Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Menghadapi Iblis Senyap


__ADS_3


Tak bisa diperkirakan olehnya jumlah monster iblis senyap yang mulai mencuat ke permukaan. Bentuknya yang panjang dan sangat besar seperti cacing tanah namun berukuran raksasa itu membuat wilayah di sekitar istana iblis hampir semua tertutupi oleh keberadaannya.


Jingga menoleh ke arah Ratu Xin Li Wei yang berdiri tidak jauh di dekatnya, kemudian melemparkan tanya,


"Nyonya, di mana pertama kalinya para monster ini muncul?"


Ratu Xin Li Wei mengingat kembali apa saja yang didengarkan dari laporan salah satu pejabat iblis yang menjadi mata-mata istana iblis.


"Mata-mataku tidak mengetahuinya dengan pasti. Tapi para iblis senyap memang sudah lama menempati seluruh wilayah bawah tanah alam iblis. Mereka satu-satunya ras yang menguasai bawah tanah alam iblis."


"Lalu apa tujuan mereka muncul ke permukaan?"


"Makan!" jawab Ratu Xin Li Wei dengan cepat dan lugas.


Jingga mengernyitkan keningnya karena belum tahu apa yang dimakan oleh para monster iblis senyap tersebut. Sang Ratu mendelik memahaminya lalu berkata,


"Semua ras iblis di permukaan adalah makanannya."


"Lalu bagaimana bangsa iblis bisa bertahan selama ini?" Sambung tanya Jingga ingin lebih banyak mengetahuinya.


Ratu Xin Li Wei mendengus pelan. Ia sendiri tidak begitu percaya pada awalnya tentang keberadaan iblis senyap. Apa yang dirinya ketahui hanyalah cerita turun temurun yang bahkan hampir tidak ada lagi yang mau memperbincangkannya.


"Sudahlah, tidak perlu dijawab. Pantas saja iblis senyap tidak pernah aku temukan di ingatan iblis jelek Yuangu Mowang." Imbuh Jingga tidak lagi antusias untuk mengetahui lebih lanjut tentang monster iblis senyap.


"Kak, bisakah kita bertarung sekarang? Para monster gila itu sudah tidak sabar menunggu kita menghentikannya." Celetuk Zilla yang tidak sabar untuk menghadapinya.


"Sepertinya kalian berdua yang sudah tidak sabar melawan para monster iblis senyap," sindirnya lalu melanjutkan ucapannya.


"Ha-ha-ha. Tunggu apa lagi? Ayo serang!" pinta Jingga kepada keduanya.


Zilla dan Jirex langsung bertransformasi ke tubuh monsternya. Keduanya lalu berkelebat menghantam para iblis monster yang terus meliuk keluar masuk tanah.


Setelah kepergian kedua adiknya dalam pertarungan. Jingga lalu menoleh ke arah pengikutnya yang melayang terbang menunggu perintah darinya. Ia lalu mengeluarkan Jianhuimie Yuzhou dan menjulurkannya ke atas.


"Semuanya!" pekik Jingga begitu lantang.


HUH! HUH! HUH!


semua pengikutnya menyahuti Jingga dengan yel-yel penuh semangat yang entah dari mana mereka memilikinya.


"Puaskan dahaga kalian! Bantai semua monster iblis senyap itu tanpa sisa." Imbuhnya dengan begitu semangat.

__ADS_1


HUH! HUH! HUH!


Gema suara dari puluhan pengikut Jingga menggema di atas istana iblis yang terus bergetar keras.


"Serang!" raung Jingga tak kalah kerasnya menggema di udara.


Puluhan pengikutnya langsung melesak ke berbagai arah menyerang para monster iblis senyap.


"Tarian Pedang Asura,"


Jingga melesak cepat ke arah kerumunan monster iblis senyap di area terjauh dari istana iblis. Ia menari-nari dengan pedangnya menebas satu tubuh monster iblis senyap yang sebagian tubuhnya masih terbenam di dalam tanah.


TRANG! TRANG! TRANG!


Percikan api menyala dari benturan bilah logam pedang Jianhuimie Yuzhou dengan kulit keras sang monster iblis yang tidak mengalami sedikitpun luka gores setelah terkena ayunan pedang yang dilayangkan oleh Jingga.


"Sial! kulitnya sangat keras," keluh Jingga yang tidak berhasil mengoyaknya.


GROARR!


Mulut besar berair dari monster iblis senyap menganga di depan Jingga dengan sorot mata menyala merah ingin menelannya.


"Wow! Besar sekali mulutmu itu, Cacing tanah."


WUZZ!


KRAK!


DHUAR!


Perisai yang dipasang Jingga langsung hancur seketika. Rahang besar sang monster dengan cepatnya menutup untuk menggigit targetnya. Akan tetapi Jingga sudah lebih dulu menghilang dari tempatnya.


"Kekuatan macam apa yang dimiliki oleh cacing tanah itu?" kesal Jingga yang perisainya tidak mampu menahan benturan dari terkaman sang monster iblis senyap yang menyerangnya.


Jingga kini dalam posisi melayang di udara. Ia lalu memindai kekuatan yang dimiliki oleh sang monster iblis di bawahnya. Namun ia tidak melihat hal aneh di tubuh monster iblis senyap.


"Para monster cacing tanah bukanlah kultivator iblis. Mereka tidak memiliki energi spiritual di tubuhnya. Sama seperti Jirex dan Zilla," ucapnya terus menganalisis kekuatan yang dimiliki oleh para monster iblis senyap.


"Baiklah, aku akan mencoba melemparkan energi tiga perpaduan api milikku." Imbuhnya lalu menganggkat tangan kanannya ke atas dengan kelima jarinya dalam posisi mencengkram.


Tak lama kemudian, bola api muncul dari telapak tangannya dan dengan sangat cepat, terus membesar hingga cahayanya mampu menerangi alam di sekitarnya.


"KAA ... PAAB ... KAA ... PAAB ... HAAA!"

__ADS_1


Jingga mengayunkan tangan, melemparkan bola api energi ke salah satu monster iblis yang menjadi targetnya.


WUZZ!


Bola api sebesar bukit melaju dengan cepat mengenai tubuh satu monster iblis di bawahnya.


BOOM!


Ledakan keras yang memekakkan telinga menyeruak menciptakan badai api yang membakar seluruh tubuh sang monster iblis.


GROOAARR!


Deram kemurkaan sang monster iblis menggema di udara.


Jingga terbelalak keheranan melihat sang monster iblis senyap kembali menunjukkan daya tahan tubuhnya yang sangat kuat tanpa mengalami kerusakan apa pun, setelah terkena bola api yang membakarnya.


"Perpaduan ketiga api (Semesta, Kematian, dan Inti api) milikku tidak memiliki dampak berarti di tubuh sang monster cacing (Ia menyebutnya). Aku harus menemukan cara untuk bisa melukainya." Gumam pikir Jingga terus mengamatinya dengan serius.


Sementara di tempat kedua adik monsternya, Jirex dan Zilla berada. Keduanya tampak begitu asyik terus membombardir monster iblis senyap dengan sangat brutal dan beringas.


Rahang kuat Jirex bahkan berhasil membuat monster iblis terus menggeliat kesakitan.


Tak kalah dengan Jirex yang terus menggigit dan mencengkram lawannya. Zilla terus meningkatkan suhu tubuhnya yang ekstrem untuk membuat para monster iblis di dekatnya merasakan panas yang menyengat. Zilla terus mengunci pergerakan monster iblis dan memancarkan suhu didih ke tubuh simonster iblis.


Jauh di posisi para iblis penyihir yang sedang bertarung. Keempat tetua mengkomandoi murid-muridnya untuk melancarkan serangan udara.


Ledakan-ledakan keras dari lemparan energi api dan berbagai teknik sihir terus digencarkan oleh seluruh iblis penyihir.


Tidak hanya mereka saja yang sibuk. To Tao bersama Ratu Xin Li Wei juga disibukkan dengan mencari titik lemah monster iblis yang terus menyerang keduanya secara bergilir.


Namun ada hal terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Jingga dan para pengikutnya yang disibukkan oleh pertarungan.


Banyak iblis dari berbagai ras yang menjadi tamu istana lebih memilih untuk kabur menyelamatkan diri. Tak ayal, pertarungan dengan iblis monster senyap hanya melibatkan Jingga dan para pengikutnya saja.


Jingga yang melayang terbang masih juga tidak menemui satu pun titik lemah dari monster iblis di bawahnya. Ia lalu mengedarkan pandangan ke arah para pengikutnya bertarung. Kedua matanya tampak berbinar tatkala melihat kedua adik monsternya bisa membuat beberapa monster iblis tersungkur jatuh dan mengalami banyak sobekan di kulitnya.


"Ah, aku tahu sekarang. Tubuh logam!" senang Jingga yang merasa mendapatkan pencerahan dari kedua adik monsternya itu.


Ia lalu menggunakan kekuatan jiwa untuk melakukan transformasi ke tubuh logam adiknya Jirex. Namun ia mendapati sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya.


"Ha-ha-ha. Dasar bodoh! ... aku tidak mungkin bertransformasi ke tubuh logam Jirex." Kekeh Jingga baru menyadarinya.


Jingga bisa bertransformasi ke tubuh logam Jirex apabila sang pemilik tubuh logam berada di alam jiwanya.

__ADS_1


Ia lalu mencoba untuk menyerang monster iblis senyap dengan berbagai teknik sihir juga berbagai kemampuan lainnya untuk mencari cara mana yang bisa digunakannya untuk bisa mengalahkan sang monster iblis senyap.


__ADS_2