
Jingga berjongkok sambil menengadah menatap dewa Api yang terus saja menunduk.
"Hei bocah, kamu kenapa?" tanya Jingga sambil mengedipkan mata dan memasang wajah imut.
"Se ... setan, kau!" tanggap dewa Api dengan panik.
"Aku iblis bukan setan,"
"Apa bedanya?"
"Tahu ah, gelap."
Jingga kembali berdiri dengan wajah masam sambil menatap sinis dewa Api di depannya.
Tidak ingin terlalu lama bersama dengan pemuda iblis yang terus menatapnya. Dewa Api langsung menunjukkan arah portal lintas alam kepadanya.
"Terima kasih, Bocah."
Jingga menyeringai lalu melayang terbang meninggalkannya.
Dewa Api menghembuskan napas lega seraya menggelengkan kepalanya. Ia lalu melanjutkan kembali tugasnya menyusutkan badai api.
Jingga yang terus melaju cepat ke arah yang ditunjukkan akhirnya sampai juga di portal masuk. Namun, ia sedikit merasa bingung melihatnya.
"Bukankah ini sama seperti yang ada di puncak gunung ... hem! Gunung apa ya ...? Sudahlah, sebaiknya aku mengikuti garisnya saja." Pikir Jingga mengingat kembali ketika dirinya pertama kali memasuki alam dewa.
Tak menunggu lama, ia lalu melesak naik mengikuti garis cahaya.
Wuzz!
Entah karena laju terbangnya yang terlalu cepat atau memang baris cahaya yang menariknya. Jingga tidak sadar telah melewati alam fana. Ia kini berada di alam dewa.
Suasana alam yang kontras begitu cepat membiusnya. Matanya berbinar menatap keindahan alam yang telah lama tidak ditemukannya. Jingga menutup kedua matanya menikmati sepoi angin yang menerpa pori-pori kulitnya.
"Hem, ini sangat menyegarkan," gumamnya diakhiri senyum yang terukir di bibirnya.
Ia lalu melayang turun di undakan batu besar yang melintang di tengah luasnya hamparan rumput.
Tiba-tiba saja terdengar suara lesakan anak panah mendekati dirinya. Jingga tak bergeming. Ia masih terus memejamkan mata seolah tidak peduli sesuatu menyerangnya. Ia lalu mengayunkan tangan kanan ke depan wajahnya.
Sret!
Anak panah langsung melebur seketika tatkala menyentuh ujung jari manis. Tangannya pun kembali ke posisi semula.
"Hem, mengganggu saja," dengus Jingga lalu membalikkan tubuhnya membelakangi si pemanah.
__ADS_1
Si pemanah yang masih menyembunyikan diri di balik pepohonan kembali membidik Jingga. Namun sayangnya, yang ia tembak hanyalah bayangan tubuh Jingga. Jingga sendiri sudah berada di belakangnya.
Siuu!
Lesatan anak panah menembus tubuh Jingga. Si pemanah terbelalak melihatnya. Ia lalu menyelinap dengan merayap di rerumputan mendekati Jingga.
Jingga yang daritadi membelakanginya kini berkamuflase menjadi rerumputan mengikuti si pemanah yang ternyata seorang gadis belia. Gadis bergaun hitam Jingga tidak diam saja, ia mulai berniat untuk melancarkan keusilannya.
Cukup jauh si gadis merayap mendekati bayangan Jingga yang berdiri di atas batu. Si gadis tak terlihat kecapekan, rasa penasarannya yang tinggi membuat dirinya begitu bersemangat untuk mengetahui orang yang menjadi targetnya.
Jingga yang mengikutinya mulai tertarik pada kegigihan si gadis. Akan tetapi, niatnya untuk mengusili si gadis tidak menghilang. Ia lalu menahan satu kaki si gadis.
"Eh, kenapa kaki kananku tidak bisa digerakkan?" Kaget si gadis merasakan kakinya tidak bisa bergerak.
Ia lalu menoleh melihatnya. Dalam posisi menoleh, Jingga lalu menahan kepala si gadis supaya tidak bisa menoleh balik. Betul saja, si gadis kesulitan menggerakkan kepalanya.
"Ke ... kenapa aku tidak bisa menggerakkan kepalaku?" Si gadis mulai merinding karenanya.
Tubuhnya bergetar, peluh keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
"Ma ... maaf, hantu ... ja ... jangan ganggu aku. Aku mohon!" ucap si gadis memelas.
Jingga semakin gemas melihatnya. Ia kemudian mencubit kedua pipi si gadis hingga merah.
"Aduh! Sakit!" Ringis si gadis lalu menangis tersedu.
Jingga sedikit panik mendengar teguran istrinya yang tiba-tiba.
"Dia lucu tahu, Yang." Celetuknya membalas teguran sang istri.
"Jadi aku selama ini tidak lucu, begitu!" ketus Xian Hou.
"Kamu selalu saja begitu, dikit-dikit marah, dikit-dikit marah. Marah kok sedikit-sedikit." Balas Jingga tidak menyukai sikap istrinya.
"Ya sudah, jangan pernah menemuiku lagi!"
Xian Hou pun memutuskan komunikasi hatinya.
"Menyebalkan!" keluh Jingga lalu menampakkan diri.
Ia pun duduk di sebelah gadis yang masih menangis.
"Nona, sudah jangan menangis," ucap Jingga mencoba menenangkannya.
Sontak saja suara Jingga membuat si gadis langsung berhenti menangis. Ia beranjak bangun dari tempatnya dengan sorot mata penuh selidik.
"Tidak perlu kau menatapku seperti itu," Jingga sudah terlalu malas meladeni gadis sepertinya.
__ADS_1
"Kamu siapa, bajingan?"
"Jadi kamu yang mempermainkanku!"
"Aku bilang pada ayahku, awas saja kamu." Ancam si gadis terus saja meracau.
Jingga hanya mengerutkan bibir membalasnya. Gadis itu pun berjalan pergi meninggalkannya. Jingga terus saja memperhatikan punggung si gadis sampai menghilang dari balik pepohonan di ujung area rerumputan.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu," Jingga memikirkan tujuannya yang terlupakan.
"Ya ampun, aku harus ke alam fana!"
"Sebentar! Ini di mana ya?"
Jingga mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempatnya berdiri. Tidak ada kerusakan sama sekali di tiap area yang diperhatikannya.
"Sepertinya ini bukan alam fana ... ya ampun! Aku lupa bertanya pada gadis itu." Kesalnya lalu berkelebat menyusul si gadis yang sudah pergi jauh meninggalkannya.
Berada di tengah hutan tempat si gadis menghilang. Tiba-tiba saja Jingga menghentikan langkahnya ketika merasakan keberadaan aura kultivator di dekatnya.
"Sebaiknya aku menekan tingkat kultivasiku," batin Jingga lalu menekannya.
"Sialan! Masih terlalu tinggi. Aku harus cari tubuh untuk menyamarkannya." Imbuhnya mengeluh.
Tingkat kultivasi Jingga yang berada di superior iblis membuatnya hanya bisa menekan ke tingkat Supreme Emperor Kristal. Ia harus menjadikan tubuh kultivator lain sebagai inang untuk menyamarkan tingkat kultivasinya. Semakin rendah tingkat kultivasi si pemilik tubuh, semakin rendah pula tingkatan yang bisa ia samarkan.
Tampak beberapa kultivator alam dewa mulai mengendus keberadaannya. Jingga tidak memiliki pilihan selain harus berkamuflase menjadi apa pun yang diinginkannya. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi sebatang pohon.
Tiga orang pemuda berjalan cepat melewatinya. Setelah beberapa langkah, salah seorang pemuda bertubuh tinggi kurus mendadak berhenti.
"Tunggu! Apa kalian merasakan energi di sini begitu pekat?"
"Ya, kamu benar. Tapi energinya sangat asing, auranya begitu negatif. Ini tidak baik untuk kultivator dewa seperti kita," jawab pemuda tampan menganalisisnya.
"Berarti kita salah menebak keberadaan beast monster di hutan ini." Sambung pemuda berbadan tambun tampak begitu kecewa.
"Kita harus melaporkannya pada Guru. Ayo kita lanjutkan perjalanan," ajak pemuda berbadan kurus.
"Tunggu! Kita harus memberi tanda sebelum pergi," usul pemuda tambun lalu berputar-putar badannya mencari sesuatu yang bisa ditandainya.
Tatapan matanya tertuju pada pohon berbatang ramping yang terhimpit pohon besar. Ia lalu mengambil secarik kain berwarna hitam dari cincin spasialnya.
"Aku akan mengikatnya di pohon kecil itu." Ucapnya lalu bergegas melilitkan kain hitam di batang pohon yang dipilihnya.
Setelahnya, ketiga pemuda itu pun berlalu pergi meninggalkan jejak yang ditinggalkannya.
Jingga yang berkamuflase menjadi pohon ramping kembali ke wujudnya. Ia tampak begitu kesal pada pemuda tambun yang melilitkan kain di tubuhnya.
__ADS_1
"Dasar gendut, lihat saja, akan kukerjai kau." Gumam Jingga mulai dipenuhi akal bulus di pikirannya.