
Masih di dalam hutan, Jingga berjalan pelan mengikuti jejak kaki yang ditinggalkan keempat pria yang dibunuhnya.
"Semoga tidak hujan" gumamnya berharap, ia tidak mau kehilangan jejak dari keempat pria sebagai navigasi untuk bisa keluar dari hutan, namun harapannya pupus, hujan deras mengguyurnya.
Jingga menatap langit dengan telapak tangan kanannya ditempelkan di keningnya.
"Gitu ya!" Keluhnya, ia langsung berkelebat mengarah lurus dari jejak terakhir yang dilihatnya.
"Berlari sambil hujanan sungguh menyenangkan" gumamnya lagi dalam larinya yang terus saja lurus naik turun mengikuti kontur tanah yang dipijaknya.
Saking senangnya Jingga berlarian dalam guyuran hujan lebat, tanpa sadar ia sudah jauh meninggalkan hutan.
"Wah, laut!" Teriaknya begitu kegirangan, Jingga berhenti di bibir pantai, memperhatikan beberapa perahu nelayan dari kejauhan.
"Kakek, aku rindu" teriaknya lagi menatap lautan luas di depannya.
Jingga melanjutkan jalan ke arah perkampungan yang bangunan rumahnya terbuat dari batang pohon kelapa.
Berbeda dengan apa yang ia alami di kota Lintang, penduduk pantai tidak mencemoohnya karena berbeda ras.
Jingga berteduh di salah satu rumah warga, terdengar suara pintu terbuka, Jingga langsung menoleh ke arahnya.
Tampak seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun menatapnya.
"Kamu siapa?, Apa kamu sedang menunggu seseorang atau kamu mau bertemu salah satu keluargaku?" Tanya si gadis yang terus menatap pemuda basah kuyup berdiri di teras rumahnya.
"Maaf nona, aku hanya berteduh saja, kalau nona merasa terganggu, aku akan pergi" jawab Jingga.
"Oh, tidak apa apa kakak, silakan kalau mau berteduh" timpal si gadis kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama si gadis keluar kembali membawakan segelas air hangat.
"Minumlah dulu, supaya tidak masuk angin karena kehujanan" tawar si gadis menyerahkannya kepada Jingga yang langung menerimanya.
"Terima kasih nona, maaf sudah merepotkan" timpalnya tidak enak hati.
Gadis tadi mengangguk sambil tersenyum lalu kembali masuk ke dalam rumahnya, tak lama hujan berhenti, Jingga menyimpan gelas logam yang sudah habis isinya lalu pergi.
Di dalam rumahnya si gadis mengintip kepergian pemuda yang dianggapnya berasal dari benua lain.
Setelah beberapa langkah Jingga melihat keramaian orang orang berkerumun, dengan rasa penasaran Jingga bergabung dalam kerumunan.
Terlihat olehnya sosok mayat yang badannya menggelembung karena hanyut.
Setelah tahu, Jingga kembali berjalan lalu berhenti di sebuah kedai, dimana banyak nelayan di dalamnya.
"Sepertinya tuan dari benua seberang, mau pesan apa tuan?, makanan laut kami lengkap atau tuan mau pesan minum dulu, kami punya arak yang bagus?" Tawar seorang pelayan yang menyambutnya.
__ADS_1
"Minum saja" sahut Jingga lalu duduk di salah satu meja kosong.
Tak lama pelayan tadi membawakan arak kepadanya.
"Silakan dinikmati Tuan, Satu botol seharga lima puluh keping perak, kalau masih kurang, tuan bisa memintanya lagi" ucapnya setelah meletakkan sebotol arak.
Jingga merogoh kantong lalu melemparkannya ke pelayan.
Ditatapnya lekat lekat dan dibolak balik botol arak yang tertutup kayu lalu sedikit meminumnya.
"Aah, enak, ini sungguh enak!" Serunya setelah menenggak arak untuk pertama kalinya.
Jingga mengambil sepuluh keping emas lalu memanggil pelayan tadi.
"Tambah lagi" ucapnya sambil melemparkan koin emas.
Pelayan dengan mata berbinar menangkap sepuluh koin emas langsung kembali membawa kendi besar.
"Silakan tuan" ucap pelayan lalu pergi.
Seorang pemuda bersama kedua orang pria terlihat seperti pengawal menghampirinya.
Jingga yang sedang menenggak kendi besar mengacuhkan kedatangannya.
Pemuda itu lalu memukul kendi sampai pecah hingga arak yang sedang ditenggak membasahi wajah Jingga hingga ke pakaiannya.
"Kau orang asing, pergilah, aku tidak suka melihatmu merusak selera makanku" jawab pemuda itu mengusirnya.
"Kau tidak perlu memecahkannya" timpal Jingga masih bersabar lalu berbalik pergi.
Pemuda itu lalu menendangnya dari belakang yang membuat Jingga tersungkur jatuh ke depan, sontak semua orang di dalam kedai menertawainya.
"Aku benci ditertawai" geramnya lalu berdiri dan sekelebat menebas kepala semua orang di kedai tanpa ada satupun yang menyadarinya, Jingga hanya menyisakan seorang pelayan yang berdiri mematung melihat kepala yang berserakan di lantai.
"Dasar manusia sampah, hanya bisa tertawa melihat orang ditindas" ucapnya lalu pergi meninggalkan kedai.
Setelahnya Jingga duduk di undakan batu menatap lautan lepas sambil mengingat mendiang kakeknya.
Tak lama kemudian, ratusan orang beramai ramai mendatanginya.
"Itu dia orangnya" ucap seorang pelayan menunjuk pemuda yang sedang duduk menikmati lautan.
Jingga berdiri mendengar keramaian, ia terkejut melihat ratusan orang membawa berbagai senjata menghampirinya.
Tidak ingin terjadi pertarungan, sekelebat Jingga menghilang dari tatapan kemarahan warga nelayan.
"Hah, kemana pemuda asing itu?" Tanya beberapa orang yang terkejut sosok pemuda yang akan dimintai pertanggung jawaban menghilang bak ditelan bumi.
__ADS_1
Mereka semua mencarinya ke sisi pantai, menduga pemuda asing menceburkan diri.
Setelah jauh dari kepungan warga nelayan, Jingga berjalan normal menyusuri kebun yang didominasi oleh pohon kelapa.
Tepat di depannya terlihat sebuah dermaga yang dipenuhi oleh kapal kapal besar dari berbagai kekaisaran di benua matahari.
Tatapannya tertuju ke satu kapal yang mirip dengan kapal perang kekaisaran Xiao yang pernah ia tumpangi.
Jingga langsung berkelebat menaikinya, ia memutari aboard kapal mengenang kembali pelayarannya bersama mendiang kakeknya.
Dari kejauhan, seorang petugas dermaga tak sengaja melihatnya.
"Hei, semuanya lihat ke sana ada pencuri yang menaiki kapal" teriak seorang petugas memberitahu temannya.
Beberapa orang berlari ke arah kapal milik kekaisaran Xiao untuk menangkapnya, Jingga yang melihat mereka menuju ke arahnya langsung berkelebat meninggalkan kapal.
"Orang orang pada kenapa sih?, Aku hanya berjalan mengelilinginya saja harus diteriaki" keluhnya dengan kesal.
"Sepertinya aku harus pergi mencari kota besar, semoga saja masyarakatnya bisa menerimaku" imbuhnya lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
Jingga kembali memasuki hutan ke arah sebuah perbukitan, di kedalamannya ia banyak menemukan berbagai hewan, dari ular, monyet hingga berbagai jenis burung yang beterbangan di atasnya, walau mereka berlarian ketika berada dekat dengannya.
"Ini baru namanya hutan, rumahnya para hewan" ucapnya begitu senang melihat banyaknya hewan yang ia temui.
Rasa senangnya hanya berlangsung sesaat, suasana yang menyenangkan berubah mencekam.
Puluhan serigala hitam dengan tubuh sebesar kerbau dewasa berdatangan mengepungnya.
"wow, besarnya" seru Jingga merasa takjub dengan ukuran serigala yang memutarinya.
"sepertinya kawanan ini bukan hewan biasa, mungkin serigala ini sejenis ular merah yang dulu aku temui" gumamnya membandingkan.
Jingga masih tenang berdiri diantara para serigala yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"mendekatlah dan berlarilah sekencangnya" ujar Jingga memperkirakan para serigala ini sama seperti ular merah yang baru diketahuinya sebagai bangsa naga.
Hal yang diperkirakannya ternyata salah, puluhan serigala dengan buas menyerangnya, ia berkelebat menghindaru gigitan dan cakaran serigala yang terus menyerangnya.
tak ayal Jingga harus menarik pedang membalasnya, dalam satu kesempatan menyerang, pedangnya berhasil menebas leher serigala,
trang
pedangnya patah, gagal menebas leher serigala.
"Serigala macam apa ini?" pikirnya bertanya sambil terus bertahan menahan serangan serigala, serangan serigala begitu rapi, cepat, buas dan terstruktur menyerangnya secara berkelompok membuat Jingga berkali kali terlempar menabrak batang pohon sampai bertumbangan.
Jingga hanya mampu membuat kawanan serigala terpental dengan pukulan dan tendangannya, namun karena kalah dalam jumlah dan jalur energi, Jingga pertama kalinya merasakan kelelahan dan kesakitan di tubuhnya.
__ADS_1
Bajunya sudah compang camping tak karuan, walau tidak ada satupun cakaran dan gigitan yang mampu melukainya, Jingga tersungkur tak berdaya, tertarik kesana kemari oleh gigitan serigala hingga dirinya tak sadarkan diri.