Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kemarahan sang gadis


__ADS_3

Malam harinya Jingga, Du Dung dan Bai Niu merayakan keberhasilan Du Dung yang telah memenangkan pertandingan pertamanya dengan makan bersama, walau sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai perayaan karena setiap malamnya mereka akan tetap makan bersama.


Akan tetapi, suasana hati ketiganya yang sedang gembira menjadikan makan malam itu terasa spesial buat ketiganya.


"Aku tidak menyangka kau akan langsung menyerangnya dengan brutal tanpa memberikan kesempatan untuknya menyerang balik, apa alasanmu dengan itu?" Tanya Jingga sambil asyik menikmati araknya.


"Aku hanya menguji batasan yang kumiliki dan aku berhasil melakukannya" jawab Du Dung menjelaskan.


"Tapi kau akan kesulitan pada pertandingan selanjutnya, setiap calon lawanmu sudah membaca cara bertarungmu" ujar Jingga mengingatkannya.


"Ya kau benar, tapi aku sengaja melakukannya karena menurutku akan lebih sulit kalau aku selalu menjaga batasanku, ketika aku menemukan lawan yang lebih kuat di atasku, kau tahu apa yang akan aku dapatkan?" Timpal Du Dung memintanya pendapat .


Jingga terdiam merenungkan ucapan Du Dung yang memang benar adanya, seorang kultivator memang harus selalu menembus batasannya, kalau tidak ia akan terjebak pada tingkatannya sendiri.


"Ya, kau akan mudah dikalahkan, lalu apa upayamu untuk itu?" Kembali Jingga menanyakan.


Sejenak Du Dung terdiam lalu tersenyum simpul menatap Jingga.


"Hem, banyaknya peserta turnamen memberikan jeda kepada petarung yang sudah menuntaskan babak pertama, jadi aku akan memanfaatkan waktu jeda untuk memaksimalkan semua kemampuanku" jawab Du Dung dengan yakin.


"Berarti besok kita akan kembali berlatih di kaki gunung Lanhua, lalu bagaimana dengan pertandingan dari calon lawanmu, apakah kau tidak ingin melihatnya?" Tanya Jingga selanjutnya.


"Ha ha ha, tentu aku ingin melihatnya, apalagi dari pertandingan hari pertama yang kita saksikan, beberapa kuktivator muda sudah berada di ranah Mahir perak. Tetapi siapa pun yang akan menjadi lawanku, aku tidak peduli, aku harus fokus meningkatkan kemampuanku" jawab Du Dung memilih prioritasnya.


Sementara Bai Niu mengacuhkan obrolan keduanya, ia fokus pada makanannya yang malam itu menunya lebih banyak dari biasanya.


Setelah selesai obrolan keduanya tentang turnamen, Du Dung kembali melanjutkan makannya, sementara Jingga masih asyik menikmati arak sambil mendengarkan obrolan tamu lainnya.


Esok hari ketiganya kembali berlatih di kaki gunung Lanhua, sesampainya di sana, terlihat banyak kultivor muda yang sedang berlatih.

__ADS_1


"Sepertinya kita tidak lagi sendirian berlatih di sini" ucap Du Dung sedikit kecewa melihat tempat latihannya dipakai oleh orang lain.


"Kau tenang saja, area kaki gunung Lanhua sangat luas, kita bisa memutarinya mencari tempat untuk berlatih" timpal Jingga yang diangguki oleh Du Dung.


Di tengah obrolan keduanya, terdengar suara tangisan dari seorang gadis yang tak lain adalah Bai Niu di belakang keduanya.


Jingga dan Du Dung menoleh ke arah sumber suara.


"Naninu, kenapa kau menangis?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Tanamanku, oh tanamanku, lihat kak, tanamanku rusak oleh mereka" jawab Bai Niu terisak sambil menunjuk ke arah taman bunga yang sudah rusak terkena imbas oleh latihan para kultivator muda yang berlatih di dekatnya.


Jingga dan Du Dung langsung memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Bai Niu.


Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.


"Ya sudah, mari kakak gendong, kita cari tempat lainnya" ajak Du Dung menawarkannya.


Ketiganya melanjutkan langkah kaki mencari tempat lainnya di sekitar kaki gunung Lanhua.


Ketika ketiganya melewati para kultivator muda yang sedang berlatih, mereka bertiga ditatap sinis oleh beberapa pemuda yang tidak suka melihat keberadaannya.


"Lihat lelaki yang sedang menggendong gadis itu, bukankah dia yang bernama Dang Ding Dung" celoteh salah satu pemuda mengingatnya, lalu semua orang melirik ke arah Du Dung yang sedang menggendong Bai Niu, mereka semua menertawainya.


Baru saja mereka semua berhenti tertawa, kali ini giliran Jingga yang terkena cemoohan para kultivator muda.


"Coba kalian perhatikan teman satunya itu, bukankah dia terlihat aneh, rambutnya bergelombang, matanya besar dan warna kulitnya seperti terbakar matahari" celetuk yang lainnya, semua pemuda kembali tertawa melihat perbedaan Jingga yang begitu kontras dengan mereka.


Jingga dan Du Dung masih tenang menghadapinya, akan tetapi berbeda dengan keduanya, Bai Niu yang sudah kesal dari awal melihat tanaman bunga dirusak oleh para kultivator muda, sekarang emosinya sudah meluap di ubun-ubunnya.

__ADS_1


"Hei para bajingan, tutup mulut busuk kalian!" Teriaknya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Para kultivator muda bukannya terdiam mendengar kemarahan Bai Niu, mereka semuanya malah kembali tertawa melihat gadis yang memarahinya.


"Hei gadis kecil, sebaiknya kau pulang ke ibumu, jangan lupa kau mencuci muka, mencuci kaki lalu tidur dipangkuan ibumu ha ha ha" balas salah satu pemuda yang berhasil membuat semua orang tidak berhenti menertawai ketiganya.


Bai Niu yang kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas cemoohan para kultivator muda, ia kemudian menjambak rambut Du Dung dengan keras. Ia melampiaskan kemarahannya.


"Aw aw aw" teriak Du Dung kesakitan rambutnya jadi pelampiasan kemarahan Bai Niu.


Jingga tersenyum melihatnya lalu memalingkan muka melihat ke arah gunung, ia khawatir akan menjadi pelampiasan selanjutnya.


Sesampainya pada area lain di sekitar kaki gunung Lanhua, Bai Niu berjingrak-jingkrak kesenangan di atas punggung Du Dung melihat adanya danau yang tidak begitu luas namun begitu panjang memutari area pegunungan.


"Hei hei hei, berhentilah atau kita berdua akan jatuh" teriak Du Dung mulai tidak seimbang jalannya, lalu tak lama kemudian keduanya terjatuh dengan Bai Niu tertimpa tubuh Du Dung yang jauh berbeda dari tubuhnya.


Jingga hampir tertawa melihatnya, namun ditahannya karena takut akan dimarahi gadis yang selalu menang dalam berargumen, walau baru saja ia melihatnya kalah dalam perdebatan dengan para kultivator muda yang mencemoohnya.


Du Dung langsung bangkit berdiri lalu ia melihat ekspresi wajah yang begitu menyeramkan dari gadis yang mengepalkan kedua jemari tangannya ingin menelan Du Dung hidup-hidup.


"Sepertinya kesialanku akan berlanjut" gumam Du Dung lalu berjalan ke arah Jingga, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Larilah" pinta Jingga kepada Du Dung.


Pletak


"Aw" teriak Du Dung meringis kesakitan, kepala bagian belakangnya dipukul dengan keras oleh Bai Niu, tidak cukup sampai di situ, Bai Niu lalu menjambak rambut belakang Du Dung kemudian menggigit bahu kanan Du Dung dengan sekuatnya.


"Jinggaaa" teriak Du Dung meminta tolong, namun Jingga tidak mau mencampuri urusan keduanya, ia memilih terus berjalan tanpa membantunya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terlihat Du Dung berhasil melepaskan diri dari cengkraman Bai Niu, ia kemudian berlarian ke sana ke mari menghindari amukan gadis yang terus mengejarnya.


Terjadilah aksi kejar-kejaran dari keduanya yang membuat Jingga akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.


__ADS_2