Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Iblis Sesungguhnya


__ADS_3


Jingga menampilkan wajah malas mendengar ucapan yang dilontarkan Taiyangshen. 


"Perkataanmu hanya gurauan semata, sampai sekarang pun kau belum juga bisa mengalahkanku, apalagi untuk membinasakanku. Sudahlah, mending kautunjukkan saja kemampuanmu," kata Jingga yang bola matanya berputar-putar mengejek Taiyangshen.


"Hiat!"


Taiyangshen mengeluarkan seruan keras, pedangnya dijulurkan ke depan dan membentuk gumpalan sinar tebal dan panjang, mengeluarkan suara bercicitan dan bayangan tubuhnya lenyap tergulung sinar pedang yang berpadu dengan tubuhnya.


Siu!


Dengan suara yang berdecit nyaring, gumpalan sinar pedang melayang ke arah Jingga dengan tebasan menyilang. Tidak terdengar sesuatu dan tidak terjadi sesuatu apa pun di tubuh Jingga yang hanyalah sebuah bayangannya saja.


Taiyangshen kembali melayang terbang ke langit dengan sudut mata yang mengamati segala penjuru.


"Kukira, dengan perubahanmu yang sekarang, kau akan lebih cepat dan kuat dari sebelumnya," kata Jingga yang kini melayang di samping kanan Taiyangshen.


Sang dewa matahari itu pun menoleh ke sisi kanannya sambil berbalik setengah badan. Ditatapnya Jingga dengan tatapan heran, namun penuh dengan kebencian.


"Berhentilah menjadi pengecut, dan hadapi aku dengan dirimu yang sebenarnya!" tegas Taiyangshen.


"Baiklah, sesuai keinginanmu," balas Jingga cepat.


Taiyangshen kembali menggerakkan pedang dan seperti sebelumnya, ia membentuk gumpalan sinar emas dan tiba-tiba terdengar suara berdecit keras ketika sinar pedang menyambar ke arah Jingga. Jingga menyeringai, lalu mengangkat Jianhuimie Yuzhou menggerakkannya ke arah sinar pedang yang menyambarnya seperti kilat.


Trang! Trang!


Gumpalan sinar pedang matahari yang berkelebat menjadi kacau gerakannya, berkali-kali mengitari tubuh Jingga, berusaha keras membabat tubuh sang iblis itu dengan berbagai gerakan pedang namun selalu berhasil dikandaskan oleh bilah pedang Jianhuimie Yuzhou. 


Bahkan, beberapa waktu kemudian terdengar suara keras dari pedang matahari yang sinarnya lenyap setelah berkali-kali berbenturan dengan pedang Jianhuimie Yuzhou. 


Taiyangshen langsung berkelebat menjauhi pertarungan lalu berdiri tegak dengan muka pucat. Ia mengangkat pedangnya lalu melebarkan mata melihat pedang matahari miliknya penuh somplak di hampir seluruh bagian bilahnya.


"Ba-bagaimana mungkin pedangku bisa rusak sedemikian rupa?" Bergetar tangan kanan Taiyangshen yang memegang erat pedang matahari.


"Kau hanya menjadikan pedangmu sebagai alat untuk membunuh, …, mungkin saja kau tidak pernah menghormati jiwa yang bersemayam di dalam pedangmu itu. Ha-ha-ha," kekeh Jingga mengomentarinya.


Taiyangshen mendengus pelan, ditatap kembali pedangnya yang somplak.


"Maafkan aku, seharusnya aku menghormatimu," lirihnya berbicara kepada pedang yang digenggamnya.


Brr!


Tiba-tiba saja pedang matahari bergetar keras, tak lama kemudian, bilah pedangnya kembali utuh. Taiyangshen menatap haru melihatnya.


"Baiklah, kita coba sekali lagi," ucapnya lalu menempelkan pedang di dada.

__ADS_1


Seberkas sinar terpancar keluar dari ujung pedang. Bulatan matahari kecil di kening Taiyangshen berputar cepat seraya mengeluarkan percikan api.


Wuzz!


Taiyangshen kembali bertransformasi ke wujud tubuh yang besar, ukuran tubuhnya kini lima kali lebih besar dari wujud sebelumnya. Bahkan, tingkatan kultivasinya pun melonjak ke ranah puncak. Kini ia berada di ranah Superior Berlian.


Meskipun belum setara dengan Jingga yang berada di luar piramida kultivasi, yaitu berada di ranah Ultimate Iblis. Setidaknya, Taiyangshen merupakan lawan terkuat di alam semesta yang dihadapi oleh Jingga.


"Kekuatan yang luar biasa, aku akan mencobanya tanpa harus bertransformasi," gumam Jingga kembali bersemangat.


Shashou Shouzi


Dua bilah pedang Jianhuimie Yuzhou bersatu dengan kedua lengan Jingga. Ia berdiri setengah membungkuk dengan tangan kanan menjulur ke depan dan tangan kirinya ke belakang.


Sementara itu, Taiyangshen mengangkat lengan kirinya ke atas kepala, lalu tangan yang terbuka jari-jarinya itu mengeluarkan suara seperti siulan. Lalu muncul kepala naga berwarna emas keluar dari telapak tangannya.


Naga itu keluar dengan cepat dan membesar ukuran tubuhnya. Setelah itu, sang naga emas berputar-putar di atas kepala Taiyangshen, bersiap untuk bertempur bersamanya.


“Majulah! Jangan beri ampun iblis itu! seru Taiyangshen, suaranya nyaring dan tangan kirinya menunjuk lurus ke arah Jingga.


Naga emas mengaum keras lalu melesak cepat menyerang Jingga dengan kedua cakarnya yang siap mencabik.


“Aku seperti dejavu menghadapi naga emas ini … baiklah, akan kusambut dengan senang hati.” Sambil berkata demikian, Jingga segera menjulurkan tangan kanannya dan sebelum cakar naga emas sempat mengenainya, Jingga telah menebaskan bilah pedangnya dua kali ke cakar sang naga.


Trang!


Bug! Wuzz! 


Jingga terpelanting di udara. Belum sempat ia menegakkan tubuhnya, kilat cahaya melesak cepat ke arahnya. 


Duar!


Jingga terlempar jatuh ke tanah hingga menciptakan lubang besar di sekelilingnya. Belum juga ia mencoba untuk bangun, ratusan gumpalan energi melesak cepat menyerangnya.


Duar! Duar! Duar!


Taiyangshen terus melemparkan bola api ke tubuh Jingga yang tersungkur. Bersamaan dengan itu, naga emas ikut menyemburkan api membakar habis tubuh Jingga yang tertahan oleh serangan bola api yang terus menerus mengenai tubuhnya.


“Mati kau, Iblis!” pekik Taiyangshen terus melemparkan bola api ke tubuh Jingga.


“Hiat!” teriak Jingga di dalam lubang tanah.


Wuzz!


Gelombang energi terpancar keluar dari tubuhnya dan menghancurkan tanah hingga menghancurkan tanah seluas jutaan tombak, gelombangnya pun berhasil melemparkan Taiyangshen beserta naga emas.


Jingga melayang terbang dengan perubahan wujud ke wujud iblis sejatinya, yang mana seluruh tubuhnya berwarna putih, mulai dari rambutnya yang putih memanjang, bola mata yang seluruhnya putih, bahkan pakaiannya pun berubah putih. Senapas kemudian, pupil matanya berubah menjadi biru terang. 

__ADS_1


Dari kejauhan, Taiyangshen kembali tegak bersama naga emas di samping kirinya. Namun, tubuhnya tiba-tiba gemetar, aura iblis yang terpancar dari Jingga membuatnya mengalami kecemasan dan ketakutan menyeruak ke dalam hatinya. Begitu pun dengan naga emas yang tiba-tiba meraung-raung merasakan ketakutan di dalam jiwanya.


“Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin aku begitu takut merasakan auranya?” gumam Taiyangshen tidak memahaminya.


Ia terus menguatkan hati untuk melawan rasa takut dalam dirinya. Berkali-kali ia mencobanya, namun tetap saja ia merasa takut.


Di depannya berdiri Jingga dengan wujud berbeda dan begitu mengerikan. Taiyangshen yang sekilas melihatnya langsung terhuyung ke belakang. Naga emas bahkan menyembunyikan diri di belakang Taiyangshen karena takut menatap Jingga.


“Ka-kau siapa, Tuan?” tanya gugup Taiyangshen tidak mengenalinya.


Jingga tidak menjawabnya, ia lalu mengedipkan sebelah matanya.


Krak!


“Ah!” jerit Taiyangshen mendapati tangan kirinya hancur.


Jingga kembali mengedipkan sebelah matanya.


Krak!


“Ah!” Taiyangshen kembali menjerit.


Kini, tangan kanannya hancur bersamaan dengan pedang matahari yang digenggamnya.


“Tuan! Aku tidak punya urusan denganmu, kenapa kau menyerangku?” Taiyangshen masih tidak memahaminya.


Krak!


Giliran kaki kiri Taiyangshen dihancurkan. 


Krak!


“Ah!” jerit Taiyangshen yang kini suaranya menjadi serak.


Jingga lalu mengalihkan pandangan ke arah naga emas yang menggigil ketakutan di belakang tubuh Taiyangshen. Tampak dari sudut mata sang naga penuh dengan kecemasan, dan napasnya yang panas berembus tidak stabil. Ekornya terlipat tanda ia begitu takut menatap Jingga di depannya.


Naga emas tidak sanggup menatap Jingga, ia berusaha mundur dengan hati yang  berdegup kencang. Namun tubuhnya sangat sulit digerakkan.


“Pergilah!” kata Jingga memintanya.


Sang naga mengangguk lalu membalikkan badan untuk pergi meninggalkan tuannya. Beberapa tombak sang naga pergi, Jingga mengulurkan jari ke arahnya.


“Maksudku, pergilah ke neraka!” kata Jingga lalu menjentikkan jarinya.


Siu! Duar!


Tubuh naga emas itu hancur berkeping-keping saat ledakan tersebut merobeknya menjadi potongan-potongan yang tak berbentuk. Bagian-bagian besar dari tubuh dan ekornya terlempar ke segala penjuru. Uniknya, kepala sang naga masih utuh dan melayang jatuh ke tanah.

__ADS_1


__ADS_2