Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Tantangan Dari Langit


__ADS_3


Sesampainya di taman belakang istana, semua orang langsung berdiri menanggalkan kursi menyambut kedatangan sepasang kekasih beda usia dengan senyuman hangat di hangatnya mentari pagi yang bersinar cerah.


“Wah! Sambutan yang luar biasa. Aku bukanlah siapa-siapa, tidak pantas mendapatkan sambutan seperti ini,” kata Jingga merendah.


“Ha-ha-ha, jangan seperti itu. Kau adalah penguasa alam iblis, tentunya sambutan seperti ini sangatlah tidak berarti apa-apa untuk seorang penguasa sepertimu,” balas Kaisar Fei Huang tak kalah merendahkan hati.


Sang Kaisar menghampirinya secara pribadi lalu membawanya ke meja khusus lalu menarik kursi di samping dirinya.


“Kau terlalu berlebihan, Kaisar Muda,” ucap Jingga tidak enak hati.


Acara sarapan bersama di taman belakang istana kekaisaran berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Namun, kali ini Jingga tidak ikut makan seperti yang lainnya. Ia beralasan, makanan alam fana tidak memberi manfaat apa pun pada tubuhnya. Hanya arak yang dikonsumsinya untuk mengisi acara yang sudah dipersiapkan oleh pihak istana.


“Kak, apa rencana Kakak selanjutnya?” tanya Qianfan penasaran.


“Aku akan pergi ke kampung Cerita Hati di kekaisaran Xiao, setelah itu mungkin aku akan langsung menuju ke alam dewa,” ungkap Jingga menjawabnya.


Qianfan sedikit mengernyitkan kening mendengarnya. Ia pun penasaran tujuan Jingga pergi ke alam dewa.


“Apa yang membuat Kakak ingin pergi ke alam dewa? Apa Kakak mulai membutuhkan sumberdaya?” sambung tanya Qianfan memprediksinya.


Jingga terkekeh mendengarnya. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui tujuan pasti kedatangannya ke alam dewa. Namun, alam dewa memiliki keterkaitan dengan sosok sang istri yang belum diketahui asal-usulnya, ditambah dengan sosok dewa Matahari yang pernah ditemuinya sewaktu ujian penguasa beberapa waktu silam. Di mana dewa Matahari bernama Taiyangshen merupakan suami dari istrinya Xian Hou. Kedua hal itulah yang mendasari Jingga untuk pergi bertualang di alam dewa.


“Kita lihat nanti saja. Apa kau ingin kembali berpetualang denganku?” jawab Jingga balik bertanya.


“Tentunya aku sangat merindukan berpetualang bersama kakak dan adik-adikku, akan tetapi aku harus mempersiapkan diri menjadi seorang ayah … aku akan menyusul kalian!” jawabnya lugas.


Jingga mengangguk sambil tersenyum senang lalu menenggak kembali araknya. Lagi asyik-asyiknya semua orang bercengkrama di taman istana, tiba-tiba muncul para pengikut Jingga yang langsung berlutut dalam jarak lima langkah dari posisi acara. Semua orang yang melihatnya dibuat bergidik ngeri.


“Hormat kami, Yang Mulia Jingga,” salam semua pengikut Jingga serentak.


Jingga bangkit berdiri lalu berjalan menghampirinya.


“Bangunlah!” pintanya.


“Terima kasih, Yang Mulia,”


“Apa yang membuat kalian begitu cepat kembali?” tanya Jingga sedikit heran.

__ADS_1


Ratu Xin Li Wei bersama To Tao melangkah maju mendekatinya. Keduanya tampak tidak nyaman diperhatikan semua orang yang menoleh ke arah keduanya.


“Tenang saja, mereka tidak akan membocorkan rahasia apa pun yang akan kalian sampaikan. Bicaralah!” imbuh Jingga mengetahui kegelisahan keduanya.


“Sebagian besar bangsa iblis sudah kembali ke alam iblis. Namun, kami mendapat masalah dari kedatangan ribuan prajurit dewa yang memburu semua iblis yang berada di alam fana khususnya di benua Matahari. Mereka mendeklarasikan perang terhadap bangsa iblis di alam fana. Mohon sekiranya, Yang Mulia memberikan keputusan kepada kami,” beber Ratu Xin Li Wei.


Jingga terdiam beberapa waktu. Pikirannya menerawang jauh memperkirakan semua kemungkinan yang akan dihadapi dirinya bersama para pengikutnya yang terlanjur berada di alam fana. Ia mengetahui ada perjanjian yang dilanggar olehnya. Namun, itu semua dilakukan semata-mata untuk melindungi makhluk hidup di alam fana dari perburuan para iblis.


“Di mana para prajurit dewa berada sekarang?” tanya Jingga dengan sorot mata tajam menatap Ratu Xin Li Wei.


“Aku tidak tahu pasti nama lokasinya. Tapi aku memperkirakan lokasinya berada di area terluar ketiga kekaisaran,” jawab Ratu Xin Li Wei mengingatnya.


“Aku tahu lokasi itu, ayo kita ke sana,” balas Jingga cepat.


Jingga lalu berbalik menemui Kaisar Fei Huang dan adiknya Qianfan.


“Aku akan pergi ke zona bebas kekaisaran dan aliansi Bintang Selatan. Sekalian aku pamit kepada kalian semua … semoga kita bisa bertemu kembali,” ujarnya lalu mengepalkan kedua tangan dan menjura kepada keduanya.


“Baiklah, sepertinya masalah ini menjadi pelik. Aku masih memiliki ribuan prajurit yang siap membantumu,” balas Kaisar Fei Huang menawarkan bantuan.


“Itu tidak perlu, aku tidak ingin melibatkan pihak kekaisaran dalam masalah ini.”


Jingga menoleh ke arah istrinya lalu berkata,


“Kakak, aku tidak diajak gitu,” ucap Bai Niu dengan cemberut.


“Kamu siapa?” tanya Jingga menggodanya.


“Jahat!” balas Bai Niu melingkarkan kedua tangan di dada dan memasang wajah ketus.


“Suamiku, jangan bercanda,” tegur Xian Hou lalu menarik tangan Bai Niu dan Qianmei berjalan bersamanya.


“Tunggu, Kak. Aku ingin mencium keponakanku,” ucap Qianmei lalu menghampiri Du Zia dan mencium perutnya.


Setelahnya, Jingga bersama para pengikutnya langsung melesak terbang meninggalkan taman istana kekaisaran Fei dan melaju cepat menuju kekaisaran Xiao. Di sepanjang laju terbang, tidak ada satu pun yang berani bersuara. Jingga sendiri tampak fokus memperhatikan kehancuran alam yang begitu memilukannya. Entah sudah berapa banyak korban berjatuhan karena ulah dirinya. Jingga begitu menyesalinya.


“Maafkan aku,” lirihnya.


Dalam penyesalan yang begitu dalam, Jingga semakin mempercepat laju terbangnya. Para pengikutnya lalu ikut menyesuaikan kecepatannya. Hingga beberapa saat kemudian, Jingga kembali memperlambat laju terbangnya. Ia memperhatikan istana kekaisaran Xiao yang masih berdiri kokoh di bawahnya.

__ADS_1


“Syukurlah, masih ada istana yang utuh,” gumamnya lalu kembali mempercepat lajunya.


Tak begitu jauh dari lokasi istana kekaisaran Xiao. Mereka pun sampai di perbatasan wilayah kekaisaran Xiao. Jingga melayang turun ke bawahnya, diikuti oleh para pengikutnya.


Tap, tap.


Jingga bersama para pengikutnya berjalan di antara pepohonan lalu berkumpul untuk mendiskusikan langkah selanjutnya.


“To Tao dan Ratu!” panggil Jingga meminta keduanya untuk mendekat.


Keduanya bergegas menghampiri lalu duduk berhadapan dengannya.


“Kalian berdua coba negosiasikan dengan para komandan pasukan istana Langit, katakan kepada mereka bahwa aku Jingga berteman baik dengan Panglima Tianfeng,” ujarnya memberi perintah.


“Baik, Yang Mulia,” balas keduanya lalu menghilang pergi untuk menjalankan perintah.


Jingga menyapu sekitarnya lalu menjentikkan jari ke arah satu pohon yang terlihat berbeda dengan yang lainnya.


DUAR!


KRIAK! KRIAK!


Jerit seekor beast monster dari jenis unggas langsung menampakkan diri dari penyamarannya menjadi sebatang pohon. 


“Halo, monster lucu,” sapa Jingga langsung menariknya lalu mencengkram leher beast monster tersebut.


“Kak, buat aku monsternya,” pinta Bai Niu menyukainya.


“Ambil saja, dia penyamar ulung,” kata Jingga sambil menyerahkannya.


Beberapa saat kemudian, Ratu Xin Li Wei dan To Tao kembali menghadap Jingga untuk melaporkan hasilnya.


“Kenapa kalian terlihat cemas? Apa ada masalah?” tanya Jingga ingin tahu.


To Tao dan Ratu Xin Li Wei saling melirik satu sama lain. Setelahnya, Ratu Xin Li Wei menatap kembali Jingga yang menunggunya berbicara.


“Mereka semua tidak peduli siapa Yang Mulia. Mereka meminta Yang Mulia menyerahkan diri untuk dieksekusi mati di tempat,” ungkap sang Ratu.


“Ha-ha-ha, jadi seperti itu maunya mereka. Kita harus menghargainya, kalian semua tunggu aku di sini,” balas Jingga lalu berdiri.

__ADS_1


“Suamiku, jangan membantainya!” larang Xian Hou memahami apa yang dipikirkan oleh suaminya.


“Tenang saja, Sayang. Aku hanya akan membunuh sedikit saja, paling beberapa ribu pasukan,” balas Jingga sekenanya.


__ADS_2