Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Rekonstruksi Kampung


__ADS_3


Tetua sepuh lalu menyipitkan mata dengan sorot mata heran menatap Jingga yang begitu tajam menatapnya tanpa sadar dirinya pun begitu.


“Kenapa menatapku seperti itu?” tegur tetua sepuh.


Jingga menyeringai lalu menjawab,


“Aku masih tidak paham, apa hubungannya beast monster alam dewa dengan naga hitam Long Yiban?”


“Dasar bocah, aku pikir kau memahaminya,” kata tetua sepuh, “semuanya saling berkaitan, sejak kematiannya, ratu Calandiva terus mengirim beast monster untuk mencari pembunuhnya.”


Jingga mengerutkan kening mengingat nama sang ratu yang pernah didengarnya.


“Apa yang kaumaksud adalah ratu beast monster dari benua Intibumi?” tanya Jingga memastikan.


“Betul. Beast monster yang dikirimnya begitu merepotkan. Lebih dari 50 murid sekte mati sia-sia dalam pertarungan yang tidak ada faedahnya tersebut,” jelas tetua sepuh.


“Apa yang membuat kalian harus bertarung? Bukankah yang mereka cari itu diriku?” imbuh tanya dilontarkan Jingga.


“Mereka selalu berusaha untuk menghancurkan bangunan sekte ketika kami mengatakan tidak tahu ,” jawab tetua sepuh mengungkapkan.


“Ya sudah, langit sudah sangat terang. Aku harus secepatnya menguburkan ibuku,” kata Jingga lalu berdiri diikuti oleh istri dan adiknya Qianmei.


“Aku akan membantumu,” timpal tetua sepuh.


Jingga tersenyum lalu menghilang dari gubuk tetua sepuh. Sesampainya di depan gubuk ibunya, Jingga seloroh memasuki ke dalamnya lalu memangku kembali jasad ibunya dan membawanya keluar.


“Ayo kita bangun kembali kampung Cerita Hati!” ujarnya dengan semangat.


Para penduduk kampung kebingungan mendengarnya. Mereka saling melirik satu sama lain. Tampak raut wajah ketakutan tergambar jelas di wajah para penduduk yang masih trauma dengan bencana alam yang meluluhlantakkan kampung hingga menyisakan tanah datar setelahnya.


“Bencana alam akan selalu ada di mana pun kalian tinggal. Jangan berpikir hutan ini aman, hutan ini merupakan gerbang masuk bangsa iblis. Kalian bisa membayangkan apa yang terjadi ketika para iblis datang dan melihat keberadaan kalian di sini. Kalian semua hanya cemilan bagi mereka.


“Sekarang terserah kepada kalian semua. Namun, jangan pernah menyalahkan siapa pun ketika kalian mati atau menjadi pengabdi bangsa iblis.” Jingga menatap para penduduk dengan tatapan serius.


Pada akhirnya para penduduk memahaminya, mereka semua lalu mengangguk dan bergegas pergi mengambil harta benda yang bisa mereka bawa. Setelahnya, para penduduk mengiringi perjalanan Jingga keluar dari hutan Hantu.

__ADS_1


Berada di batas area hutan Hantu. Jingga langsung membuka akses dengan merobek perisai iblis di depannya.


“Nak Jingga!” panggil tetua sepuh yang berjalan mendekatinya.


Jingga menolehnya dengan tatapan tanya yang terpancar dari sorot matanya.


“Kami tidak melubangi perisai ketika memasukinya, ada jalan lain untuk keluar dari hutan Hantu ini. Ayo ikuti aku!” kata tetua sepuh memberitahunya.


Jingga manggut lalu mengikuti sang tetua sepuh yang berjalan ke arah lain di sekitar batas area hutan Hantu.


Tepat di depan sebuah pohon besar yang menjulang tinggi, sang tetua sepuh meletakkan telapak tangannya ke pohon lalu mengalirkan energi spiritualnya.


Sebuah portal dimensi berukuran tiga orang dewasa terbuka dengan sendirinya. Jingga terpana melihatnya lalu melirik tetua sepuh yang menyadari apa yang diisyaratkan Jingga dari tatapannya.


“Setelah keluar dari hutan Hantu waktu kau menyelamatkanku, setiap harinya aku menelusuri semua area untuk mencari akses masuk ke dalamnya. Butuh waktu dua purnama untuk menemukannya dan pencarianku akhirnya membuahkan hasil,” ujar tetua sepuh dengan bangga.


Jingga tersenyum renyah menanggapinya. Ia lalu berjalan memasuki portal disusul tetua sepuh dan para penduduk kampung Cerita Hati.


Kembali Jingga dibuat terperangah melihat area luar portal yang merupakan sebuah batu pipih berdiameter lebar yang biasa diduduki oleh para petani ketika beristirahat dari berkebun.


“Batu ini sudah ada sejak dahulu kala, mungkin lebih dulu ada daripada hutan Hantu,” kata tetua sepuh.


Perjalanan pun dilanjutkannya menuju area kosong bekas kampung cerita Hati. Lebih dari seratus tombak Jingga dan para penduduk berjalan. Suasana damai kembali menghinggapinya. Ia lalu memilih sebidang tanah yang ditumbuhi oleh sebatang pohon mawar.


“Istriku, bantu aku mencabut pohon mawar. Nanti kita akan menanamnya kembali di atas makam ibu,” ucap Jingga memintanya.


“Siap, Sayang,” sahutnya.


Xian Hou langsung mengerjakannya dengan penuh kehati-hatian agar pohon mawar tidak rusak ketika dicabutnya.


Setelahnya, Jingga langsung menjentikkan jari ke tanah membuat lubang. Di belakangnya, beberapa pemuda kampung datang dengan memanggul sebuah peti yang terbuat dari potongan batang pohon yang dirakit dengan akar.


“Kalian dapat dari mana batang pohon itu?” tanya Jingga sedikit heran.


“Kami menebangnya di sana,” kata seorang pemuda menunjuk ke arah selatan yang masih terdapat beberapa pohon yang masih kokoh.


“Terima kasih,” balas Jingga lalu memasukkan jasad ibunya ke dalam peti.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, proses pemakaman ibunya telah selesai dilaksanakan. Jingga bersama warga kampung dan tetua sepuh langsung mendiskusikan pembangunan kembali kampung Cerita Hati.


“Pepohonan di sekitar area ini amatlah sedikit, aku akan mencarinya ke berbagai wilayah kekaisaran Xiao. Kalian tunggulah! Ada istri dan kedua adikku yang akan menjaga kalian,” kata Jingga lalu melayang terbang meninggalkan para penduduk.


Sekembalinya Jingga dari pencarian pohon yang dibutuhkan untuk membuat rumah penduduk. Semua orang tampak begitu bingung melihat ratusan batang pohon berukuran besar yang dikeluarkan Jingga dari dimensi alam jiwanya.


“Nak Jingga, kami tidak memiliki banyak kapak untuk membelahnya,” ungkap seorang pria paruh baya.


Jingga tersenyum lalu mengeluarkan berbagai senjata dari cincin spasialnya. Kembali semua orang dibuatnya terperangah kagum melihatnya.


“Jangan melamun, ayo kita kerjakan sekarang. Aku tidak akan meninggalkan kalian sampai kampung Cerita Hati kembali berdiri seperti sedia kala,” kata Jingga yang langsung menciptakan perisai iblis untuk melindungi para penduduk dari gangguan yang tidak diinginkan.


Dengan antusias dan semangat yang tinggi, para penduduk saling bahu membahu membangun kembali kampungnya. 


Lebih dari 40 rumah sederhana terbangun kokoh di tanah lapang dalam waktu tiga bulan lamanya. Namun, para penduduk masih semangat tanpa kenal lelah untuk membangun setidaknya belasan rumah lagi agar bisa menampung semua warga kampung. 


Xian Hou, Bai Niu, dan Qianmei bersama para wanita dan gadis kampung tidak kalah semangat menyediakan berbagai masakan setiap harinya. Jingga sendiri setiap harinya terus memburu beast monster untuk memenuhi kebutuhan perut para penduduk kampung. 


Pada bulan keempat, sekitar 50-an rumah berhasil dibangun penduduk yang bersuka cita telah mengembalikan kampung halaman menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dari semua rumah yang terbangun, terdapat satu rumah yang cukup besar yang sengaja dibangun para penduduk untuk ditempati Jingga dan keluarganya. Akan tetapi, Jingga menyerahkannya kepada Chen Tian untuk mengisi dan merawatnya.


“Saudaraku, aku ingin ikut berpetualang bersamamu. Aku tahu ranah kultivasiku sangat rendah, tapi aku pasti akan meningkatkannya agar kalian semua tidak terbebani dengan keberadaanku,” ungkap Chen Tian sambil berlutut memohon.


Jingga mengangkat bahunya untuk berdiri. Ia menatap serius saudaranya tersebut lalu berkata,


“Tian’er, saudaraku bukan dirimu seorang. Semua penduduk kampung adalah saudaraku. Siapa yang bisa aku percaya untuk menjaga semua saudaraku selain dirimu?” 


Chen Tian menunduk pasrah mendengarnya. Keinginannya untuk mengikuti Jingga dan terutama untuk menarik hati Bai Niu terpaksa dikuburnya dalam-dalam.


“Kak Tian, jangan lemah begitu. Aku tidak suka melihatnya,” kata Bai Niu menyemangatinya.


Mendengar suara dari orang yang disukai membuatnya langsung mengangkat kembali wajahnya dengan tekad kuat untuk melindungi para penduduk.


Bai Niu lalu menarik cincin spasial yang melingkar di jari manisnya dan menyerahkannya kepada Chen Tian. 


“Di dalamnya banyak sumber daya yang bisa Kakak manfaatkan untuk meningkatkan kultivasi. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh kalau Kakak memang menyukaiku!” ucap Bai Niu.


“Niu’er, terima kasih banyak. Aku pasti akan bersungguh-sungguh dalam latihanku. Aku sayang kamu,” balas Chen Tian memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Bai Niu langsung memeluknya lalu mengecup pipi Chen Tian. Berbunga hati Chen Tian mendapatkan pelukan dan kecupan dari gadis yang dicintainya. Namun ia sadar, Bai Niu hanya menganggapnya sebagai kakak. Meskipun begitu, ia tetap bahagia karenanya.


__ADS_2