
Tanpa terasa, keduanya sampai di perbatasan kota Dame yang dipisahkan oleh hutan rimba yang dikenal dengan nama hutan Mayat di wilayah terluar pulau Intan dan merupakan batas wilayah ibukota Dame.
Konon menurut penuturan warga ibukota Dame, hutan Mayat dihuni oleh bangsa kanibal yang gemar memakan daging manusia luar, hanya klan Serigala yang sering keluar masuk hutan Mayat. Mereka menggunakan sihir untuk mengelabui bangsa kanibal dalam melintasi kedalaman hutan rimba.
"A, kenapa setiap perjalanan selalu memasuki hutan?" Tanya Naray.
"Sebenarnya masa sekarang hutan mulai berkurang seiring banyaknya manusia yang terus bertambah. Pada masa Aa sebelumnya, setiap memasuki hutan harus menempuh waktu sampai berbulan-bulan untuk tiba di suatu pemukiman atau perkotaan" jawab Jingga di luar konteks pertanyaan yang diajukan oleh Naray.
"Maaf, A. Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar" tanggap Naray memotongnya.
"He he, karena setiap daratan dikelilingi oleh hutan, Aa malah khawatir di masa depan hutan semakin sedikit. Bersyukurlah kita masih melihat gagahnya hutan ini" jawab Jingga sambil membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.
Naray ikut membayangkannya, ia berpendapat bahwasanya semakin banyak manusia akan berdampak pada semakin sedikitnya hutan yang terus ditebangi pohonnya untuk dijadikan rumah-rumah oleh masyarakat yang menempatinya.
"Sudah, jangan melamun. Ayo kita lanjutkan petualangan kita! Aa penasaran dengan keberadaan manusia kanibal yang dikatakan oleh Suhut kota" kata Jingga membuyarkan lamunan adiknya.
Jingga melajukan kembali kudanya memasuki hutan yang suasananya lebih gelap dari hutan Harimau namun tidak seluas hutan Harimau yang harus ditempuh selama berhari-hari untuk sampai di luarnya.
Memasuki area dalam hutan, kuda yang ditunggangi keduanya meringkik keras seperti ketakutan. Jingga dan Naray hampir terjatuh karena kuda terus menggoyangkan tubuhnya dan sesekali berjingkrak. Jauh lebih ke dalam, sang kuda semakin berulah, kali ini kuda terus berjingkrak dan menghentakkan keempat kakinya, Jingga dan Naray terpaksa melompat dari punggung kuda.
Keduanya membiarkan kuda berbalik dan kabur ke arah kota Dame.
"A, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Naray keheranan.
"Entahlah, tapi Aa tidak merasakan kehadiran siapa pun di dekat kita. Akan tetapi, kita tetap harus waspada" jawab Jingga lalu mengeluarkan satu belatinya dan menggenggam jemari tangan Naray.
"Berapa lama lagi kita akan keluar hutan?" Lanjut tanya Naray.
"Aa belum tahu kita sudah sampai mana, perkiraan kita sudah memasuki setengah luas hutan" jawab Jingga memperkirakan.
Beberapa langkah keduanya berjalan melintasi akar-akar pepohonan yang besar, tercium bau amis darah dan bangkai yang membusuk menyengat hidung keduanya.
Hoek!
Naray memuntahkan isi perutnya, wajahnya berubah pucat dengan keringat dingin yang menetes keluar dari pori-pori kulitnya.
Jingga yang melihatnya langsung memberikan dua lembar daun minyak kayu putih yang sudah diremasnya. Naray memasukannya ke lubang hidung.
"Sudah baikan, Neng?" Tanya Jingga sambil memijiti tengkuk adiknya.
"Sudah, A. Terima kasih" jawab Naray yang dengan cepat wajahnya kembali normal.
__ADS_1
Jingga dan Naray kembali melanjutkan perjalanannya menelusuri hutan. Beberapa langkah selanjutnya, tampak ribuan lalat beterbangan mengerubungi tubuh hancur seorang manusia dewasa. Naray sampai harus membuang mukanya karena tidak sanggup melihatnya.
Dalam radius beberapa puluh langkah kaki, ditemukan kembali mayat manusia yang tubuhnya sudah rusak dikerubungi lalat. Jingga semakin penasaran dengan situasi mencekam di kedalaman hutan Mayat.
Ia lalu mendekati mayat dan mulai memeriksanya, matanya terus menyipit memperhatikan mayat yang bagian dada sampai perutnya berlubang, kepalaya hancur karena hantaman keras, di bagian tangan dan kaki yang hanya menyisakan sedikit daging yang terkoyak benda tajam membuat Jingga meyakini keberadaan manusia kanibal penghuni hutan Mayat.
"Neng, panjatlah pohon. Aa akan memancing manusia kanibal ke sini" pinta Jingga.
"Pohon di sini terlalu besar, A" balas Naray memperhatikan pepohonan yang diameter batangnya sebesar menara kerajaan.
Wuzz!
Jingga membawanya memanjat batang pohon besar seperti seekor cicak yang merayap di dinding.
"Tunggu Aa di sini" ucap Jingga yang diangguki oleh Naray.
Jingga langsung melompat turun ke tanah. Ia lalu berteriak kencang untuk memancing kedatangan manusia kanibal.
"Au, hu hu hu huuu" sahutan keras terdengar dari kejauhan.
Jingga kembali berteriak kencang membalasnya. Tak begitu lama, puluhan manusia tanpa busana dengan menggenggam tombak kayu langsung mengepungnya. Mereka berjingkrak-jingkrak kesenangan melihat seorang pemuda berdiri diam memperhatikannya.
"Hu, hu, hu, hu, hu, hu" gemuruh suara yang terdengar dari lebih tiga puluh manusia yang sebagian banyak adalah para pria dewasa dan hanya tiga orang saja yang terlihat masih anak-anak berusia belasan tahun.
Wuzz!
Jingga berkelebat menggorok leher puluhan pria dewasa di sekelilingnya lalu kembali berdiri di tengahnya. Ia membelalakkan mata melihat leher para pria hanya terlihat ruam merah terkena tebasan belatinya.
Ia lalu memperhatikan belatinya yang dipenuhi oleh minyak yang membuat bilah tajamnya menjadi tumpul.
"Sial! Mereka tidak bisa ditebas" rutuk Jingga lalu menyelipkan kembali belatinya.
Sleb! Sleb!
Sedikit lengah, ujung runcing dari puluhan tombak menekan tubuh Jingga dengan kuat.
"Hei, kalian mau memijatku atau menggelitiki tubuhku?" Tanya Jingga merasa geli terkena tusukan tombak yang diarahkan oleh puluhan manusia polos.
Traak!
Jingga memotong beberapa tombak dengan pukulannya, ia lalu berkelebat melayangkan tinjunya ke arah wajah para pria yang mematung keheranan.
__ADS_1
Bugh! Bugh! Bugh!
Gedebug! Bug! Bug!
Puluhan pria terpelanting menghantam pepohonan dengan keras. Tanpa menunggu para pria bangkit berdiri, Jingga kembali memukulinya.
Bugh! Bugh!
Krak! Krak!
Pukulan keduanya berhasil menghancurkan batok kepala para pria hingga kepalan tangan Jingga menembus setiap batok kepala para pria yang langsung tewas dengan kepala yang berlubang.
Setelah membantai para pria dewasa, Jingga langsung berkelebat membanting tiga anak kecil yang berusaha melarikan diri.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Aaah!" Jerit ketiga anak kecil yang tubuhnya dilemparkan oleh Jingga ke satu pohon besar di dekatnya.
Jingga lalu menghampiri ketiganya yang tergeletak tumpang tindih di bawah pohon besar.
Dua orang anak kecil langsung tewas seketika dengan mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya, sedangkan satu anak lagi yang masih bernapas diangkat oleh Jingga lalu disandarkannya pada pohon.
"Maafkan aku bocah, aku harus membunuhmu. Tidak boleh di alam fana ini ada manusia yang memakan daging manusia lainnya" ucap Jingga langsung menutup kedua matanya.
Krak!
Jingga memelintir kepala anak kecil lalu melepaskannya.
Setelahnya Jingga langsung berkelebat kembali menghampiri Naray dan duduk pada dahan pohon di sebelah adiknya.
"Aku baru melihat Aa begitu sedih, ada apa A?" Tanya Naray merasa iba melihat raut wajah Jingga yang tampak sedang menyesali diri.
"Aa tidak sanggup melihat anak kecil mati, tapi Aa tidak bisa membiarkan mereka tumbuh besar dengan meminum darah dan memakan daging manusia" jawab Jingga memberi alasan.
"Sudah, A. Aku tidak bisa menyalahkan ataupun membenarkan tindakan Aa. Mereka hanya terbawa nasib harus lahir di lingkungan yang kejam di hutan ini" ucap Naray terdengar dewasa.
Jingga yang mendengar perkataan adiknya merasa sedikit baikan, ia tersenyum simpul menatap adiknya.
"A, bukankah mereka punya ibu?" Sambung Naray bertanya.
"Ya, tapi Aa tidak mau membunuh semuanya, setidaknya Aa sudah mengurangi populasi manusia kanibal di hutan ini" jawab Jingga mulai merasa tenang.
__ADS_1
Keduanya lalu melompat turun dan kembali melanjutkan perjalanannya ke pulau Intan.