
Sebelumnya, Ratu Kalandiva bersama para pengikutnya yang telah sampai di alam Dewa langsung disambut oleh beberapa dewa yang ditugaskan oleh Kaisar Langit.
“Selamat datang, Nyonya dan semuanya. Akhirnya kalian tiba juga di alam Dewa,” kata seorang pria paruh baya menyambutnya.
“Tidak perlu berbasa-basi, antar kami menghadap Yang Mulia,” balas Ratu Kalandiva tidak menyukai keberadaan para dewa yang menyambutnya.
“Ha-ha-ha, baiklah.” timpalnya.
Para dewa langsung membawa Ratu Kalandiva bersama rombongannya ke istana Langit. Sesampainya di ruang utama istana. Kaisar Langit menyambutnya dengan sambutan yang hangat.
“Selamat datang di Istana Langit, Nyonya,” sapa Kaisar Langit dengan senyumnya yang lebar.
“Kalian para dewa selalu saja berbasa-basi,” ejek sang ratu menyindirnya.
“Ha-ha, baiklah … bagaimana dengan tugas yang kuberikan?” balas Kaisar Langit, “sebelumnya aku mohon maaf, banyak dari pasukanmu yang gugur.”
“Tidak masalah, Yang Mulia. Itu sudah menjadi resiko. Begitu pun denganku, aku minta maaf atas gugurnya pasukan Langit pada serbuan terakhir. Penguasa Iblis sangatlah cerdik dan sulit ditebak.”
“Ya, itulah kenapa aku hanya mengirimkan sedikit pasukan untuk menyerang istana Monster. Setidaknya dia belum curiga sampai Nyonya datang menghadapku.”
“Yang Mulia tidak perlu khawatir soal itu. yang penting aku sudah berhasil memasukkannya ke alam Sutera. Kini tinggal Yang Mulia sendiri yang melanjutkan. Tugasku sudah selesai.”
“Terima kasih, Nyonya. Kuharap, Nyonya bisa tinggal beberapa hari di istanaku.”
“Baik, Yang Mulia.”
Setelahnya, Kaisar Langit langsung memanggil para pejabat istana untuk mendiskusikan serangan yang akan dilancarkan di alam Sutera termasuk memerintahkan dua orang dewa untuk menjemput dewa Alam Sutera.
Kembali ke alam Sutera, genderang perang mulai ditabuh pasukan langit yang memenuhi langit. Tak lama kemudian, kepulan hitam melaju cepat ke arah pohon besar di mana Jingga dan kedua adiknya berdiri. Langit pun bergemuruh keras, lengkingan suara dari ribuan anak panah sanggup menggetarkan alam Sutera.
“Suara yang indah. Aku menyukainya,” kata Jingga langsung merentangkan kedua tangan, bersiap menyambutnya.
Mirip dengan Jingga, Bai Niu terus tersenyum lebar melihat kedatangan anak panah yang melaju cepat ke arahnya. Sedangkan Qianmei terlihat sedang memutar jemari, ia merapalkan mantra untuk merubah dedaunan menjadi ribuan anak panah lalu melepaskannya.
DUAR! DUAR! DUAR!
Benturan dari anak panah menciptakan ledakan yang sangat keras dan bersahutan di udara. Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Jingga, ia lebih memperhatikan siluet yang terbentuk di langit.
“Dimensi yang unik!” seru Jingga terus memperhatikannya.
“Kak, mereka turun,” kata Bai Niu memberitahunya.
“Iya, aku melihatnya. Apa kalian berdua sudah siap?” balas Jingga melirik kedua adiknya.
“Sangat siap, Kak,” jawab keduanya serentak.
BRRRR!
Tanah bergetar keras tatkala ribuan pasukan istana Langit menjejakkan kaki. Namun, mereka tidak langsung menyerang Jingga, mereka berbaris menunggu perintah.
WUZZ!
__ADS_1
Tap, tap.
Lebih dari sepuluh dewa yang berpakaian zirah emas turun tiga tombak di depan Jingga dan kedua adiknya. Mereka melangkah mendekat.
“Jadi kau yang disebut sebagai penguasa iblis,” ucap seorang dewa beralis tebal terus memperhatikan Jingga dari atas kepala sampai ke kaki.
“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau tidak normal?” tanya Jingga menanggapinya.
“Cih! Kau masih bisa bercanda di akhir hidupmu, sungguh memalukan!” balas sang dewa mencemooh.
“Kau harusnya merasa bersyukur, sebagai calon mayat. Kau bisa berbicara denganku,” balas Jingga tak ingin kalah.
“Ha-ha-ha. Kau cukup mena–”
SRET! DUGH!
Belum selesai sang dewa berucap, kepalanya telah lebih dulu jatuh menggelinding. Sebelas dewa yang melihatnya langsung mundur satu langkah dengan tatapan tidak percaya.
“Ba-bagaimana bisa kau memenggalnya dengan begitu cepat?” tanya dewa berwajah kotak masih tidak memahami.
“Bahkan pedang yang kupakai adalah milik pasukan yang berada di ujung sana,” kata Jingga sambil menunjuk ke arah terjauh dari keberadaan para pasukan.
Semua orang langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Jingga. Seorang pasukan yang pedangnya tidak lagi berada di sarungnya tampak menggigil ketakutan dengan mulut yang menganga dan mata melebar.
“Kalian tidak perlu heran seperti itu, ayo kita mulai pertarungan kita!” imbuh Jingga lalu melemparkan pedang ke arah pemiliknya.
WUZZ! SRET!
Seorang pasukan pemilik pedang langsung tewas seketika, setelah pedang miliknya menancap tepat di keningnya. Lagi-lagi, hal itu membuat mental para pasukan istana Langit semakin menciut.
SRET! BUGH!
Kembali sepotong kepala jatuh menggelinding di tanah. Kali ini yang menebasnya adalah Qianmei.
“Kenapa kalian banyak bicara?” tanya Qianmei mulai tidak sabar.
Belum sempat para dewa berzirah emas menjawab pertanyaan Qianmei, kepala mereka telah lebih dulu jatuh menggelinding. Pelakunya kali ini adalah Bai Niu. Ia mengikuti cara Jingga mengambil pedang milik seorang prajurit untuk menebas leher para dewa di depannya.
Ribuan pasukan istana Langit mulai goyah melihat belasan komandan yang memimpin mereka mati sia-sia.
“Apakah kalian akan terus berdiam diri atau kita mulai saja pertarungannya?” tanya Jingga sambil melangkah mendekati pasukan yang mundur menjauhinya.
SIU! TRAK! DUAR! BRRR!
Jingga menepis serangan dadakan dari atas langit. Ia mendongak memperhatikan seorang dewa melayang turun ke arahnya.
“Seranganmu sangat buruk, Tuan,” ucap Jingga mencemoohnya.
“Aku hanya ingin menggetarkan alam ini, kebetulan saja energi yang kulemparkan mengarah kepadamu. Ha-ha,” kekeh sang dewa yang masih melayang di atas Jingga.
“Aku baru tahu, ternyata para dewa lebih senang membual daripada bertindak. Sepertinya bangsa kalian memang layak aku musnahkan.”
“Ha-ha-ha. Kau ini sangat lucu, kau sendiri yang membual malah mengatakan kami para dewa yang membual.”
__ADS_1
“Turunlah, aku tidak akan memenggalmu seperti para dewa yang tergeletak tanpa kepala di depanku. Ayolah, Tuan Mata Tiga!”
“Hiaat!”
WUZZ! DUAR!
Tanah hancur terkena ujung tombak yang diayunkan dengan cepat dan bertenaga oleh dewa Mata Tiga. Namun, upayanya tidak berhasil menyentuh Jingga.
“Sangat lambat dan lemah! Apa kau akan menyerangku dengan cara seperti itu?” kata Jingga mencemoohnya.
“Sialan! Aku bahkan tidak melihat kapan dia bergerak,” rutuk sang dewa Mata Tiga langsung berbalik melihat Jingga yang berada lima tombak jaraknya.
WUZZ!
Kembali sang dewa Mata Tiga melesak menyerang Jingga. Kali ini Jingga tidak menghindarinya, ia hanya mengangkat dua jari manis untuk memiting ujung tombak yang mengarah kepadanya.
SRET!
Jingga tersenyum simpul menahan ujung tombak dengan kedua jari.
“Kekuatan macam apa yang kautunjukkan kepadaku?” Jingga terlihat tidak puas dengan kemampuan sang dewa.
“Ka-kau, kau jangan sombong!” balas sang dewa mulai bercucuran keringat dingin dari wajahnya.
“Aku paling sebal dengan orang berkemampuan rendah namun sangat begitu angkuh dalam berbicara.”
“Lalu, kenapa kau masih saja berbicara?” tanya seorang pria tua yang tiba-tiba saja berada di dekat keduanya.
“Supreme Emperor Kristal!” kata Jingga memuji tingkat kultivasi sang pria tua.
“Kau mampu mengetahui tingkat kultivasiku, berarti kultivasimu lebih tinggi dariku. Namun amat disayangkan, kau memilih jalur iblis dalam kultivasimu.”
“Karena aku seorang iblis.”
“Akan aku buktikan kepadamu, tingkatan kultivasimu tidak lebih dari ranah di bawahku.”
“Aku sungguh ingin mengujinya.”
“Aku suka semangatmu, Iblis Muda. Tapi sebelum kita memulainya, alangkah baiknya aku tahu siapa dirimu.”
“Bagaimana kau bisa tidak mengenaliku, sedangkan kau datang ke sini untuk melawanku?”
“Kau jangan salah paham. Dewa yang memintaku pun tidak mengenali dirimu. Aku hanya penasaran dengan rumor keberadaan penguasa iblis yang ramai dibicarakan di alam Dewa. Aku sendiri tidak yakin kalau itu dirimu. Kau terlihat terlalu muda untuk menjadi seorang penguasa. Mungkin hanya cocok menjadi kepala suku atau lebih tepatnya menjadi ketua pemuda di perkumpulan para pemuda klan.”
Jingga mengerucutkan bibir menanggapi ucapan pria tua tersebut. Ia terus diam sampai sang pria tua berhenti berceloteh.
“Terima kasih atas pujian tak berguna itu, Pak Tua. Sebelum aku mencubit kulit keriputmu itu, aku akan memberitahumu namaku. Panggil saja aku Jingga.”
“Aaw!” jerit histeris Pria Tua merasakan sakit di kedua pipinya yang dicubit oleh Jingga.
“Pak Tua sungguh menggemaskan seperti bayi gorila.” Jingga kembali mengencangkan cubitannya.
“Aah!” Pria Tua semakin kencang menjerit.
__ADS_1
Dewa bermata tiga sampai membelalakkan mata melihatnya. Tak lama kemudian, ia melayang terbang meninggalkan keduanya.