
Pada ranah Superior Iblis tidak lagi mengenal istilah tingkat Platinum, Kristal, dan Berlian seperti pada ranah para kultivator di bawahnya yaitu Supreme Emperor dan turunan piramida lainnya di mana setiap ranah bergantung pada fondasi dan kekuatan jiwa.
***
Jingga lalu menatap heran pria iblis yang berlutut di dekatnya.
"Kenapa kau sampai berlutut kepadaku?" Tanya Jingga heran.
"Karena kau adalah penguasa seluruh iblis. Terimalah hormatku, Yang Mulia." Jawab pria iblis masih berlutut di dekatnya.
"Baiklah, aku menerimanya. Bisakah kau membantuku kembali ke tempatku semula?"
"Tentu, Yang Mulia. Tapi sebelumnya, seperti Yang Mulia inginkan. Aku akan mewarisi seluruh kemampuanku."
Jingga tersenyum lebar mendengarnya lalu meminta pria iblis untuk berdiri dan langsung memulai proses pemindahan semua kemampuan pria iblis padanya.
Berbeda dengan Yuangu Mowang ketika memindahkan semua kemampuannya. Kali ini Jingga mengambilnya sendiri dari kekuatan jiwa pria iblis. Ia mencengkeram kepala pria iblis lalu menarik semua kemampuan yang dimiliki oleh pria iblis.
"Banyak sekali teknik yang kaumiliki" ucap Jingga setelah selesai mengambilnya.
Pria iblis menatap sinis Jingga lalu duduk dalam posisi lotus diikuti oleh Jingga untuk proses pengembalian Jingga ke gua batu di benua Majang.
Tak berlangsung lama, Jingga sudah berada di dalam gua batu tempat asal ia memasuki dimensi alam Siksa Raja.
Kedua matanya terbuka. Ia melihat suasana yang sama di dalam gua batu. Ia lalu berdiri dari atas lempengan batu berwarna hitam dan berjalan ke arah sebuah kolam yang tidak jauh dari posisinya berdiri.
"Ke mana Kakek Guru dan Xin'er?" Gumam Jingga tidak melihat keberadaan keduanya.
Tiba-tiba saja terdengar suara lembut dari orang yang sangat dicintainya.
"Suamiku, kau sudah kembali?" Tanya Xian Hou yang merasakan hatinya terhubung kembali dengan suaminya.
"Ya, sayang. Aku baru saja kembali dari ujianku." Jawab Jingga tampak begitu senang bisa kembali mendengar suara istrinya.
"Kapan kau pulang?" Lanjut tanya Xian Hou.
"Aku belum tahu soal itu. Aku bahkan belum kembali ke alam iblis," jawab Jingga.
"Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Sambung tanya Xian Hou merasakan perasaan berbeda dari suaminya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau adalah istriku. Sudah pasti aku selalu mencintaimu." Jawabnya.
Komunikasi di antara keduanya terputus. Jingga mengerutkan keningnya merasa ada yang salah dengan perasaannya, namun ia tidak terlalu ambil pusing untuk memikirkannya. Ia pun berbalik kembali ke lempengan batu hitam untuk bermeditasi.
__ADS_1
...*Alam Peri*...
Hiks, hiks!
Xian Hou terduduk mendekap lutut dengan menundukkan wajahnya. Ia menangisi suaminya yang dirasakan oleh hatinya tidak lagi mencintainya.
Qianmei yang sedang menemani kakaknya Bai Niu yang terbaring tidak sadarkan diri di sebuah batu pipih langsung menghampiri kakak iparnya.
"Kak Hou'er, ada apa dengan Kak Jingga?" Tanya Qianmei ingin tahu.
"Jingga sudah tidak mencintaiku lagi, hiks!" Jawabnya sambil terus menangis.
Qianmei merangkulnya erat. Ia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu.
"Aku percaya Kak Jingga masih mencintai Kak Hou'er" ucapnya sambil mengusapi punggung Xian Hou dengan lembut.
"Maaf, Mei'er. Tapi hatiku tertaut dengan hatinya dan itu membuatku pilu mengetahui Jingga tidak lagi sama seperti sebelumnya," balas Xian Hou.
"Kita tidak tahu apa yang dialami oleh Kak Jingga selama menjalani ujiannya. Kakak harus yakin kalau Kak Jingga pasti akan mencintai Kak Hou'er seperti dulu lagi." ujar Qianmei menenangkan kakak iparnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya Qianmei membuatnya sedikit tenang. Ia pun kembali tersenyum sambil mengusapi pipinya yang basah.
"Bagaimana kondisi Niu'er sekarang?" Tanya Xian Hou.
Xian Hou termenung tidak mengetahui penyebab mati suri adiknya Bai Niu yang sudah beberapa hari terakhir tidak sadarkan diri.
"Maaf, kakak tidak mengetahuinya." Jawab Xian Hou lalu berdiri menghampiri adiknya Bai Niu.
Kembali ke benua Majang.
Jingga yang sedang bermeditasi akhirnya mendengar suara langkah kaki dari dua orang yang ditunggunya. Namun ia tidak ingin membuka kedua matanya. Ia membiarkan guru dan adiknya melihatnya langsung perubahan pada dirinya.
"Kakek, siapa pria berambut putih yang duduk di lempengan batu?" Tanya Xinxin tidak mengenalinya.
Kakek Wu Yao menyipitkan matanya memperhatikan seorang pria berambut putih sedang bermeditasi di atas lempengan batu hitam. Ia lalu memindai tingkatan kultivasi pria tersebut. Sayangnya, ia tidak bisa melihat tingkatannya.
"Siapa kau pria asing? Bagaimana kau bisa memasuki gua batu ini?" Lontar tanya Kakek Wu Yao menyelidikinya.
Segaris senyum terukir dari bibir Jingga setelah mendengarnya. Ia pun membuka kedua matanya. Tampak pupil matanya menyerupai warna rambut dan alisnya yang berwarna putih. Tatapannya sangat mengintimidasi guru dan adiknya yang langsung menundukkan kepala dan menjatuhkan diri berlutut tidak berani menatapnya.
Jingga yang sekarang jauh berbeda dengan Jingga yang mereka kenali sebelumnya. Kini seorang Jingga terlihat sangat berwibawa dan penuh dengan aura sang penguasa.
"Bangunlah Kakek Guru dan juga Xin'er! Aku adalah Jingga. Kalian tidak perlu berlutut kepadaku" pungkasnya dengan mengayunkan jemarinya mengangkat guru dan adiknya yang berlutut.
__ADS_1
Kakek guru Wu Yao dan Xinxin terus saja menundukkan wajahnya karena takut dan segan untuk menatap Jingga yang sudah menjadi penguasa iblis.
"Selamat, Yang Mulia. Akhirnya kami bangsa iblis kembali memiliki seorang penguasa agung" ujar Kakek Wu Yao begitu parau suaranya.
Jingga berdiri dari tempatnya lalu melangkah menghampiri keduanya dengan kedua tangannya tergenggam di belakang punggungnya.
"Kakek Guru. Sebenarnya aku tidak mengingkan ini, bahkan aku berkeinginan untuk menghancurkan alam iblis. Akan tetapi aku mengurungkan niatku untuk itu,"
Jingga menghentikan sejenak perkataannya. Sorot matanya menyapu seisi ruangan di dalam gua batu lalu beralih menatap seorang gadis yang masih menundukkan wajahnya.
"Xin'er, apa kau masih adikku?" Tanya Jingga melanjutkan perkataannya.
Xinxin tampak begitu gugup, namun di dalam hatinya ia begitu bergembira masih dikenali oleh Jingga yang menjadi kakak angkatnya.
"A-apa Yang Mulia masih menganggapku sebagai adik?" Tanya balik Xinxin sedikit gemetar mengatakannya.
"Ya, kau adalah adikku. Satu-satunya adik iblisku," jawab Jingga meyakinkannya.
Xinxin begitu bergembira mendengarnya. Menjadi adik seorang penguasa tidak pernah dibayangkannya. Ia memberanikan diri menegakkan wajahnya menatap Jingga yang berdiri di depannya lalu kembali menunduk karena takut akan sorot mata Jingga yang begitu mengerikan.
Jingga sendiri tampak begitu heran dengan tingkah adiknya, ia lalu beralih menatap gurunya Wu Yao.
"Kakek Guru, bagaimana caraku menyembunyikan auraku?" Tanya Jingga yang kali ini tidak memahami bagaimana dirinya bisa seperti seorang kultivator iblis yang mampu menyembunyikan auranya.
"Maafkan hamba yang lancang ini. Yang Mulia lebih mengetahuinya daripada hamba." Jawab Kakek Wu Yao.
"Terima kasih, Kakek. Aku akan mencarinya sendiri." Balas Jingga lalu mengakses ingatan yang diwariskan oleh pria iblis kepadanya.
Tak lama kemudian, ia pun menemukan caranya. Berbeda dengan para kultivator yang cenderung menekan tingkat kultivasinya. Jingga menggunakan teknik kuno untuk mengembalikan dirinya pada waktu sebelum memasuki dimensi alam Siksa Raja.
Ting!
Jingga akhirnya berhasil mengembalikan kondisinya pada Jingga yang dulu. Namun kekuatannya tidak berubah, hanya auranya saja yang berhasil ia sembunyikan.
"Ayo kita kembali ke kota Huanzhue." Ajak Jingga begitu antusias untuk kembali ke alam iblis, tepatnya di kota para penyihir iblis.
Kakek Wu Yao dan Xinxin akhirnya berani menatap Jingga dengan normal. Walaupun masih segan karena tahu siapa sosok Jingga yang sekarang.
"Baik, Yang Mulia. Aku akan membuka portal dimensi." Balas Kakek Wu Yao lalu mengeluarkan sebuah artefak yang sama seperti ketika memasuki alam fana.
Artefak kuno melayang di udara dan membuka akses langsung kembali ke alam iblis.
"Mari, Yang Mulia!" Pintanya mempersilakan Jingga menjadi yang pertama memasukinya.
__ADS_1
Jingga mengangguk lalu memasuki lubang portal dimensi diikuti oleh Xinxin dan Kakek Wu Yao di belakangnya.