Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Nenek Lakanti


__ADS_3

Kedua kaki Jingga menapaki tiap undakan bebatuan tebing dengan begitu ringan dan cekatan sampai mendarat mulus di tanah.


Beberapa warga tampak terpukau melihat seorang pemuda yang begitu atletis tubuhnya sedang memangku anak kecil di atas pundaknya.


Jingga tersenyum lembut membalas tatapan kekaguman yang diarahkan pada dirinya, dengan percaya diri ia menghampiri para warga.


"Permisi, ini kampung apa ya?" Tanya Jingga.


"Sepertinya Pendekar baru pertama kali ke tempat kami, selamat datang di dusun Sukamati. Apakah Pendekar datang untuk mengunjungi Padepokan Cakar Macan?" Jawab seorang pria paruh baya lalu menerkanya.


"Tidak, Paman. Aku kebetulan saja mampir ke sini, tujuanku berada di balik gunung itu" balas Jingga menunjuk sebuah gunung besar yang begitu indah di depannya.


"Oh begitu, kalau boleh tahu, untuk apa Pendekar ke sana? Di kaki gunung Keranda Mistis terdapat lembah yang paling dihindari semua orang dari dunia persilatan. Sebaiknya kau mengurungkan niatmu pergi ke lembah sana" tanya kembali pria paruh baya sambil mengingatkannya.


"Betulkah, Paman? Apa yang membuat semua pendekar menghindarinya?" Tanggap Jingga menanyakan.


"Tidak baik berbicara di jalan, mari aku antar ke sepuh dusun. Beliau lebih mengetahuinya daripada diriku" balas pria paruh baya yang kebetulan kepala dusun.


Jingga lalu mengikutinya ke rumah sederhana dari anyaman bambu sambil berbincang ringan, pria paruh baya memperkenalkan dirinya bernama Jentrang.


Tok, tok, tok!


"Nyai Lakanti" panggil Jentrang dengan lantang.


"Masuklah!" Sahut seorang nenek dari dalam.


Pak Jentrang membawa Jingga dan Biru memasuki rumah sederhana, tampak seorang nenek yang mulutnya belepotan mengunyah sirih melambaikan tangan meminta ketiganya masuk.


"Jentrang, apakah kau tahu siapa kedua orang yang kau bawa ke hadapanku?" Tanya nenek Lakanti sambil memelototi pak Jentrang.


"Ya tahulah, Nyai. Ini adalah Jingga dan putranya Biru" jawab pak Jentrang mengenalkannya.

__ADS_1


"Ha ha ha, bodoh! Yang kau bawa adalah seorang makhluk gaib dan makhluk terkutuk" timpal nenek Lakanti memberitahunya.


Pak Jentrang langsung merinding mendengarnya, ia melirik Jingga dan Biru berkali-kali. Sulit baginya mempercayai ucapan nenek Lakanti, namun karena nenek Lakanti seorang pendekar sepuh yang hidup ratusan tahun. Pak Jentrang tidak berani membantahnya.


"Kau tidak perlu takut begitu, kehadiran keduanya sudah aku tunggu selama ini. Sekarang pergilah, nanti malam padepokan Setan Elang dan empat padepokan ilmu hitam lainnya akan menyerang dusun ini" ujar nenek Lakanti memberitahunya.


"Apa kepentingan mereka menyerang dusun kita?" Tanya pak Jentrang ingin tahu.


"Ha ha, kau masih saja bodoh! Lembah di balik gunung yang menjadi tujuan mereka, dusun Sukamati menjadi benteng awal yang harus mereka hancurkan sebelum menaiki gunung Keranda Mistis" jawab nenek Lakanti.


"Baik Nyai, aku akan mengumpulkan warga untuk bersiap. Oh iya Nyai, apakah padepokan Macan Goreng akan membantu kita dalam serangan kali ini?" Tanya kembali pak Jentrang.


"Aku benci mendengar namanya yang begitu jelek, jangan kau sebut lagi nama itu. Muridku Naray sudah menemui beberapa murid Ki Lindeuk (kepala padepokan Macan Goreng) yang berada di kota Lebakwangi dua hari yang lalu. Terserah mereka mau membantu atau tidak. Sekarang pergilah!' Jawab nenek Lakanti lalu mengusirnya.


Jingga yang memperhatikan obrolan keduanya terus saja tersenyum, ia begitu semangat akan adanya peperangan antar padepokan silat di dusun Sukamati.


"Ha ha ha, kau memang makhluk gaib yang buas" kekeh nenek Lakanti menyindir Jingga.


"Nenek jelek, tadi pak Jentrang mengatakan padaku kalau lembah di balik gunung paling dihindari para pendekar, sekarang Nenek jelek bilang lembah di balik gunung adalah tujuan para pendekar menyerang dusun. Jelaskan padaku apa yang sebenarnya ada di dalam lembah?" Imbuh Jingga menanyakan.


"Setan kau anak muda! Sama sepertimu, mereka mencari pusaka peninggalan para dewa di lembah Anggrek Darah" jawab nenek Lakanti begitu geram.


"Salah Nek, aku bukan setan. Aku malah seorang iblis yang akan membantai siapa pun yang menghalangi jalanku' balas Jingga dengan menatap tajam nenek Lakanti.


Trang!


Sebuah keris yang ditusukkan dengan cepat oleh nenek Lakanti langsung patah. Tanpa sepengetahuan nenek Lakanti, Jingga mematahkannya dengan dua jarinya.


"Nenek jelek, jangan coba menyerangku dengan senjata mainan"


"Nenek tadi mengatakan telah menunggu kami berdua, dari mana Nenek bisa mengetahuinya?" Tanya Jingga.

__ADS_1


"Semua dituliskan oleh kitab Pancasain, kau tidak perlu mencari pusaka apa pun di lembah Anggrek Darah. Kau hanya harus menjalani waktu selama sembilan bulan di alam fana ini, setelah waktunya tiba. Kau akan kembali ke zamanmu dengan sendirinya" jawab nenek Lakanti.


Jingga terdiam membisu, ia tidak mengerti kenapa harus menunggu selama sembilan bulan lamanya di alam fana.


"Satu lagi, kenapa aku tidak bisa menggunakan energi spiritual di alam fana ini? Dulu aku bisa menggunakannya di alam fana pada masaku" imbuh pertanyaan dilontarkan Jingga.


"Aku tidak mengetahuinya, mungkin karena pengaruh perbedaan masa yang kau jalani" jawab nenek Lakanti menerkanya.


Ia lalu menceritakan kondisi ketika masa peralihan zaman menuju dunia baru tanpa energi spritual yang menurutnya sangat baik dan tidak baik.


Baiknya adalah tingkat kerusakan alam yang rendah menjadi keuntungan sendiri untuk keberlangsungan alam fana. Yang tidak baiknya adalah perubahan tingkat hidup manusia yang lebih pendek, dulu para kultivator alam fana bisa hidup sampai beberapa ribu tahun bahkan lebih apabila berada di ranah Emperor, sedangkan sekarang hidup manusia semakin pendek. Bahkan ada yang hidupnya hanya mencapai dua ratus tahun.


"Berarti tidak sepenuhnya punah, aku akan mencarinya di benua lain" tanggap Jingga meyakini.


"Ya, mungkin kau benar. Aku sendiri masih yakin ada beberapa dewa yang masih menetap di alam fana" timpal nenek Lakanti mempercayainya.


"Nenek jelek, apa maksud Nenek mengatakan Biru makhluk terkutuk?" Kembali Jingga melontarkan tanya.


Nenek Lakanti tidak menjawabnya, ia lalu melirik Biru yang dengan imut menatapnya.


"Bocah, kau tinggal bersamaku" pinta nenek Lakanti melirik Biru yang daritadi diam saja tidak memahami pembicaraan orang dewasa.


"Aku menamainya Biru Langit, Nenek bisa memanggilnya Biru" potong Jingga.


"Biru, kau akan belajar banyak hal dari Nenek Lakanti. Tinggallah bersamanya" sambung Jingga mengusapi kepala teman barunya.


Biru tidak memahami ucapan Jingga, namun ia tahu dari raut wajah Jingga dan Nenek Lakanti yang akan mengajarinya menjadi seorang manusia normal. Ia mengangguk senang menerimanya.


"Aku akan membawa Biru ke tempat persembunyian, sekarang kau bebas mau menghadapi peperangan atau langsung ke lembah Anggrek Darah untuk mencari pusaka apa pun yang bisa kau temui" ujar nenek Lakanti lalu menarik tangan Biru dan menghilang pergi.


Jingga jadi bingung sendiri, ia tidak tahu apakah harus ikut berperang yang bukan urusannya atau langsung pergi ke lembah Anggrek Darah.

__ADS_1


"Sialan! Kenapa aku harus bingung? Sebaiknya aku menunggu di sini sampai terdengar keributan di luar. Siapa tahu aku mendapatkan hal yang menarik perhatianku" gumam Jingga lalu merebahkan diri di alas anyaman bambu rumah nenek Lakanti.


__ADS_2