauh darinya.
Jingga yang masih mengenal suaranya langsung hanyut dalam angan-angannya.
Ia melirik seorang gadis bergaun putih dengan mahkota menempel di kepalanya.
"Hou'er!" Panggilnya lalu berlari menghampiri gadis pujaan hatinya.
"Jangan mendekat! Iblis lemah sepertimu tidak pantas untukku" timpal Xian Hou menahan langkah pemuda yang menghampirinya.
__ADS_1
"Tidak masalah, setidaknya aku bisa bertemu denganmu lagi, itu sudah cukup untukku, bunuhlah aku jikau kau menginginkannya. Aku pastikan akan tersenyum menatapmu dalam kematianku" balas Jingga terus menatapnya tanpa mau berkedip sekalipun.
Lama kelamaan pegal juga matanya menahan kelopak matanya untuk tidak menutup walau hanya sekian mili detik.
Xian Hou tersenyum dalam hatinya, namun ia sengaja tidak menunjukkannya.
Semakin lama menahannya, Jingga yang kekuatannya terbelenggu dalam dimensi alam jiwa Ratu Peri Xian Hou tak ubahnya seperti manusia biasa, matanya menjadi merah.
Keteguhan hatinya yang tidak ingin melepas pandangannya membuat dirinya tidak peduli akan matanya yang merasakan perih.
"Mau sampai kapan kau akan seperti itu?" Tanya Xian Hou tanpa meliriknya.
"Sampai memastikan dirimu yang terakhir aku lihat" jawab Jingga begitu tulus.
"Kemarilah!" Pinta Xian Hou lalu melepaskan belenggu yang menahan langkah kaki Jingga.
Jingga melangkah cepat mendekatinya.
Plak!
Jingga merasakan sakit di wajahnya namun ia menikmatinya. Ia mengelus lembut pipinya, tidak ingin rasa sakitnya hilang.
"Kenapa kau mengkhianatiku?" Tanya Xian Hou.
Jingga termenung tidak bisa menjawabnya, ia sendiri masih belum memahami maksud pertanyaannya.
"Kenapa kau diam?" Imbuh tanya Xian Hou.
"Aku tidak tahu maksud pertanyaanmu itu, di hatiku hanya ada dirimu seorang" jawab Jingga seadanya.
"Bagaimana rasanya adikmu? Kau terlihat begitu menikmatinya, bahkan kau menambahnya" tanya kembali Xian Hou.
"Ba- bagaimana kau mengetahuinya?" Tanya Jingga begitu gugup.
"Sama seperti kau mengikat jiwa monstermu, aku pun mengikat hatimu. Tidakkah kau masih mengingatnya waktu kau datang kemari" jawab Xian Hou.
"Tapi, bukankah dulu kau menguatkan hatiku, kenapa sekarang kau mengatakan telah mengikat hatiku?" Kilah Jingga mempertanyakannya.
Xian Hou tersenyum lembut mendengarnya, Jingga yang melihat senyumannya langsung menetes salivanya. Ia bahkan harus menutup mulutnya agar tidak dilihat pujaan hatinya.
"Hati setiap makhluk hidup itu miliknya sendiri, tidak mungkin ada yang bisa merubahnya. Kuat atau tidaknya itu berasal dari dirimu sendiri, aku mengikat hatimu supaya kau tidak begitu cepat menghancurkan semesta ini, tapi kau malah mencuri hatiku dengan rayuan gombalmu itu, kau iblis yang menyebalkan!" Jawab Xian Hou menjelaskannya.
Jingga langsung terdiam mendengarnya, ia lalu tertawa pelan.
"Kau yang duluan menjerat hatiku, aku bahkan tidak bisa lagi melihat kecantikan dari gadis lainnya, kau peri yang menyebalkan" balas Jingga menyalahkannya.
Jingga langsung menarik wajah Xian Hou dan menciumnya lalu melanjutkannya ke arah yang lebih dalam.
Entah berapa lama dan berapa kali keduanya larut dalam hubungan yang diawali oleh rasa cinta keduanya.
Keduanya duduk berpelukan di atas teratai yang melayang di taman bunga, keduanya mengikrarkan janji sebagai pasangan suami istri.
"Sudah lama kau berada di sini, kembalilah ke alam nyata" ucap Xian Hou memintanya.
Jingga mengangguk menyetujuinya.
"Sebelum aku pergi, bisakah kau menjelaskan kepadaku kenapa kau bisa mengalahkanku waktu itu?" Tanya Jingga masih penasaran.
"Baiklah sayang, mungkin kau pernah mendengar tentang kekuatan tertinggi di alam kultivator bukanlah seorang kultivator, aku adalah salah satunya. Kau harus tahu, semesta ini diciptakan dengan keseimbangan, dan dibalik dari keseimbangan adalah kehampaan. Kau pun memiliki lawan yang sedang menunggumu di sudut tersembunyi alam dewa sebagai suatu keseimbangan" jawab Xian Hou menjelaskannya.
Jingga mengangguk-anggukan kepala mulai memahaminya.
__ADS_1
"Terima kasih istriku, apa pun nantinya, bagian terbaik dari takdirku adalah memilikimu. Sisanya aku hanya akan menjalaninya saja" timpal Jingga yang sedang berbunga-bunga hatinya merasakan kebahagiaan bersama istrinya.
Xian Hou langsung membuat portal dimensi ke gubuk rumahnya.