
Mei Moshu yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Jingga berkelebat memasuki gua yang tersembunyi di lembah Persik.
Dengan beringasnya, Mei Moshu mencium Jingga yang terus merapatkan bibirnya.
"Hmm, hmm, tahan dulu, Nona" pinta Jingga yang terus menolaknya.
Kesal karena Jingga tidak membalasnya, Mei Moshu langsung mencekiknya. Jingga mendelikkan bola matanya ke arah seorang gadis yang terus memperhatikan keduanya.
Mei Moshu melepaskan cekikannya, ia lalu berbalik menoleh ke arah si gadis.
"Aku lupa membunuhmu" ucap Mei Moshu yang emosinya sedang labil.
Plak!
Jingga menampar bongkahannya, hal itu ia lakukan untuk membuat gadis penyihir mengurungkan niat membunuh si gadis.
Mei Moshu berbalik kembali menatap Jingga dengan tatapannya yang nakal.
"Kau ini, tadi menolak, sekarang begitu nakal" ucap Mei Moshu seenaknya saja ia melepaskan gaunnya.
"Aku tidak bisa melakukannya di depan orang lain, pakailah kembali gaunmu. Aku akan membawa adikku pulang" balas Jingga melewatinya.
Mei Moshu sangat geram, ia mengepalkan kedua tangannya begitu erat dengan urat yang terlihat menonjol di lehernya.
"Kau baik-baik saja, Yuna?" Tanya Jingga berjongkok di depannya sambil menyodorkan tangan.
"Aku baik-baik saja, Kak" jawab Qianyuna lalu menjabat tangan Jingga.
Jingga menariknya bangun lalu menghampiri Mei Moshu.
"Apa Nona mau ikut denganku atau menungguku di sini?" Tanya Jingga memberikannya pilihan.
"Pergi saja, jangan kembali lagi kepadaku. Aku akan membunuhmu di dimensi Siksa Raja" usirnya dengan ketus.
"Jadi kau adalah lawanku berikutnya, sampai bertemu di arena pertarungan, Nona" timpal Jingga lalu membuat portal dimensi dan menghilang bersama Qianyuna.
Setibanya di kediaman sepuh sekte, suasana terlihat begitu sepi. Para tetua sepuh belum sampai, sedangkan para penghuni lainnya masih tertidur pulas.
"Yuna, kembalilah ke kamarmu. Aku akan beristirahat di kamar mendiang adikku" ucap Jingga.
"Kak"
"Ada apa?"
"Boleh aku tidur bersama Kakak?"
__ADS_1
"Tidak boleh, aku tidak mau menimbulkan masalah. Pergilah!"
Qianyuna termenung, ia tidak beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Jingga berbalik pergi meninggalkannya. Qianyuna mengikutinya dari belakang. Sampai di pintu kamar Qianfan, Jingga berbalik menatapnya.
"Apa kau tidak takut kalau aku berbuat macam-macam denganmu?" Tanya Jingga dengan tatapan dingin menakutinya.
Qianyuna menggelengkan kepala menjawabnya, walau terlihat jelas dari raut wajahnya yang ketakutan, ia mengabaikannya.
"Hem! Baiklah, kau boleh tidur denganku tapi"
"Tapi apa, Kak?"
"He he, jangan pakai apa pun"
Panas dingin wajah Qianyuna mendengarnya, namun ia terlanjur menyukainya. Ia menganggukinya lalu menundukkan wajahnya yang bersimpuh keringat karena gugup. Jingga membuka pintu dan memasukinya diikuti oleh Qianyuna.
"Tutup pintunya dan jangan lupa dikunci" pinta Jingga yang langsung melemparkan tubuhnya ke atas dipan.
Setelah mengunci pintu, Qianyuna melepas gaunnya lalu menghampiri Jingga dan duduk di tepian dipan.
Jingga menolehnya dan langsung terperanjat kaget melihatnya.
"Hei, aku hanya menakutimu saja. Kenapa kau melepaskan gaunmu? Pakai kembali gaunmu, aku tidak ingin menodai keturunan adikku" tegur Jingga yang terus menatapnya dengan pikiran kacau.
Qianyuna berdiri lalu mengambil pakaiannya yang tegeletak di lantai dan langsung memakainya kembali.
Qianyuna dengan perasaan gembira menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
"Kenapa kau ingin tidur bersamaku?" Tanya Jingga menatapnya lembut.
"A- aku suka Kakak" jawabnya sambil memainkan jemarinya dengan wajah yang tertunduk.
"Aku sudah punya istri, aku juga kakak dari Kakek buyutmu. Kau ini ada-ada saja" balas Jingga lalu menarik kepala Qianyuna menyandarkannya di atas pahanya.
Jingga mengusapi rambut halus Qianyuna sampai gadis itu terlelap tidur dalam pangkuannya.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa ya?" Gumam pikirnya mengingat-ingat hal yang mengganjal di dalam pikirannya.
"Pedang Langit, aku lupa mencarinya" imbuh Jingga baru mengingatnya.
Ia lalu menyelimuti Qianyuna di atas pembaringan dan membuat portal ke lembah Persik.
Mentari pagi bersinar cerah, terlihat jelas sisa-sisa pertarungan yang terjadi membuat lembah Persik menjadi rusak.
Jingga melayang terbang dan memindai keberadaan pedang Langit di sekitarnya. Ia berputar-putar di atas perbukitan yang mengelilingi lembah, namun masih belum juga menemukan keberadaan pedang Langit.
__ADS_1
"Pedang Langit ada padaku, apa kau mau mengambilnya?" Gema suara terdengar lantang dari Mei Moshu.
"Ya" jawab Jingga singkat lalu melaju ke arah gua menghampiri Mei Moshu.
Tap, tap!
Jingga melangkahkan kaki mendekati Mei Moshu yang duduk dengan mengangkat satu kaki sambil menggenggam batang pedang Langit.
"Tak bisakah kau duduk seperti gadis baik-baik, kau sebenarnya sangat cantik dan anggun. Kenapa kau bersikap seperti gadis murahan?" Tegur Jingga tidak menyukai posisi duduk Mei Moshu yang memperlihatkan sesuatu yang tersingkap.
"Ha ha, kau masih saja bersikap munafik di depanku seolah kau melupakan perbuatanmu kepadaku malam tadi yang begitu liar mencengkram gemas diriku" balas Mei Moshu sambil menyingkap gaun atasnya.
"Sudah aku katakan kepadamu, aku terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan kekaisaran Xiao, kau saja yang bodoh membalas perlakuanku" kilah Jingga.
"Kau benar-benar iblis yang licik. Kau melecehkanku dan sekarang kau mencampakkanku. Aku pasti akan membunuhmu, bajingan!" gerundelnya.
"Kau bisa membunuhku di dimensi Siksa Raja, sekarang kembalikan kepadaku pedang Langit" ujar Jingga menyodorkan tangannya.
"Kau pikir aku akan menyerahkannya dengan mudah, ambillah kalau kau bisa" tantang Mei Moshu dengan seringainya yang licik.
Jingga tersenyum lembut membalasnya, dalam pikirannya ia tidak mungkin menerima tantangan Mei Moshu yang akan berdampak pada kehancuran alam di benua Matahari.
"Begini saja, Nona. Aku siap menjadi milikmu sampai kita kembali ke dimensi Siksa Raja. Setelah kembali, lupakan semuanya dan kita bisa saling bunuh" tawar Jingga terpaksa mengambil keputusan sulit dengan mengorbankan kesetiaannya pada sang istri.
"Ha ha ha, kau jangan begitu kecewa kepada istrimu, memangnya secantik apa istrimu sampai kau begitu teguh tidak ingin mengkhianatinya?"
"Dia kecantikan sempurna di alam semesta hingga aku tidak lagi bisa melihat kecantikan pada gadis mana pun" jawab Jingga dengan semangat mengingat istrinya.
"Kalau boleh aku tahu, siapa nama istrimu yang begitu beruntung mendapatkanmu?" Imbuh tanya Mei Moshu penasaran.
"Namanya Xian Hou, dia seorang peri" jawab Jingga cepat.
Degh!
Mei Moshu menatap Jingga dengan lekat, ia mengetahui siapa Xian Hou yang disebut oleh Jingga.
"Kenapa Nona begitu terkejut mendengarnya?" Tanya Jingga keheranan dengan reaksi gadis di depannya.
"Apa kau yakin menjadikan dia istrimu?" Tanya balik Mei Moshu.
"Ya, dia sudah jadi istriku. Apa ada yang salah?" Jawab Jingga balik bertanya.
"Aku tidak tahu soal itu, tapi apa kau tahu kehidupan istrimu sebelumnya?"
Jingga semakin penasaran maksud pertanyaan dari Mei Moshu. Ia menggelengkan kepalanya dengan tatapan meminta Mei Moshu menjelaskannya.
__ADS_1
"Kau bisa tanyakan langsung kepada istrimu nanti, walau seorang iblis, aku tidak ingin mencampuri urusanmu"
"Katakan saja, Nona. Jangan kau membebani pikiranku" pinta Jingga sedikit memaksa.