Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Meninggalkan Kampung


__ADS_3

Dua bulan berlalu, Jingga semakin mahir memanah, bahkan adiknya Naray pun menjadikan panah sebagai senjata utamanya.


Selama dua bulan keduanya digembleng oleh paman Apiak. Kini tiba waktunya untuk Jingga dan Naray melanjutkan perjalanannya.


Jingga sebenarnya bisa saja pergi sejak lama, namun ia masih penasaran untuk mengungkap misteri hilangnya anak-anak kecil yang tidak pernah lagi terdengar semenjak keberadaan keduanya di kampung Sirintang selama tiga bulan ini.


"Paman, Bibi dan kedua adik kembarku yang cantik. Terima kasih untuk semua bekal yang kalian berikan tanpa pamrih kepada kami, hari ini kami akan melanjutkan petualangan kami" ujar Jingga berpamitan.


"Setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan, tidak ada lagi yang bisa kami berikan kepada kalian. Paman harap kalian akan menjadi pendekar hebat yang menjaga kedamaian alam semesta ini" balas paman Apiak penuh harap.


"Joga dan uni Naray, jaga diri kalian baik-baik. Ingatlah untuk kembali ke rumah ini" sambung Rindu langsung memeluk Naray diikuti adiknya Rindi.


Kedua gadis kembar menangis, kalau saja kedua orangtuanya mengizinkan mereka ikut berpetualang bersama Jingga, tentunya mereka akan begitu senang.


Paman Apiak dan bibi Lina bukannya tidak mengizinkan, hanya saja kalau Jingga mau menikahi salah satunya. Tapi Jingga mengatakan sudah memiliki istri, keduanya tidak mendapatkan izin untuk mengikutinya.


"Neng geulis, jaga dirimu Nak" ucap bibi Lina memeluk Naray.


Selama tiga bulan tinggal, bibi Lina begitu menyayangi Naray seperti anaknya sendiri. Tampak lembap kedua matanya. Namun bibi Lina masih bisa mengendalikan emosinya.


Tidak hanya keluarga paman Apiak, warga kampung juga berbondong-bondong mendatangi keduanya. Satu persatu menyalaminya.


Jingga dan Naray melambaikan tangan kepada semuaya di batas kampung lalu berbalik pergi memasuki hutan.


"Aa, tiga bulan di kampung Sirintang adalah pengalaman terbaikku. Menurut Aa bagaimana?" Kata Naray yang memiliki kesan mendalam selama tinggal di kampung Sirintang.


"Mereka sama seperti satu kampung di benua Matahari tempatku tumbuh besar, aku sampai berpikir seandainya semua orang bisa seperti mereka, tentunya semesta ini adalah surga bagi semuanya" jawab Jingga teringat akan warga kampung Cerita Hati.


"Itu tidak mungkin terjadi selama ada iblis di alam semesta ini" sambung Naray dengan penuh rasa benci pada bangsa iblis.


"Sialan! Itu sama saja aku harus mati juga" rutuk Jingga dalam hati.


Keduanya terus melangkah dalam suasana hening sampai tak terasa, langit sudah gelap.


"Kita istirahat di atas pohon, besok pagi baru kita lanjutkan" ucap Jingga yang diangguki oleh Naray.


Tap!


Keduanya memanjat lalu bersandar pada batang pohon, Naray terlihat tidak nyaman duduk bersandar pada batang pohon, tangannya terus saja menggenggam ranting pohon di dekatnya.


Jingga yang nelihatnya langsung menarik tangan Naray dan memposisikan adiknya duduk di atas pangkuannya.


Naray begitu gemetar, jantungnya berdetak dengan cepat. Ingin rasanya ia membenamkan wajahnya karena malu tapi mau.


"Tenangkan dirimu, Neng. Kalau tidak nyaman kita bisa turun dan mencari tempat di bawah, tapi ada resiko kita dihampiri gerombolan hewan buas" ucap Jingga merasakan kegugupan adiknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, A. Aku hanya berdebar saja" balas Naray lalu menyandarkan punggungnya di dada Jingga.


Keduanya tampak seperti sepasang kekasih yang memadu kasih, Jingga menutup kedua matanya sambil mendekap tubuh adiknya.


Naray merasakan kebahagiaan bisa dipeluk oleh Jingga, dalam posisi bersandar, ia terus saja memperhatikan wajah kakaknya yang sedang terlelap lalu memberanikan diri mengecup pipinya.


"Aku sayang Aa" ucapnya pelan lalu menutup kedua matanya.


Jingga yang masih terjaga sedikit membuka kelopak matanya lalu tersenyum lembut dan kembali menutupnya.


***


Pagi hari, langit terlihat mendung. Naray yang dipeluknya terlihat menggigil dengan pakaiannya yang basah karena dinginnya cuaca pagi itu yang berkabut.


"Aa, dingin" ucap Naray pelan.


Jingga semakin erat memeluknya, tetesan hujan mulai membasahi keduanya. Jingga lalu menggendongnya dan melompat turun dari atas pohon.


Ia lalu berkelebat sambil mencari tempat untuk berteduh, semakin lama hujan semakin deras, dengan basah kuyup Jingga terus saja berlari di kedalaman hutan.


Sampai tengah hari hujan mulai mereda, sinar matahari menyeruak menghangatkan tubuh keduanya. Tanpa henti Jingga terus saja berkelebat untuk mempercepat keluar dari hutan Harimau yang begitu luas.


Langkahnya terhenti tatkala ia mendengar arus sungai tidak jauh dari lokasinya.


"Hem! Sudah ketemu sungai, berarti tinggal satu malam lagi keluar dari hutan ini" gumamnya senang.


Tap tap!


Ia melompati beberapa batu dan berhenti di batu yang datar atasnya lalu menurunkan Naray dari punggungnya.


"Neng, demam" ucap Jingga setelah menyentuh kening adiknya.


"Sebentar ya, Aa buatkan obat untukmu" imbuh Jingga lalu membuka kantong perbekalan pemberian bibi Lina.


Sat set sat set!


Jingga begitu cepat menumbuk berbagai macam tanaman herbal lalu merebusnya di gelas sedang berbahan alumunium yang bisa digunakan untuk memasak air.


"Minumlah selagi hangat" ucap Jingga menyodorkannya.


Buzz!


Naray menyemburkannya.


"Ini sih panas A" protesnya lalu mengembalikan gelas ke tangan Jingga.

__ADS_1


"Ha ha, maaf" kekeh Jingga.


"Sambil menunggu hangat, Aa cari ikan dulu buat kita makan" sambungnya lalu beranjak pergi meninggalkan adiknya.


Bermodalkan dua belati, Jingga menangkap banyak ikan di sungai.


Ia kembali dan langsung membakarnya di atas batu, keduanya lalu makan dengan begitu lahapnya.


"Tinggal semalam lagi kita bisa keluar dari hutan, tapi malam ini kita tidak akan beristirahat. Aa ingin esok pagi sebelum matahari terbit kita sudah sampai di desa Lembayung" kata Jingga sambil terus menggerogoti ikan.


"Tapi aku masih lemah, A" balas Naray yang memang sedang sakit.


"Aa gendong" timpal Jingga lalu seenaknya saja ia menanggalkan pakaiannya dan melompat ke sungai.


Byur!


"Segar" ucapnya sambil menggoda adiknya untuk ikut mandi bersamanya.


Naray langsung cemberut dan membelakanginya dengan wajah kesal karena harus melihat sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Menjengkelkan!" Kesal Naray sambil menggigit ikan.


Jingga kembali menghampirinya dengan tubuh polos, ia lalu mengenakan kembali pakaiannya.


"Cuci tangan sana, kita harus bergegas pergi dari sini mumpung langit masih terang" ucap Jingga lalu membereskan peralatan.


"Iya" balas Naray singkat.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanannya dengan Naray yang digendong oleh Jingga.


Kembali bertemu malam, Jingga terus saja berlari dan berlompatan di akar-akar pohon besar.


"A, banyak mata berkilauan di balik pepohonan" celetuk Naray memberitahunya.


"Biarkan saja, kita hanya bertindak kalau hewan-hewan itu menyerang kita" balas Jingga yang sudah mengetahuinya.


Tiba-tiba saja Jingga menghentikan langkahnya secara mendadak.


Lebih dari dua puluh serigala hitam menghadangnya dengan taring runcing yang berkilat dan tatapan membunuh kawanan serigala.


"Kalian mengingatkanku pada dendam lama, aku pastikan tidak akan membiarkan kalian semua mati dengan tubuh utuh" ucap Jingga dengan seringainya yang tajam.


"A, mereka semua tidak wajar. Tidak mungkin ada serigala bertubuh besar menyerupai seekor gajah. Aku yakin mereka semua adalah siluman" ucap Naray yang terus memperhatikan kawanan serigala.


"Itu yang Aa harapkan, setidaknya mereka tidak mati dengan mudah. Bersiaplah, Neng!" Balas Jingga lalu mengeluarkan dua belati.

__ADS_1


Naray turun dari punggung Jingga, ia lalu bersiap memanah kawanan serigala yang mulai memutari keduanya untuk menutup jalan pelarian.


__ADS_2